
Didalam kamarnya, Vania sedang menyusui Kiano sambil memangkunya. Tak berapa lama bi Arum masuk dan melihat Vania tengah melamun menatap anaknya yang sudah telelap di atas tempat tidur.
"Van, boleh bibi bertanya sesuatu?" Bi arum duduk di sisi tempat tidur tepat di sebelah Vania.
"Tentu saja boleh, bi. Bibi mau bertanya soal apa?" Vania merapikan selimut yang menutupi tubuh mungil Kiano.
Bi Arum menghela nafas sejenak, kemudian menatap dalam Vania. "Apa yang dibicarakan oleh Tuan dan Nyonya padamu? Apakah mereka membicarakan tentang Kiano." Tanya bi Arum penasaran.
Menghela nafas panjang, Vania meraih tangan sang bibi dan menatap penuh rasa bersalah. "Bi,.maafkan aku. Sebenarnya ada rahasia yang selama ini aku tutup-tutupi dari bibi Itu...mengenai semuanya. Tapi, aku mohon setelah ini bibi jangan berbuat apapun dan aku harap bibi menerimanya dengan ikhlas dan tak melakukan apapun."
"Em–baiklah, ceritakan!"
"Begini bi. Sebenarnya ayah biologis Kiano adalah tuan muda Liam. Dialah laki-laki itu yang telah menodaiku. Dan aku tidak menyangka jika, Nyonya Helen telah melakukan test DNA paa Kiano dengan tuan Liam dantuan Wira. Nyonya curiga salah satu putranya lah ayah dari Kiano–."
Vania menjeda kalimatnya lalu kembali melanjutkan ceritanya" Hasilnya tentu saja tuan Liam lah yang terbukti ayah dari Kiano. Aku sangat takut, bi."
Bi Arum menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. Wanita paruh baya itu begitu syok mendengar kenyataan yang tak pernah ia sangka jika, anak majikannya sendirilah yang telah merusak masa depan sang keponakan.
"Lalu, apa yang dikatakan oleh Tuan dan Nyonya? Apakah mereka mau mengakui Kiano sebagai cucu?"
Vania mengangguk lagi. " Tapi, sepertinya mereka ingin mengambil hak asuh Kiano dan aku tidak akan pernah sanggup jauh dari anakku,bi. Aku harus bagaimana? Hiks...hiks–."Vania mulai terisak.
"Memangnya tuan muda Liam tidak mau menikahimu dan bertanggung jawab atas perbuatannya terhadapmu." Bi Arum mengira demikian.
"Aku tidak tahu. Yang jelas dari apa yang di katakan oleh Nyonya, bahwa mereka tidak akan menerimaku sebagai bagian dari keluarga Ghazala yang terpandang dikalangan orang-orang di luar sana. Tapi, aku tidak apa-apa kok,bi.Aku cukup tahu diri siapa diriku yang hanya seorang pembantu di rumah mewah ini." Tertunduk lesu.
Bi Arum semakin iba dengan nasib Vania yang selalu dilanda kesusahan di kehidupannya. Ia pun hanya bisa memberikan kekuatan pada Vania dan berjanji akan selalu bersama dengan gadis itu dan juga bayinya.
"Sudahlah, jangan bersedih. Bibi juga tak akan rela bila harus menyerahkan Kiano ke tangan mereka.Hanya kamu lah yang berhak atas Kiano, karena telah berjuang melahirkannya kedunia. Baiklah, jadi apa rencana yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Tanya bi Arum lagi.
"Be–belum tahu, bi. Entahlah...aku jadi bingung." Jawabnya.berbohong, karena yang sebenarnya Vania telah berencana untuk pergi secara diam-diam tanpa bi Arum.
"Baiklah, bibi akan selalu mendukung apapun keputusanmu, nak. Sekarang istirahatlah! besok kita akan bicarakan lagi!"
"Terima kasih ya, bi." Bi Arum mengusap lembut kepala Vania lalu beranjak keluar.
__ADS_1
Usai kepergian bi Arum, Vania bergegas memasukkan semua pakaiannya dan juga segala keperluan Kiano Ya, Vania memutuskan akan pergi esok pagi. Sebelum semua penghuni rumah terbangun.
"Maafkan bunda ya nak, karena memisahkanmu dengan ayahmu. Ah, tidak....Kiano hanya punya aku danselamanya akan menjadi milikku tak akan ada yang boleh mengambilmu dari bunda.Aku akan berjuang lagi seperti waktu yang lalu. Pasti bisa."
Tepat pukul setengah lima pagi Vania mulai melancarkan aksinya yaitu kabur dari rumah mewah itu. Ia berjalan dengan mengendap-endap berharap tidak ada yang akan m3nangkap basah dirinya. Sambil menggendong Kiano dN menenteng tak jinjingñya. Vania bergerak cepat ketika sudah sampai didepan pintu gerbang.
"Loh, mbak Vania mau pergi kemana pagi-pagi begini?"
DEG
Suara teguran seseorang mengagetkannya. Vaniantak menyangka jika pak Jojo security sudah bangun di pagi buta seperti ini.
"Oh, itu pak. Saya mau berangkat ke statsiun maupulang kampung."
"Kok pagi-pagi sekali berangkatnya, mbak? Ngak diantar sama bi Arum?"
"Tidak pak, saya bisa berangkat sendiri. Permisi ya pak. Saya pamit." Pak Jojo bergegas membantu Vania membukakan pintu gerbang. Setelah berada di luar Vania mengelus dadanya merasa sangat lega. Dengan cepat Vania pun segera melangkah pergi dengan membawa secercah harapan untuk masa depan dirinya dan juga putra tercintanya.
Seperti biasa bi Arum sudah bersiap berkutat di area dapur untuk memasak sarapan pagi. Waktu telah menunjukkan pukul lima dan bi Arum merasa aneh tidak biasanya Vania bangun terlambat seperti ini. Karena biasanya malah Vania yang sudah terbangjn lebih dulu.
Bi Arum pun akhirnya mwnutuskan untuk mulai kegiatan masak memasaknya seorang diri. Tanpa ia tahu jika keponakannya dan sang cucu telah pergi jauh.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh. Bi Arum mulai merasa khawatir karena Vania belum juga muncul. Dengan lanhkah tergesa-gesa ia pun hendak menjju ke kamar Vania. Takut telah terjadi sesuatu atau gadis itu sedang sakit atau apa.
Tok tok tok
"Vania–kamu belum bangun? bibi masuk ya?"
Krieett
Bi Arum terlonjak kaget ketika melihat kamar itu kosong dan tidak tampak keberadaan Vania dan bayinya. Bi Arum segera memeriksa lemari dan tak menemukan semua pakaian Vania dan juga Kiano.
"Ya Allah, Vania...pergi kemana kamu , nak?"
Langkah pertama yang dilakukan oleh bi Arum yaitu menuju kedepan pintu gerbang ingin menanyakan pada pak Jojo apakah melihat keberadaan Vania.
__ADS_1
"Pak Jojo–!"
"Eh bi Arum. Ada apa bi? Apa bibi mau keluar, sebentar akan saya bukakan gerbangnya
Pak Jojo mengira jika bi Arum ingin keluar untuk pergi berbelanja.Gegas laki-laki itu mengambil kunci.kedalam pos jaga.
"Bukan Pak, saya tidak ingin keluar. Saya cuma mau menanyakan apa bapak melihat keberadaan Vania?" Bi Arum langsung beryanya ke intinya.
"Oh, iya bi. Tadi sekitar jam setengah lima-an mbak Vania pergi katanya mau ke statsiun. Mbak Vania bilang mau pulang kampung."
"Lalu bapak membiarkannya pergi begitu saja danbapak tidak curiga sama sekali?"
Pak Jojo pun menjawab tidak tahu karena Vania bersikap biasa saja gelagatnya sama sekali tidak mencurigakan.
"Jadi mbak Vania tadi itu mau kabur to, bi?" Ya ampun, maaf saya nggak tahu. Aduh...gimana ini." Pak Jojo tampak panik.
"Ya sudah pak, saya mau kembali kedalam." Dan pak Jojo mengangguk.
Sungguh, bi Arum saat ini begitu resah mengkhawatirkan Vania dan bayinya. Para majikan telah berkumpul di meja makan bersiap untuk sarapan pagi.
Nyonya Helen menangkap gelagat aneh dari bi Arum yang terlihat risau dan wajahnya pun tampak tegang. Karena rasa penasarannya, Nyonya Helen pun bertanya padanya.
"Bibi kenapa? Kok kelihatan resah begitu."
"Maaf, Nyonya. Saya memang sedang bingung ingin mengatakan sesuatu pada anďa. Tapi, saya–"
"Tapi kenapa bi? ayo katakan jangan membuat kami penasaran!"
"Iya bi, cepat katakan. Apakah telah terjadi sesuatu?" Tuan Bisma ikut menimpali pertanyaan sang istri.
Bi Arum menjadi bertambah tegang mendapatkan tatapan penasaran dari keempat majikaannya. " Itu...Tuan, Nyonya. Va-vania pergi bersama Kiano."
"APAAA?!"
Jawab keempatnya serempak.Bahkan Liam dan Wira sampai bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Bersambung