
Melangkah memasuki rumah akan tetapi ia tidak menemukan keberadaan sang istri di dapur seperti biasanya.Yang Wira lihat hanya ada ibu mertuanya dan salah satu asisten rumah tangga yang sedang mengobrol. Menyadari kehadiran sang menantu, bi Arum pun langsung menyapanya. "Nak Wira mencari siapa?" Bi Arum tahu pasti jika, menantunya itu tengah mencari Shinta. Namun, ia tak ingin dikira ingin tahu urusan pribadi pasangan suami istri baru itu.
"Itu, apa ibu melihat Shinta?"
Benar saja dugaannya, menantunya itu memang serang mencari putrinya. "Oh, Shinta baru saja naik katanya mau kekamar."
"Begitu, terima kasih ya Bu." Wira pun bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya setelah mengucapkan terima kasih pada sang ibu mertua.
Didepan pintu kamar, Wira menghirup udara sejenak mengatur nafasnya dan juga dadanya yang berdebar-debar. Entah mengapa, akhir-akhir ini disaat ingin berdekatan dengan Shinta, Degup Jantung Wira berpacu semakin cepat. Apakah ia sudah ada rasa pada istri kecilnya itu? Hanya dirinya dan tuhan yang tahu.
Krieett
"Shin–."
"Aaaaa, Tu–an. Kenapa anda tidak mengetuk pintu terlebih dulu?" Shinta yang sedang berganti pakaian tersentak kaget ketika tiba-tiba ada orang yang membuka pjntu kamar dan masuk begitu saja. Sedangkan posisi dirinya hanya mengenakan pakaian dalam.Refleks ia menutupi tubuhnya dengan baju yang masih tergelatak didekat kakinya. Ya walaupun tidak bisa menutupi keseluruhan tubuhnya.
Begitupun Wira yang tak kalah syoknya. Matanya membola sempurna melihat pemandangan yang membuat dadanya jedag jedug dengan wajah yang memerah hingga ke daun telinganya. Antara malu dan juga menikmati suguhan indah dihadapannya.
"Tu‐an, bisakah anda tolong berbalik sebentar!"
"Untuk apa?" Wah, ternyata si Wira benar-benar aji mumpung ini. Dia bahkan sama sekali tak berkedip menatap Shinta yang tampak canggung dan malu.
"Saya malu, Tuan. Tolong....sebentar saja." Shinta masih berusaha memohon agar suaminya itu mengalihkan pandangannya dengan membalikkan badannya agar tak menghadap kearahnya. Tapi, memang dasar keras kepala, Laki-laki itu malah diam saja sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Santuy dan tak perduli.
Shinta tak lagi memohon, ia yang mengalah saja. Shinta membalikkan tubuhnya membelakangi Wira lalu, bergegas memakai pakaiannya.
Sedangkan Wira yang disuguhi lekukan tubuh bagian belakang Shinta tentu saja semakin panas dingin. Laki- laki itu bahkan menelan salivanya susah payah. Sesuatu dibawah sana tiba-tiba saja mengeras. 'Astaga....kenapa kamu selalu bangun diwaktu seperti ini? Masa' iya aku memintanya sekarang juga?' batin Wira berkecamuk.
GREPP
__ADS_1
"Eh eh, Tu–tuan mau apa?" Shinta terlonjak kaget tiba-tiba saja Wira memeluknya dari belakang disaat ia belum selesai berpakaian. Bahkan tangan nakal Wira telah mendarat sempurna disalah satu gunung kembar milik istrinya.
"Aku mau minta maaf soal yang tadi.Maaf ya, aku ngak bermaksud merendahkanmu. Kamu pasti sangat tersakiti dengan perkataanku tadi."
Shinta tak menyangka jika, suami dinginnya itu bisa meminta maaf seperti ini. Tadinya ia mengira Wira sama sekali tak perduli akan perasaannya. Shinta merasa tak dihargai sebagai seorang istri dan hanya dianggap sebagai pelampiasan nafsu syahwat suaminya saja. "I–iya, saya sudah memaafkan Tuan. Bisa tolong lepaskan tangan Tuan dari....akhh!"
Bukannya melepaskan kini kedua tangan Wira justru me***** dengan gemas kedua gunung kembar Shinta. Membuat Shinta memekik tertahan karena perlakuan suaminya itu.
"Terima kasih, sayang. Lalu, urusan yang ini bagaimana?" Wira sengaja menekan adiknya hingga Shinta dapat merasakan milik suaminya yang sudah mengeras sempurna dan Shinta tahu Wira meninginkannya. Shinta ingin menolaknya tapi, rasanya tidak tega. Karena bagaimana pun kini mereka telah menjadi pasangan suami istri yang sah jadi, ia harus menjalankan segala kewajibannya sebagai seorang istri termasuk melayani sang suami dalam urusan ranjang.
"Kenapa malah diam? Kamu mau kan menenangkannya, dia bangun itu karena kamu juga yang telah memancingnya." Wira terus saja mendesak dan mulai bergerilya di tubuh Shinta dengan posisi mereka yang masih berdiri.
"Tu‐tuan. Tapi, nanti kalau ada yang tahu bagaimana? Malu kan. Lagipula semalam kan sudah, ini masih terang loh, Tuan. Nanti malam saja ya di apartemen." Shinta mencoba bernegosiasi dan berharap Wira akan mengerti dan menyetujui usulnya. Bukan apa-apa. Mau di taruh dimana wajahnya nanti jika, yang lain menyadari apa yang mereka lakukan disiang bolong begini.
Tadinya Wira tak mau tapi, akhirnya ia pun mennuruti apa yang disarankan oleh sang istri. Wira segera menyelonong masuk kekamar mandi ingin meredakan hasrat nya yang masih menguasai tubuhnya. Wira berendam di air yang dingin sambil memejamkan matanya merileks-kan tubuhnya yang menegang.
Sedang Shinta, segera bergegas leluar dari kamar tersebut. Menghindari terkaman dari suaminya yang dingin namun, berubah menjadi super mesum. Hampir 15 menit-an Wira berendam dan saat keluar ia sudah tak menemukan Shinta dikamar. "Dia kabur lagi."
"Tenang saja, sayang. Mama yakin mereka pasti akan baik-baik saja. Apalagi mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Semakin mereka intens berhubungan maka' Mama jamin lama-lama mereka akan saling menyukai bahkan jatuh cinta. Kamu jangan terlalu memikirkan mereka, kamu konsentrasi dengan kehamilanmu saja. Untuk urusan Wira dan Shinta serahkan pada Mama, ok."
Mama Helen memberi pengertian dan juga menenangkan Vania yang khawatir dengan Shinta. Mama Helen mengerti kenapa Vania sampai seperti itu, karena ia takut adiknya tidak bahagia. Mama Helen berjanji akan selalu mengawasi pasangan baru itu.
Menjelang sore hari satu persatu anak dan menantu serta cucu mereka kembali ke rumah masing-masing.Kini tinggalah pasangan paruh baya yang sedang beristirahat didalam kamar. " Ma, apa Mama yakin hubungan Wira dan Shinta akan berjalan lancar? Papa juga agak khawtir jika, Wira sampai menyakiti Shinta. Gadis itu sebenarnya terlalu muda untuk putra kita. Apa sebaiknya kita batalkan saja pernikahan mereka?"
"Papa ini ngomong apa sih? Sudah, serahkan saja semuanya sama Mama. Mereka pasti akan menjadi pasangan terbucin berikutnya. Lihat saja nanti dan Papa jangan pernah sekali-kali ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, ya!" Mama Helen yakin jika Wira dan Shinta akan menjadi pasangan yang akan saling mencintai suatu saat nanti.
"Tapi, Ma.Mumpung hubungan mereka belum terlalu jauh lebih baik kita pikirkan lagi soal pernikahan mereka. Papa merasa kasihan dengan Shinta, anak itu masih terlalu muda dan Mama lihat sendiri kan bagaimana sikap dan perlakuan Wira terhadap Shinta. Papa yakin Wira tidak menerima pernikahan paksa itu." Papa Bisma tetap kekeuh dengan pemikirannya.
"Sudah ah, Papa ini terlalu parno. Ngak bisa menerima bagaimana. Setiap hati anakmu itu tidak absen menggarap istrinya.Masa' mau dipisahkan. Pokoknya Mama yakin hubungan mereka akan baik-baik saja bahkan pernikahan mereka akan segera dikaruniai seorang anak. Dan kita akan dapat cucu lagi. Ah, Mama sudah tidak sabar menanti hari dimana mereka memberitahukan kabar baik itu." Angan-angan Mama Helen begitu tinggi.
__ADS_1
Papa Bisma tersenyum melihat sang istri yang tampak bahagia karena akan memiliki cucu yang banyak. Itu juga yang menjadi keinginannya, yang terpenting perkawinan anak-anaknya selalu dikaruniai kebahagiaan.
Keesokkan harinya usai sarapan pagi bersama, Shinta sudah bersiap akan berangkat kekampus karena ada kuliah pagi. Begitu pun dengan Wira yang juga akan berangkat ke Perusahaan. Shinta baru sajamelangkah menuju ke pintu namun, langkahnya terhenti ketika Wira memanggilnya.
"Shinta, tunggu....aku akan mengantarmu ke kampus setelah itu aku akan langsung kekantor."
Shinta terdiam sejenak, eh....enggak usah, Tuan.Saya bisa berangkat sendiri. Sudah terbiasa juga.Tidak enak kalau ada yang melihat anda nanti akan jadi gosip dan nama baik Tuan akan jelek karena ketahuan bersama saya." Memang benar apa yang diucapkan Shinta. Wira adalah laki-laki yang cukip dikenal oleh khalayak ramai bahkan sampai ke luar negeri.
Siapa yang tak tahu Wira Bheru Ghazala seorang pengusaha muda sukses yang gagah, tampan nan rupawan. Siapapun yang melihatnya pasyi akan langsung terpesona.
"Kamu itu terlalu parno. Sudah, ngak usah negatif thingking. Lagipula mengantar istri sendiri dimana masalahnya. Biarkan saja semua orang mau ngomong apa, kek. Ayo, cepat....aku ada rapat pagi ini." Wira tak mau dibantah lagi. Memang benar apa yang dikatakan Wira, Shinta adalah istrinya ya wajar saja kan jika, mereka terlihat bersama-sama.
"Iya. Tapi nanti Tuan berhentinya agak jauh dari kampus ya."
"Hemm–." Wira hanya menjawab dengan deheman saja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit-an. Akhirnya mereka hampir sampai di kampus. Sejak dalam perjalan tadi, Shinta terus mewanti-wanti agar Wira menurunkannya agak jauh dari wilayah kampus. Ia tidak ingin jadi bahan gosip. "Iya, Tuan.Tolong berhenti.didepan sana saja!" Namun, tampaknya permintaan Shinta sama sekali tak digubrisnya. Wira malah semakin melajukan kendaraannya semakin cepat dan langsung masuk lalu, berhenti didepan kepelataran kampus.
"Eh eh, Tuan kenapa malah masuk dan berhenti disini lagi. Aduh....bagaimana ini aku keluarnya?" Shinta seketika panik dan tak menyangka jika, suaminya itu seakan tengah mengerjainya. Bisa habis dia jadi bahan ejekan semua orang.
"Tinggal turun aja apa susahnya sih. Sudah, cepat aku juga sedang diburu waktu ini. Ayo, malah bengong!" Wira melihat Shinta yang hanya diam mematung. "Dan satu lagi, jangan pernah panggil Tuan atau anda lagi. Aku ini suamimu bukan majikanmu! Mengerti? Jika tidak, awas aku akan menghukummu." Lanjutnya lagi, Wira merasa risih setiap kali Shinta memanggilnya seperti itu.
"Iya iya, saya akan turu. Terima kasih Tuan sudah mengantar saya dan–."
SRETT
CUP
"Mmppmm–."
__ADS_1
Bersambung