Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
73. Sikap dingin Shinta


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Shinta sudah bangun usai semalaman di serang habis-habisan oleh suami mesumnya. Sekujur tubuhnya terasa pegal-pegal. Padahal ia sedang kesal dengan Wira namun, tetap saja ia tidak bisa menolak sentuhan pria tampan itu.


"Selesai. Sebaiknya aku segera berangkat." Shinta menyiapkan segala keperluan Wirai. Setelah membangunkan suaminya ia akan bergegas pergi ke kampus.


"Tu–Mas, bangun ini sudah jam setengah tujuh pagi!" Shinta membangunkan Wira dengan menyentuh lengan laki-laki itu. Setelah Wira terjaga Shinta pun langsung berpamitan tanpa menunggu jawaban dari sang suami.


"Hoamm, jam berapa sekarang?" Wira merenggangkan otot-otot tangannya.


"Jam setengah tujuh pagi. Saya sudah menyiapkan pakaian dan juga sarapan untuk Mas. Maaf, saya harus berangkat sekarang ada kuliah pagi. Permisi." Tanpa menatap suaminya, Shinta berlalu keluar dari dalam kamar.


Wira terbengong dan hanya menatap punggjng Shinta yNg berlalu pergi. "Ada apa dengannya?" Wira tak mengangkat bahunya kemudian ia beranjak turun dari tempat tidur lalu, menuju kekamar mandi.


Bus yang ditumpangi Shinta berhenti di halte bus tepat didepan kampus. Dengan penuh semangat Shinta melangkah memasuki gerbang kampus dan langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang memanggilnya, dialah Tari sahabat satu-satunya yang ia miliki. "Shinta, tunggu!"


"Tari.kamu baru datang juga ya?"


"Ish, kamu ini ada-ada saja. Jelas-jelas aku baru masuk lewat depan juga ya pastinya baru datanglah. Ck....beda memang yang sudah menikah, suka rada ngak fokus." Sindir Tari pada sahabatnya itu.


Shinta hanya tersenyum menanggapi sindiran dari Tari. "Biasa aja sih."


"Ah masa' biasa aja. Itu bisa dilihat kok dari aura wajahmu yang lelah letih dan lesu. Memangnya semalam habis berapa ronde?"


Lagi-lagi Tari menggoda Shinta dan kali ini sukses membuat wajah Shinta merona. "Tuh, benar kan tebakanku. Mukamu aja dah kayak tomat kematengan gitu." Tari terkekeh melihat Shinta yang malu-malu meong.


"Sudah ah, ngak usah ngomkngain yang aneh-aneh. Masih pagi juga mending kita kekantin aja yuk, lapar nih belim sarapan."


"Sama dong, ayuklah!" Dan kedua gadis cantik itupun melangkah menuju kekantin yang terletak dibelakang gedung utama kampus. Mereka makan dengan lahapnya sambil sesekali bersendau gurau.

__ADS_1


Tari masih saja penasaran dan tidak percaya jika, sahabatnya itu telah menikah dengan laki-laki yang menjadi idaman para kaum hawa. Tak terkecuali para mahasiswi di kampus tempat mereka menimba ilmu. "Em...ngomong-ngomong aku masih penasaran gimana rasanya menjadi istri dari Wira Bheru Ghazala, nikmat banget ya pastinya. Tidur sambil dipeluk tiap malam."


Mood Shinta langsung berubah jelek ketika membahas tentang kehidupan perkawinannya yang baginya penuh dengan kepura-puraan dan ketidak pastian. Hidup dengan laki-laki yang ternyata hatinya telah tertambat pada sosok wanita lain siapa pun pasti akan merasakan kepedihan dihatinya.


Namun, Shinta berusaha mengontrol emosinya ketika mengetahui kebenaran jika sang suami masih mencintai dan mengharapkan wanita lain yang ternyata adalah kakaknya sendiri. Betapa hancur hati Shinta sebagai seorang istri yang hanya menjadi pelarian dan pelampiasan hawa nafsu nya saja.


"Sudah ah Tar, jangan ngomongin yang aneh-aneh. Mending cepetan deh habiskan makananmu sebentar lagi jam kuliah akan dimulai."


" iya iya, sensitif banget sih kamu Shin."


Dikantor Wira sama sekali tidak bisa berkontrasi dalam bekerja. Sikap dingin Shinta sejak pagi tadi membuat Wira kepikiran. Apa ada sesuatu yang membuat istrinya itu tiba-tiba berubah dan seakan menghindarinya.


"Maaf, Tuan. Sepuluh menit lagi rapat dengan seluruh kepala bagian akan segera di mulai dan semua sudah siap menunggu anda diruang meeting." Sang Asisten mengingatkan Wira yang sedang melamun seperti tak mengihiraukan apapun disekitarnya. Bahkan kedatangan asistennya yang bernama Tara tak disadarinya.


"Tuan–ekhemm!"


"Maaf, saya cuma mau mengingatkan jika, meeting akan segera dimulai sekitar lima menit-an lagi,Tuan."


Wira memijat pelipisnya lalu, segera bengkit dari kursi kebesarannya melangkah keluar dari ruangannya di ikuti oleh sang Asisten.


Siang hari nya usai seluruh mata kuliah usai, Shinta dan Tari setelah pulang dari kampus berencana ingin jalan-jalan ke sebuah mall ya, meskioun hanya sekedar cuci mata saja. Paling mereka sekalian makan siang di foodcourt di mall tersebut.


"Shin, suamimu kan tajir melintir. Emm....pasti jatah bulananmu banyak dong?"


"Biasa aja, aku bahkan belum meminta jatah bulanan tepatnya sungkan untuk memintanya. Aku cukup sadar diri lah Tar, siapa diriku sebelum menikah dengan mas Wira." jawab Shinta dengan wajah tertunduk lesu.


"Hh–sudahlah, tidak usah membahas soal dia lagi. cuss lah mending kita cuci mata lagi suntuk nih." Shinta malas membahas hal pribadi terutama tentang kehidupan pernikahannya.

__ADS_1


Mereka berboncengan motor menuju ke mall yang letaknya tak jauh dari wilayah kampus. Tak sampai sepuluh menit-an mereka pun tiba dan setelah memarkirkan motor Tari, keduanya masuk kedalam mall.


"Kita mau kemana dulu ini?" Tanya Tari.


"Gimana kalau kita makan siang aja dulu, yuk. Perutku dah keroncongan nih." Jawab Sinta sambil mengusap-usap perutnya.


Tari mengernyitkan keningnya, menurutnya ini belum terlalu siang belum masuk jam dua belas juga. Tapi, Shinta sudah merasa lapar saja. "Ck....baru juga jam berapa Shin, dah kelaparan aja kamu tuh. Tadi pagi perasaan kamu makan nasi kuning sama mie goreng juga, apa sudah kelaparan lagi? aneh kamu, nanti suamimu bakal protes loh kalau kamu berubah endut." Tari menakut-nakuti Shinta.


"Biarin aja, masa bodo ngak peduli. Yuk, cepetan kita ke foodcourt aja!" Shinta langsung menarik tangan Tari dan menggeretnya menaiki eskalator menuju ke foodcourt yang berada dilantai paling atas. Dan Tari pun hanya pasrah mengikuti keinginan sahabatnya itu.


Kedua gadis cantik itu sudah duduk manis di salah satu meja yang dekat dengan kaca jendela. Setelah sebelumnya masing-masing telah membawa makanan yang mereka pesan, keduanya memilih tempat itu agar bisa melihat pemandangan luar.


Baru saja mereka akan menyantap makanannya, tiba-tiba sebuah suara menyapa mereka . "Ehem...maaf, permisi."


"Ah, iya ada apa–?" Shinta memicingkan matanya, sepertinya ia tidak kenal dengan kedua pria tampan yang saat ini sedang berdiri dihadapannya. Sedangkan kedua laki-laki itu seperti mengenal Shinta.


"Kamu saudaranya Wira, kan. Waktu malam itu di pesta dan kamu datang bersama Wira. Memang kita belum saling mengenal maka, dari itu bolehkah sekarang kita berkenalan?"


"Jadi, anda temannya Mas Wira ya?"


"Perkenalkan namaku Antorn dan ini temanku dan temannya Wira juga. Namanya David." Anton mengulurkan tangannya mengajak Shinta berjabat tangan.


"Shinta dan kenalkan juga ini teman saya namanya Tari." Shinta pun menyambut ukuran tangan Anton dan mereke salkng berjabat tangan. Kemudian Shinta pun tak lupa memperkenalkan Tari pada kedua pria dewasa tersebut.


"Wow, Shin. Teman-teman Pak Wira ganteng-ganteng ya. Emang beda ya kalau dari kalangan atas. Klimis-klimis dan wangi." Tari berbisik ketelinga Shinta.


Hening sejenak. "Ehem....Jika, berkenan apakah kami boleh bergabung bersama kalian. Kebetulan kami juga baru berencana makan siang. Gimana nona-nona cantik?" Si playboy Anton langsung mengeluarkan jurus gombalannya membuat Shinta san Tari sampai melongo.

__ADS_1


Besambung


__ADS_2