
Hari demi hari dilalui Vania dengan penuh suka cita. Apalagi dengan hadirnya baby Kiano, ia semakin bersemangat dalam bekerja.Kini, Kiano telah berumur 2 bulan. tubuhnya semakin berisi dan tampak montok menggemaskan dengan pipi hemilnya.
Dan Vania juga telah mempersiapkan diri untuk berhenti bekerja dan pergi dari kediaman keluarga Ghazala. Lalu, bagaimana dengan Liam dan Wira?
Dua bersaudara itu pun masih sama seperti biasanya yang selalu mengganggu Vania dan juga baby Kiano. Seperti pagi ini saat Kiano tengah berjemur di halaman belakang. Vania dengan telaten dan luwes membalikkan badan bayi tersebut. Apalagi saat ditengkurapkan, terlihat menggemaskan.
"Halo anak Papa, sedang berjemur ya?"
Sontak Vania pun menoleh dan mengernyitkan keningnya merasa aneh dengan sikap sok akrab Liam. Bahkan laki-laki itu dengan lancangnya mencium pipi gembil baby Kiano. "Uh, tetap wangi walaupun belum mandi ya anak papa."
"Ish–maksudnya apa sih bicara aneh seperti itu?Memang benar dia bapaknya tapi, kan kami tidak mempunyai hubungan apa-apa dan juga untuk apa dia setiap hari bersikap manis. Dasar aneh."
Vania malas untuk menanggapi segala ucapan Liam yang halu. Biarlah mau berbuat apa laki-laki itu. Ia hanya perlu bersabar kira-kira 2 bulan lagi saat Kiano telah lebih besar.
"Pagi Vania, baby Kiano sedang berjemur ya. Van, boleh tidak aku memangkunya?" Setelah kemunculan si sulung kini giliran si bungsu yang mulai melancarkan aksinya tentu saja untuk menarik perhatian Vania.
Mendengar ucapan Wira, Liam langsung memelototkan matanya tak percaya akan kenekatan sang adik yang ingin menyentuh langsung baby Kiano nya. Ya, Kiano adalah miliknya yang berasal dari benihnya. Tak diragukan lagi.
"Hey, jangan sok tahu kamu. Nanti kalau baby Kiano jatuh atau kecengklak gimana? Gara-gara kamu yang tidak benar memegangnya. Tidak...tidak boleh. Sana, lebih baik kamu pergi kekantor saja!' Liam mengibas-ngibaskan telapak tangannya mengusir Wira.
Tentu saja wira tidak akan menurut begitu saja. Yang ada Wira malah semakin menantang sang kakak." Kakak juga ngapain masih disini merusuh saja. Ada juga kakak yang harusnya pergi karena hanya aku yang lebih berhak fan pantas bersama dengan Vania dan baby Kiano."
"wah wah, berani mwnantang kakakmu sendiri nih ceritanya. Oke, siapa takut...ayo!"
Kedua pria tampan bertubuh kekar itu pun saling berhadapan dengan tatapan permusuhan.
__ADS_1
Melihat situasi yang mulai tak aman, Vania segera meraih Kiano ke dalam gendongannya dan membawanya pergi dari tempat itu sebelum terjadi perkelahian di antara kedua anak majikannya itu.
"Ayo nak, kita kekamar saja. Disini tidak aman."
Mereka masih sibuk berdebat ria tak menyadari akan kepergian Vania dan Kiano.
"Loh–Vania sama Kiano mana? Mereka pergi,kan. Ini semua gara-gara kakak yang selalu mengganggu kami. Kenapa sih kakak ngak cari perempuan lain saja. Biar aku yang akan membahagiakan Vania dan anaknya. Lebih baik kakak mundur teratur dan mengalah."
Wira yang baru menyadari ketidakberadaan Vania dan Kiano merasa kesal . Ia menuduh Liam lah penyebabnya karena kakaknya itu selalu mengganggu kebersamaannya dengan Vania.
"Bukannya terbalik, kaulah sang pengganggu yang sebenarnya. Akulah yang lebih berhak atas Vania dan Kiano. Lebih baik kaulah yang mundur sebelum kamu akan merasakan sakit hati nantinya!'
"Sudah, malas aku meladenimu." Liam melangkah pergi meninggalkan Wira yang masih terpaku di tempatnya.
"Maksudnya apa aku akan sakit hati? Ah, dasar kakak lucnut tak mau mengalah sama adiknya sendiri." Wira pun menyusul langkah sang kakak pergi dari tempat itu.
"Hh–apa yang harus aku lakukan pada mereka? secepatnya aku harus segera bertindak sebelum keadaan semakin memburuk. Jangan sampai kedua putraku saling bermusuhan dan persaudaraan mereka hancur hanya karena seorang wanita."
Nyonya Helen sangat mengkhawatirkan hibungan kedua putranya yang semakin merenggang. Ia dan sang suami harus segera bertindak sebelum terjadi sesuatu yang akan membuat mereka menyesalinya.
"Pa, aku semakin khawatir dengan Liam dan Wira. Mereka semakin tak akur dan barusan mereka kembali saling bersitegang lagi. Sepertinya kita harus segera bertindak menyelesaikan semua masalah ini.Bagaimana menurut Papa?"
"Mama benar, kita memang harus segera memberitahukan semua kebenarannya agar keluarga kita kembali tenang dan normal seperti dulu.
Nyonya Helen membuka salah satu laci di meja riasnya dan mengambil sebuah amplop yang berisi hasil test DNA baby Kiano dan kedua putranya.
__ADS_1
Mereka sudah mengetahui kebenarannya. Dari hasil test tersebut telah terbukti bahwa Liam lah ayah biologis Kiano. Ada perasaan bahagia dan juga kecewa karena putra sulung yang mereka bangga-banggakan ternyata telah merusak masa depan seorang gadis baik-baik dan yang lebih mirisnya lagi, gadis itu adalah Vania keponakan dari salah satu asisten rumah tangga yang sangat mereka percayai.
"Nanti malam saja Ma kita bicara dengan mereka. Papa harus berangkat ke kantor sekarang, ada meeting pagi."
"Iya Pa. Lalu, bagaimana dengan Vania?"
"Soal itu kita bicarakan nanti malam. Sudah, Papa bisa telat nanti."
Nyonya Helen dan Tuan Bisma turun kebawah untuk sarapan. Setelah ituTuan Bisma langsung berangkat untuk bekerja.
"Tadi tuan muda Liam dan tuan muda Wira kembali bersitegang, bi. Aku jadi semakin tidak enak sama Tuan dan Nyonya. Apa sebaiknya kita segera pergi dari sini saja. Kenapa sih mereka berdua tak mau berhenti menggangguku. Aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan Kiano. Dan juga aku sangat takut jika mereka akan –." Vania tak melanjutkan perkataannya.
Bi Arum menghentikan kegiatannya yang tengah menyetrika pakaian. Ia mencabut kabelnya dan menatap Vania dengan rasa penasaran.
"Mereka akan apa, Van? Kenapa kamu tidak melanjutkan perkataanmu...katakan yang sejujurnya, apa ada yang kamu sembunyikan dari bibimu ini?" Bi Arum semakin curiga ketika melihat wajah Vania yang tampak menegang dan gugup.
"Ti–tidak ada yang aku sembunyikan dari bibi, kok. Percayalah padaku, bi. Aku hanya merasa tak nyaman dan risih saja akan sikap kedua tuan muda yang selalu mengganggu ketenanganku. Itu saja kok, bi." Vania mencari alasan yang logis, ia tidak ingin rencananya akan gagal kembali jika sang bibi sampai mengetahui rahasia yang selama ini ia tutup-tutupi.
"Syukurlah kalau tidak ada apa-apa. Tapi, benar kan kamu sedang tidak berbohong pada bibi? Kamu jangan khawatir, bibi akan selalu bersamamu dan Kiano apapun yang akan terjadi."
"Terima kasih ya, bi sudah percaya padaku dan selalu mendukungku." Vania memeluk sang bibi.
"Tapi, maaf bi. Aku tidak akan melibatkan bibi kedalam masalahku ini. Aku tidak akan membuat bibi kehilangan pekerjaan, karena bibi masih mempunyai tanggungan anak bibi di kampung. Aku akan berjuang sendiri membesarkan Kiano."
Ya, Vania.telah mengambil keputusan secepatnya akan pergi dan melanjutkan hidupnya sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Dan tak ingin lagi merepotkan sang bibi.
__ADS_1
Bersambung