Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
65. Sikap Wira


__ADS_3

Pagi menjelang siang sepasang pengantin baru, beberapa menit yang lalu baru saja menyelesaikan acara mandi plus satu ronde permainan tambahan di bawah guyiran shower. Sendi-sendi lutut Shinta terasa lemas dan tubuhnya jangan ditanya lagi betapa letih tak terkira.


Wira membantu Shinta berpakaian. Sejak keluar dari kamar mandi wajah Shinta cemberut, bibirnya mengerucut dan itu membuat Wira semakin gemas dengan istri kecilnya itu. "Sudah, jangan cemberut terus dong! Nanti tambah jelek loh." Entah mengapa Wira sangat senang menggoda Shinta yang tampak lucu bila sedang merajuk.


"Tuan yang selalu mengganggu saya. Semalam kan sudah, masa' tadi mi–." Shinta seketika terdiam tak melanjutkan perkataannya karena tatapan Wira yang sulit diartikan dan bahkan membuat gadis itu larat sudah bukan gadis lagi, Shinta bergidik ngeri. Ngeri-ngeri sedap.


"Apa? Mi....mi apa? Kok berhenti, ayo lanjutannya apa. Katakan!" Wira sebenarnya tahu apa yang ingin di utarakan Shinta. Hanya saja ia ingin mendengar dan melihat langsung ekspresi istrinya itu.


"Mi–tapi, janji ya Tuan jangan marah dan mengerjai saya lagi." Mengajukan syarat, karena ia tak ingin diserang lagi. Cukup sudah semalam dan pagi ini.


Wira mengangguk lalu, menaik turunkan alisnya memberi isyarat agar Shinta melanjutkan perkataannya.


"Emm, minta jatah lagi." Shinta lansung tertunduk malu, wajahnya sudah semerah tomat masak bahkan sampai ketelingsnya.


Mendengar kata jatah lagi, Wira jadi sumringah." Kalau itu sih sudah pasti dan kamu juga menikmatinya, bukan. Begini....tu–an ah, sudah....oh, iya itu enak– mpm."


Shinta langsung membungkam mulut Wira dengan telapak tangannya. Kenapa juga suaminya itu pakai mereka ulang suara de***** yang secara tidak sadar dikeluarkannya. Sungguh Shinta begitu malu bila mengingatnya.


Wira terkekeh geli melihat cara berjalan Shinta yang aneh seperti bebek. Sedangkan yang ditertawakan tak perduli walaupun sebenarnya Shinta sangat malu dan juga kesal pada suaminya yang malah tak merasa bersalah sama sekali atas hasil dari perbuatannya itu. ' Ish....dasar suami mesum. Shh, ini.bagaimana nanti aku di kampus. Pasti aku akan jadi pusat perhatian orang banyak. Aduh, belum lagi kalau Tari lihat pasti dia akan curiga dan menginterogasiku.'


"Kenapa muka kamu tambah jelek gitu? Trus kamu mau pergi kemana dengan keadaanmu yang seperti itu...hem?" Wira menegur sang istri ketika terlihat hendak beranjak pergi dengan mencangking tas yang biasa dibawanya.


"Ya mau berangkat kuliah lah. Memangnya mau ngapain lagi.Kalau begitu, saya berangkat ke kampus duluan ya Tuan. Shh–." Shinta kembali meringis ketika melangkahlan kakinya.


Wira yang merasa iba pun langsung menggendong Shinta ala bridal style lalu, mendudukkannya diatas sofa. "Sudah, tidak usah kekampus dulu. Memangnya kamu ngak malu nanti jadi pusat perhatian orang-orang. Istirahatlah sampai keadaanmu pulih kembali, satu atau dua hari juga ngak masalah,kan."


Tentu saja Shinta sangat keberatan jika sampai harus bolos kuliah apalagi sampai 2 hari. Mana bisa ia berbuat seenaknya seperti itu. Sedangkan ia bisa melanjutkan kuliah karena mendapatkan beasiswa. Dia tak ingin bermasalah dan seasiswanya bisa dicabut.


"Ya ngak bisa gitu, Tuan. Saya kuliah dengan mengandalkan beasiswa dan tidak boleh berbuat sesuka hati. Jadi, saya harus tetap berangkat kekampus." Shinta berusaha untuk bangkit tapi, ia jatuh terduduk lagi. Wajahnya sudah tampak resah karena sepertinya ia memang tak kuat untuk berjalan jauh. Masih terasa nyeri ketika dibuat berjalan.

__ADS_1


Wira menggelengkan kepalanya tak menyangka jika istri kecilnya itu ternyata begitu keras kepala. "Sudah jangan ngeyel, dibilang suruh istirahat ya diam dirumah jangan banyak tingkah."


Shinta pun akhirnya pasrah dan manut pada suaminya. " Iya, hari ini saya tidak akan berangkat kekampus."


"Nah, gitu dong baru anak baik. Kalau begitu aku berangkat kekantor sekarang. Sudah kesiangan banget ini. Pergi dulu ya!" Wira pun beranjak pergi tanpa mencium sang istri. Shinta hanya diam saja menatap kepergian suaminya itu.


"Kenapa sikapnya berubah seperti semula. Padahal semalam dia begitu lembut dan perhatian. Hh....Shinta, kamu jamgan terlalu berharap terlalu jauh. Kamu harus ingat siapa dirimu. Kamu hanyalah bekas seorang anak pembantu."


Entah mengapa mengingat akan statusnya Shinta menjadi sedih. Jadi, selama menjadi istri dari Wira ia hanya akan dijadikan tempat pembuangan benihnya saja. Lalu, bagaimana masa depannya nanti jika sang tuan muda sudah bosan dengannya? Shinta benar-benar galau.


Ting


Tong


Ting


Tong


"Loh, kenapa malah diam saja disitu. Ayo, ini Mama bawa makan siang buat kamu. Tadi Wira telepon Mama, katanya kamu sedang tidak sehat dan Mama disuruh menemanimu. Sini....duduk dekat Mama. Ada yang ingin Mama tanyakan."


Shinta pun sudah pasrah dan melangkah perlahan menghampiri Mama Helen. Melihat cara berjalan Shinta yang aneh tentu saja membuat wanita paruh baya itu menduga jika telah terjadi sesuatu pada menantunya itu. "Kamu kenapa, sayang? Kakimu sakit apa gimana?" Mama Helen berpura-pura tidak tahu. Sebab ia tahu penyebabnya.


"Oh, enggak apa-apa kok Ma." Shinta mengembangkan senyuman manisnya. Padahal didalam hatinya sedang merutuki suaminya.' Lagian ngapain sih tuan muda menyuruh mama Helen datang kesini. Pake bilang aku lagi sakit lah. Ish....bikin malu saja.'


Sementara itu Wira yang datang kesiangan telah disambut oleh Papa Bisma. Tadi pagi Gugun, asisten pribadi Wira mengabari jika tak bisa menghubungi boss nya. Padahal ada pertemuan dengan salah satu klien penting perusahaan. Alhasil, akhirnya Papa Bisma pun memutuskan yang akan menemui klien tersebut. Dan syukurlah klien mereka tidak merasa kecewa dan kesepakatanpun berhasil dengan baik. Papa Bisma beralasan jika, Wira mendadak harus melakukan perjalanan dinas keluar negeri dan untungnya mereka pun percaya dan memakluminya.


"Wajah kamu kelihatan segar sekali, asik ya pulang-pulang langsung unboxing istri. Gimana....nikmat, kan?" Papa Bisma menggoda Wira. Bagaimana pun ia pernah muda dan tentunya mengerti apa yang terjadi pada putranya yang belum lama menikah. Maklum pengantin baru.


"Papa apa-apaan sih, soal begituan aja dibahas kayak ngak pernah muda saja." Papa Bisma pun hanya menanggapi omelan putranya dengan tertawa renyah.

__ADS_1


Bapak dan anak itu kemudian terlibat dalam perbincangan serius mengenai pekerjaan terutama tentang hasil kesepakatan dengan klien yang ditemu Papa Bisma pagi tadi.


"Oh ya, Wir. Nanti malam kamu dan Shinta datang ya keacara makan malam rutin keluarga kita. Ini adalah kali pertama kamu kembali dan berhubung kamu sekarang telah menikah jadi, sebisa mungkin datanglah. Mamamu pasti bahagia karena putra kesayangannya telah kembali seperti dulu. Papa sangat berharap kamu tidak akan mengecewakan Mama."


Wira hanya mengangguk. Lalu, Papa Bisma pamit pulang karena tugasnya telah selesai. "Kalau begitu papa pulang ya.Baik-baik dengan istrimu!."


Malam harinya di kediaman Ghazala tampak ramai dengan suara canda dan tawa para penghuninya. Apalagi dengan hadirnya cucu pertama keluarga Ghazala yaitu Kiano putra Liam dengan Vania. Menambah keceriaan di keluarga mereka Celotehan lucu nan menggemaskan membuat semua orang begitu terhibur. Balita tampan yang belum genap berusia 2 tahun itu pun telah menjadi idola Kakek dan neneknya


"Assalamuallaikum."


"Wa'allaikimsalam." Jawab mereka serempak. Mama Helen langsung menyambut kedatangan Wira dan Shinta dengan begitu bahagianya.


"Ah, sayang. Akhirnya kalian datang juga. Ayo, bergabjng dengan yang lain."


Shinta berjalan pelan, meskipun rasanya sudah tak terlalu sakit lagi. Namun, tetap saja rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Wira dengan cueknya berjalan menninggalkan Shinta dan itu tak luput dari penglihatan mama Helen "Wira, kamu itu gimana sih. Masa' Shinta kamu tinggalin gitu aja. Gandeng dong, ngak lihat apa kalau–."


"Oh, ngak usah Ma. Ini Shinta juga bisa jalan sendiri kok. Enggak apa-apa." Shinta langsung memotong ucapan sang mama mertua masalahnya ia bisa menebak jika mama Helen akan mengatakan sesuatu yang akan membuatnya malu. Sebenarnya Shinta juga agak sedikit kecewa dengan sikap cuek Wira pada nya. Tapi, ia menepis segala prasangka tidak baiknya itu.


Acara makan malam pun beelangsung dengan hikmat dan penuh suka cita. Apalagi ini pertama kali nya kekuarga Ghazala berkumpul lagi setelah sekian lama Wira tak kunjung pulang. Dan di momen bahagia ini akhirnya.Liam dan Vania mengumumkan kepada keluarga jika mereka akan dikaruniai anak lagi.


"Wah, Mama dan Papa bakal dapat cucu lagi dong." Mama Helen tampak begitu antusias menyambut kehamilan kedua Vania.


Berbeda dengan Wira yang menanggapi berita tersebut dengan wajah datarnya. Bahkan laki-lakii itu tampak sesekali mencuri pandang pada Vania. Hal itu tentu saja membuat Vania merasa tak nyaman. Apalagi ada Shinta yang sepertinya juga menyadari gerak gerik suaminya yang mencurigakan. 'Kenapa tuan muda Wira menatap mbak Vania seperti itu?' Wira bahkan tak sekali pun meboleh padanya.Tiba-tiba saja dada Shinta terasa sesak. Tak diindahkan oleh suaminya sendiri membuatnya jadi insecure. Ia pun berpamitan kebelakang dengan alasan ingin menemui ibunya yang tengah berada didapur.


"Maaf, saya izin kebelakang sebentar mau menemui ibu." Shinta pun melangkah dengan perasaan yang campur aduk. Namun, sebisa mungkin ia akan bersikap biasa saja.


"Bu–." Wajah Shinta mulai berkaca-kaca.


"Shinta, kamu kenapa nak?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2