Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
72. Dilema


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Shinta masih setia menunggu taksi online yang di pesannya. Namun, tiba-tiba saja di cancel oleh pengengemudi taksi tersebut. Terpaksalah Shinta berjalan kaki menelusuri jalan trotoar.


"Apa aku telepon mbak Vania saja ya? Ah...tapi,nanti merepotkan. Mas Wira maunya apa sih dan kenapa dia memperlakukanku seperti aku tidak berharga bagjnya. Bagaimanapun aku ini masih istrinya dan....Shinta, bodoh sekali kamu kalau sampai terlena dengan perlakuan baiknya. Mungkin baginya kamu hanyalah sebagai tempat pelampiasan saja. Kenapa ibu tidak menceritakannya padaku? Kalau sudah begini lalu, apa yang harus aku lakukan. Sedangkan aku telah menandatangani surat perjanjian itu."


Shinta bermonolog didalam hatinya. Ia sungguh saat ini merasa terpukul sekali dan sedih. Mengapa harus dirinya yang terjebak oleh Wira yang sebelumnya adalah anak majikannya. "Tari, ya....apa aku telepon dia saja?tak ada pilihan lain. Tidak sudi aku menelpon si tuan muda sombong itu." Shinta pun segera mendial nomor sang sahabat.


"Hemm–ada apa Shin, malam-malam gini telepon aku? Hoamm–." Sepertinya Tari sudah tidur dan terbangun karena panggilannya.


"Maaf Tar, kamu sudah tidur ya. Kalau begitu ya sudah kamu tidur saja lagi." Shinta jadi merasa tak enak karena mengganggu istirahat orang. Baru saja ia mengakhiri panggilannya, ponselnya berdering kembali dan terpampang nama Tari di layar depannya. Shinta segera menjawabnya.


"Iya, Tar ada apa? Sudah kamu lanjutkan tidurnya–."


"Apa sih kamu Shin. Main tutup aja. seharusnya aku yang bertanya kamu nelpon aku malam-malam gini ada apa? kalau ngak penting pasti kamu ngak akan menghubungiku, kan. Ayo sepat katakan!." Tari separuhnya kesal pada sahabatnya itu karena memutus panggilan sepihak padahal ia masih ingin tahu dan bicara.


"Itu Tar, sekarang aku lagi bingung mau pulang tapi sudah kemalaman dan pesanan taksiku dicancel. Apa aku bisa minta tolong menjemputku. Karena kos kosanmu kan tidak terlalu jauh dari sini. Tapi, kalau kamu ngak bisa ya tidak apa-apa kok, Tar."


"Ish–kamu ini kayak sama siapa saja. Sudah katakan sekarang kamu sedang ada dimana aku akan menjemputmu!" Tari tetap memaksa ingin menjemput Shinta.


"Alamatnya di jl.kuningan Menara Imperium. makasih ya bestie." Shinta merasa lega karena akhirnya ada yang menolongnya hingga ia tidak perlu berjalan kaki sendirian ditengah malam yang sepi ini.


"Iya iya. Tunggu....awas jangan kemana-mana!."


"Siap boss!."


Sementara itu ditempat yang berbeda. Wira dan teman-temannya baru saja membubarkan diri dari acara kumpul-kumpul barengnya. Mereka keluar bersama beriringan menuju ke parkiran.


"Wir, beneran nih gue ngak boleh kenalan sama saudara lo itu? Lumayan kan bisa dapat daun muda. Masih ranum dan fresh." Anton yang memang terkenal playboy masih penasaran dengan Shinta yang dikiranya sebagai saudara Wira.


"Fresh‐memang lo kira dia ikan dipasar. Ck....pokoknya ngak boleh. Enak aja."


"Wuih–galaknya. Posesif banget lo dah kayak bapaknya aja. Tenang bro, suatu saat gue pasti bisa sberkenalan dengan si imut itu. Menggemaskan." Anton seperti sengaja ingin membuat Wira semakin kesal.


Wira tak menggubris ucapan Anton. Ia masuk kedalam mobilnya lalu, segera beranjak pergi mendahului teman-temannya bahkan Wira tak berpamitan.

__ADS_1


"Si Wira kenapa? Lo bikin ulah apa lagi sih Ton, lo kayak ngak tahu aja sifat tu anak. Gue pokokny ngak mau bantuin lo kalau sampe ai Wira ngamuk gara-gara ulah lo yang bikin dia marah." Itu David yang memperingati Anton agar jangan membuat masalah dengan Wira.


"Tenang aja bro. Gue ngak akan macam-macam kok, paling cuma semacam aja ya itu pingin kenal sama tu cewek, sumpah manis banget kalah gula mah."


"Lebay lo, Ton. Dah lah gue sama Gerry balik duluan."


Sepanjang perjalanan Shinta tampak diam saja. Pikirannya berkelana kemana-mana. Ia memikirkan bagaimana nasibnya yang akan datang dan seandainya Wira sudah tidak membutuhkannya lagi dan yang membuat Shinta was-was adalah kalau sampai ia hamil. Lalu, bagaimana nasibnya dan anaknya nanti. Itu jika seandainya. Semoga hal itu tidak terjadi. Saking asiknya melamun sampai Tari mengajaknya bicara pun tak didengarnya. Hatinya saat ini begitu dilema.


"Shin, kamu kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"


"Eh, iya...maaf Tar. Kamu tanya apa?"


"Kamu kenapa malam-malam ada disana dan pake gaun lagi. Apa kamu habis menghadiri pesta atau apa?"


Shinta yang dibonceng Tari dengan menggunakan sepeda motor matic agak memajukan wajahnya agak kedepan agar bisa mendengar perkataan Tari dengan jelas. "Oh, itu....aku memang baru menghadiri undangan di gedung itu dan–."


"Dan apa? Kok ngak diterusin ngomongnya, terus kamu datang sama Pak Wira kan? Lalu, kenapa kamu malah berkeliaran malam-malam, sendirian dijalan yang sepi lagi."


"Dah lah Tar, aku lagi males membahasnya. Kamu apa ngak apa-apa Tar nganter aku sampai ke rumah. Nanti kalau kamu kemaleman gimana?" Shinta merasa tak enak hati sudah ditolong eh malah tambah merepotkan dengan minta diantar pulang.


"Tolong antar aku ke apartemen aja Tar! Kalau ke kediaman Ghazala masih jauh banget."


"Yakin ngak apa-apa, nanti suamimu marah ngak?"


"Enggak, dia ngak akan perduli kok." Jawab Shinta dengan lesu dan Tari dapat menangkap jika ada yang tidak beres dengan hubungan suami istri baru tersebut.


"Emm–ya sudah kalau begitu dimana alamat apartemen kalian?" Tari tak lagi bertanya macam-macam ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi sang sahabat.


Lima menit kemudian akhirnya mereka sampai jug didepan pelataran depan Apartemen mewah." Shin, aku langsung balik aja ya udah malam."


"Ngak nginep aja Tar, besok pagi aja pulangnya lagian kita ngak ada kuliah pagi juga."


"Ih, ogah...nanti aku malah jadi kambing congek dan mendengar sesuatu yang meyeramkan. Hii, bisa ternoda kesucian mata dan telingaku.

__ADS_1


Shinta melotot, ia paham apa yang dimaksud oleh Tari." Ish.... Kamu ngomong apa sih, Tar. Ya sudah sana pulang!"


Wira langsung meluncur ke rumah orang tuanya. Ia tidak tahu jika Shinta saat ini sudah berada di apartemen. Shinta malas memberi kabar pada suami plin plan-nya itu. Sampai didepan pintu, Wira langsung memencet bell karena malam sudah cukup larut,orang tuanya pun pastilah sudah tidur. Bi Darmi yang membukakan pintunya.


"Tuan Muda Wira."


Setelah dibukakan pintu Wira langsung masuk dan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Tujuannya adalah kamarnya. Iya yakin Shinta pasti juga sudah terlelap. Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya ia karena tak menemukan sang istri diatas tempat tidur. "Kemana Shinta?" Wira membuka kamar mandi dan juga nihil. Gegas Wira meraih ponselnya yang ia letakkan diatas nakas lalu, menghubungi Shinta.


"Hallo, assalamuallaikum. Iya–ada apa?" Shinta langsung menjawab panggilan telepon dari suaminya.


"Ada apa kamu bilang? Kamu sekarang ada dimana, kenapa aku tidak menemukanmu dirumah utama?" Wira sangat kesal karena Shinta menjawab terdengar malas.


"Oh, maaf. Tadi saya telat membaca pesan dari anda dan berhubung saya sama sekali tidak mengenal siapapun akhirnya say memint tolong teman untuk mengantarkan saya ke apartemen yang jaraknya lebih dekat." Shinta membeli alasan dengan sejelas-jelasnya agar suaminya itu tidak salah paham.


"Siapa yang mengantarmu, laki-laki atau Peeempuan?" Wira malah menanyakan siapa yang mengatarkan Shinta pulang.


"Perempuan namanya Tari. Apa anda sudah selesai, saya mau melanjutkan tidur lagi. Selamat malam."


Klekk


Shinta menutup sepihak panggilan telepon tersebut dan itu membuat Wira semakin bertambah kesal." Sialan, apa dia sengaja ingin mengerjaiku. Aku harus pulang sekarang sebelum mama dan papa tahu." Wira segera beranjak keluar dari dalam kamarnya lalu, bergegas pulang ke apartemen.


Karena panggilan telepon dari Wira membuat Shinta jadi tak bisa lagi memejamkan matanya. "Ish....gara-gara tu cowok plinplan aku jadi ngak bisa tidur lagi deh. Tapi, malam ini aman terkendali sebab si singa buas tak akan menerkamku lagi."


Shinta pun memutuskan membuat secangkir kopi. "Hoam....akhirnya, dengan secangkir kopi akhirnya mengantuk juga. Kembali masuk kekamar dan bersiap melanjutkan tidurnya. Beberapa menit kemudian Shinta pun jatuh tertidur.


BRUKK


"Nakal kamu ya istri mungilku. Cup....cup." Wira menugrup tubuh Shinta yang tengah tertidur dalam posisi terlentang lalu mengecup bibir sang istri.


"Tu–tuan Wira, anda mau apa?" Shinta tersentak kaget karena tiba-tiba ada yang menindih tubuhnya dan saat ia membuka mata wajah sang suami sudah berada begitu dekat dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi.


"Apa kamu bilang? Wah....sepertinya kamu memang meninginkan hukuman nikmat dari suami tampanmu ini ya. Oke, siap dilaksanakan."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2