Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
94.S2.Diantar ke Sekolah


__ADS_3

Inara yang masih fokus menatap bingkai photo Kiano yang ketampanannya tak terbantahkan lagi. Tersentak kaget mendengar suara laki-laki yang sudah bisa ia tebak jika orang itu adalah si pemilik kamar. Putra pertama sang majikan. Ia pun refleks menoleh dan manik mata keduanya saling bersiborok. Mata bulat Inara membola sempurna bisa melihat sosok Kiano dalam jarak sedekat ini dan tentu saja membuat gadis itu sejenak terlena dengan paras rupawan Kiano. 'Wah...ternyata dilihat lebih dekat kadar ketampanannya bertambah.'


"Hei–malah bengong. Kenapa kamu melihatku sampai segitunya? Jangan bilang kalau kamu naksir ya sama aku." Kiano yang biasanya terkenal cool dan tak banyak bicara, entah mengapa ketika berhadapan dengan pembantu baru dirumahnya itu bisa berubah 180 derajat.


Inara jadi tambah salah tingkah dan malu tentunya karena kedapatan sedang memadang photo sang majikan. "Bu–bukan begitu Tuan Muda, saya tidak ada maksud apa pun apalagi dengan lancang menyukai anda. Saya mohon maaf jika, apa yang tadi saya lakukan tidak pantas." Inara menundukkan kepalanya tak berani menatap langsung wajah Kiano.


"Ya sudah, untuk kali ini kamu aku maafkan. Laly, jelaskan....apa yang sedang kau kerjakan dikamarku?"


"Itu‐nyo...Bu Vania yang memberikan tugas untuk melayani segala kebutuhan Tuan Muda Kiano dan Nona Kirena." Jawab Inara sekaligus menjelaskan sebab keberadaannya dikamar Kiano.


Kiano mengangguk-anggukkan kepalanya. "Begitu ya. Jadi, mulai sekarang kamu menjadi pelayan peribadiku....begitu kan, maksudnya?"


Inara pun mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh anak majikannya itu.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Saya sudah selesai membersihkan kamar anda." Inara bergegas menuju ke pintu ingin segera beranjak keluar dari kamar itu. Ia merasa tak nyaman berada didalam satu kamar dengan Kiano. Terbersit pikiran negatif di diri Inara karena banyaknya cerita tentang kejadian pembantu yang dilecehkan oleh majikannya. Bulu kuduknya merinding membayangkan akan hal itu. ' Hii....takut, ah.'


Kiano tercengang dan hanya menatap punggung Inara yang menghilang dari balik pintu. ' Jadi, itu artinya gadis itu akan menjadi pelayan pribadiku. hemm....boleh juga, sih.'


Waktu terus bergulir dan tanpa terasa kini Kiano telah menyelesaikan pendidikan SMA nya. Dan rencananya putra pertama dari Liam/Vania itu akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kesebuah universitas ternama dan cukup bergengsi. Kiano akan mengambil jurusan bisnis karena ia yang akan mewarisi kerajaan bisnis ayahnya.


Saat ini seluruh keluarga besar Ghazala tengah berkumpul di kediaman Liam. Bahkan Mama Helen dan Papa Bisma pun turut hadir dalam acara syukuran kelulusan Kiano yang dirayakan secara sederhana seperti permintaan dari Kiano sendiri. "Selamat ya cucu barep eyang yang kini sudah semakin dewasa. Dan eyang berharap kamu akan belajar dengan bersungguh-sungguh karena kamu yang akan melanjutkan bisnis Ayahmu. Selamat ya, nak."


Papa Bisma memeberi ucapan selamat pada sang cucu kebanggaannya. Ya, Kiano adalah cucu pertama dari keluarga Ghazala dan memang mewarisi kepintaran dari sang ayah. Yaitu putra pertamanya Liam Tarendra Ghazala.


"Yerima kasih, Eyang Bisma dan Uti Helen. Aku akan berusaha yang terbaik dan akan membagakan kalian semua. Dan Aku telah merubah rencana yang semula akan melanjutkan kuliah ke luar negeri, dan sekarang aku memutuskan akan melanjutkan kuliah di sini saja. Bukankah sama saja, bukan....Eyang?"

__ADS_1


Ya, semula Kiano memang berencana akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri namun, seiring berjalannya waktu dan dengan penuh pertimbangan akhirnya ia memutuskan akan berkiah di dalam negeri saja. Semua anggota keluarga pun hanya bisa menerima segala keputusan yang diambil oleh Kiano karena dialah yang akan menjalaninya.


Liam dan Vania juga akan memnyekolahkan Inara. Gadis itu akan melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus dikarenakan keadaan ekonomi keluarganya yang tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah Inara. Liam dan Vania telah menganggap Inara seperti putri mereka. Vania merasa iba dengan nasib gadis muda tersebut. Padahal Inara sangat pintar.Beberapa kali Vania menangkap basah Inara yang tengah membaca buku-buku pelajaran Kirena ketika tengah membersihkan kamar putrinya. Inara akan bersekolah di tempat yang sama dengan Kirena. Mereka kan sama-sama menduduki kelas XI.


Pagi ini seperti biasa, Inara akan berangkat kesekolah setelah merampungkan pekerjaannya. Kiano dan Kirena telah selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat. Kirena yang biasanya akan berangkat dan pulang sekolah bersama dengan kakaknya. Maka, kini gadis itu berangkat dan pulang sekolah dengan diantar oleh seorang supir pribadi yang telah di siapkan oleh Liam. "Bunda, Ayah...Rena berangkat duluan ya." Mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Eh, tunggu Ren! Sekalian Inara bareng kamu saja. Kasihan nanti dia bisa telat!" Vania teringat akan Inara.


"Ih, biasanya juga dia berangkat sendiri, kan. Ayo jalan Pak!" Kirena memang kurang menyukai Inara yang dianggapnya telah mencuri perhatian Bunda dan Ayahnya. Karena mereka terlalu nerlebihan memperlakukan Inara. Padahal menurut Kirena, Inara itu hanyalah seorang pembantu. Ia pun tak mengindahkan perkataan bjnda Vania.dan langsung beranjak pergi.


"Lihat putrimu manjamu itu, Mas!" Vania menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap tak bersahabat Kirena terhadap Inara. Padahal umur kedua gadis itu hanya terpaut satu tahun saja. Harusnya mereka bisa akrab.


"Biarkan saja, Bunda. Namanya juga anak-anak. Ya sudah, Mas berangkat ya. CUP–." Liam mencium kening Vanialalu, bergegas masuk kedalam mobil dengan supir.


Sedangkan di dapur, Inara sedang berpamitan dengan Bi Kokom. " Bi, Nara berangkat sekolah dulu ya." Mencium punggung tangan Bi Kokom yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.


"Oke, Bi. Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam."


"Gadis rajin, semoga kamu dapat mewujudkan cita-citamu Nara." Bi Kokom berdo'a untuk Inara.


Inara sekilas melihat jam di pergelangan tangannya dan matanya membulat sempurna ketika melihat waktu telah menunjukkan hampir jam tujuh. "Waduh, bisa telat ini." Berlari secepat mungkin ketika ia sudah keluar dari pintu gerbang depan. Pak Farid security yang bertugas pagi ini sampai geleng-geleng kepala melihat kelincahan gadis itu. "Ya ampun cah ayu , wes koyo di oyak-oyak demit wae. Le mlayu bantere pol."


Bahkan Kiano yang baru saja akan keluar melewati pintu gerbang sampai melongo melihat Inara yang berlari kencang itu.

__ADS_1


"Aduh–kok, angkotnya lama banget sih? Bisa telat beneran ini mah. Ck....coba tadi ngak kesiangan bangunnya. Hh–."


Saat ini Inara sedang berdiri di sebuah halte yang terletak di depan kompleks. Namun, sudah hampir 10 menit-an tak satu pun angkot yang kosong. Semua angkot yang lewat penuh dan Inara hanya bisa menghela nafas kasar. "Masa' sih aku bolos sekolah, nanti bu Vania akan kecewa." Inara akhirnya hanya bisa pasrah dan berbalik ingin kembali pulang. Tapi, tiba-tiba sebuah mobil sport hitam yang sangat dikenalnya tiba-tiba berhenti di hadapannya.


"Woi– bocil, ayo cepat naik! Kamu ngak mau sekolah apa gimana?"


"Eh, Tuan Muda. Iya....sudah hampir telat juga, ngak nyandak. Saya mau balik pulang saja, percuma sampai disekolah juga paling ngak di.izinkan masuk."


"Makannya ayo cepetan masuk, aku antar dijamin tepat waktu kamu bakal sampai di sekolah. Cepat, jangan banyak mikir!" Kiano begitu gemas karena Inara malah bengong bukannya cepat masuk kedalam mobilnya.


"HEIII–malah bengong. Ayo....cepat masuk!"


"Eh‐iya iya, Tuan Muda!" Ìnara pun bergegas masuk kedalam mobil dan Kiano segera tancap gas dengan kecepatan penuh membuat Inara sampai menahan nafasnya karena saking tegang dan rasa takutnya.


Dan benar saja tak sampai 10 menit mobil porsche hitamnya berhenti tepat diidepan pintu gerbang yang baru saja akan ditutup oleh petugas keamanan sekolah. Inara langsung membuka pintu mobil dan segera berlari menuju ke gerbang sekolah. "Terima kasih Tuan Muda." Tak lupa mengucapkan terima kasih pada sang majikan karena sudah diantar sampai kesekolah dengan selamat.


Gadis itu tak tahu jika, sedang menjadi pusat perhatian karena mereka tahu siapa ai pemilik mobil itu. "Wow....ngak nyangka deh, ternyata anak baru itu kenal sama kak Kiano. Ada hubungan apa ya kira-kira mereka berdua?"


"Yah, kasihan si Gendhis punya saingan baru dia." Itulah beberapa celetukkan dari para siswa yang melihat moment saat Inara yang terlihat keluar dari dalam mobil Kiano.


"Ren–si Inara itu bukannya lo bilang pembantu di rumah lo,kan? Trus kenapa dia bisa diantar sama bang Kiano gue?" Wajah Gendhis sudah tampak senewen tak suka dengan pemandangan menyakitkan yang baru saja dilihatnya. Sang pujaan hati mengantar gadis lain yang levelnya jauh dibawahnya.


Kirena hanya mengangkat bahunya, ia pun tak tahu tentang hal itu. "Mana gue tahu, Dhis. Ya udah sih cuma dianter doang aja. Mana tertarik Mas Kiano sama cewek kampung itu. Calm down bestie! Mas Kiano ngak akan kecantol sama pembantu itu,kok.Yuk ah....mending masuk kelas aja bentar lagi bell masuk." Kirena langsung menarik tangan Gendhis yang masih terpaku dengan kekesalannya.


'Awas lo ya, cewek kampung kalau sampai berani nggodain bang Kiano gue.'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2