Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
13. Membujuk


__ADS_3

Liam sampai mengucek matanya beberapa kali, mungkin ia salah lihat. Namun, ketika ia membacanya lagi untuk yang kesekian kali tetap saja tulisan itu tidak berubah. Rempeyek bayam crispy Vania. Tetiba bayangan gadis yang beberapa bulan lalu telah menjadi korban kebejatannya kembali berputar di benaknya.


"Vania–apakah dia orang yang sama? Ah...kenapa gadis itu seakan tak mau lepas dari pikiranku. Mungkin hanya kebetulan saja namanya sama. Liam, fokus dan tenanglah!" Liam mengusap wajahnya frustasi. Sejak kepergian Vania rasa bersalah terus membayanginya.


Keesokkan harinya Liam dan Arman disibukkan dengan memantau proyek di lapangan.


"Tuan Muda, lusa kita harus sudah kembali ke Jakarta karena Mr. Johnson akan tiba di Indonesia dalam minggu-minggu ini." Arman mengingatkan boss nya.


"Baiklah. Kamu urus saja semuanya!"


Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju kesebuah restauran untuk makan siang. Sepanjang jalan, Liam kembali teringat akan label nama yang tertera di bungkus camilan itu. Vania...ya nama itulah yang terus berada dalam pikirannya.


"Hh–apakah mungkin itu dia?"


"Eh, apa Tuan Muda ? Siapa yang Tuan maksud?" Arman yang berada di kursi penumpang depan menoleh kearah belakang.


Sontak, lamunan Liam buyar dan menatap sang asisten. "Kita ke tempat kemarin saat kau membeli camilan itu!"


"Maksud Tuan rempeyek bayam yang kemarin? Enak kan Tuan, kalau anda mau lagi nanti biar pak supir saja yang membelinya."


"Tidak, kita kesana sekarang!" Liam tak ingin perintahnya di bantah. Dan Arman pun akhirnya menuriti keinginan sang boss.


Dirumah sederhananya, Vania sedang bersiap untuk menitipkan barang dagangannya ke toko-toko atau pun warung-warung kecil di sekitar tempat tinggalnya. Dengan keadaannya yang tengah hamil besar tentu saja geraknya tak seleluasa seperti dulu.


"Ayo, nak kita jualan dulu ya. Semoga dagangan bunda laris manis." Vania melangkah dengan menenteng keranjang yang berisi beberapa bungkus rempeyek bayam, sambil mengusap-usap perutnya.


Tak memakan waktu lama untuknya sampai di tempat biasa ia menitipkan barang dagangannya, Vania dengan langkahnya yang agak lambat masuk kedalam toko tersebut. Tanpa ia tahu ada empat pasang mata yang tengah memperhatikannya.


"Tuan Muda, bukankah itu Vania?" Arman menunjuk kearah Vania yang baru saja masuk kedalm toko.


"Ehem–barusan kamu panggil dia apa?"Liam menatap datar Arman uang langsung bungkam.


"Ma‐maksud saya,nona Vania. Maaf Tuan Muda saya salah ucap." Arman langsung memperbaiki kekhilafannya.

__ADS_1


Mereka hanya berdiam diri didalam mobil, menunggu Vania sampai gadis itu keluar dengan masih menenteng keranjangnya.


Vania melangkah menelusuri jalan. Sesekali langkahnya terhenti hanya untuk rehat sejenak.Meletakkan keranjangnya lalu, memegang pinggangnya yang terasa pegal dan mengusap-usap perut buncitnya.


Liam tercengang melihat pemandangan tersebut. Tiba-tiba muncul perasaan aneh dan entah itu apa. Yang jelas hatinya terenyuh melihat perut Vania yang saat ini ia yakini adalah darah dagingnya sendiri.


"Anakku–."


"Apa–barusan anda bicara apa, Tuan? Arman hanya mendengar gumaman Liam yang tidak begitu jelas.


"Bukan apa-apa. Arman, sampaikan pada gadia itu jika kepulangannya sangat dinanti oleh bibinya!"


"Itu saja Tuan Muda? Apakah tidak sebaiknya anda saja yang menemuinya dan bicara langsung dengannya, Tuan."


Seketika mata Liam mendelik menatap sang asisten yang terlalu banyak bicara itu." Apa kau sudah mulai berani memerintahku, hah?"


"Ba—baik Tuan Muda akan saya kerjakan perintah anda." Arman bergidik ngeri mendapatkan tatapan tajam yang seakan siap menusuknya.


"Permisi, nona Vania."


Baru saja Vania akan melanjutkan langkahnya, tiba-tiba terdengar seseorang yang menyapanya. Sontak ia pun menoleh dan melihat seorang laki-laki muda dengan setelan jas yang rapi tengah tersenyum padanya.


"Iya, dari mana anda tahu nama saya? Sepertinya kita tidak saling mengenal."


"Maaf nona Vania. Mungkin anda lupa dengan saya. Perkenalkan nama saya Arman, saya adalah asisten pribadi Tuan Muda Liam Tarendra Ghazala."


DEG


"Tu–tuan Muda?tapi, ada urusan apa. Saya sudah tidak bekerja lagi di kediaman keluarga Ghazala. Apa ada sesuatu yang terjadi pada bi Arum?"


"Benar nona, bi Arum memang tengah menunggu kepulangan nona. Bahkan Nyonya Helen, Tuan Bisma dan Tuan Muda Wira juga sangat berharap anda kembali."


"Hanya laki-laki brengsek itu saja yang tidak berharap aku berada disana. Tentu saja Vania, kalau kamu berada disana akan membuatnya terancam, bukan." Monolog Vania didalam hati.

__ADS_1


Arman menatap intens wanita hamil itu dari atas sampai bawah. Pandangannya sempat terhenti di area perut besar Vania. Timbul berbagai praduga yang mengarah pada kejadian pada saat Liam dan Vania yang pernah menghabiskan malam panas bersama.


" Nona Vania.Apakah anda bersedia untuk ikut saya kembali ke kediaman Ghazala. Apakah anda tidak ingin bertemu lagi dengan bi Arum?."


"Siapa yang menyuruh anda menemui saya, apakah Tuan Muda Liam?"


Arman pun menjawabnya dengan anggukkan kepala.


"Begitu, untuk apa dia repot-repot melakukannya.Maaf tuan, saya tidak bersedia ikut dengan anda atau pun Tuan Muda Liam yang sangat terhormat itu. Saya sudah bahagia disini dan untuk bi Arum, dia akan mengerti jika saya tidak bisa pulang. Tolong sampaikan pada bi Arum kalau aku baik-baik saja!"


Arman jadi kalut karena Vania menolak ajakannya untuk kembali ke kediaman keluarga Ghazala. "Maaf, nona. Saya hanya menjalankan perintah. Tolong mengertilah posisi saya."


"Saya juga mohon maaf karena tidak bisa mengabulkan keinginan mereka. Tolong sampaikan itu pada Tuan Muda Liam. Permisi...saya masih ada urusan." Kemudian Vania melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan Arman yang hanya bisa melongo menatap kepergian wanita hamil itu.


"Kenapa bukan dia langsung yang memohon, ish...dasar Tuan Arogan."


Sungguh tidak bisa dipercaya jika Tuan Muda yang arogan itu mencarinya dan datang jauh-jauh dari ibu kota hanya ingin mengajaknya kembali. Vania tidak akan pernah mau menerimanya.


"Aish–bagaimana ini? Tuan Muda pasti akan sangat marah sekali karena aku tidak berhasil membujuknya." Arman menggaruk tengkuknya.


Langkah Arman terasa berat dan tentu saja karena sebentar lagi akan menerima kemarahan dari sang Tuan Muda.


"Bagaimana Man, Kapan dia siap ikut kita kembali ke Jakarta? apa yang dia katakan dan kamu bilang kan jika iti adalah keinginan mama dan bi Arum? dia bertanya sesuatu tentang aku, tidak?" Baru saja duduk, Arman langsung di berondong oleh berbagai pertanyaan dari Liam. Membuat kepala Arman langsung cekat cekut.


Arman menghela dafas panjang bersiap menerima amukkan dari Tuan Mudanya yang super arogan itu. " Maaf Tuan Muda, .Nona Vania menolak untuk ikut. Katanya dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Dia sudah merasa nyaman tinggal di kota ini. Itu yang nona Vania katakan, Tuan."


"Cih–sombong sekali sih cewek itu. Lalu, dimana dia sekarang?"


"Nona Vania bilang masih ada urusan lain, Tuan. Dan menuyuh agar kita kembali saja ke Jakarta. Jangan mengganggunya lagi." Sepertinya Arman sengaja melndramatisir keadaan. Sebenarnya ia sangat penasaran akan hubungan Liam dan Vania. Apakah bayi yang sesang dikandung itu adalah hasil dari apa yang telah mereka lakukan waktu itu.


Liam terlihat mengetatkan rahangnya, tangannya pun mengepal kuat." Baiklah, nanti malam antarkan aku kerumah wanita itu. Apa sih yang dia inginkan?sok penting sekali dia."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2