Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
108.S2. Bersitegang


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju ke Apartemen Jay. Mereka terlebih dahulu mampir ke sebuah mini market. Inara tak bisa menolak ketika ketiga pria itu membelikannya segala kebutuhannya bahkan beberapa dus susu hamil dari berbagai varian rasa. "Mas, ini saja sudah cukup bahkan berlebih."


"Oh ya, kamu suka camilan apa? Kita akan mencari beberapa camilan yang aman untuk ibu hamil. Sepertinya sejenis biacuit gandum sangat baik untuk kesehatan ibu hamil itu yang pernah aku baca. Oke, kita beli ini dan ini juga." Tony pun tak kalah sibuk memilih berbagai makanan ringan untuk Inara. Ketiganya tampak begitu perhatian dan malah teihat layaknya seperti suami Inara.


Usai berbelanja ria, mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju ke apartemen Jay. sekitar setengah jam kemudian akhirnya mereka pun tiba dan langaung masuk kedalam gedung menaiki lift lalu, berhenti di lantai tempat di mana unit apartemen milik Jay. "Silahkan masuk, dan selamat datang Nara. Semoga kamu kerasan ya disini. Tak perlu sungkan anggap saja rumah sendiri." Dengan ramah dan penuh kelembutan Jay mempersilahkan Inara masuk.


"Ciee yang lagi usaha, sat set.sat set." Tony meledek sekaligus menyindir Jay yang memang menyukai Inara sejak mereka mengenal gadis ayu itu.


"Apaan sih lo, Ton. Biasa aja kali. Kita kan memang harus saling tolong menolong antar sesama." Elak Jay, ia tidak ingin nanti Inara akan salah paham dan jadi merasa tak nyaman.


Tony pun langsung terdiam karena ia mengerti jika, perkataannya pasti akan membuat Inara jadi tak enak karena menganggap Jay menolongnya karena mengharapkan sesuatu. Tony mengangguk setuju lalu tersenyum pada Inara yang tampak kikuk. Mungkin gadis itu mengerti apa maksud dari ucapan Tony barusan.


"Mas Jay, Mas Erwin dan Mas Tony. Terima kasih ya sudah membantu saya. Entah bagaimana saya harua membalas kebaikkan kalian.Sekali lagi terima kasih." Inara sampai menangkupkan telapak tangannya sungguh ia sangat terharu dan tak menyangka akan dipertemukan kembali dengan ketiga pria baik sahabat baik dari laki-laki yang memperlakukannya jauh berbeda yaitu selalu ketus dan seakan tak perduli.


Sudah cukup lama mereka menemani Inara. Lalu, mereka berpamitan pada gadis itu. "Nara, kami tinggal dulu ya. Kamu berani kan tinggal sendiri disini. Kalau takut nanti akan aku cari seseorang untuk menemani kamu?" Jay sebenarnya.agak khawatir meninggalkan Inara sendirian di apatemennya. Tapi, mau bagaimana lagi masa' ia yang harus menemani Inara. Itu satu hal yang tidak mungkin. Mereka bukanlah pasangan.


"Eh, tidak usah Mas. Berani kok. Saya kan bukan anak kecil lagi. Apa yang mesti ditakutkan." Jawab Inara jujur. Ia memang tidak takut apapun. Yang ia takutkan adalah apabila mereka memberitahu keberadaannya pada Kiano. Tapi, ia rasa itu tidak akan berpengaruh apapun jika laki-laki itu tahu. Bukankah Kiano sama sekali tidak pernah ada niatan untuk bertanggung jawab padanya. Inara menghela nafas panjang menetralkan kejolak dihatinya.


Baru saja ketiganya akan keluar dari tiba-tiba Inara memanggil mereka kembali. "Tunggu!"


Ketiganya pun langsung menghentikan langkah mereka lalu, menoleh kembali menatap Inara yang berwajah sendu. "Ya, apa ada yang kamu butuhkan.lagi?"


"Oh, Bu–bukan Mas. Tapi, saya mau minta tolong sama mas-mas. Saya mohon jangan membertahukan keberadaan saya pada tuan Kiano atau pun bu Vania dan pak Liam. Karena saya tidak ingin mengganggu mereka. Tolong mengerti keadaan saya, Mas. Saya cuma ingin hidup tenang tanpa tekanan dari siapapun."

__ADS_1


"Tekanan? Apa Kiano berbuat hal yang tak baik sama kamu? Ceritalah....kami yang akan memberi pelajaran pada Kiano. Kalau benar si Kiano menyakitimu maka, kami yang akan bertindak agar membuatnya sadar akan perbuatannya. Udah berbuat tapi, tak mau bertanggung jawab." Jay mulai terbawa emosi mendengar kata tekanan yang di ucapkan Inara. Jay sudah bisa menebak siapa gerangan orang itu.


Seketika Inara menjadi ragu apakah sudah benar menerima bantuan mereka. Ia tidak ingin akan menambah masalah nantinya. Apalagi mereka berempat sudah bersahabat sejak lama." Ngak apa-apa kok, Mas. Saya yang memang berniat untuk pergi dan melanjutkan hidup walaupun tanpa....saya harap mas-mas mengerti apa yang saya maksud."


Ketiganya pun serempak mengangguk dan berjanji akan merahasiakan kebreadaan Inara.Walaupun sebenarnya mereka berharp jika Kiano mau berranggung jawab karena sudah menghamili Inara.


 Dan Inara pun merasa lega karena ketiga nya telah berjanji. Semoga perkataan mereka bisa dipegang."Terima kasih."


Semantara itu diwaktu yang sama namun, di lain tempat, Kiano tengah berkeliling keberbagai tempat untuk mencari keberadaan Inara. Ia sungguh merasa menyesal mengapa ia sampai tega berkata seperti itu pada Inara. Padahal gadis itu temgah mengandung benihnya. Ya, meakipun Kiano masih belum mengingat apa yang terjadi saat dia mabuk waktu itu sampai menodai Inara. "Dimana kamu, Nara. Maafkan aku yang terlalu pengecut ini."


"Apa aku meminta bantuan mereka saja ya?" Tiba-tiba Kiano teringat dengan ketiga sahabatnya. Ia lalu, segera meraih ponselnya dan menghubungi ketiga sahabatnya. Kiano mulai mencari nomer kontak teman-temannya.Yang pertama adalah Jay, karena ia tahu Inara cukup dekat dengan temannya yang satu itu.


"Hallo, Jay. Lo ada dimana sekarang?" Kiano


"Gue lagi sama Erwin dan Tony di tempat biasa. Kenapa dan ada apa lo nelpon gue?" Jay


"Hemm–oke." Jay


Setelah menutup percakapan singkatnya dengan Jay. Kiano bergegas berangkat menuju ketempat biasa mereka nongkrong bareng. "Semoga salah satu diantara mereka mengetahui keberadaan Inara."


Tiba di cafe tempat janji temu mereka, Kiano langsung menghampiri para sahabatnya yang tengah asik menikmati makan malam. Ya, karena waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Seharian ini Kiano berkeliling mencarii Inara namun, belum berhasil menemukan gadis itu.


"Hai bro, kemana saja. Tumben nih ngak biasanya nyariin kita duluan?" Itu Erwin yang pertama menyapa Kiano.

__ADS_1


Kiano pun menjatuhkan bokongnya diatas sofa tepat di sebelah Jay. Lalu, ia menaih segelas minuman yang berada diatas meja tepat dihadapannya dan langsung menenggaknya hingga tandas.


Semua menatap heran Kiano.yang seperti orang yang kelelahan sehabis lari marathon. Nafasnya pun ngos-ngosan. " Kenapa lo Ki, kayak kecape'an banget?" Tony


"Gue lagi dalam masalah ni, guys. Bantuin gue dong." Kiano meraih sebungkus rokok yang tergeetak diatas meja lalu, memantiknya dan menghisapnya.


"Tumben si Mr. Perfect punya masalah juga? Ceritalah bro....barangkali kita-kita bisa membantu!" Erwin sebenarnya sudah bisa mwnebak masalah apa yang saat ini tengah dihadapi.oleh sahabatnya itu. Tali, ia tak ingin berspekulasi. Ia akan mendengar Kiano yang mengatakannya terlebih dahulu.


"Inara kabur guys dan nyokap sama bokap guemarah besar saat gue menceritakan apa yang telah terjadi antara gue sama Inara. Dan mereka menyuruh gue mencari Inara sampai ketemu jika ingin dimaafkan. Gimana ini guys, gue pusing banget. Seharian ini gue dah muter-muter keliling Jakarta tapi, belum ketemu juga Inara nya. Please guys tolong bantu gue seandainya kalian pernah bertemu Inara. Gue nyesel banget terlambat bertindak hingga dia pergi." Kiano tampak putus asa.


"Ki, kita–." Baru saja Tony ingin.mengatakan sesuatu tapi, langsung dicegah oleh Jay dengan memberikan sebuah kode dan Tony pun mengerti tak lagi melanjutkan perkataannya.


"Kita apa Ton, kok ngak lo lanjutin omongan lo? Atau jangan-jangan kalian mengetahui keberadaan Inara?" Kiano langsung tanggap ketika melihat gelagat mencurigakan Tony yang seakan ingin menutupi sesuatu.


Jay langsung menengahi keduanya, tak ingin Kiano mencerca berbagai pertanyaan yang menyudutkan Tony. Bisa-bisa si Tony bakal keceplosan. " Gue mau tanya sama lo ya Ki. Jadi, baru sekarang lo ngaku sama kedua orang tua lo? Apa lo ngak.mikir gimana tersiksanya Inara dengan keadaannya yang telah hamil tapi, yang ngebuntinganya sama sekali kayak ngak ada niat buat bertanggung jawab. Semya cewek juga pasti akan sakit hati lah di perlakukan seperti itu. Seandainya lo memang ngak mau bertanggung jawab, biar gue aja yang nikahin Inara dan menjadi bapak dari si jabang bayi." Panjang lebar Jay berceloteh hingga membuat hati Kiano yang mendengarnya seketika langsung panas dan tak terima. Keduanya bersitegang tak mungkin lagi bisa dihentikan.


"Enak aja lo kalau ngomong. Gue ngak akan membiarkan lo atau laki-laki manapun merebut Inara dan calon anak gue. Camkan itu!" Kiano mulai.diliputi amarah bahkan ia langsung menarik kerah baju Jay hingga kini mereka berdiri dan saling berhadapan. Saling menatap tajam.


"Cih–dasar cowok egois dan pengecut. Kenapa ngak dari dulu lo bertanggung jawabnya. Kenapa baru sekarang saat Inara sudah putus asa karena laki-laki yang menghamilinya sama sekali tak menginginkannya. Udah, lo ngak usah repot biar Inara gue yang jaga!" Jay malah semakin menyulut emosi seorang Kiano.


"Bacot lo! Sini gue beri lo–!" Kiano yang bertubuh lebih besar dari Jay langsung mendaratkan pukulan beruntun ke wajah tampan Jay.


BUGH

__ADS_1


BUGH


Bersambung


__ADS_2