
Liam tersentak kaget. Tangannya urung menyentuh Kiano , ia menoleh dan melihat Vania yang tengah menatapnya tajam. " Jangan mengganggu tidurnya, ini sudah larut malam dan sebaiknya Tuan pulanglah dulu!"
Kemudian Vania mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur.
"Ekhem–Nak Liam, mari ke ruang tamu sebentar!" Melihat suasana yang tampak tegang, bu Wulan pun berinisiatif mengajak Liam keluar dari kamar.
"Oh, baik bu." Liam pun mengikuti langkah bu Wulan, sekilas ia menatap Vania yang bahkan tak ingin melihatnya.
Di atas meja telah tersaji secangkir teh dan bu Wulan mempersilahkan Liam untuk meminumnya. "Silahkan nak Liam, diminum mumpung masih hangat. Maaf, cuma itu yang bisa ibu sajikan.
"Tidak bu, ini sudah cukup. Justru saya yang berterima kasih karena bisa diterima dengan baik di rumah ini. Dan saya sangat bersyukur karena Vania dan Kiano dalam keadaan baik-baik saja dan itu berkat pertolongan dari bu Wulan. Saya merasa sangat tidak berguna karena tak ada disamping Vania dan Kiano disaat mereka sedang berada dalam kesusahan." Liam tertunduk malu, rasa bersalah begitu menggerogotinya.
Bu Wulan menatap dalam Liam, berbagai pertanyaan kini memenuhi pikirannya. Mengapa keluarga kecil mereka sampai terpisah dan bagaimana status hubungan Vania dan Liam saat ini.
Ditatap sesemikian rupa membuat Liam jadi salah tingkah. Liam berpikir jika bu Wulan tahu kejadian yang sebenarnya antara dirinya dan Vania pasti wanita itu juga akan membencinya. Tapi, apa Vania tidak menceritakan kisah hidupnya. Dari cara bu Wulan menatapnya penasaran.
"Em–nak Liam. Apa ibu boleh bertanya, hubungan kalian saat ini sebenarnya bagaimana? Maksud ibu, status kalian apakah sudah berpisah atau masih terikat tali pernikahan? Ini maaf ya bukannya ibu mau turut campur dengan masalah kalian."
Benar saja, Liam sudah menduganya jika bu Wulan akan menanyakan tentang hal itu. Menghela nafas dalam kemudian Liam menceritakan perihal hubungan yang sebenarnya bahwa ia dan Vania sama sekali belum terikat dalam hubungan pernikahan. Dan kelahiran Kiano hasil dari kebejatan yang ia lakukan terhadap Vania saat gadis itu baru saja datang dari desa dan Liam lah yang telah merenggut masa depan gadis polos itu.
Bu Wulan menutup mulutnya begitu terkejut akan pengakuan dari Liam yang sama sekali tidak diisangka-sangaka akan serumit itu. "Jadi...Kiano adalah hasil dari–." Bu Wulan tak sampai hati melanjutkan perkataannya. Kasihan Vania selama ini menanggung penderitanya sendirian.
Lagi-lagi liam di buat bungkam oleh perkataan bu Wulan.Liam tahu apa yang dimaksud bahwa Kiano adalah anak dari hasil perkosaan dan laki-laki brengsek itu adalah dirinya.
"Benar bu.saya lah laki-laki yang telah merenggut masa depan Vania. Saya bukannya tak ingin bertanggung jawab, akan tetapi ada beberapa masalah dalam keluarga saya sehingga terjadi kesalah pahaman antara kami dengan Vania." Ungkap Liam.
"Kesalah pahaman seperti apa maksud anda, Tuan?setahu saya tidak ada hal seperti itu. Memang sudah seharusnya kan kami pergi karena keluarga anda yang kaya raya dan terpandang tidak akan sudi menerima gadis miskin yang hanya seorang pembantu seperti saya. Dan saya sudah cukup tahu diri. Jadi, lebih baik lupakan pertemuan kita ini. Pergilah dan jangan mengganggu kami lagi."
Tiba-tiba saja terdengar suara Vania , ia baru saja keluar dari dalam kamar bu Wulan. Karena hari sudah sangat larut, Vania memutuskan tidak akan memindahkan Kiano ke paviliun kamarnya. Biarlah untuk malam ini saja mereka menginap di sini.
Liam sungguh kesal mendengar perkataan Vania. Sepertinya ia harus memperbaiki kesalah pahaman yang telah membuat Vania membawa Kiano pergi.
"Melupakan pertemuan kita ini? Apa kamu sedang bermimpi Vania. Jelas...aku tidak akan melakukannya. Justru aku akan membawamu kembali pulang ke kediaman keluarga Ghazala tempat dimana seharusnya kalian berada. Pokoknya kamu harus ikut pulang bersamaku.Titik." Ucap Liam memaksa.
__ADS_1
"Ish–dasar ai Tuan pemaksa, sama sekali tak berubah. Maaf-maaf saja ya Tuan Liam yang terhormat, saya tidak akan pernah mau kembali ke rumah megah anda itu. Hidup kami sudah tenang dan bahagia disini." Vania kekeuh tidak akan mau ikut pulang.
Bu Wulan terpkasa menghentikan perdebatan keduanya yang tak akan pernah ada jjntrungannya itu. Wanita paruh baya itu menetap bergantian Vania dan Liam. Keduanya sama-sama keras kepalanya. Jika Liam merasa berhak atas Vania dan Kiano, sedangkan Vania sebaliknya. Merasa tak diakui dan diterima di keluarga Liam. Itulah yang ia tankap dari perseteruan mereka.
"Hh–sudahlah, hentikan perdebatan kalian. Ini sudah sangat larut. Maaf nak Liam, ibu rasa sebaiknya nak Liam pulang saja dulu dan esok hari bisa kembali lagi kesini untuk menemui Vania dan Kiano!" Bu Wulan memberikan jalan keluar sementara karena pembicaraan mereka kali ini masih di liputi rasa amarah masing-masing. Biarlah mereka saling menenangkan pikiran dulu.
Karena merasa tak enak pada bu Wulan, akhirnya Liam pun menurut dan pamit. Ia akan kembali lagi kesini esok hari dan berjanji akan menyelesaikan masalahnya dengan Vania dan meluruskan kesalah pahaman diantara mereka selama ini.
"Baiklah bu. Maaf jika, kedatangan saya telah mengganggu. Saya akan kembali dan berbicara lagi dengan Vania dalam suasana yang lebih tenang."
"Begitu lebih baik nak, Liam."
"Tidak usah kembali juga tidak apa-apa, malah itu lebih baik untuk ketentraman kami. Kehadiran anda sama sekali tidak kami harapkan." Vania menyeletuk dan menatap sinis Liam.
"Vania–!" Bu Wulan menggelengkan kepalanya menatap Vania.
Usai berpamiitan, Liam pun undur diri. Malam ini baginya adalah malam yang begitu penuh kejutan dan juga kebahagiaan. Liam bertekad akan membawa Vania dan putranya pulang. Setelah itu ia akan menikahi ibu dari anaknya itu secara resmi dan mereka akan menjadi keluarga yang utuh. Terutama bagi masa depan putra mereka, Kiano.
"Sudah, ayo...sebaiknya kita tidur. Lihatlah itu sudah jam berapa. Istirahatlah Van dan tenangkan hati dan pikiranmu. Besok kalian bisa membicarakannya lagi. Dengan hati yang tenang tanpa diliputi emosi."
Benar saja, pagi-pagi sekali Liam sudah muncul di depan rumah bu Wulan dengan tampilan yang lebih santai. Karena hari minggu Vania juga pasti akan berada dirumah dan yang lebih membuatnya tak sabar adalah ingin segera bertemu dan berinteraksi dengan putranya.
tok tok tok
"Assalamuallaikum."
Ceklek
"Wa'allaikumsalam. Nak, Liam. Ayo silahkan masuk! Pagi sekali ya. Vania dan Kiano ada di paviliun.Apa nak Liam mau kesana?"
"Oh, apa boleh bu?" Tanya Liam dengan wajah sumringah.
Bu Wulan mengulas senyum lalu mengajak Liam menuju ke paviliun. " Iya, tenti saja boleh. Mari, ibu antar."
__ADS_1
Tok tok tok
"Vania– ini ibu, apa kamu sudah bangun?"
Ceklek
"Iya bu– Aaaaa...brakk!"
Betapa terkejutnya Vania ketika menyadari bu Wulan datang tidak seorang diri namun, ada Liam bersamanya. Refleks ia pun langsung menutup pintunya kembali. Bagaimana tidak, tampilannya saat ini hanya mengenakan selembar handuk yang melilit di tubuhnya. Wajah Liam seketika merona melihat pemandangan indah di pagi hari.
"Maaf, bu. Sebentar...aku pakai baju dulu. Ish...ngapain sih dia pagi-pagi sudah bertamu ke rumah orang? Sungguh tidak sopan."
Liam yang mendengar suara Vania yang sedang merutukinya hanya tersenyum meringis dan menggaruk tengkuknya ketika bu Wulan menoleh padanya. Sedangkan bu Wulan mengulum senyumannya. "Sungguh pasangan yang unik. Mereka sangat serasi."
Tepat ketika Vania membukakan pintunya kembali, terdengar suara tangisan Kiano yang terbangun dari tidurnya. Tanpa meminta izin, Liam langsung menghampiri sang putra lalu merengkuhnya dan mendekap erat tubuh mungil nan montok Kiano. Liam menimang-nimangnya dan mengajaknya berbicara dengan suaranya yang lembut.
"Sayangnya daddy sudah bangun ya? daddy kangen sama dek Kiano, ganteng banget sih kamu dek. Mirip daddy...muach muach." Liam menciumi dengan gemas kedua sisi pipi gembil Kiano. Bayi itu sepertinya mengerti jika yang sedang menggendongnya dan sedang menyapanya adalah sang ayah. Kiano tersenyum dan terdengar suara kekehan kecilnya. Membuat Liam semakin gemas pada putra tampannya itu.
"Ck–dasar narsis." Vania menyindir namun, sudut bibirnya mengilas senyum.
"Ekhem–Ibu rasa kalian pergilah keluar, mumpung ini hari libur akan lebih baik berbicara berdua saja aelesaikanlah semua permasalahan kalian. Ingat...ada anak diantara kalian. Masa depan Kiano lebih penting dibanding ego kalian masing-masing."
Vania dan Liam mendengarkan dengan serius saran dari bu wulan. Vania hanya diam sedangkan Liam tampak senang. Senyum tak lepas lagi bibirnya sejak ia dapat mendekap putranya.
"Baik bu.Lalu, Kiano bagaimana?" Tanya Liam
"Serahkan saja pada ibu. Van, nanti sebelum berangkat pompalah asi mu dulu!"
"Uhuk uhuk–." Mendengar kata memompa asi entah mengapa pikiran Liam langsung traveling kemana-mana. Si tuan muda pasti sedang berkhayal yang iya iya.
"Nak Liam kenapa? ambilkan minum, Van!" Bu Wulan mengira Liam tersedak betulan lalu menyuruh Vania memberikan segelas air putih.
Drrttt drrttt ddrrrt
__ADS_1
Suara getaran ponsel Vania yang tergelwtak diatas meja mengalihkan perhatian mereka. Vania pun bergegas meraih ponselnya. "Tuan Dariel–."
Bersambung