
Pertemuan ketiganya setelah sekian lama membuat hubungan mereka kembali menghangat walaupun masih ada rasa yang mengganjal di hati Wira. Ya, laki-laki itu sepertinya belum bisa move on dari Vania. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya Wira pun akhrnya ikut makan siang bersama.
"Wir, pulanglah. Serahkan urusan perusahaan di London pada orang kepercayaanmu. Kasihan papa dan mama pasti akan sangat kesepian karena aku dan Vania berencana akan pindah ke ruumah baru kami.Temanilah mereka dan papa juga sangat memerlukan bantuan kamu untuk mengurus perusahaan." Nasehat Liam pada adik satu-satunya itu.
Wira terdiam sejenak lalu mengangguk. "Baiklah kak, akan aku pikirkan." Jawabnya
Liam pun tak mengatakan apapun lagi. Adiknya itu sudah dewasa dan tentunya bisa berpikir secara bijaksana. "Oke, kami tunggu. Semiga kamu memberikan kabar baik untuk papa dan mama."
"Baiklah kak, hem...kak Vania. Aku duluan ya sekalian pamit nanti malam aku akan kembali ke London. Selamat menikmati bulan madunya dan semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan. Titip salam buat mama dan papa juga keponakan tampanku."
"Iya, pasti akan kami sampaikan.Jangan lupa selalu memberi kabar orang rumah, Wira!' Wira tak menjawab ia hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum pada kaka dan kakak iparnya lalu melangkah pergi.
"Mas, apa Wira mau pulang setelah kita pindah ke rumah baru?" Tanya Vania pada suaminya karena ia merasa Wira tak ingin pulang karena ada mereka yang tinggal di rumah utama.
"Ya mungkin saja. Semoga setelah kita pindah Wira mau pulang. Kasihan sama mama dan papa. Mereka sangat rindu pada anak itu. Sudahlah tidak usah terlalu di pikirkan.Setelah ini kita jalan-jalan, oke. Atau istirahat dikamat saja, barangkali kamu masih capek." Modus Liam dan Vania yang bisa membaca jalan pikiran suaminya itu
Vania mencebik tak akan masuk perangkap lagi." ck...itu sih akal -akalan mas saja. Siapa juga yang capek, untuk apa jauh-jauh sampai disini kalau ujung-ujungnya cuma kelonan tok."
"ya ampun sayang, kamu kok seperti cenayang saja tahu apa yang mas mau. Kelonan itu kan bikin sehat jasmani dan rohani, sayang. Wajib itu, apalagi disaat moment berbulan madu seperti kita ini. Benar...bukan?" Liam menaik turunkan alisnya genit menggoda sang istri.
Waktu tak terasa kian bergulir dan sudah lebih dari seminggu pasangan Liam dan Vania berbulan madu. Kini mereka telah bertolak kembali ke tanah air. Vania sangat bahagia dan begitu menikmati moment bulan madunya bersama sang suami. Ya walaupun kadang tingkah mesum Liam yang bikin Vania kualahan namun, ia tak menampik juga menyukainya dan juga menikmati kebersamaan mereka.
"Mas, aku mau ke Kiano dulu ya." Vania melangkah dengan tergesa-gesa tak sabar ingin melepas rindu dengan jagoan kecilnya.Liam pun menyusul langkah sang istri sebab ia juga sangat rindu dengan putranya.
"Kiano sayangnya bunda." Melihat putra kecilnya yang sedang melangkah dengan kaki mungilnya membuat Vania surprise, ditinggal sebentar saja Kiano sudah bisa melangkah dengan gesit. Balita montok itu langsung meghampiri sang bunda dengan langkah kecilnya. Kiano tertawa dan berceloteh ria.
__ADS_1
"Ma ma ma ma–."
"Sayangnya bunda...ayo cepat sini datang le bunda!" Vania membentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Kiano.
"Grepp!"
"Muachh–bunda kangen sama Kiano. Cup cup...makin ganteng saja nih jagoannya bunda."
"Nen nen nen–." Tangan Kiano menepuk-nepuk dada Vania dan Vania pun mengerti apa yang diinginkan oleh putranya itu. Dengan segera Vania memberikan asinya untuk Kiano. Liam sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya yang tampak menggemaskan. Keduanya adalah hal yang terpenting dihidupnya selamanya.
Akhirnya Vania bisa menyusui kembali putranya setelah seminggu ia hanya memompanya dan membuangnya cuma-cuma. Untung saja ia tidak lupa membawa alat pompa asi nya. Jika tidak pasti dadanya akan membengkak sebab tak bisa di keluarkan. Mengandalkan Liam untuk membantunya yang ada suaminya itu malah mencari kesempatan dalam kesempitan. Vania juga sangat malu jika Liam yang membantunya.
Sudah hampir dua bulan sejak pertemuan Liam, Vania dan Wira di Paris waktu itu. Namun, Wira belum juga memberi kabar apa pun pada keluarganya. Hari ini kekuarga kecil Liam dan Vania telah menempati rumah baru mereka. Bi Arum di minta mama Helen agar ikut agar bisa membantu Vania. Tentu saja bi Arum dengan senang hati menyanggupinya dan yang terpenting ia akan selalu dekat dengan cucu nya.
Dirumah besar dan mewah keluarga Ghazala kini tampak sepi tak ada lagi suara tangiis dan tawa Kiano, balita berwajah tampan yang begitu mirip dengan ayahnya dan juga tubuhnya yang montok dan putoh bersih sungguh menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Apa mas sudah mengabari Wira kalau kita sudah pindah dari rumah mama dan papa?"
Liam dan Vania tengah bersiap untuk tidur. Seperti biasa pasangan tersebut akan mengobrol santai terlebih dahulu ya, walau pun hanya sekedar membahas hal yang biasa saja namun, itu semakin membuat hubungan mereka semakin dekat dan kini Vania sudah bisa menerima dan mencintai suaminya. Malah semakin hari kebucinan pasangan itu bertambah saja.
"Sudah dan mas juga sekalian bertanya kapan dia bisa pulang. Anak itu selalu saja berbuat semaunya sendiri, ya walaupun Wira bukanlah anak kecil lagi tapi, tetap saja bagi mama dan papa Wira tetaplah si bungsu kesayangan dikeluarga Ghazala.
"Benar juga sih, bi Arum bilang Wira sangat manja pada mama Helen. Semoga saja Wira secepatnya pulang." Vania mengeratkan pelukannya, posisi mereka saat ini sudah rebahan dan Vania memeluk Liam manja.
"Sayang–apakah kamu sedang memberi kode untuk itu ya?" Liam yang sinyalnya selalu kuat jika sedikit saja mendapatkan sentuhan dari tangan lembut sang istri dan langsung on lah si john.
__ADS_1
Mendengar ucapan ambigu dari suaminya itu mata Vania memicing penuh curiga. Sepertinya Liam akan kembali berulah apa lagi kalau bukan ingin meminta jatah tambahan lagi dengan alasan si john yang rindu pada belahan jiwanya. Vania sudah hapal betul modus suaminya yang pintar sekali mencari kesempatan dalan kesempitan.
"Ih, apaan sih mas. Siapa yang sedang ngasih kode.Mas aja yang selalu modus. Bilang saja mas mau minta jatah tambahan, kan? Padahal kemarin malam sudah dikasih dobel loh." Tak habis pikir dengan hasrat suaminya yang tak pernah.padam itu.Vania itu bagaimana sih, kalau suaminya sudah tidak memiliki gairah bercinta lagi bagaimana. bukankah nanti Vania sendiri yang akan kelimpungan. Si john bakal mati suri tak bisa beraksi lagi mengobrak abrik area jajahannya.
"Loh, itu kan kemarin kalau sekarang ya beda lah sayang. Ayolah...nih coba pegang si john sudah resah ingin di bebaskan!" Liam menarik tangan Vania dan meletakkannya tepat di mana si john berada. Tentu saja Vania tersentak kaget merasakan sesuatu yang telah mengeras.di balik kain penutup **** ***** sang suami.
"Akhh–mas....ih, bikin kaget aja. Itu si john kenapa malah bangun sih suruh tidurlah, mas. Ini kan sudah malam."
"Si john selalu on jika tersentuh oleh tanganmu, sayang. Ayolah sayang–."
BRUKK
Liam langsung menerjang dengan buas istrinya dan Vania pun akhirnya hanya bisa pasrah apa pun yang dilakukkan oleh suami tampannya itu. Dan Liam dengan penuh kebahagiaan memberikan kepuasan untuk sang.istri.apa yang diperrbuat Liam telah berhasil membuat Vania klepek-klepek tak bertenaga.Antara lelah dan mengantuk. Akan tetapi menikmatinya juga.
Di kediaman Ghazala tampak seorang gadis muda yang sedang bersenandung riang sambil menyapu halaman belakang rumah.
"La la la la mati lampu aduh gelapnya...gelap gelapan jadinya–."
"Sinta–kesini sebentar!"
Gadis manis itu pun meletakkan sapunya lalu segera menghampiri sang majikan. "Iya nyonya saya datang."
"Sinta, kamu ikut aku ke supermarket ya. Hari ini kita akan masak besar karena Wira akan pulang."
Sinta yang tidak tahu siapa Wira hanya melongo tak nyambung. "Siapa Wira?"
__ADS_1
Bersambung