Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
29. Permintaan


__ADS_3

Hari ini tepat satu bulan Vania bekerja di Lawrence Group. Langkahnya terasa ringan ketika pulang bekerja, karena ia baru saja mendapatkan gaji pertamanya.


"Syukur alhamdulillah akhirnya gaji pertamaku sudah turun."


Sesampainya di depan rumah, Vania mengetuk pintu rumah bu Wulan dan tak berapa lama pintu itu pun terbuka munculah bu Wulan sambil menggendong Kiano.


"Assallamualaikum bu, dedek Kiano belum tidur ya?" Vania baru saja ingin meraih putranya namun langsung di cegah oleh bu Wulan.


"Eits–bunda mandi dulu ya!."


"Eh iya lupa, aku mandi sebentar ya bu.Titip Kiano."


Vania melangkah menuju ke paviliun samping rumah bergegas untuk membersihkan dirinya yang bau keringat dan pastinya banyak kuman yang menempel di tubuhnya.


Baru saja Vania ingin mengambil Kiano akan tetapi bu Wulan telah mengantarkannya lebih dulu. "Eh, ibu...Aku baru saja mau me gambil Kiano. Sini...sini sayangnya bunda, kangen ya?"


Bu Wulan pun segera menyerahkan Kiano pada bundanya dan segera Vania mendekap dan menciumi pipi Kiano gembil yang sungguh menggemaskan. Melihat Kiano bergerak-gerak gelisah mencari sumber makanannya, Vania.pun segera menyusuinya. "Jagoannya bunda haus ya, mimik yang banyak biar dek Kiano cepat besar!."


Kiano seperti mengerti apa yang diucapkanoleh sang bunda, bayi mingil itu fokus menatap bundanya. Bu Wulan tersenyum melihat interaksi Vania dan bayi nya yang manis itu.


"Bu, mulai besok aku mau menitipkan Asi dan tidak akan pulang saat istirahat siang. Maaf, merepotkan ibu lagi."


"Kamu itu bicara apa sih, Vania. Ibu sudah menganggap kamu dan Kiano seperti anak dan cucu ibu sendiri.Ibu sangat sayang sama kalian berdua. Jadi, jangan berpikir seperti itu lagi ya.Apapun yang kamu butuhkan sebisa mungkin pasti akan ibu bantu. Mengerti kan apa yang ibu katakan?" Vania pun mengangguk patuh dan mengerti apa yang di ungkapkan oleh wanita baik tersebut.


Hari demi hari dilalui Vania penuh dengan suka cita. Ia sudah tidak memikirkan lagi tentang keluarga Ghazala. Hidupnya sudah berangsur tenang dan nyaman. Ia merasa memiliki keluarga lagi. Dengan kehadiran bu Wulan yang telah membantunya bangkit kembali dari keterpurukan. Vania sangat bahagia dan bersyukur atas karunia yang diberikan tuhan padanya.


Tepat 3 bulan Vania bekerja sebagai pegawai cleaning service di Lawrence Group. Ia telah memiliki banyak teman sejawat yang menerimanya dengan baik. Sejak pertemuannya dengan Dariel Lawrence sang Ceo disaat Vania tengah membersihkan ruangannya, Vania mengatur waktu mulai bekerjanya jadi lebih awal agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Ia sangat malu dan juga takut bila melakukan kecerobohan lagi. Vania takut di pecat tak bisa di bayangkan jika ia tak bekerja, bagaimana nasib masa depan putranya nanti.


Teman-teman sesama cleaning service dan office girl siang ini mengajaknya makan bersama di kantin kantor. Ini pertama kalinya ia menginjakkan di tempat itu. Vania bukannya tak ingin makan di kantin kantor akan tetapi ia membayangkan bahwa harga makanan dan minuman di sana pasti sangat mahal. Lebih baik ia jajan di luar kantor tepatnya di pedagang kaki lima pinggir jalan yang berjejer tepat di sekitar gedung perkantoran.

__ADS_1


"Ini beneran ngak mahal kan harga makanan disini?" Vania masih agak ragu duduk disalah satu kursi.


"Ya ampun Vania, makan siang disini ngak akan membuatmu bangkrut tahu. Ayo, cepetan duduk!" Winda menarik tangan Vania hingga gadis itu pun jatuh teduduk di salah satu kursi.


Sambil menikmati makan siang, mereka bergosip ria. Apalagi kalau bukan tentang Ceo idola mereka para karyawati termasuk para cleaning service perempuan dan juga office girl. Para OB justru sebaliknya akan mencibir para cewek-cewek tak tahu diri itu yang suka menghalu ria menjadi pasangan sang Ceo super tampan Dariel Lawrence.


"Lusa kan hari jadi perusahaan ini. Biasanya akan diadakan pesta yang sangat mewah. Tapi, sayangnya kita yang kaum bawah ini tidak diundang ya. Hanya saja kita pasti akan mendapatkan bonus dan bingkisan dari perusahaan, itu sudah menjadi tradisi sejak dulu. Lumayan lah uangnya bisa buat liburan. Iya ngak?" Winda yang memang lebih senior diantara Vania dan Lulu tentu saja tahu dan pernah merasakan mendapat bonus tahunan itu berbinar bahagia.


Vania dan Lulu hanya mengangguk mendengarkan cerita Winda senior mereka. Waktu jam istirahat siang pun hampir habis. Mereka bertiga segera kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Vania berpisah dengan Lulu lantai 5 serangkan Vania terus naik menuju ke lantai 15 dimana ruangan Ceo berada.


Sebenarnya Vania agak sungkan ditugaskan membersihkan ruangan Ceo tersebut. Setiap bertemu dengan Dariel entah mengapa Vania selalu kikuk, apalagi cara laki-laki iti menatapnya membuat nya jadi semakin salah tingkah. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap boss nya itu yang terlalu berlebihan dalam memberikan perhatian padanya. Padahal dirinya hanya seorang cleaning service tingkatan pekerja paling rendah di perusahaan itu.


"Hh–semoga saja tuan Dariel sedang tidak berada di ruangannya." setelah keluar dari lift, Vania bergegas menuju ke ruangan Ceo.


Tok tok tok


"Permisi, Tuan."


Tak memakan waktu lama, selang 15 menit kemudian Vania telah menyelesaikan pekerjaannya dan lekas keluar dari ruangan tersebut. Baru saja ia menutup pintunya dan saat berbalik badan dan betapa terkejutnya ia dengan kemunculan sosok pria yang berdiri menjulang tinggi tepat di hadapannya. Vania sampai tersentak kaget. "Tu‐tuan, wuh...anda mengagetkan saya saja."


"Oh, maafkan aku karena telah membuat nona terkejut." Laki-laki itu adalah Dariel yang muncul tiba-tiba tanpa suara. Seperti hantu saja, sampai membuat Vania kembali merasa kikuk.


"Ti‐tidak apa-apa, Tuan. Saya saja yang terlalu berlebihan." Vania jadi merasa tidak enak karena sikapnya yang yang mungkin terlihat aneh di mata sang boss. "Saya permisi, Tuan. Tugas saya sudah selesai membersihkan ruangan anda."


Tak ingin berlama-lama di sana, Vania pun undur diri. Namun, ucapan Dariel membuat Vania menhentikan langkahnya. " Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan dengan nona!."


DEG


"Ada apa lagi ini, sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apa pun? Ya Allah, tolonglah hambamu ini jangan sampai aku kehilangan pekerjaan ini. Bagaimana nasib kami nanti." Belum apa-apa ia sudah over thinking saja.

__ADS_1


Vania tak langsung menuruti keinginan Dariel. Ia bertanya lebih dulu."Maaf, apa saya telah melakukan suatu kesalahan? Jika demikian saya mohon maaf. Tolong jangan pecat saya, Tuan."


Mendengar perkataan Vania, Dariel mengerutkan dahinya. "Loh, kenapa malah bengong. Masuklah! Nanti kamu akan tahu sendiri apa yang harus kamu lakukan."


"Ba–baik, Tuan." Dadanya semakin bersebar tak tenang. Berbagai pikiran negatif masih melintas di pikirannya.


Dariel duduk di kursi kebesarannya dan Vania di persilahkan untuk duduk di kursi tepat di seberang meja. Dan kini keduanya duduk saling berhadapan.


"Begini, lusa adalah hari penting bagi perusahaan ini. Dan setiap tahunnya akan diadakan pesta perayaan sebagai rasa syukur atas berdirinya dan kesuksesan perusahaan.Maka, dari itu nona akan menemani saya di acara tersebut.Kamu mengerti kan apa yang aku katakan?"


"Iya. Tapi–." ucapan Vania terhenti karena suara ketukkan pintu.


Tok tok tok


"Permisi Tuan, ada Nona Celia beliau ingjn bertemu dengan anda." Sang sekretaris memberitahukan kedatangan seorang tamu. Dan Dariel tampak tidak suka.


"Hah–mau apa lagi sih perempuan itu? Ya, suruh dia masuk."


"Kalau begitu saya undur diri, Tuan." Kesempatan Vania untuk segera pergi dari ruangan boss nya itu. Sunghuh ia masih merasa syok akan permintaan dari Dariel.


Dariel pun mengangguk." Baiklah, nanti Bobby yang akan mengatur semuanya. Nona hanyaperlu bersiap diri."


Seorang wanita cantik dengan dandanan dan gayanya yang glemor melangkah dengan anggjn dan penuh percaya diri. Tak lupa menebarkan senyuman kepada sosok laki-laki yang begitu si kaguminya. Namun, pandangannya berubah sinis ketika berpas-pasan dengan Vania saat gadis itu hendak keluar.


"Hai–Dariel. Apa kabar."


"Baik–." Dariel menjawab dengan dingin.


"Emm, itu... Petugas cleaning service kan? Mau apa dia masuk keruangamu? lancang sekali."

__ADS_1


Dariel tak menanggapi ocehan wanita itu. ia kembali berkutat dengan pekerjaannya, tak mengindahkannya.


Bersambung


__ADS_2