
Suasana pesta tampak begitu ramai. Para tamu undangan yang berasal dari kalangan pebisnis pun telah mulai berdatangan. Mereka hadir dengan menggandeng pasangan masing-masing. Tak terkecuali, ketiga pasangan dari keliarga Ghazala yang muncul hampir bersamaan. Pertama Papa Bisma dan Mama Helen. Lalu dibelakangnya Liam bersama sang istri, Vania tampil cantik dan anggun mengenakan gaun berwarna biru dongker yang kontras dengan kulit putihnya. Sedangkan Liam memakai tuxedo dengan warna senada. Mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi
Mereka duduk bersama di satu meja."Ma, Wira dan Shinta belum sampai juga ya? Apa mereka tidak datang?" Vania yang duduk tepat disebelah Mama Helen bertanya pada sang mama mertua
"Sabar, Van. Sebentar lagi mereka sampai Mama jamin mereka pasti datang." Vania mengangguk beeharap hal yang sama
Saat mereka tengah asik berbincang ringan, tiba-tiba terdengar suara orang-orang yang saling berbisik seperti sedang melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka.
"Ada apa itu? kenapa orang-orang tampak heboh sekali. Seperti ada artis saja. Tapi, bisa jadi, karena acara tersebut di gagas oleh salah satu orang yang berpengaruh didunia bisnis dan juga politik. Wajar saja jika, banyak artis juga yang diundang.
Wira melangkah masuk kedalam ballroom tempat diadakannya pesta dengan menggandeng mesra Shinta. Tatapan iri beberapa pasang mata terutama para kaum hawa yang mengidolakan seorang Wira Bheru Ghazala yang tak hanya memiliki tampang rupawan akan tetapi juga sosok pebisnis muda yang sukses. Siapa wanita yang taklan terjerat oleh pesonanya. Dan mereka belum mengetahui jika, wanita muda yang datang bersama Wira adalah istri dari sang idola mereka.
"Gadis itu siapa ya? Kelihatannya masih sangat muda. Apa dia kekasih Wira?" Itulah selentingan perkataan yang diucapkan oleh salah satu tamu yang berjenis kelamin perempuan yang mengidolakan Wir tentunya.
Wira sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan memuja para kaum hawa dan juga kasak kusuk diantara mereka saling berbisik yang dapat ia dengar olehnya. Namun, berbeda dengan Shinta yang tampak gugup dan tak nyaman. Ini pertama kalinya Shinta menghadiri pesta para kalangan atas seperti saat ini.
Sapaan seseorang yang ia kenal mengalihkan ketegangan dihatinya. Shinta langsung mencari arah suara orang yang memanggilnya dan senyumpun mengembang diwajahnya ketika Vania melambai-lambaikan tangannya lalu, degan langkah cepat Shinta langsung menghampiri meja dimana anggota keluarga yang lainnya berada.
"Shinta, ayo duduk sini!." Vania menepuk-nepuk kursi yang kosong tepat disebelahnya. Setelah menyalami kedua mertuanya dan juga Liam. Shinta pun duduk dengan nyaman. Wira ikut duduk tepat di samping Shinta.
"Kamu cantik sekali, Shin." Vania memuji penampilan adiknya yang tampak berbeda. Karena biasanya Vania hanya melihat keseharian Shinta yang sederhana namun, malam ini penampilan Shinta begitu cantik, anggun dan mempesona. Shinta dan Wira tampak serasi.
"Kamu juga malam ini sangat cantik, Van." Wira tiba-tiba ikut nimbrung dan memuji penampilan sang kakak ipar. Bahkan Shinta pun belum berkata apapun. Wira tersenyum hangat pada Vania.
Apa yang dilakukan Wira membuat kening Shinta mengernyit penuh tanya. ' Kenapa dia dengan mudahnya memuji perempuan lain, sedangkan aku yang istrinya sama sekali tak dipuji. Ah, sudahlah. Tidak usah berpikir macam-macam.'
Vania yang merasa tak enak karena ia dapat melihat wajah muram Shinta ketika mendengar Wira memujinya. Ia tidak ingin adiknya merasa diabaikan dan menjadi rensah diri. " Shinta. Gaun ini sangat cocok untukmu. Tamoak glamour dan sexy. Ya, kan Mas?" Vania menanyakan pendapat sang suami tentang penampilan Shinta.
"Iya, Shinta.Penampan kamu malam ini tampak cantik." Jawab Liam setuju dengan perkataan Vania.
"Terima kasih, Mbak, Mas." Wajah Shinta bersemu malu dipuji oleh sang kakak ipar yang malam ini pun tampak begitu tampan apalagi bersanding dengan Vania yang memang sangat cantik. Wira hanya melirilk sekilas lalu fokusnya teralihkan dengan kemunculan seseorang yang tidak diharapkannya.
Sosok wanita cantik sudah berdiri tepat di samping Wira dan dia adalah Regina yang tersenyum sumringah menatap Wira. Sedangkan Wira hanya diam saja bahkan sikapnya sangat dingin. "Hai, Wira. Apa kabar? Kamu sangat tampan."
"Ekhem–ngak ada yang bisa dipuji ya, tante? Malah memuji suami orang. Cantik-cantik tapi, kok gatel." Shinta kesal dengan tingkah genit Regina yang selalu menempel pada Wira.
Regina memasang wajah cemberut mendengar celetukkan Shinta yang menyindirnya. "Ish....nyamber aja ni cewek kampung.
"Biarin cewek kampung yang penting ngak kegatelan kayak situ." Shinta tetap menyahut, ia tidak ingin di rendahkan oleh siapapun apalagi oleh Regina wanita yang sama sekali tak dikenalnya. Seenaknya saja merendahkannya.
Disaat kedua wanita itu saling beradu mulut, Wira baru saja menerima pesan singkat dari seseorang. Dan tanpa pamit langsung beranjak pergi. Ketika sadar Wira sudah tak ada, Regina pun ikut berlalu mencari keberadaan Wira. "Loh, kemana Wira? Ini semua gara-gara kamu."
Shinta mencibir Regina yang tak tahu malu itu. Katanya teman baik semasa kecil tapi, kok kesannya selalu mengejar-ngerjar Wira. Sejenak Shinta berpikir kenapa Wira melenggang pergi bergitu saja tanpa pamit padanya. Apakah ia sama sekali tak berarti bagi laki-laki itu. Mungkin bagi Wira ia hanyalah istri formalitas hanya demi nama baik keluarga saja. Shinta jadi negetif thinking kan.
"Shinta, kamu kenapa bengong?" Vania yang melihat wajah sedih adiknya jadi bertanya-tanya ada apa gerangan.
__ADS_1
"Ah, enggak kenapa-napa kok, mbak." Shinta tersenyum.
"Wira barusan mau kemana, sepertinya terburu-buru sekali?" Vania tadi memang sempat melihat Wira yang melangkah pergi.
Shinta lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Ia juga sebenarnya tidak tahu Wira akan kemana. "Aku juga ngak tahu mbak. Mungkin mau menemui teman-temannya atau rekan bisnisnya. Mbak, aku mau kebelakang sebentar ya." Vania pun mengangguk.
Setelah menuntaskan panggilan alamnya, baru saja Shinta akan keluar dari salah satu bilik toilet tiba-tiba ia mendengar suara dua orang perempuan yang sedang berbicara dan yang membuat Shinta mengurungkan langkahnya keluar karena ia mendengar nama suaminy disebut-sebut oleh kedua orang itu.
"Eh, menurut kamu tadi yang datang bersama Wira sialanya ya? Kalau dibilang pacarnya kayaknya ngak mungkin deh, cewek itu masih kelihatan bocah banget. Ngak cocok sama Wira yang dewasa dan berwibawa. Pa mungkin adik sepupunya?"
"Kalau itu aku juga ngak tahu. Tapi, bisa jadi kan cewek itu memang kekasihnya. Kira-kira dia anaknya siapa ya. Kayaknya aku ngak pernah lihat deh."
"Sama. Eh, tapi tadi tanteku bilang kalau cewek yang sama Wira tadi itu adalah salah satu pelayan kesayangan nyonya Helen. Apa iya dia mau menjodohkan anak laki-lakinya dengan seorang pembantu. Kayak ngak ada cewek terhormat saja. Pembantu gitu loh....ih, ngak level banget deh."
Dada Shinta rasanya seperti diremas, sesak dan perasaannya jadi tak menentu. Apa benar ia dan Wira memang tak pantas bersama.Dilihat dari sisi manapun ia dan Wira memang sama sekali tak pantas menjadi pasangan. Apakah Shinta sudah terlalu terlena akan perlakuan lembut Wira selama ini. Ia tidak ingat akan perjanjian yang telah Wira buat untuknya.
"Mas, aku mau belakang dulu ya. Shinta kok lama sekali." Vania jadi khawatir takut terjadi apa-apa dengan adiknya karena Shinta sama sekali asing dengan situasi yang tidak pernah ia alami.
"Iya, Bunda. Hati-hati. Apa perlu aku temani?"
"Tidak usah, Mas. Sebentar saja, aku akan segera kembali."
Dikejahuan Vania tak menyadari jika, Wira tengah memperhatikan gerak-geriknya dan ketika melihat kakak iparnya berjalan menuju ke arah toilet Wira pun mengikutinya. "Woi....mau kemana lo, Wir?" Tanya salah satu teman Wira.
"Sebentar, gue mau kebelakang." Jawab Wira beralasan.
Langkah Vania terhenti ketika ia baru akan memasuki washroom. "Wira, ada apa?"
"Enggak ada apa-apa. Aku cuma mau bicara berdua saja sama kamu. Emm....aku mau tanya apakah kamu bahagia bersama dengan kak Liam?"
Vania mengernyitkan keningnya berpikir apa maksud dari ucapan Wira barusan.
"Maksudnya apa?" Tanya Vania masih tak mengerti dengan pertanyaan Wira.
"Oh, Mas Liam sudah menjadi suami sah ku ya tentu saja aku sangat bahagia. Apalagi sebentar lagi kami akan dikaruniai anak lagi Tentu saja kami semakin saling mencintai. "
"Baguslah kalau begitu. Jika suatu saat nanti kak Liam menyakitimu ingat aku akan selalu ada untukmu. Karena aku masih sangat sayang padamu,
"Wira, kamu tidak pantas berkata seperti itu. Karena kamu sekarang sudah mempunyai seorang istri dan aku tidak akan pernah memaafkanmu jika, adikku sampai tersakiti oleh perbuatanmu. Ingat itu Wira, aku tidak ingin hubungan persaudaraan kita terputus hanya karena masalah percintaan. Aku sudah berbahagia hidup bersama suami dan anak-anak kami kelak."
Wira mematung setelah mendengar ungkapan Wira terhasapnya. Ia sama sekali tak ingin Shinta sampai tersakiti jika sampai mengetahui suaminya menyukai waniita lain dan yang lebih parahnya lagi wanita itu adalah kakak sepupunya sendiri. Vania yang kesal dengan kelakuan Wira langsung pergi meninggalkannya.
"Sudahlah....aku tidak ingin membahas hal yang tidak pantas untuk di bicarakan. Sadarlah dan tolong jangan kecewakan Shinta. Permisi!"
Tanpa mereka tahu dari balik pintu Shinta mendengar semuanya dan kini dadanya semakin terasa sesak mengetahui jika, ternyata selama ini suaminya masih menaruh rasa pada sang kakak. Sungguh miris memang nasibnya.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja, ke toilet kok lama sekali?" Liam melihat wajah kesal sang istri.
"Iya, tadi aku mau mencari Shinta tapu, tidak ketemu. Entah kemana anak itu."
"Mungkin dia mencari Wira." Vania tak menjawab karena tiba-tiba ponselnya berdering dan ia lun gegas menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari sang Bibi.
"Iya Bi, ada apa?"
"Kiano rewel ini Van, nyariin kamu. Kalau acaranya sudah selesai cepatlah pulang. Kasihan anakmu."
"Ah iya, Bi. Kami akan pulang sekarang juga." Setelah itu panggilanpun terputus.
"Mas, kita harus segera pulang. Kiano rewel."
"Oke, Ma, Pa. Kami pulang dukuan ya. Kiano rewel mencari bundanya."
Baru saja pasangan itu bangkit dan ingin beranjak pergi. Tiba-tiba muncul Shinta dengan wajah lesunya."Shin, mbak sama mas Liam pulang duluan ya." Shinta hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
"Ma, kita juga sebaiknya pulang saja yuk. Papa capek mau istirahat." Mama Helen pun menuruti keingjnan sang suami.
"Sayang, Mama sama Papa juga mau pulang duluan ya. tolong sampaikan pada suamimu!"
"Iya, Ma, Pa."
Sementara itu Wira yang bergabung lagi dengan teman-temannya dan melupakan sang istri. Mereka asik mengobrol. "Eh, Wir....si David ngajak kita kumpul bareng di club tempat biasa. Lo harus ikut loh, Wir."
"Lah, gue kan datang bareng–." Wira hampir saja keceplosan mengucapkan kata istri. Karena pernikahan mereka masih di rahasikan dari orang luar kecuali keluarga terdekat saja.
"Bareng gadis muda yang tadi dateng bareng lo itu ya? Lumayan tuh cewek. Siapa dia Wir, saudara lo kah. Boleh dong kenalin ke gue." Salah satu teman Wira yang bernama Anton tertarik dengan Shinta yang terlihat muda, segar dan cantik. Bagi mereka para pria dewasa tentu saja sangat menarik.
"Hemm–jangan macem-macem lo, Ton. Bentar gue kabarin dia dulu." Wira pun menulis pesan yang dikirimkan untuk Shinta.
Acara pesta pun telah usai. Para tamu telah meninggalkan gedung perusahaan tersebut. Suasana sudah sepi dan kini hanya tinggal Shinta yang tengah berdiri didepan pelataran depan gedung. "Maaf, nona....apa anda sedang menunggu jemputan?"
"I–iya pak." Seorang petugas security menghampiri Shinta.
"Mas Wira dimana sih? Masa' iya aku ditinggal." Shinta menggerutu sendiri.
"Apa tidak sebaiknya nona telepon saja!"
"Ah iya, kenapa bisa lupa. Baik Pak, terima kasih." Baru saja Shinta akan menghubungi Wira. Namun, ia melihat pesan yang dikirim eh suaminya itu.
"Shin, kamu pulang duluan saja sama Mama dan Papa ua. Aku masih ada urusan. Pulang nanti aku akan menjemputmu, oke!?"
Itulah isi pesan yang ditulis oleh Wira. Shinta tak menyadari jika suaminya mengirimkan pesan karena ponselnya disilent. Shinta menghela nafas dalam."Hh....sabar-sabar Shinta, ingat siapa dirimu!" Dan akhirnya Shinta melangkah pulang sendiri.
__ADS_1
Bersambung