Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
91.S2.Pesona Kiano


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Kini 18 tahun sudah Pasangan Vania dan Liam menjalani biduk rumah tangga yang penuh suka dan duka. Putra pertama mereka Kiano Safaraz Ghazala yang akan menginjak umur ke 17 tahun, kini telah duduk di bangku SMA kelas XII dan sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir sekolah.


Pagi hari dikediaman keluarga Liam dan Vania. Seperti biasa selalu penuh drama, apa lagi kalau bukan kedua kakak beradik Kiano dan Kirena yang ada saja kekisruhan yang di lakukan mereka.


"Bunda–kak Kiano tu iseng banget, masa' kepangan rambut Rena di copotin talinya. Kan jadi berantakan lagi. Padahal sudah capek-capek bikinnya." Kirena menghampiri sang bunda untuk mengadu tentang kelakuan kakaknya yang selalu mengganggunya. Gadis cantik yang tengah beranjak remaja itu memasang wajah cemberut dan menunjuk-nunjuk Kiano yang sedang menjulurkan lidahnya meledek sang adik.


Kirena Azzahra Ghazala adalah putri kedua Liam dan Vania yang kini berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas X SMA, satu sekolah dengan Kiano. Rena juga satu kelas dengan Aaron, sepupunya. Anak pertama dari om dan tantenya, Wira dan Shinta memiliki 2 anak. laki-laki dan si bungsu berjenis kelamin perempuan yang masih berumur 10 tahun.Si mungil nan cantik seperti mamanya bernama Kailasha Ghazala biasa dipanggil Kaila, kesayangan papa Wira.


Ketiga keturunan keluarga Ghazala yang sangat menonjol diantara murid-murid lainnya. Tentu saja, mereka bukan hanya dari kalangan keluarga terpandang tapi, dilihat dari tampilan fisik dan gaya berpakaian mereka yang sangat modis dan berkelas. Apa yang melekat di tubuh mereka semua dari brand ternama.


Kiano baru saja memasuki gerbang sekolah dengan mobil porsche hitamnya dan seperti biasanya pria muda berwajah tampan itu pun menjadi pusat perhatian siapa pun yang melihatnya


"Woww–si Kiano makin hari tambah hot aja ya, girls." Celetuk Salah satu sisiwi yang sedang bergerombol memperhatikan kedua kakak beradik Ghazala yang baru saja turun dari mobil sport Kiano.


"Stttt–lihat itu, adeknya juga tak kalah keren, bukan? Mereka terlihat bukan seperti kakak beradik tapi lebih mirip couple goals ya." Ucap salah satu siswi yang terus menikmati pemandangan indah didepan mata mereka terutama para gadis.


Saat kedua kakak beradik itu melangkah bersama di koridor sekolah, tiba-tiba ada yang merangkul dengan manjanya dilengan Rena dan membisikkan sesuatu. " Ren, abang lo tambah hot. Bikin gue tambah kesemsem aja,nih."


Sruuttt


"Awwh–kok, gue dicubit. Sakit tahu." Gadis yang bernama Gendhis itu pun meringis kesakitan akibat cubitan Rena di perutnya.

__ADS_1


"Lo itu ya ceplas ceplos banget sih. Yang kalem dikit dong kalau jadi cewek tuh! Semua orang juga tahu kalau abang gue super keren. Dah lah, lo jangan terlalu berharap bakal dilirik sama Mas Kiano." Rena


Mendengar perkataan sang sahabat, Gendhis pun mencebik sebal. Gadis remaja berwajah manis itu memang sudah sejak masih bocah ingusan begitu mengagumi kakak dari sahabatnya itu. " Ck....naksir doang aja ngak boleh apa? Huh, lihat ya suatu saat nanti bang Kiano bakal jadi boyfriend gue. Inget itu ya, Ren!"


"Hemm–iya in aja deh. Dahlah, yuk cepetan kekelas bentar lagi dah mau bell." Rena langsung menarik tangan Gendhis dan berlari menuju ke kelas mereka.


Bell berbunyi, tanda istirahat pun telah tiba. Para siswa dan siswi langsung berbondong-bondong menuju ke kantin sekolah. Tak terkecuali duo dara cantik nan manis Kirena dan Gendhis. Sesampainya di kantin Rena mengedarkan pandangannya mencari tempat yang masih kosong. Akan tetapi sayangnya hari ini kantin tampak begitu ramai. "Yah, penuh banget Dhis. Gimana nih, jadi ngak kita makan baksonya?" Rena mengerucutkan bibirnya kecewa karena sepertinya mereka tidak jadi jajan di kantin. Hingga suara teriakan seseorang memanggil mereka.


" Rena, Gendhis....sini!"


"Eh, Ren–itu kak Erwin memanggil kita. Kesana yuk, uh....ada abang Kiano juga. Ayolah Ren cepetan perut gue dah keroncongan nih!" Gendhis menggeret Rena berjalan menghampiri Kiano dan para sohibnya yang tengah menikmati makan siang mereka.


"Terima kasih kak Erwin." Ucap Rena tersenyum manis pada Erwin dan seketika membuat pemuda itu meleleh.


"Oh, disenyumin bidadari alangkah bahagianya." Lebaynya.


Plakkk


"Dasar alay lo, Win." Tony mengeplak kepala Erwin yang kelakuannya lebay itu.


"An***, kepala gue dah di fitrahin kali Ton, main keplak aja lo.ck–." Kesalnya.

__ADS_1


Rena terkekeh geli melihat kelakuan dua sahabat sang kakak yang tampak konyol di matanya. Sedangkan Gendhis sama sekali tak memperhatikan yang lainnya karena fokusnya hanya pada satu sosok tampan siapa lagk kalau bukan Kiano, pria idaman dimasa depannya kelak. " Bang Kiano kenapa sih tambah ganteng aja, bikin Gendhis tambah–."


"Lah ini lagi si bocil kerjaannya ngegombal aja. Hei, Gendhis....lo tu bukanlah tipe idamannya Kiano. Lagian siapa juga yang mau sama bocil tengil macam lo." Erwin lagi-lagi membuat ulah dengan meledek Gendhis dan sontak mendapatkan plototan maut dari gadis manis itu.


"Apaan sih lo, kak. Suka-suka gue dong mau cinta sama siapa aja termasuk bang Kiano. Iya kan, bang?" Gendhis mengembangkan senyum manisnya hanya tertuju pada Kiano seorang. Sedangkan Kiano tampak cuek saja tak menanggapinya. Pemuda tampan itu hanya menyimak ocehan Erwin dan Gendhis yang saling berbalas kata.


Tak berapa lama bell masuk berbunyi dan itu artinya jam istirahat pun telah berakhir. Satu persatu para siswa meninggalkan kantin lalu, bergegas kembali ke kelas masing-masing. Begitu pun Kiano and the gank. Kirena dan Gendhis melangkah cepat sambil berlari-lari kecil karena kelas mereka letaknya yang paling jauh. Si Gendhis yang super bucin pun tak lupa berpamitan dengan Kiano laki-laki pujaan hatinya. "Da da bang Kiano, sampI nanti."


"Ish, dasar bucin....ayo, cepetan habis ini jamnya Pak Azam. Kena hukuman baru rasa kalau kita telat." Rena menatap jengah Gendhis yang kelakuannya luar biasa itu.


Tepat pukul 14.30 gerbang sekolah telah dibuka, tampak para siswa dan siswi mulai keluar dari area gedung sekolah. Kiano sedang berada di area parkiran menunggu Rena. Ya, setiap hari mereka akan berangkat dan pulang sekolah bersama. Itu atas perintah dari ayah Liam yang selalu bersikap protektif pada putri kesayanganna. Karena Liam telah memberikan kepercayan pada Kiano untuk menjaga adiknya


"Lama banget sih ni, bocil." Kiano melihat kembali jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Ki, gimana....jadi ngak nanti malam pergi?" Itu Erwin yang bertanya pada Kiano, karena mereka telah sepakat akan berkumpul di markas pribadi mereka yaitu disebuah unit apartemen milik Liam yang tak ditempati.


"Jadi lah. Jangan sampe adek gue tahu, ntar dia sama bestie nya mau ikut lagi." Jawab Kiano memperingatkan jangan sampai Rena dan Gendhis tahu dan ujjng-ujungnya keduanya mau ikut.


"Iya, beres Ki. Ya udah. Kalau gitu gue duluan ya. Sampai ketemu nanti malam.". Erwin, Tony dan Jay meninggalkan Kiano yang masih setia menunggu Kirena.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2