
Mobil porsche hitam melesat dengan kecepatan sedang di jalanan ibu kota dipagi hari yang lumayan padat. Entah mengapa melihat Inara bersama dengan Jay membuatnya tak suka. "Sejak kapan mereka sedekat itu? Kenapa aku sampai tidak tahu. Tapi, ngapain juga aku mikirin hubungan orang lain. Ngak ada urusannya sama gue,kan. Ck—." Ya, pemilik mobil merah yang menjemput Inara tadi adalah Jay, salah satu sahabat Kiano yang memang sejak awal pertemuan telah menyukai Inara.
"Mas, nanti tolong berhenti di halte bis dekat sekolah saja ya." Pinta Inara pada laki-laki yang tengah mengantarnya kesekolah itu.
Kening Jay mengkerut tak mengerti kenapa harus seperti itu. "Loh, memangnya kalau didepan gerbang sekolah kenapa? Toh, mereka semua juga mengenalku."
"Bu–bakannya begitu Mas. Kalau mereka sampai melihat saya bersama dengan Mas Jay, bisa-bisa nanti saya jadi bulan-bulanan mereka dan mengira saya yang macam-macam. Karena mereka rata-rata sudah mengetahui jika,saya hanyalah pembantu di rumah non Kirena. Dan itu juga yang saya takutkan kalau non Kirena tahu pasti akan mengadukannya pada Pak Liam dan Bu Vania. Saya yang tidak enak, Mas."
"Begitu." Jay menghela nafas dalam mengerti akan apa yang dirasakan oleh Inara. Ia juga tidak akan tega kalau gadis itu menjadi bahan bullyan murid-murid disekolahnya. "Baiklah, aku akan menurunkanmu di halte bis."
Inara tersenyum dan sangat berterima kasih pada laki-laki yang selalu bersikap lembut dan baik padanya. "Terima kasih ya, Mas Jay baik sekali."
"Ah–biasa aja Nara. Kalau misalkan kamu membutuhkan bantuan jangan sungkan hubungi aku ya. Emm....boleh, kan minta nomer telepon kamu?"
"Eh, nomer telepon? Bo–boleh kok, Mas." Kemudian Jay menyerahkan ponselnya agar Inara memasukkan nomer kontaknya.
Senyum terkembang di wajah tampannya.'Yes, akhirnya gue dapat nomer telponnya juga.'
Tak terasa akhirnya mereka sampai juga di dekat area sekolah. Mobil Jay berhenti tepat di depan halte seperti permintaan Inara. Gegas Inara turun sebelum ada yang melihat keberadaannya bersama Jay. "Terima kasih ya, Mas Jay."
"Iya cantik, sama-sama. Apa pulang sekolah nanti aku boleh menjemputmu lagi?" Sepertinya Jay benar-benar aji mumpung memanfaatkan situasi agar bisa lebih dekat dengan sang gadis pujaan.
Inara tentu saja menolak dengan sopan. Bukan apa-apa. Jika, ia sampai menerima tawaran dari laki-laki itu tentu saja akan timbul masalah baik disekolah maupjn dirumah. Kirena tak akan diam, anak majikannya itu pasti akan mengadukannya pada kedua orang tuanya. "Tidak usah, Mas. Terima kasih. Nanti saya mau belajar kelompok dirumah teman.Maaf ya, bukannya saya ngak mau." Terpaksalah Inara berbohong dari pada Jay siang nanti benar-benar datang untuk menjemputnya.
Jay menghela nafas panjang, "Oke, tidak apa-apa. Tapi, lain kali boleh kan aku menjemputmu?" Dan dijawab anggukkan kepala serta senyum tulus sang gadis. Sontak hal itu membuat Jay sumringah dan merasa memiliki kesempatan yang memungkinkannya untuk mendapatkan Inara.
Disebuah Universitas ternama di ibu kota. Tampak empat orang pemuda tampan tengah berkumpul di gedung kampus, tepatnya disalah satu ruang kosong yang dijadikan basecamp oleh keempatnya. Sudah menjadi rahasia umum lagi jika, Kiano, Jay, Erwin dan Tony berasal dari kalangan keluarga kaya dan terpandang. Bahkan orang tua mereka merulakan salah satu donatur tetap kampus dimana mereka menimba ilmu saat ini.
"Eh, Jay. Gue perhatiin dari tadi lo senyam senyum udah kayak orang gila aja lo." Erwin yang paling kepo diantara mereka tentu saja merasa penasaran dengan tingkah tak biasa Jay yang dinilainya aneh tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Ada aja, mau tahu aja lo. Ntar lo semua pada ngiri lagi kalau gue kasih tahu." Jawab Jay dengan ponggahnya.
Erwin dan Tony langsun mencibir Jay yang sombongnya tak letulungan itu. "Huh....sombong banget sih lo. Palingan lo baru dapat mangsa baru, kan. Pasti itu." Tony menebak apa yang tengah terjadi pada Jay yaitu mendapatkan gadis baru sebagai kekasihnya.
"Hampir mendekati. Tapi, gue agak kurang suka sama kata "mangsa". Lo kira gue predator apa."
"Memang–ngak jauh beda, 11-12. Predator pemangsa kaum hawa. By the way siapa cewek yang bernasib sial itu, Jay?" Tanya Erwin sambil terkekeh menyindir Jay.
Kiano sebenarnya sama sekali tak tertarik dengan pembahasan yang berbau percintaan yang menurutnya hanya sebuah permainan saja. Apalagi ia mengenal bagaimana sepak terjang teman-temannya itu.
"Sialan lo Win. Enak aja. Masa' Inara lo bilang sial kalau jadian sama gue. Wah....kayaknya lo minta diberi kali ya." Jay mulai kesal karena Erwin mengatakan kalau gadis yang sedang di kejarnya bernasib sial.
"INARA!?"
Erwin dan Tony sangat terkejut mendengar nama yang barusan terucap langsung dari bibir Jay. Begitu pun Kiano yang refleks menoleh dan menatap tajam Jay.
"Iya lah, memang ada Inara lain yang gue suka apa. Pokoknya sebentar lagi gue jamin Inara bakal jadi cewek gue. Lihat saja nanti. Boleh kan, Ki?" Jay manatap Kiano menunggu jawaban langsung dari sahabatnya itu.
Ditanya seperti itu membuat Kiano seketika gelagapan karena sejak mendengar nama Inara disebut pikirannya langsung blank. Entah mengapa ia merasa tak rela jika, Inara akan jatuh kepelukan Jay.
"Ki–kok malah bengong sih lo? Gue tanya ngak masalah kan kalau seandainya gue dan Inara jadian? Lo udah bicara sama Inara soal sandiwara itu?" Jay mengingatkan kembali tentang kejadian di Villa waktu itu.
"iya, gue dah ngomong dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Puas–?" Jawab Kiano ketus.
"Wow–santai dong Ki. Gue kan cuma mau memastikan aja. Kalau ternyata lo beneran suka dan belum putus sama Inara ya gue bakal mundur teratur. Gue ngak akan merebut milik sahabat sendiri lah."
"Hemmm–terserah lo. Gue ngak sudi pacaran sama pembantu di rumah gue sendiri. Gila apa, kayak ngak ada cewek yang lebih baik dari dia aja."
Antara senang dan juga kesal dengan sikap tak menghargai Kiano terhadap Inara. Walaupun Inara hanyalah seorang peembantu namun, Jay sama sekali tak pernah mempermasalahkannya. Jay, Eewin dan Tony pun seakan tidak percaya Kiano bisa berkata hal yang tak berperasaan seperti itu.
__ADS_1
Akhirnya obrolan mereka pun berakhir dan satu persatu membubarkan diri. Yang pertama keluar dari ruangan itu adalah Kiano. Wajahnya tampak dingin dan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Kemudian disusul Erwin, Tony dan Jay yang hatinya sedang berbunga-bunga.
Malam hari usai menherjakan tugas sekolahnya, Inara merasakan perutnya yang keroncongan. Padahal sore tadi ia sudah makan malam dan entah mengapa sekarang ia merasa lapar kembali. "Sshh....kayaknya enak nih makan mie rebus pakai sawi hijau, trus cabe rawit super pedas." Inara membayangkannya sampai menelan salivanya.
Akhirnya Inara memutuskan menuju ke dapur untuk memasak mie yang sangat di inginkannya saat ini. " semoga badanku tidak mekar kayak mie ya." Inara terkekeh geli sendiri membayangkan jika sampai tubuhnya berubah gendut karena keseringan makan mie instan. Ya, sudah beberapa hari ini Inara begitu menginginkan makanan yang sebenarnya tidak terlalu sehat itu. Namun, entah mengapa rasanya la begitu tergiur dengan makanan tersebut.
"Wuahh–pedesse poll. Tapi, yummy."
"Sedang apa kamu malam-malam begini masih berkeliaran di dapur?"
Sontak Inara begitu terkejut ketika melihat Kiano yang sudah berdiri di hadapannya dengan tangan yang bersedekap di dadanya.
"Tu–tuan Muda. Maaf, saya lapar."
"Lapar? Memangnya tadi kamu tidak makan? Ah....sudahlah, ngak penting. Oh ya, apa benar kamu dan Jay sedang dekat atau jangan-jangan kalian sudah jadian?"
"Mas Jay. Tidak Tuan, saya dan Mas Jay tidak ada hubungan apapun dan mana mungkin juga kami–."
"Nah itu kamu tahu diri. Tapi, sih terserah kalian saja. Apa kamu juga menyukai Jay?"
"Benar, kami tidak akan mungkin bisa bersama karena saya sudah tidak—." Inara membekap mulutnya dengan telapak tangannya sendiri, hampir saja ia keceplosan.
"Kamu sudah apa? Kenapa tak dilanjutkan perkataanmu itu. Ayo bicara!" Kiano semakin mengikis jarak dengan Inara. Tatapannya begitu menghunus membuat nyali Inara menciut.
Inara langsung bungkam dan tiba-tiba perutnya terasa bergejolak mual tak tertahankan ketika mencium aroma tubuh Kiano.
"Hoekk hoekk–."
Bersambung.
__ADS_1