Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
21. Rencana Vania


__ADS_3

Wira sungguh tak percaya akan pendengarannya. Kakaknya mengatakan hal yang tidak mungkin akan terjadi. Karena Wira merasa hanya dialah yang pantas untuk memiliki Vania dan.bayinya.


"Barusan kak Liam bilang anak pertama dan mau menambah anak pula. Itu apa maksudnya?"


Liam menarik sudut bibirnya tersenyum mengejek. "Iya, suatu hari nanti Kiano akan memiliki adik dari papa dan mama nya, bukan? Ah...tak sabar aku menanti hari itu."


Kedua tangannya mengepal kuat, sekuat mungkin ia menahan amarahnya. Wira menatap tajam sang kakak yang sedang berdiri tepat di sebelah box bayi dan tersenyum pada Vania. Membuat Wira semakin kesal.


"Vania. Jadi namanya baby Kiano. bagus sekali namanya. Siapa yang memberinya nama?"


"Aku–iya kan, Van?" Liam mengedipkan matanya dan tersenyum mengejek pada Wira. Ia sengaja berbohong untuk memanas-manasi adiknya itu.


Semakin panas saja hatinya. Jika itu benar adanya, bagaimana bisa Liam memberikan nama untuk anak Vania. Wira masih tidak bisa mempercayainya. Memangnya kakaknya itu siapanya bayi itu.Kenapa bisa Liam yang memberikan namanya, harusnya kan dirinya. Itulah yang ada dipikiran Wira.


Dengan perasaan dongkolnya, Wira berjalan mendekati Liam yang tengah asik memandang bayi Kiano.


"Eh eh, mau apa kamu Wir datang kesini? Hush...hush, sana-sana!" Liam mengibaskan telapak tangannya seakan mengusir Wira agar tidak mendekati bayinya. Ya, Liam sudah tak meragukan lagi dengan kebenaran bahwa bayi Kiano adalah darah dagingnya. Liam sangat yakin tanpa perlu melakukan test apapun.


"Kenapa? Memangnya hanya kak Liam saja yang boleh melihatnya. Baby Kiano secepatnya juga akan menjadi anakku dan Vania akan segera menjadi istriku."


Liam menghela nafas panjang, mencoba meredam amarahnya. Kedua pria tampan itu pun kini telah saling berhadapan masih dalam posisi berdiri di samping box bayi. Vania dapat melihat sorot permusuhan diantara kakak beradik tersebut. Kini Vania bingung harus berbuat apa, jika terjadi ketegangan seperti waktu dulu Vania jadi semakin was-was.

__ADS_1


Apalagi posisi berdiri mereka ditempat yang riskan, pastinya akan mengganggu bayi mungil tersebut. Kalau sampai terjadi bentrokkan diantara keduanya.


"Tu–tuan, tolong jangan ribut disini. Nanti bayi saya terganggu!" Tegur Vania pada kedua majikannya itu.


""Bayi kita, sayang...kamu jangan melupakan hal yang satu itu. Kamu mengerti kan apa yang kumaksud?" Liam lagi-lagi mengerlingkan matanya memberi isyarat akan sesuatu.


Wajah Wira semakin memerah dan dengan satu tarikan kuat ia merengkuh kerah kemeja Liam. " Apa sebenarnya yang kakak inginkan? Aku rasa kakak sengaja ingin membuatku kesal, bukan? Hah...sayangnya aku tidak akan terpengaruh sama sekali dengan sulutan apimu itu, kakakku tersayang."


Telapak tangan kanan Wira mengepal dan telah melayang di udara hendak melayangkan pukulan ke wajah Liam. Namun, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan tampak Nyonya Helen dan Bi Arum terpaku menatap Liam dan Wira yang sebentar lagi akan beradu jotos.


"HEYY–kalian ini apa-apaan sih, apa kalian sudah tidak waras bertengkar di hadapan bayi yang baru lahir. Bagaimana kalau baby Kiano terbangun karena kaget mendengar suara kalian yang keras itu, HAH...ayo, sana pergi-pergi, Liam, Wira. Dari pada gelut terus, lebih baik kamu urusi makanan untuk papa dan juga kalian berdua juga lebih baik pulang saja, kerjaannya bikin ribut saja." Padahal suara Nyonya Helen tak kalah kerasnya dengan adu mulut kedua putranya.


"Haa–apa Mama ngak sadar ya kicauannya juga menggelegar seperti toa masjid?" Kata Wira. Liam dan Wira sejenak saling berpandangan kemudian saling membuang muka kembali.


"Vania, aku pamit pulang dulu ya.Ma, nanti tolong kabari aku ya kalau Vania dan baby Kiano sudah diperbolehkan pulang. Biar aku yang akan menjemput!" Wira dengan gaya gentlenya menawarkan diri untuk menjemput Vania dan bayinya pulang.


"Vania, jangan dengarkan si Wira. Tenang saja ya. Aku akan selalu standby 24 jam untuk mu dan baby Kiano. Kamu harus percaya padaku, oke! Aku pulang sebentar ya.Sampai jumpa nanti." Liam tak ingin kalah dengan sang adik yang memberikan perhatian khusus pada Vania dan bayinya.


Nyonya Helen berdecak sebal melihat kelakuan alay kedua putra tampannya itu. Badan boleh besar, bahkan umur juga sudah sangat dewasa tapi, ternyata kelakuan Liam dan Wira tak ada bedanya dengan anak sd. Sangat kekanak-kanakkan.


Setelah kepergian duo perusuh itu. Vania kembali dilanda rasa tak enak hati dengan terulangnya kejadian seperti waktu yang lalu saat kedua tuan muda berseteru karena dirinya. Vania takut Nyonya Helen akan berpikir jika ia yang menggoda mereka. Padahal ia sama sekali tidak berbuat apapun. Bahkan Vania tidak meminta pertanggung jawaban dari Liam atas apa yang telah terjadi pada dirinya.

__ADS_1


"Nyonya, maafkan saya.Tentang tuan muda Liam dan tuan muda Wira saya sama sekali tidak melakukan apapun yang membuat mereka jadi seperti itu. Tolong percaya pada saya, Nyonya. Saya benar-benar tidak memiliki tujuan buruk apapun itu pada keluarga anda. Saya tahu diri akan siapa diri saya ini, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf." Vania menangkupkan kedua telapak tangannya memohon maaf dengan tulus. Matanya sudah berkaca-kaca.


Melihat wajah sendu Vania membuat Nyonya Helen iba dan terenyuh dengan nasib gadis muda yang masih polos itu. Jauh didalam lubuk hatinya Nyonya Helen sama sekali tidak membenci Vania hanya karena kedua putranya yang menyukai gadis itu.


"Kamu itu bicara apa sih, Van. Aku sama sekali tidak mempunyai pikiran seperti apa yang kamu katakan barusan. Anak-anakku lah yang sudah keterlaluan karena telah membuatmu tak nyaman akan tingkah laku mereka yang terlalu agresif mengejar-ngejar kamu. Jangan dimasukkan kedalam hati ya segala omongan mereka. Anggap saja angin lalu."


Vania merasa lega karena ternyata Nyonya Helen tidak marah dengannya. Walaupun kenyataan yang sebenarnya bayi Kiano adalah keturunan dari keluarga Ghazala. Vania tidak akan pernah mengungkit hal itu. Biarlah ia meneruskan hidupnya bersama sang buah hati.


Sore harinya setelah dokter melakukan kunjungan ke kamar perawatan Vania. dokter mengatakan jika keadaan Vania dan bayinya sudah sehat dan besok pagi sudah di perbolehkan pulang. Nyonya Helen telah pamit dan malam ini hanya bi Arum yang menemani Vania.


"Bi, apa sebaiknya setelah ini kita berhenti bekerja dan pergi saja dari kediaman Ghazala. Aku merasa tidak enak dan tak nyaman dengan kedua tuan muda yang selalu berselisih hanya karena diriku yang hina ini, bi."


Wajah sendu Vania membuat bi Arum jadi tak tega. Keponakannya itu sudah cukup menderita dengan apa yang telah menimpanya. Di perkosa dan hamil tanpa ada yang berganggung jawab dan sekarang bagaimana nasib bayinya yang tak memiliki seorang ayah.


"Jangan terlalu dipikirkan Van, nanti kalau kamu stress maka akan mempengaruhi produksi Asi mu. Kasihan nanti Kiano. Untuk masalah itu nanti kita bicarakan lagi ya. Sekarang kamu tidurlah. Sudah malam, tak baik begadang . Kamu masih dalam pemulihan."


"Iya, bi." Vania segera membetulkan posisi tidurnya lalu mulai memejamkan matanya. Namun, pkkirannya terus berputar.


"Aku tidak akan menyusahkanmu lagi, bi. Maaf jika aku akan melakukan hal yang akan mengecewakanmu lagi. karena aku tak ada pilihan lain lagi. Semua hanya demi masa depan Kiano kelak. Ya Allah, kuatkanlah diriku dalam menjalani kehidupan ini."


Vania telah memiliki rencana masa depan untuk dirinya.dan sang buah hati.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2