
Tari begitu terkejut ketika melihat Shinta yang datang bersama Anton. Setahunya tadi Shinta cuma izin kekamar kecil saja taoi, kenapa jadi ada Anton bersamanya?
"Shinta, apa kamu memintanya untuk datang kesini?" tanya Tari penasaran karena setahunya mereka tidak ada rencana untuk mengundang laki-laki genit itu.
"Tidak Tari. Ini tadi kami bertemu tanpa sengaja di dekat kamar kecil. Kak Anton baru saja bertemu dengan rekan bisnisnya." Shinta menjelaskan agar sahabatnya itu tidak salah paham.
Tari hanya manggut-manggut sambil menaik sudut bibirnya karena kurang suka akan kehadiran Anton yang bagi Tari begitu menyebalkan.
" Apakah aku boleh bergabung bersam kalian?" Pinta Anton dengan menebar senyum manisnya.
"Buat apa? Bukankah tadi Shinta bilang kamu baru saja makan siang dengan klien-mu. Kami sedang menghabiskan waktu bersama hanya khusus untuk cewek-cewek." Jawab Tari ketus dan Anton malah tersenyum melihat sikap tak bersahabat dari sahabat Shinta itu.
"Tari–kamu kok ngomongnya gitu sih? Kak Anton kan hanya ingin menyapa kita. Mari, silahkan duduk kak!" Tanpa persetujuan dari sang sahabat.Shinta langsung mengabulkan permintaan Anton yang ingin bergabung dengan kedua wanita muda tersebut.
Wajah Tari terlihat kesal. Gadis tomboy itu bahkan sama sekali tak mau memandang wajah pria tampan yang kini tengah duduk dihadapannya.
Hening–ketiganya terdiam, entah mengapa rasa canggung tercipta diantara mereka tidak sepeti waktu yang lalu saat rahasia pernikahan Wira dan Shinta terbongkar. Sejak saat itu Anton yang merasa kecewa akan kenyataan tersebut memutuskan mundur dan tak lagi mengejar Shinta yang telah menjadi istri dari sahabatnya.
Mereka masih asik dengan pikirannya masing-masing. Sampai terdengar suara dering ponsel milik Shinta, membuat ketiganya beralih menantap Shinta yang henda menjawab panggilan tersebut.
"Iya, hallo. Assalamuallaikum, Mas."
"Wa'allaikumsalam. Kamu masih di mall atau sudah pulang?."
"Masih di mall. Dan kami baru saja selesai makan siang. Mungkin setelah ini rencananya kami akan pulang."
"Kalau begitu Mas akan menjemputmu. Tunggu....jangan kemana-mana!"
"Mas, tidak usah–."
Belum juga Shinta sempat melanjutkan perkataannya lagi, Wira langsung menutupnya secara sepihak. Shinta menghembuskan nafas kasarnya." Dasar pemaksa." sedetik kemudian ia pun tersenyum bahagia akan perhatian yang diberikan oleh sang suami.
"Kenapa Shin, kamu kok kayaknya bahagia sekali?" Tanya Tari yang memperhatikan ekspresi wajah Shinta yang tampak sumringah.
"Itu, Mas Wira mau menjemputku Tar. Emm....padahal kita masih ingin bersenang-senang tali, Mas Wira sudah menyuruhku untuk pulang. Maaf ya Tari." Shinta merasa tak enak karena acara kebersamaan mereka akan segera berakhir disebabkan oleh keposesifan suaminya itu.
"Iya, tidak apa-apa Shin. Lagi pula Pak Wira benar, kamu harus lebih banyak beristirahat dirumah bukannya malah keluyuran kemana-mana." Tari memaklumi sikap Wira yang memang sudah sewajarnya karena menjadi suami siaga bagi istrinya yang tengah hamil besar.
Mereka menunggu kedatangan Wira sambil berbincang ringan. " Oh ya Shin, kapan hpl baby kalian?" Tanya Anton tiba-tiba membuat Tari melirik malas dengan modus Anton yang hanya ingin mencari perhatian Shinta.
__ADS_1
"Kira-kira tiga mingguan lagi,kak. Do'akan ya kak!"
"Pastilah Shin. Semoga kelahiran baby boy berjalan lancar, sehat dan selamat." Ucapan do'a tukus yang terucap dari bibir Anton.
"Terima kasih kak, atas do'a nya." Shinta tersenyum tulus pada Anton.
Tiba-tiba celetukkan Tari menghentikan obrolan mereka. "Shin, itu suamimu sudah datang." Tari menunjuk tepat kearah Wira yang tengah berjalan mendekati mereka.
Kening Wira mengkerut ketika melihat keberadaan Anton bersama Shinta dan Tari. Ada urusan apa Anton dengan istrinya atau Tari–. Berbagai spekulasi memenuhi isi kepala Wira.
"Sayang, apakah kita bisa pulang sekarang?" Tanpa menyapa Tari dan Anton, Wira langsung meraih tangan Shinta dan mengajaknya untuk pergi. Sedangkan Tari dan Anton hanya memperhatikan interaksi pasangan suami istri yang tampak serasi itu.
"Iya Mas, sebentar aku pamitan dulu sama Tari dan kak Anton. Atau Tari sekalian saja bareng kita Mas."
Tari yang mendengar ucapan Shinta tentu saja menolak, mana mau ia menjadi kambing congek diantara kedua pasangan suami istri bucin itu."Eh, ngak usah Shin Aku bisa pulang–."
"Aku yang akan mengantar Tari sampai kerumahnya dengan selamat. Jangan khawatirkan sahabatmu ini, dia akan aman bersamaku." Anton yang menjawab mewakili Tari.
Tari yang merasa tidak enak pun akhirnya membenarkan ucapan Anton. "Iya, Shin. Aku akan pulang bersama Pak Anton. santai saja, oke."
"Sudah, sana pulang. Kabari aku ya kalau baby boy sudah mau lahir nanti."
Sepeninggal pasangan suami istri tersebut, kini hanya tinggal Anton dan Tari yang masih duduk diposisi masing-masing. Seketika Tari bangkit dan hendak melangkah pergi tapi, lengannya langsung dicekal oleh tangan kekar Anton. Otomatis Tari menghentikan langkahnya. "Ada apa ya Pak? Maaf, saya juga harus segera pulang. Permisi." Menunduk dan melihat tangan Anton yang masih memegang lengannya.
"Eits–tunggu dulu, manis. Bukankah kamu akan pulang bersama pria tampan ini?" Dengan peercaya dirinya Anton membanggakan ketampanannya. Tapi, memang tampan sih. Tari pun pasti setuju tentang hal itu.
"Manis-manis, memangnya gue gula apa? Ck...dasar playboy." Kesal Tari, gadis itu memutar bola matanya jengah akan kelakuan luar biasa pria dewasa dihadapannya saat ini.
Anton yang mendengar Tari yang menggerutu karena ucapannya tentu saja semakin gemas dengan gadis yang selalu bersikap ketus terhadapnya. Anton jadi tertantang ingin menahlukkan gadis tomboy itu. Sebuah seringai tertampil diwajah tampannya. 'Oke, kita lihat....apakah kamu bisa menolak pesona seorang Anton Raharja, Batari Anggraini.' Tekad Anton dalam hati.
Akhirnya Tari pun pasrah dan menuuti permintaan dari Shinta. Ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu. "Baiklah. Ini aku lakukan hanya semata-mata karena permintaan dari Shinta saja, ingat itu!"
"Siap tuan putri. Sang pangeran sudah siap mengantar kemanapun tuan putri ingin pergi."
"Huh, lebay!" Tari mencebik sebal mendengar gombalan pria yang terkenal playboy itu. Ya, Shinta tahu tentang sepak terjang seorang Anton yang terkenal suka gonta ganti pacar. Itu ia dengar sendiri dari cerita Shinta yang diberitahu oleh Wira.
"Ayo manis, kok malah bengong. Apa sebegitu mempesonanya pangeran tampan dihadapanmu ini?" Anton tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya sangat genit menurut Tari. Namun, itu juga membuat seorang Tari yang tak pernah dekat dengan laki-laki manapun dibikin baper juga. Itu terlihat dari pipinya yang bersemu merah.
'Ih, gombal banget sih ni om-om.Tapi, sorry....gue ngak akan terperangkap oleh jebakanmu itu. Dasar laki-laki buaya.'
__ADS_1
"Hemm–ayo cepat, saya juga capek mau cepat beristirahat!'
"Asiap my princess."
"Sak karepmu om." Anton memicingkan matanya mendegar ucapan Tari. Tapi, kemudian ia kembali menebarkan senyum mautnya pada gadis yang sekarang telah menjadi targetnya itu.
Beberapa hari kemudian Regina tiba-tiba datang kembali kekantor Wira. Tentu saja kemunculan wanita itu sangat tidak diharapkan oleh Wira. Dengan alasan ada hal penting yang harus disampaikannya langsung pada Wira. Akhirnya Regina pun diberi izin masuk. Wira ingin tahu apa yang dikehendaki wanita licik itu.
Tok tok tok
"Pak, nona Regina sudah datang."
"Hem–Suruh dia masuk!"
Setelah dipersilahkan masuk, Regina pun bergegas masuk. Wanita cantik itu tidak lagi berbuat seenaknya seperti waktu lalu saat menerobos masuk tanpa izin disaat Wira sedang bersama dengan istrina.Kali ini Regina tak ingin mengambil resiko sampai membuat Wira marah seperti waktu itu. Kali ini wanita itu berusaha bersikap sekalem mungkin agar terlihat baik dimata Wira.
Wira tetap duduk di kursi kebesarannya, ia malas meladeni Regjna yanh selalu menghina dan merendahkan istrinya."Silahkan duduk!" Wira menyirih Regina duduk di kursi tepat diseberang meja kerjanya.
"Katakan apa maksud kedatanganmu, aku masih banyak pekerjaan!" Tanya Wira dengan wajah datarnya.
"Lihatlah ini dan aku pastikan kau akan sangat terkejut karena istrimu tidak sepolos apa yang kau kira." Regina menyodorkan sebuah amplop coklat kehadapan Wira.
Kening Wira mengernyit penuh tanya, ia lalu mengambil amplop itu dan membukanya. Matanya terbelalak melihat isinya yang terdapat beberapa lembar photo menggambarkan Shinta dan Anton yang tampak sedang berpegangan tangan dan keduanya tampak bahagia karena Shinta tersenyum manis pada Anton. Dan ada juga lembaran yang lain memperlihatkan keduanya berjalan beriringan entah menuju kemana. Tapi, Wira jadi ingat dengan kejadian saat ia menjemput istinya di mall beberapa hari yang lalu dan bertemu dengan Anton. Mereka bertiga dan bukan hanya berduaan saja. Regina.ternyata ingin merusak hubungannya dengan sang istri. Seketika Wira melempar dengan kasar photo-photo tersebut kehadapan Regina dan menatap tajam temannya itu.
"Maksudmu apa melekaukan semuanya ini, Hah?kau kira bisa mempengaruhimu dengan merancang sebuah fitnah pada istriku. Apa kamu masih belum mengerti juga, Regina. Aku sudah menikah dan sangat mencintai istriku. Jangan membuatku melakukan apa yang akan membuatmu jera. Sekarang pergilah, aku sibuk dan tak ada waktu untuk mengurusi hal omong kosong seperti ini."
"WIRA! Apa kamu tidak bisa melihat bagaimana cara mereka saling menatap dan tersenyum bahagia. Istrimu itu telah menipumu dan dia bermain dibelakangmu dan parahnya lagi laki-laki itu adalah Anton, teman kita sendiri yang kamu tahulah seperti apa Anton itu." Regina tetap berusaha mendokrin Wira.
"Rendahkan suaramu! Aku tidak akan pernah mempercayai apapun yang kau katakan. Aku lebih mengenal istriku dari pada siapapun.Mengerti, so.....sulahkan tinggalkan ruangan dan kantor ini. Jangan mengusik kehidupanku dan juga istriku!"
Regina pun bangkit dan hendak beranjak pergi. Namjn, sebelum itu ia kembali mengutarakan sebuah ancaman yang seketika membuat Wira marah." Kita lihat saja nanti, aku akan membuktikan jika, semua yang ku katakan adalah benar adanya. Dan aku pastikan kamu akan menyesal telah memperistri wanita kampung itu yang hanya bekas seorang pembantu rendahan dirumah orang tuamu. Aku sudah mengetahui semuanya. Ingat itu Wira."
"Benar-benar kamu ya, Regina....cepat pergi dan enyahlah dari hadapanku. GUGUN!"
"Iya Pak." Gugun sudah tahu apa yang harus dilakukannya. "Mari, nona Regina!" Memoersilahkan Regina untuk keluar dari ruangan boss nya itu.
' Tunggu saja Wira, kamu pasti akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini. Lihat....aku akan menghancurkan istri kampungmu itu.'
Bersambung
__ADS_1