
Tepat pukul setengah sebelas siang, Shinta sudah bersiap hendak pergi keluar. Sebelum itu ia telah mengirimkan pesan pada Wira sekalian meminta izin. Sengaja ia tidak menelpon langsung karena tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang bekerja. Lagi pula Shinta yakin jika, Wira masih marah akan kejadian tadi pagi.
Drrrttt drrrttt
"Ya, hallo assalamuallaikum. Ada apa lagi Tar?"
"Shin, aku masih penasaran nih. Memangnya ada apa sih tiba-tiba kamu ngajak ketemuan trus apa yang mau kamu bicarakan padaku? Apa kamu sedang ada masalah lagi dengan Pak Wira?" Tari langsung nyerocos tak henti.
Shinta menghela nafas kasar. " Iya, pokoknya ada sesuatu yang penting dan kita harus ketemuan dan bicara secara langsung. Oke, sampai ketemu. Aku dah mau otw ini."
"iya iya deh, bumil sensitif banget sih. Oke, aku juga berangkat sekarang."
Shinta berangkat dengan menaiki taksi online karena jarak tempuh ketempat pertemuan mereka tidak terlampau jauh dari tempat tinggal Shinta. Sekitar sepukuh menit kemudian Shinta pun tiba di depan sebuah restaurant yang cukup mewah. Wanita yang tengah hamil besar itu pun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang yang akan di temuinya.
"Shinta–!"
Merasa ada suara seseorang yang memanggilnya, refleks Shinta oun menoleh kearah suara tersebut dan benar saja Bahwa orang itu adalah Anton yang tengah berjalan menghampirinya. "Kak Anton. Ah, syukurlah dia tidak telat. kalau tidak bisa kena omel si Tari nanti kalau sampai ketahuan aku membantu kak Anton untuk mendekatinya."
"Kak– syukurlah kakak tepat waktu. Untung Tari belum sampai."
"Iya, ini aku juga ngebut biar ngak keduluan temanmu yang jutek itu."
"Ih, aku bilangin ke Tari loh. Trus dia ngak bakal mau sama kak Anton." Shinta menakut-nakuti Anton yang sedang menjalankan misinya untuk mendekati Tari.
"Ya sudah, ayo kita masuk saja dulu. Nanti keburu Tari datang!" Anton membimbing Shinta masuk kedalam restaurant.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi keduanya. "Yes, pucuk dicinta ulam pun tiba. Memang dewi keberuntungan tengah memihak kepadaku. Waktunya menjalankan misi utama yang lebih cepat dari perkiraanku."
__ADS_1
Ya, Orang tersebut adalah Regina yang juga baru saja tiba di restaurant itu juga.Tanpa membuang waktu Regina langsung mengirimkan pesan singkat serta beberapa hasil jepretannya kepada Wira dan memberikan informasi yang tentunya sangat menguntungkannya. "Wira, kali ini kamu harus mempercayaiku. Datanglah ke resturant xxxx, ini aku kirimkan bukti yang tak terbantahkan. Semoga dengan ini kamu akan sadar siapa sebenarnya istri yang sangat kamu bangga-banggakan itu."
Setelah menjalankan rencana liciknya untuk menjebak Shinta yang sialnya bertemu dengan Regina yang memang sangat membencinya. Wanita itu sakit hati dan tak terima karena Wira malah menikah dengan seorang pembantu yang sama sekali tak sebanding dengan dirinya yang berasal dari keluarga kalangan atas seperti halnya keluarga Ghazala. Regina memang sudah sejak lama menyimpan perasaan pada Wira yang notabene nya hanyalah sebatas teman baik saja.
Dan tanpa disangka ternyata Wira juga tengah berada di tempat yang sama. Wira sedang mengadakan pertemuan dengan salah satu kolega bisnisnya di restaurabt tersebut. Dan setelah mengetahui keberadaan sang istri dan Anton yang sedang bersama membuat amarah Wira seketika meradang. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Lalu, segera beranjak menuju ke tempat dimana posisi Shinta dan Anton berada.
Tanpa bersusah payah, akhirnya ia bisa menemukan leberadaan keduanya yang sedang duduk disalah satu meja. Shinta dan Anton duduk saling berhadapan yang tengah mengobrol.
"Selamat pagi menjelang siang. Kebetulan sekali kita bertemu di tempat ini. Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu? Apa seperti ini dirimu yang sebenarnya, hah?" Tatapan tajam Wira tertuju pada Shinta dan penuh intimidasi.
Seketika Shinta tak bisa berkata sepatah kata apapun. Dirinya begiru syok dengan kemunculan suaminya yang begitu tiba-tiba. Tubuhnya gemetaran, peluh mulai membasahi kening wanita hamil itu. "Ma–s, ini tidak seperti apa yang mas lihat. Kami sedang menunggu–."
"Stop! Aku tidak butuh penjelasan apapun lagi darimu. Ini sudah cukup jelas bagiku. Oke, mungkin kamu masih belum mempercayai jika, aku akan berusaha untuk mencintaimu tapi, kenapa kamu tega melakukan penghianatan ini dan terlebih lagi dengan laki-laki ini?"
"Wira–dengarkan dulu penjelasan kami. Terutama percayalah pada Shinta. Ingat, dia adalah istrimu yang sedang mengandung buah hati kalian." Anton mencoba menjelaskan duduk persoalannya agar tidak terjadi kesalah pahaman yang lebih jauh lagi. Namun, sepertinya Wira sama sekali tidak menggubris segala perktaaan Shknta dan Anton. Ia telah di liputi amarah dan api cemburu.
Setelah mengatakan hal itu, Wira pun langsung melenggang pergi dikuti oleh Gugun yang telah berjalan lebih dulu untuk menyiapkan mobil didepan restauran.
Shinta masih mematung ditempatnya. Tubuhnya lemas bak jelly dan dadanya sesak dan nafasnya pun terasa berat. Dengan sekuat tenaga wanita hamil itu pun beranjak dari tempat duduknya lalu, segera melangkah sedikit berlari mengejar suaminya yang tengah di liputi amarah. "Mas Wira....tunggu!"
Didepan Restaurant, Wira baru akan masuk kedalam mobil dan Shinta semakin melangkah cepat menghampirinya. "Mas, tunggu dulu dan tolong dengarkan penjelasanku. Kami memang janjian tapi, bukan hanya kami berdua saja. Kami sedang menunggu Tari. Kak Anton ingin–."
"Apapun yang diinginkan oleh Anton atau pun kamu, aku tidak perduli. Minggir....jangan menghalangi." Wira sedikit mendorong tubuh Shinta yang hampir saja limbung untung saja ia masih bisa menyemimbangkan badannya.
Pintunoun tertutup rapat dan Wira langsung menyuruh Gugun untuk segera menjalankan kemdarannya. "Cepat jalan, Gun!"
"Tapi, Pak....itu, ibu Shinta bagaimana? Kasihan Pak, saya takut nanti ibu terjatuh kalau sampai mengejar dibelakang mobil ini." Gugun masih ragu pandangannya terus tertuju pada Shinta yang masih berada disamping pintu dimana Wira duduk.
__ADS_1
"Aku bilang jalan ya jalan. GUGUN....apa kamu mau aku pecat, hah?"
"Ba–baik, Pak." Tak ada pilihan, Gugun pun segera menjalankan laju kendaraannya. Sementara Shinta masih terus mengejarnya dari belakang. Langkahnya tertatih-tatih sambil menahan guncangan di perut besarnya.
"MAS WIRA....jangan pergi, dengarkan saya dulu! Mass–." Langkah Shinta terhenti ketika merasakan nyeri di perutnya. "Sshhh....perutku?"
"Shinta–awas dibelakangmu!"
BRAKKKKK
Tari yang baru saja tiba dan melihat sahabatnya yang tengah berdiri ditengah jalan langsung berteriak kencang karena melihat sebuah mobil sedang meluncur cepat di tikungan dan sedang menuju kearah Shinta. Pergerakan tubuh Shinta yang terbatas karena perut besarnya, membuatnya tak sempat menghindari laju mobil yang bergerak cepat dan tabrakan pun tak terelakkan. Tubuh Shinta tehempas dan tergeletak tak sadarkan diri.
Orang-orang yang melihat tragedi berdarah itu pun tak kalah syok nya. Terutama Tari dan juga Anton yang menyusul Shinta ketika mengejar Wira keluar. Hingga Anton tak dapat mengejar Shinta dan terlambat menyelamatkannya. Tari dan Anton menghampiri Shinta yang sudah tergelatak tak berdaya dengan darah yang mengalir dari beberapa bagian tubuh Shinta.
"SHINTAAA–buka matamu!"
"Pak, Bu Shinta tertabrak mobil." Gugun yang mendengar suara dentuman keras refleks menghentikan laju kendaraannya. Ia melihat dari kaca spion, begitu pun Wira yang menoleh kebelakang dan melihat dengan jelas tubuh Shinta yang sudah tergeletak dan ia juga melihat Tari dan Anton yang menghampiri Shinta.
"Maa–ss Wih...ra pergi. Tari, peh....rutkuh sakitt. Akkhh!" Setelah itu Shinta tak sadarkan diri sontak Tari dan Anton langsung panik. Tari masih memangku kepala Shinta. Sedangkan Anton bersimouh di sisi tubuh Shinta.
"Bagaimana ini Pak Anton?"
"Ayo, kita harus membawanya kerumah sakit secepatnya. Takut ibu dan bayinya kenapa-napa." Baru saja.Anton ingin mengangkat tubuh Shinta, tiba-tiba terdengar teriakan keras Wira.
"Jangan sentuh istriku!" Wira mendorong Anton hingga laki-laki itu terjengkang kebelakang. Wira langsung mengangkat tubuh Shinta dan membawanya masuk kedalam mobilnya. " Jalan Gun, kerumah sakit terdekat!"
Bersambung
__ADS_1