Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
78. Ketahuan


__ADS_3

Mereka tidur saling memunggungi. Wira telah terlelap sejak setengah jam yang lalu.Sedangkan Shinta sama sekali belum bisa memejamkan matanya. Ucapan Wira terus terngiang di pendengarannya. Rasa gundah gulana semakin meliputi dirinya. Tiba-tiba saja hatinya sangat sedih bila mengingat janin yang kini mulai tumbuh di rahimnya. "Kamu harus kuat ya, nak. Kita akan berjuang berdua saja. Tidak apa-apa jika, ayahmu tidak mengknginkan kita." Shinta mengusap perut datarnya . Setelah itu ia menutup kelopak matanya mencoba untuk tertidur.


Pagi harinya, seperti biasa usai mandi ia pun segera memasak untuk sarapan pagi. Setelah itu ia menyiapkan keperluan sang suami dari pakaian hingga sepatu yang akan dikenakan Wira.


Sebanarnya Shinta tidak ada kelas pagi. Namun, karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya ia memutuskan akan tetap berangkat pagi dan tujuannya bukanlah ke kamous akan tetapi kekosan Tari. Shinta meninggalkan pesan disecarik kertas yang mengatakan jika, ia sudah berangkat kulian. Lalu, Shknta langsung bergegas berangkat.


Tak berselang lama setelah Shinta pergi Wira pun terbangun. Laki-laki itu langsung beranjak kekamar mandi. Setelah mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri ia lalu keluar kamar dan menuju kemeja makan. Suasana apartemen tampak sepi, Wira tidak menemukan keberadaan istri mungilnya itu. Namun, saat ia duduk dan beriap untuk sarapan sorot matanya menangkap secarik kertas yang tergeletak diatas meja. Wira pun meraihnya lalu membacanya.


"Mas, maaf saya berangkat duluan karena ada kuliah pagi." Itulah pesan yang ditulis Shinta.


Wira menatap datar hidangan yang tertata rapi diatas meja. Ia menghela nafas panjang, sebenarnya ia malas jika, harus makan sendirian. Tapi, ya mau bagaimana lagi Shinta sudah berangkat lebih dulu. " Apa dia marah dengan ucapanku tadi malam? Si***** si Anton. Ngapain juga dia ngejar-ngejar istri orang. Ini tidak boleh dibiarkan aku akan bicara langsung padanya.


Tok tok tok


Ceklek


Kriett


"Shinta!?"


"Assalamuallaikum bestie, apakah aku boleh masuk?" Shinta menampilkan wajah cerianya.


"Wa'allaikumsalam bestie. Ayo, masuk. Pake izin segala."


Kemudian Shinta duduk diatas kasur tanpa dipan milik Tari dan merebahkan tubuhnya. Tari menyipitkan matanya melihat Shinta yang tampak lesu.


"Shin, kamu kenapa lagi? Kalau memang masih lemas tidak usah berangkat ke kampus. Pulang saja sana istirahat di springbed empukmu."


"Ish–dasar, masa' baru datang sudah diusir lagi. Kamu sahabatku bukan,sih." Kesalnya


Tari yang baru saja selesai memasak nasi goreng langsung menghampiri Shinta lalu, meletakkan nampan yang berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas air putih diatas karpet. "Sudah jangan ngambek, bumil sensitif banget sih. Nih, aku bikin nasi goreng nyonya boss mau ngak? Apa kamu sudah sarapan."


Shinta pun bangkit dan beranjak turun lalu, duduk diatas karpet. "Tahu aja kalau aku belum sarapan. Makasih ya bestie. Kayaknya yummy banget nih." Shinta langsung menyanggah satu piring nasi goreng dan langsung memakannya. "Hmm....ternyata kamu pintar masak juga ya, Tar. Aku kira kamu cuma bisa masak air saja." Shjnta tekekeh geli melihat raut bibir Tari yang sundah manyun lima centi.


"Dasar teman lucnut itu memuji apa mau ngece?"

__ADS_1


"Iya iya, sorry lah bestie. Beneran aku serius ini enak banget. Thanks ya....besok-besok boleh dong mampir sarapan lagi." Shinta menaik turunkan alisnya menggoda Tari. Sedangkan Tari menanggapinya hanya menggelengkan kepala.


Setelah merasa kenyang. Tiba-tiba perut Shinta terasa bergejolak. Rasanya mual sekali dan ia sudah tidak tahan ingin mengeluatkan isi perutnya. Dengan gerakan cepat ia pun berlari masuk kekamar mandi. Untung saja Tari baru saja selesai mandi.


"Eh eh, kamu kenapa Shin?"


Shinta tak menjawab teguran Tari. Karena ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Hueekk hueeek hueekk


"Hhh– hueekk huekk!"


Melihat Shinta yang muntah-muntah, Tari pun langsung menyusul lalu, memijit-mijit tengkuk Shinta. "Kamu morning sick ini. Apa aku telpon suamimu saja ya biar dijemput atau mau aku antar ke dokter kandungan saja."


Shinta menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan telepon Mas Wira, boleh kan aku istirahat disini saja."


"Bukan gitu juga Shin. Kalau gitu aku antar kedokter saja ya nanti pasti akan diberi obat mual. Lihat, kamu sudah lemas gini trus mukamu pucat banget." Tari tak tega melihat sahabatnya kepayahan seperti itu.


"Gimana, mau ya. Kita berangkat sekarang saja yuk, mumpung masih pagi." Shinta pun akhirnya mengangguk dan menurut.


Mereka mendatangi sebuah Rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal Tari. Untung saja mereka datang agak pagi jadi, belum banyak pasien yang mengantri di poli kandungan.


Tari yang duduk disamping Shinta yang menjawab pertanyaan sang dokter. "Maaf dok, ini teman saya sepertinya sedang mengalami morning sick tadi setelah sarapan dia muntah-muntah dan tak berhenti sampai tubuhnya lemas."


"Begitu. Apa sudah pernah di test?"


"Sudah dok." Lagi-lagi yang menjawab Tari padahal Shinta baru akan menjawab jika, ia belum melakukan test apapun. Si Tari sok tahu sekali. Memangnya yang hamil siapa dan yang antusias malah si Tari.


"Tari–!"


"Sttt–sudah kamu nurut saja!"


Dokter cantik itu pun tersenyum ramah lalu, menyuruh Shinta untuk berbaring di brankar untuk melakukan USG." Kalau begitu mari kita periksa USG dulu ya. Silahkan berbaring ya mbak."


"Nah, ini surah terlihat kantung nya ya, dan itu titik kecil yang didalamnya adalah janinnya. Sebentar....usianya sekitar 8 minggu. Selamat ya, mbak–."

__ADS_1


"Shinta dok, nama saya Shinta." Jawab Shinta yang masih dalam rebahan diatas brankar periksa.


"Oke, mbak Shinta. Selamat ya atas kehamilannya. Mari silahkan!" dokter Mariska pun kembali duduk di ikuti Shinta dan Tari.


"Ini saya resepkan vitamin, penambah bdarah dan obat pereda mual ya. Diminum rutin ya mbak Shinta. Semoga kehamilannya lancar dan debay nya tumbuh dengan sehat dan normal."


"Terima kasih dokter." Jawab Shinta dan Tari.


Setelah menebus resep di poli farmasi. Mereka pun melangkah keluar dari area Rumah Sakit dan menunggu taksi online yang sudah di pesan Tari. Ya, mereka memutuskan menaiki kendaraan umum saja karena terlalu beresiko jika, harus berboncengan motor. Melihat keadaan Shinta yang lemah.


"Lama banget sih taksinya?" Tari mendumel sendiri.


"Sabarlah Tar, baru juga beberapa menit."


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keberadaan mereka yang baru saja keluar dari ruang periksa poli kandungan lalu mengikuti kedua gadis itu sampai selesai menebus obat. Dialah David, salah satu sahabat Wira yang memang berprofesi sebagai dokter ahli bedah dirumah sakit yang mereka datangi.


"Loh, itu bukannya Shinta sama Tari. Sedang apa mereka kesini? Siapa yang habis periksa, Shinta atau Tari?" Ia ingin menyapa kedua wanita muda itu namun, taksi yang mereka pesan keburu datang dan David pun mengurungkan niatnya itu. Ia lebih memilih mencari tahu sendiri dengan mendatangi ruang periksa dokter Mariska.


Malam harinya sekitar pukul 20.00 WIB. Wira mengajak para sahabatnya untuk kumpul bareng di sebuah cafe tempat biasanya.


"Hei–ada apa nih gerangan pak boss kita ngajak ketemuan. Mau nraktir kita-kita ya?" Itu Edward yang menyeletuk.


Keempat pria tampan yaitu, Wira, Anton, David dan Edward. Empat serangkai yang telah bersahabat sejak bangku SMA itu memang selalu rutin mengadakan pertemuan agar pertemanan mereka tetap terjaga.


"Ada apa nih, Wir. Tumben-tumbenan lo ngajak ketemuan?" Tanya Anton penasaran.


"Enggak ada apa-apa, cuma mau kasih tahu aja sama lo, Ton. Tolong lo jangan deketin Shinta lagi apa lagi ngejar-ngejar dia karena Shinta sudah dijodohkan oleh orang tuanya."


Anton mengerutkan keningnya." Baru dijodohin kan, janur kuning pun belum melengkung bro. So....gue masih ada kesempatan dong. Ya ngak, Vid, Ed?"


"Dasar lo playboy cap kampak." Edward menyindir Anton. Sedangkan David hanya terkekeh melihat kepercayaan diri yang tinggi seorang Anton yang pesonanya tak diragukan lagi. Tampan, mapan dan kaya raya.


"Udah, pokoknya gue udah memperingatkan loe ya, Ton. " Wira sangat kesal Anton sama sekali tak menggubris.peringatannya.


"Oh ya, Wir. Gue sampe lupa mau ngasih tahu lo sesuatu. Tadi pagi gue lihat Shinta sama temennya yang namanya Tari itu datang kerumah sakit dan mereka masuk ke ruang poli kandungan. Nah, pas gue tanya si Mariska. Ternyata yang periksa itu Shinta."

__ADS_1


"APAA!?"


Bersambung


__ADS_2