Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
64. Unboxing


__ADS_3

Wira yang telah di kuasai hasrat kelelakiannya langsung mengukung tubuh mungil Shinta dan gadis itu pun belum tersadar sepenuhnya. Ia hanya melengguh pelan, mungkin Shinta mengira sedang berada di alam mimpi. Ya mimpi yang sangat indah. Karena baru kali pertama merasakan sentuhan yang melenakan. Samar-samar ia mendengar suara seorang laki-laki yang begitu dikenalnya. Suara itu terdengar berat dan sexy. Hingga Shinta tanpa sadar mengiyakan ucapan Wira.


"Sayang, aku mengingjnkanmu sekarang."


"Eemm– iya." Itulah jawaban yang keluar dari bibir ranum sang gadis.


Wira pun mengulas senyum dan tanpa membuang waktu lagi ia langsung menyerang Shinta dengan sentuhan-sentuhan yang memabukkan. Semua anggota tubuhnya bergerak aktif. Dari atas sampai bawah, bibirnya ******* dengan lembut hingga semakin menuntut. Dan kedua tangan Wira pun tak mau kalah bergerilya ke area gunung kembar dan menjalar hingga ke daerah surga dunianya seorang laki-laki.


Tiba-tiba Shinta tersadar dan tersentak ketika merasakan sentuhan di area intimnya dan juga sesuatu yang basah pada ujung chocho chip nya.Bibirnya yang masih dibungkam oleh Wira membuat Shinta tak bisa bernafas.


"Mmpm–eumm...Akh, Tu–tuan. Apa yang mau anda lakukan?" Mata Shinta membola sempurna dan disugukan langsung dengan wajah tampan sang suami yang tatapan yang berkabut gairah.


"Mau apa? Kan tadi kamu yang sudah mengiyakan."


"Tu–tunggu, ahh....tolong hentikan, Tuan. Kapan saya bialng begitu pada anda. Kenapa Tuan sudah pulang?" Shinta mencoba melepaskan diri dari kungkungan tubuh besar Wira. Tetiba ia merasa sangat takut untuk melakukannya apalagi saat merasakan sesuatu yang keras san besar tengah menekan-nekan di bawah perutnya.


Wira tak membiarkan Shinta lepas dari penguasaannya. Ia semakin mengunci tubuh mungil gadisnya dibawahnya. "Kenapa aku tidak boleh pulang, ini kan rumahku dan ada istri yang tengah menungguku."


'Siapa juga yang sedang nungguin dia. Aduh....itu, aku takut. Bagaimana ini?' Shinta membayangkan sesuatu yang mengerikan. Milik Wira yang sangat besar pasti akan sangat menyakitkan jika menerobos masuk dan menjebol miliknya yang masih original.


"Tu–tuan muda. Apa anda tidak capek, saya akan menyiapkan air hangat untuk anda mandi. Tolong lepaskan saya." Shinta mencoba bangkit namun, dengan gerakan cepat Wira menghempaskan tubuh Shinta kembali.


"Mandinya nanti saja setelah kita selesai. Aku ngak bisa menahannya lagi."


"Tapi, Tuan–."


Wira membungkam bibir Shinta agar tak terlalu banyak bicara. Kemudian melanjutkan aktifitasnya di tubuh menggoda sang istri.


SREETT


Dengan satu tarikan lingerie yang dikenakan Shinta pun lolos dari tubuhnya. Selanjutnya dua kain terakhir yang menutupi gunung kembar dan gua sucinya.


"Tuan–akhh!" Shinta refleks ingin menutupi dadanya namun, kalah cepat dengan gerakan tangan Wira yang langsung mengenggamnya kuat.


"Jangan ditutupi sayang, aku belum puas mencicipinya!" Wajah Wira mendusel-dusel diantara dua gunung kembar yang kenyal. Shinta sekuat tenaga menahan rasa geli yang mendera. Sedangkan ia tak bisa menolak apa yang diinginkan suaminya itu.

__ADS_1


Sentuhan-sentuhan lembut nan memabukkan yang diberikan Wira membuat tubuh Shinta lemas tak bertenaga degup jantungnya pun kian berpacu cepat. Hingga tanpa izin Wira langsung melesatkan adik kecilnya kedalam gua suci Shinta. Seketika tubuh gadis itu pun tersentak dan matanya terbelalak merasakan benda asing yang menerobos masuk tanpa permisi


"Aarghh–sakit!" Rasanya bagian intinya bagai terbelah perih tak terkira


"Tahan sebentar, sayang. Sebentar lagi juga tidak akan terasa sakit lagi."Mulai menggerakkan perlahan dan selembut mungkin. Karena ini adalah yang pertama bagi Shinta. Wira mencium bibir Shinta yang tampak membengkak akibat dari perbuatan Wira yang terlalu menggebu-gebu. Mengalihkan rasa sakit yang mendera pada bagian intimnya.


Akhirnya untuk pertama kalinya Shinta menyerahkan sesuatu yang berharga miliknya untuk sang suami. Walaupun tidak ada cinta di tengah pergumulan tersebut namun, keduanya menikmati malam pertama mereka. Bahkan suara lengguhan dan erangan keduanya begitu menggema di kamar dalam kamar pasangan pengantin baru tersebut.


Hampir 2 jam mereka bergelut dalam gairah yang menggebu tak henti-hentinya mengulang kembali percintaan mereka hingga tiga kali mencapai puncak kepuasan bersama. Shinta tampak lemas tak berdaya. Tubuhnya begitu letih dan matanya pun langsung terpejam memasuki alam mimpi yang indah dalam dekapan hangat sang suami. Wira pun tak jauh berbeda dengan Shinta namun, ada rasa lega dan kepuasan ketika telah menuntaskan syahwat yang telah lama terpendam.


Sejak menikahi Shinta entah mengapa keingknan untuk bercinta selalu menggebu di hatinya. Dan kini akhirnya ia telah memiliki Shinta seutuhnya, gadis yang sejak pertama bertemu sama sekali tak berkesan baginya. Namun, kini justru Wira lah yang begitu menginginkan gadis mungil yang telah menjadi istrinya. Ia mendekap sang istri dalam tidur lelapnya. Ya, malam ini ia tertidur begitu nyenyaknya. "Terima kasih, istriku." Wira mendaratkan kecupan lembut dan dalam pada kening Shinta.


Pagi telah menyapa bumi, kicauan burung liar saling bersahutan. Sentara itu ditempat lain, Sosok wanita tengah beridri didepan wastafel kamar mandi sambil memuntahkan sesuatu yang hanya berupa cairan kuning saja. Rasanya begitu pahit hingga beberapa kali mual tak henti-henti melandanya.


Huwekk


Huwekk


Suara Itu menganggu tidur Liam, ya....wanita yang tengah muntah-muntah itu adalah Vania. Ini kali kedua Vania mengalami hal serupa. Pertama saat ia hamil Kiano dan apakah itu berarti saat ini Vania juga sedang hamil?


Vania menggeleng sambil menutup mulutnyadengan telapak tangan. "Heumm....mu–al banget, mas.'


"Apa kamu sakit? Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang juga atau aku panggilkan dokter kesini ya." Vania tak menjawab, ia malah terkulai lemah dalam dekapan sang suami.


"Ayo, kamu tiduran saja dulu.Tunggu sebebtar ya, mas akan membuatkan kamu sesuatu agar mengurangi rasa mualmu."


Setelah membaringkan tubuh Vania diatas tempat tidur. Liam pun segera bergegas keluar kamar menuju ke dapur dan ternyata disana sudah ada bi Arum yang tengah memasak. "Bi, ah....kebetulan sekali. Bisa tolong buatkan minuman apa gitu yang bisa mengurangi rasa mual. Sejak bangun tidur Vania muntah-muntah katanya perutnya sangat mual."


Bi Arum yang menyimak penjelasan dari Liam tampak mengernyitkan keningnya lalu, wanita paruh baya itu tampak tersenyum sambil manggut-manggut. Membuat Liam jadi heran.


"Loh Bi, kok malah senyam senyjm sih? Keponakan bibi sedang tidak baik-baik saja, Vania sakit bi." Liam sampai geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan sikap bi Arum. Keponakannya sakit malah senang.


"Tenang saja nak Liam! Vania itu tidak sakit, sepertinya dia sedang hamil adiknya Kiano."


"HAH–beneran itu Bi, Vania hamil lagi?" Dan dibalas anggukkan kepala dan senyuman oleh bi Arum. Seketika senyumpun merekah diwajah tampan ayah dari satu putra itu. "Alhamdulillah. Akhirnya kami akan dikaruniai anak lagi."

__ADS_1


"Iya, selamat ya nak Liam. Ini wedang jahe nya, berikan pada Vania agar mualnya berkurang!"


"Terima kasih Bi, yeayy....punya baby lagi." Liam membawa secangkir wedang jahe itu kekamar. "Bunda sayang, ini ayah bawakan wedang jahe. Diminum dulu biar mualnya berkurang!" Liam menyendokkan sedikit demi sedikit air jahe itu dengan menggunakan sendok lalu, menyuapinya ke mulut Vania.


"Gimana bunda rasanya,masih mualkah?" Liam mengusap-usap punggung Vania.


"Lumayan mas, sudah agak mendingan. Sini mas, biar aku seruput saja wedang jahenya. Lagian sudah ngak terlalu panas lagi." Dan Vania pun langsung meminumnya hjngha tandas. Liam tersenyum melihat istrinya yang tampak semakin cantik saja. Aura kecantikkannya semakin terpancar di wajah sang istri.


"Kenapa mas, kok kayaknya seneng banget istrinya sedang sakit?" Vania tampak cemberut ketika melihat Liam yang malah tersenyum sumringah.


"Kata bi Arum kamu itu bukan sakit tapi, kebanyakan kena suntikan vitamin dari mas." Menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Maksudnya?" Vania masih belum tanggap akan maksud dari perkataan ambigu Liam.


Liam pun langsung mengecup kening, beralih kedua pipi merona Vania lalu, berakhir dibibir ranum sang istri. "Kamu itu kata bi Arum kemungkinan sedang hamil adiknya Kiano, sayang."


Vania membulatkan matanya, menutup mulutnya dengan telapak tangan lalu, memeluk Liam dengan eratnya sambil menangis haru. "Benaran mas? Alhamdulillah ya Allah." Namun, kemudian Vania berubah sendu."Tapi, Kiano masih terlalu kecil untuk punya adik, mas."


"Tidak apa-apa bunda. Ini sudah rezeki dari Allah kita harus menerimanya dengan suka cita. Untuk Kiano, kamu jangan khawatir ada bi Arum dan mas juga yang akan membantu mengurusnya. Kiano tidak akan kekurangan kasih sayang dari kita semua."Ayo, senyum dong bunda nya Kiano!" Liam mengecup bibir Vania.


Kita kembali ke Apartrmen yang ditempati oleh sepasang pengantin baru yang baru saja meneguk nikmatnya surga dunia. Matahari telah meninggi namun, kedua insan itu masih bergelung manja dibalik selimut tebalnya.


Perlahan Shinta mulai mengerjapkan matanya. Terpaan sinar matahari dari balik jendela terasa menyilaukan pandangannya. Ia memindahkan tangan Wira dari atas dadanya. Bisa-bisanya suaminya itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Kenapa mesti harus mendarat disana coba? Shinta menggelengkan kepalanya "Ish....dasar mesum."


"Auwhh–sshh....kok, nyeri banget ya?"


Perlahan Shinta beranjak turun dari atas ranjang meskipun dengan susah payah. Rasa nyeri masih begitu mendera di area intimnya. Dengan tertatih-tatih sambil meringis menahan rasa sakit, Shinta melangkah menuju kekamar mandi dan sesekali ia berhenti. Dan baru saja ia akan melanjutkan langkahnya tiba-tiba saja tubuhnya terasa melayang dan ternyata Wira lah yang menggendongnya.


"Sakit ya? Ayo, aku akan membantumu mandi."


"Akhh–tidak usah Tuan, saya bisa sendiri." tentu saja ia sangat malu dan juga takut jika suaminya itu akan meminta jatah tambahan lagi.


"Jangan membantah dan menolak permintaan suami.Aku akan menyembuhkan rasa sakitmu itu. Ayo, sayang."


"TIDAKKK!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2