
Usai berbelanja ria, Wira tak kembali kekantor lagi. Melainkan langsung pulang ke apartemennya. Untuk apa? Ya tentu saja untuk menjalankan misinya yaitu mengganti baju-baju tidur dan juga pakaian dalam milik istrinya.
Sesampainya diapartemen Wira langsung bergegas masuk kedalam kamarnya lalu, segera mengeluagkan pakaian-pakaian Shinta yang bagi Wira sangat mengganggu penglihatannya. Baginya cara berpakaian Shinya sangat tidak menarik. Padahal mereka kan masih pengantin baru jadi, harusnya Shinta lebih paham cara menyenangkan suaminya.
"Yup, beres. Tinggal menunggu hasilnya." Gumam lWira sambil senyum-senyum sendiri.
Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Sebentar lagi istri kecilnya itu pasti akan tiba. Wira pun berpura-pura sibuk dengan macbook nya. Sesekali ia melirik kearah pintu. "Kenapa lama sekali? Kemana saja anak itu....awas saja kalau sampai lewat dari jam lima dia belum juga pulang akan kuberi hukuman." Wira ngedumel sendirii.
Tepat pukul 16.30 WIB akhirnya terdengar suara kode password dan muncullah Shinta dengan langkah lesu dan tampak begitu kelelahan. Tanpa memperhatikan sekelilingnya, gadis itu malah dengan santainya melempar tas nya keatas sofa dan untungnya tidak mengenai Wira yang juga tengah duduk manis di sofa tersebut.
Wira sampai terlonjak kaget ketika sebuah tas mendarat tepat disampingnya.Dan yang lebih membuatnya kesal tanpa menoleh Shinta melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar. "Dasar bocah tengil, awas saja kamu ya." Wira pun beranjak dari duduknya kemudian menyusul sang istri masuk kedalam kamar mereka.
Karena pintunya tidak tertutup rapat, seketika Wira menghentikkan langkahnya karena melihat pemandangan yang meresahkan mata. Tanpak Shinta tengah menanggalkan satu persatu kain yang melekat ditubuhnya hingga hanya menyisakan kacamata dan segitiga pengamannya. Sontak mata Wira terbelalak dan degup jantungnya berpacu kian cepat. Susah payah iya menelan saliva nya. "S***, selebor amat sih ni anak. Untung saja aku yang melihatnya.Eh–." Wira menutup mulutnya dengan telapak tangan, untung saja suaranya tidak terdengar ditelinga Shinta karena gadis itu sudah masuk kedalam kamar mandi.
Wira masuk dengan mengendap-endap seperti maling yang takut tertangkap basah. Ia pun duduk manis di sofa tunggal yang terletak di pojok ruangan dekat jendela. Sekitar lima belas menit kemudian Shinta keluar dengan hanya melilitkan handuk dii tubuhnya. Kulitnya yang putih mulus terpampang jelas di depan mata Wira. Membuat pria dewasa itu seketika menjadi panas dingin. Sedangkan Shinta masih belum menyadari ada sepasang mata yang tengah menatapnya penuh damba.
"Loh, ini punya siapa? Perasaan aku ngak punya bra dan cd seperti ini, deh. Hah....kelihatannya sangat mahal dan modelnya begitu–"
"Hiii–siapa sih yang iseng menaruhnya di sini?"
"Aku! Aku yang menaruhnya disana dan kau harus memakainya."
Mendengar suara yang begitu dikenalinya refleks Shinta menoleh kearah suara orang tersebut dan sontak mata Shinta melotot tak menyangka jika dia sendirian didalam kamar. Ternyata suaminya sedang duduk manis mengawasinya sejak tadi.
__ADS_1
"AAAAaahk–Tu–uan sejak kapan ada disana?" Shinta merutuki keteledorannya sampai tak menyadari ada suaminya didalam kamar.
"Berisik! Ngapain sih pake teriak-teriak. Pokoknya kamj harus pakai apa yang ada didalam lemarimu. Awas saja kalau tidak nanti aku akan memberikan hukuman untukmu."
GLEK
Shinta menelan salivanya mendengar perintah dari suaminya. "Jadi, dia yang telah mengganti semua pakaian dalamku dan kok, ukurannya pas semua? Ah....bodohnya kau Shinta, tentu saja dia mengetahuinya, pasti dia melihat sizenya, bukan. Sudahlah, malah kebetulan aku ngak usah beli daleman lagi." Shinta bermonolog dalam hati sambil mesam mesem.
Melihat gelagat aneh istrinya, Wira pun jadi Ia memicingkan matanya menatap penasaran. "Malah sebyam senyum, jangan berpikir yang aneh-aneh ya. Aku cuma mau.....ah, sudahlah. Cepat dipakai!."
"Baik, Tuan." Shinta menghembuskan nafas berat lalu, memilih satu set **********. Ia masuk kembali kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi Shinta baru teringat jika, ia belum membawa pakaian ganti. "Aish....bodohnya kamu, Shinta!" ia membuka pintu tidak terlalu lebar hanya memunculkan kepalanya saja. Memindai sekeliling kamar dan memastikan apakah suaminya masih ada atau tidak. Dan Shinta bisa bernafas lega karena ternyata Wira sudah tidak ada.
Dengan langkah cepat ia pun bergegas membuka lemari dan mengambil pakaiannya dan lagi-lagi ia dikejutkan dengan penampakan baju-baju yang baginya terlihat menyeramkan. Lalu, kemana semua kaos-kaos dan celana-celana miliknya? "Ya ampun, baju model apa ini. Pasti kerjaannya tuan muda juga." Shinta menggerutu tapi, diambilnya juga salah satu baju dinas malam berwarna marun.
Mendengar ucapan Wira, Shinta pun menjeda suapannya lalu, menatap sang suami. "Baik."
"Itu saja?" Wira menatap datar istrinya.
Ditatap sedingin itu membuat Shinta jadi serba salah. Lalu, ia harus bereaksi seperti apa? Bukankah hubungan mereka tidak sedekat layaknya pasangan suami istri yang saling mencintai. Kenapa suaminya itu terlihat tak suka dengan tanggapannya. "I–iya kan. Trus saya harus bagaimana?"
"Apa tidak ada kata-kata penyemangat atau apalah untuk suamimu ini? Dasar tidak peka." Wira mencebik kesal.
__ADS_1
Lagi-lagi Shinta tak mengerti dengan sikap Wira yang seakan meninginkan perhatian yang lebih. Memang sih Shinta telah menjadi istri Wira tapi, kan menurut surat perjanjian mereka tidak diperkenankan mencampuri urusan pribadi maaing-masing. Lalu, bagaimana cara seorang istri memberi semangat pada suaminya. Shinta tidak tahu.Makanya Shinta hanya menunduk tak berani menatap wajah Wira.
"Malah diam saja. Ayo katakan atau lakukan sesuatu yang bisa membuat suamimu senang."
Perkataan ambigu Wira membuat Shinta semakin bingung dan pkkiran aneh mulai bermunculan di kepalanya. " Maksud Tuan apa? Oh, apa yang harus saya lakukan?"
"Baiklah kalau kamu mau tahu dan lakukan dengan baik apa yang aku katakan." Dalam hati Wira sudah tak tahan ingin mengerjai istri polosnya itu.
Shinta menunggu dengan sabar dan juga penasaran apa yang akan dikatakan oleh suaminya. "Lama banget mikirnya. Apa sih yang dia inginkan?" Menggerutu dalam hati.
"Malam ini kamu harus men-service suami gantengmu ini sampai puas, oke!?" Seringai licik menghiasi wajah tampannya.
Perkataan Wira berhasil sukses membuat Shinta bergidik ngeri. Gadis itu jadi membayangan hal yang berbau dewasa seperti hubungan yang biasa dilakukan pasangan suami istri tentunya, apalagi yang terbersit di pikuran Shinta jika bukan tentang itu. "Ta–tapi saya tidak bisa melakukannya, eh...maksud saya belum bisa."
"Belum bisa? memangnya kamu sedang membayangkan apa. Wah, ternyata kamu tidak sepolos yang aku kira ya. Aku juga tahu kamu masih berhalangan. Tapi, bukankah menyrnangkan suami bukan hanya bagian itu saja. Kamu bisa.melakukan alternatif lain, misalnya dengan–."
"Stop! Maaf, sekali lagi Tuan Saya belum siap." Shinta menundukkan wajahnya takut suaminya itu marah atas penolakannya.
Namun, tak disangka-sangka. Wira sama sekali tidak marah. Mereka lalu melanjutkan makan malam hingga selesai. Kemudian mereka kembali kedalam kamar bersiap untuk tidur.
"Sudah, kamu jangan ketakutan seperti itu. Aku tidak sekejam apa yang kau pikirkan. Cepet naiklah dan tidur." Wira melihat istrinya yang hanya berdiri saja. Gadis itu takut karena tadi telah menolak suaminya. Ia pun menepuk-nepuk sisi kosong disampingnya menyuruh agar Shinta segera naik ketas tempat tidur. Dan akhirnya Shinta pun menurut lalu, meeangkak naik dan merebahkan tubuhnya tepat di sebelah Wira.
"Kali ini aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi, ketika aku pulang nanti kamu harus sudah siap dan aku tidak mau ada penolakan lagi. Mengwrti?"
__ADS_1
Shinta tak menjawab, gadis itu hanya mengangguk. Wira menghembuskan nafas kasarnya karena ternyata tak mudah untuk menakhlukkan istri kecilnya itu. Dan akhirnya mereka pun mulai tertidur tanpa melakukan aktifitas lainnya.
Bersambung