Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
96.S2. Menembak Inara


__ADS_3

Menjelang petang mereka pun akhirnya tiba di Villa. Kedatangan mereka langsung disambut oleh seorang pria paruh baya penjaga Villa tersebut.


"Selamat datang Den Kiano dan non Kirena. Mari silahkan masuk. Bi Yayah sudah menyiapkan makan malam untuk semuanya."


"Terima kasih Pak Deden. Kami akan istirahat dulu sebentar." Jawab Kiano mewakili semuanya dan Pak Deden pun membimbing para tamu nya masuk kedalam Villa.


Setelah sampai didalam, Pak Deden pamit undur diri kebelakang karena ingin memberitahu istrinya jika, para tamu telah tiba.


"Oke guys, disini ada 4 kamar. Kirena dan Gendhis tentunya akan satu kamar. Jay sama Tony, dan gue sama Erwin. Lalu, Inara dikamar yang terakhir. Ngak apa-apa kan Nara kamu tidur sendirian?" Kiano langsung membagi-bagikan kamar yang akan mereka tempati.


"Eh, tunggu dulu bang Kiano! Maksudnya si Inara dapat satu kamar sendiri, gitu? Lah....enak bener ya pembokat tidur di kamar tamu." Itu Gendhis yang protes karena gadis itu memang tidak menyukai Inara sejak melihat Kiano mengantarkannya kesekolah.


"Maksud lo ngomong begitu apa sih, Dhis? Inara juga kan manusia sama seperti kita. Ya wajar sajalah kalau dia tidur di kamar yang mana pun." Jay tak suka reaksi Gendhis yang terang-terangan merendahkan Inara.


Inara yang tak enak hati melihat perdebatan diantara keduanya pun mengalah dan memutuskan akan menempati kamar pembantu yang ada di belakang dekat dapur. "Iya, non Gendhis benar. Saya seharusnya memang di kamar belakang saja. Kalau begitu saya permisi duluan ya, Tuan, non dan mas-mas semua " Segera undur diri dari pada berbuntut panjang, padahal hanya masalah kamar saja. Bagi Inara tidak masalah ia mau tidur dimana pun. Toh, sama saja intinya tempat itu bisa untuk beriatirahat dan tidur.


"Wah–kayaknya kita salah deh ngajak si Gendhis. Dah cerewet sok ngatur lagi. Sombong banget." Tony pun ikutan sebal dengan tingkah si Gendhis.


Setelah itu, mereka pun membubarkan diri dan menuju ke kamar masing-masing. Namun, Erwin malah berbelok arah menuju ke kamar yang tersisa. "Lah, Win. Lo mau kemana? Kamarnya di sini....ayo masuk!" Tegur Kiano yang melihat Erwin malah ingin membuka pintu kamar lainnya.


"Gue ngak mau tidur berdua sama cowok. Mumpung ada kamar kosong kan. Lagian Inara juga ngak mau tidur di kamar ini." Jawab Erwin beralasan.


"Bisa aja lo."


Erwin melangkah menghampiri Kiano lalu, membisikkan sesuatu." Harusnya lo seneng dong, Ki. Kan lo bisa bebas pede kate sama si Inara." Mengedipkan sebelah matanya menggoda Kiano.


"Ckk–memangnya pedekate mesti berduaan di kamar gitu. Gue bukan kalian yang agak mesum pikirannya." Kiano mencebik sebal.


Mendengar ucapan Kiano membuat Erwin terkekeh geli. " Hehehe....namanya juga usaha Ki, kalau dapat ya itu artinya bonus spesial."


"Dasar piktor lo."


BRAKKK


Kiano tak lagi meladeni Erwin yang pikirannya sudah ngawur kemana-mana. Ia pun segera masuk kedalam kamarnya dan menutupnya keras.


"Asstaqfirullahhaladzim. Kaget gue. Dasar kulkas.Lihat aja nanti lo Ki. Kalau udah ngeeasain yang namanya jatuh cjnta pasti bakal kelimpungan deh lo." Erwin mengelus-elus dadanya.

__ADS_1


Usai makan malam, mereka kembali berkumpul di taman belakang Villa sambil bermain gitar dan bernyanyi. Tepatnya hanya Erwin yang sibuk dengan petikkan gitarnya dan suaranya pun cukup lumayan terdengar di telinga. Sedangkan yang lainnya ada yang bercengkerama ria dan ada juga yang sibuk dengan ponsel ditangannya.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kiano pun menyuruh Kirena dan Gendhis untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan para pria masih stay.di tempat.


"Duo bocil aman dah masuk kamar, sekarang saatnya berpesta ria. Inilah dia si penghangat di saat udara dingin." Tiba-tiba Jay mengeluarkan beberapa botol minuman keras yang ternyata sudah dipersiapkannya.


Erwin menggelengkan kepalanya namun menaik turunkan matanya, mengkode jika ada Kiano yang sedang melangkah menuju kearah mereka.


Sudah telat jika harus menyembunyikannya, terlanjur basah ya sekalian saja basah-basahan. Begitulah yang afa dipikiran ke tiga pemuda tampan itu. Kiano yang melihat minuman haram itu pun langsung menegur teman-temannya. "Woi....apa-apan ini? Siapa yang bawa barang beginian?" Kiano menatap satu persatu teman-temannya.


"Ya elah Ki, ini bukan apa-apa kali. Cuma untuk menghangatkan badan aja. Cuaca disini dingin banget. Janji deh kita ngak akan sampai teler....swear, bro." Tony yang pertama menanggapi pertanyaan Kiano.


Kiano menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kenekatan teman-temannya itu. Tapi, ya mau bagaimana lagi.dilarang pun percuma, ketiganya memang sudah terbiasa menenggak minuman haram tersebut ya walaupun tidak pernah sampai mabuk parah, awalnya hanya sekedar mencoba-coba saja.Hanya Erwin yang cuma berlagak sok kuat saja, padahal laki-laki itu sama sekali tak kuat minum. "lo pada ya, bener-bener–." Kiano tak melanjutkan ucapannya lagi karena fokusnya terganggu dengan sosok cantik yang sedang menuju kearah mereka dengan sebuah baki ditangannya. Begitu pun Erwin, Jay dan Tony ikut menoleh kearah pandangan Kiano.


"Ini dia yang kita tunggu-tunggu, terutama untuk best friend kita. iya ngak, Tuan Muda Kiano?" Erwin menggoda Kiano dengan mengedipkan matanya pada sang sahabat.Hal itu tentu saja membuat Kiano malu, entahlah....ia yang tidak pernah mencoba mendekati seorang gadis pun rasanya jadi gugup.


"A‐apaan sih, lo. Win. Sudah diam, dia.sudah hampir sampai." Kiano memelototi Erwin yang sedang cengengesan tak jelas.


"Hai Inara cantik, kami kira kamu juga sudah masuk kekamar. Bawa apa itu?" Jay yang sedang usaha tentu saja tak akan membuang kesempatan untuk bisa lebih akrab dengan Inara.


Inara meletakkan beberapa camilan dan minuman hangat, ada wedang jahe dan sekoteng yang pastinya akan dapat menghangatkan tubuh para pria muda tersebut. "Ini, tadi saya dan Bi Yayah membuat camilan semoga sesuai selera tuan dan mas-mas semua. Emm....kalau begitu saya pamit kebelakang dulu. Permisi." Inara beranjak kembali masuk kedalam Villa.


"Woi–Kiano! malah bengong aja. Udah, cepetan sana susul si cantik dan pepet teris sampai dapat! Tapi, kira-kira lo sanggup ngak ya? Secara seorang Kiano yang super perfect no pengalaman dengan yang namanya kaum hawa." Lagi-lagi Erwin memanas-manasi Kiano dan sukses membakar semangat sang tuan muda.


"Ngeremehin banget ya lo pada. Lihat nih, ngak sampai setengah jam gue dah bakal ngedapetin hatinya." Ucap Kiano penuh percaya diri.


Ketiga nya saling berpandangan lalu, kompak mentertawakan Kiano. "Semoga saja lo sukses Ki. Permainan ini akan berakhir sampai minggu sore....oke!" Dalam hatinya, Jay berharap jika Kiano tak akan berhasil.


Inara baru saja selesai berbesih dapur. Bi Yayah sudH sejak sepuluh menitan yang lalu telah kembali kekamarnya. Inara hendak melangkah keluar inginenuju ke kamarnya punterhenti ketika mendengar panggilan suara sang tuan muda nya. " Nara, tunggu sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Bisa kita bicara secara pribadi, berdua saja."


"I‐iya Tuan Muda, tentu saja boleh sekali. Apa yang ingin tuan muda tanyakan?"


"Kita bicara ditempat lain bisa, kan?"


Inara pun mengangguk lalu, mengikuti langkah sang majikan.Hingga langkah mereka berhenti di sebuah gazebo yang terletak di belakang Villa. Suasana tampak hening karena malam pun kian larut dan tampak hanya mereka berdua yang berada di tempat itu. "Emm....apakah kamu sudah mempunyai seseorang yang spesial di.hatimu?" Tanya Kiano dengan dada yang berdebar hebat.


"Eh–maksud Tuan Muda apakah saya sudah memiliki pacar begitu, kan?" Dan dijawab anggukan kepala oleh sang tuan muda.

__ADS_1


"Itu, saya sama sekali belum memikirkan hal semacam itu. Tujuan saya lesekolah hanya untuk belajar dengan baik dan tidak akan mengecewakan pak Liam dan bu Vania yang sudah terlalu baik dengan membantu mewujudkan masa depan saya."


Senyum pun terbit di wajah tampannya tanpa disadarinya ketika mengetahui jika, Inara belum memiliki seorang kekasih. Inara sampai tercengang menatap wajah tampan Kiano yang tersenyum.


"Jadi, itu artinya kamu belum mempunyai pacar, kan? Bagaimana kalau aku yang memintamu untuk menjadi kekasihmu. Kamu bersedia kan menerimaku?" Kiano meraih kedua tangan Inara dan menggenggamnya dengan lembut.


Gadis itu pun sontak tercengang akan pengakuan mendadak itu. "A‐apa yang Tuan Muda katakan? Pasti anda hanya ingin mengerjai saya saja,kan?"


"Tidak, Nara. Aku serius. Mau kan kamu menjadi kekasihku?"


DEGG


'Ini beneran apa cuma mimpi sih? Kayaknya aku tidak sedang tidur.' Inara spontan menggigit bibirnya sendiri dan–.


" Aduhh–."


"Kamu kenapa? Apamu yang sakit?" Kiano melepaskan genggaman tangannya lalu beralih menyentuh kedua belah pipi sang gadis yang sudah memerah bak tomat masak.


"Saya tidak kenapa-napa kok, Tuan. Apa boleh saya kembali ke kamar saya?" Inara mencoba menghindar dari pertanyaan yang diajukan oleh Kiano.Tentu saja Inara tak seberani itu untuk menerima ungkapan hati laki-laki tersebut yang notabene-nya adalah majikannya itu.


"Tunggu, Nara. Kamu belum menjawab ungkapan perasaanku. Ayo, aku ingin kamu menjawabnya sekarang juga. Katakan....apakah kamu menerimaku? jadilah kekasihku, Nara!" Kiano mencegah kepergian Inara dengan mencekal lengannya.


Jangan ditanya bagaimana apa yang kini tengah dirasakan oleh Inara. Tentu saja hatinya berbunga-bunga. Lelaki setampan dan sesempurna Kiano menyukainya dan bahkan menembaknya secara langsung seperti ini. Dengan wajah yang merona gadis cantik itu pun mengangguk dan itu menandakan jika, Inara menerima ungkapan perasaan Kiano.


"Benarkah kamu menerimaku, Nara? Jadi, mulai detik ini kita sudah resmi pacaran, oke." Lagi-lagi Inara hanya mengangguk malu tak berani menatap langsung wajah Kiano.


Setelah itu karena saking malunya, Inara segera berlari meninggalkan Kiano yang menatap punggung Inara yang semakjn menjauh dengan senyum penuh arti.


"Gimana my bro? Sukses ngak?" Tony langsung bertanya ketika Kiano telah bergabung kembali dengan teman-temannya yang sejak tadi tidak sabar menunggunya. Tepatnya penasaran dengan hasil misi yang sedang dijalankannya.


"Jangan tanya siapa Kiano jika, tidak bisa menahlukkan gadis polos seperti Inara. Bahkan terlalu gampang. Kurang menantang." Jawabnya dengan penuh kesombongan.


"Wow–sombong sekali kau, bro. Oke....bagaimana kalau malam ini lo bisa memiliki gadis itu seutuhnya. Apa lo berani? Ah, gue rasa mustahil." Jay tersenyum mengejek


Kiano yang merasa diremehkan tentu saja tak terima. Dengan penuh kekesalan tanpa sadar ia meraih sebuah botol minuman beralkohol tinggi tersebut lalu menenggaknya dengan penuh semangat. "Siapa yang takut, lihat saja nanti. Malam ini Inara akan menjadi milikku. Mengerti?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2