Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
59. Tamu tak diundang


__ADS_3

Shinta sampai tersentak kaget ketika tiba-tiba tangannya ditarik dengan kuat hingga ia terjatuh tepat diatas tubuh Wira lalu, dengan gerakan cepat tubuh Shinta dibalik hingga kini justru Shinta lah yang terkukung diwabawah Wira. Posisi yang sungguh membuat gadis itu semakin canggung pada suaminya itu


"Tu–tuan Muda mau apa?"


"Mau apa kamu bilang?ck....bisa-bisanya kamu pura-pura polos. Kamu itu bukan gadis ingusan belasan tahun, pasti kamu sudah mengerti apa yang aku maksud. Gadis zaman sekarang pengalamannya lebih banyak, bukan? Jangan berlagak sok suci dihadapanku." Wira tidak percaya jika Shinta yang bahkan umurnya sudah menginjak 19 tahun tidak tahu hal-hal yang berbau dewasa seperti itu. mustahil, pasti gadis itu hanya berpura-pura. Itulah yang ada dipikiran Wira tentang gadis muda yang baru saja sah menjadi istrinya.


Shinta tidak menyangka ternyata penilaian Wira tentang dirinya seburuk itu. Gadis desa seperti dirinya yang tak pernah merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda manapun. Bahkan berteman dengan lawan jenis pun ia tak punya. "Mengapa Tuan muda tega sekali menuduh saya sebagai gadis tidak baik?"


Wira tak memperdulikan ucapan Shinta, Ia hanya ingin memberikan nafkah batin pertama kepada istri kecilnya itu yang telah berani menjebaknya kedalam pernikahan paksa ini. "Tidak usah banyak omong, ayo....kita mulai ibadah malam pertama kita!" Wira mengukung tubuh Shinta hingga gadis itu tak bisa berkutik. Melawan pun percuma karena tubuh dan tenaganya tak sebanding dengan sang suami.


Gadis itu hanya bisa pasrah akan nasib masa depannya setelah melewati malam ini. Tanpa ia sadari, tangan terampil Wira telah bergerak dengan seduktif. Hingga kain yang melekat ditubuh Shinta telah.lolos satu persatu dan saat ini yang tertinggal hanyalah kaca mata dan segitiga berenda berwarna marun. Tatapan mata Wira mulai berkabut. Untuk pertama kalinya ia melihat tubuh polos seorang perempuan dan yang berada dihadapannya saat ini adalah istri sah nya sendri. "Wow....ternyata tubuh si bocil sexy juga. Putih dan mulus tanpa cela. Apakah aku melakukannya sekarang?" Wira bermonolog didalam hatinya.


Tangan nakal Wira kembali menjalar dari atas turun kebawah sambil melepas kacamata pengaman gunung kembal Shinta. Refleks kedua tangan Shinta menyilang mentupi dadanya. Wira tersenyum menyeringai melihat kepasrahan istri kecilnya saat merasakan sentuhan memabukkan di kulit mulus Shinta.


Hingga telapak tangan besar itu menyentuh area tersensitif bagi seorang wanita yaitu diantara pangkal pahanya. Degup jantung Shinta berpacu semakin cepat dan untuk pertama kalinya ia merasakan gelayar aneh yang melenakan. Tiba-tiba tubuh Shinta tersentak kaget ketika merasakan sesuatu yang mengalir dari bawah sana dan tentu saja ia tahu apa itu.


Serrrr


Dengan gerakan cepat dan mengerahkan segenap tenaganya, Shinta mendorong tubuh kekar Wira lalu, beringsut menjauh dari jangkauan sang suami. "Jangan...Ma–maaf, saya bukan bermaksud untuk menolak ataupun membangkang perintah suami tapi, saya tidak bisa melakukannya sepertinya saya kedatangan tamu bulanan. Jadi, sekali lagi saya mohon maaf pada anda Tuan Muda."


Sontak gerakan tangan Wira terhenti dan ia juga dapat merasakan sesuatu yang basah pada milik Shinta. Refleks Wira menjauhkan tangannya dari area terlarang...oh, bukan area itu telah sah milik Wira. "S***, kenapa kamu baru ngomong? Sudah sana, bersihkan itu–mu!" Wajah tampan Wira berubah merah seperti tomat masak.

__ADS_1


Dengan gerak cepat, Shinta berlari masuk kekamar mandi dengan hanya memakai segitiga berenda yang telah basah. Didalam kamar mandi Shinta merutuki kebodohannya ketika tersadar jika ia lupa membawa pembalutnya. "Ya Ampun, teledor sekali sih kamu, Shinta. Bagaimana ini?" tak mungkin juga kan ia meminta tolong suami dinginnya itu untuk membelikannya pembalut. Yang ada Shinta malah kena semprot.


Setelah melihat jika si tamu benar-benar telah datang akhirnya Shinta pun memberanikan diri mencoba meminta tolong pada suaminya untuk membelikan pembalut.


Menyembulkan hanya kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Sungguh saat ini Shinta benar-benar merasa malu dengan kejadian tanpa direncana tersebut. "Maaf Tuan Muda, apa saya boleh meminta tolong pada anda."


Wira yang sejak tadi masih bersandar di kepala ranjang pun menoleh dan menatap Shinta penuh tanya. Mau apa lagi gadis itu. " Mau apa lagi, hah?" Tiba-tiba perasaannya tidak enak.


"Itu–bisakah saya minta tolong, em...tolong belikan saya pembalut, saya lupa membawanya tertinggal di rumah besar." Ada rasa takut bercampur malu tapi, mau bagaimana lagi hanya itulah jalan satu-satunya. Jika, Wira tak berkenan pun ia tak masalah. Ia akan pergi sendiri untuk membelinya.


"Apa kau bilang? Jadi, kamu memerintahku untuk membeli barang menjijikkan itu. Berani sekali kamu, ya." Tatapan mata Wira begitu nyalang. Begitu kesal karena disuruh-suruh oleh istri barunya itu.


Shinta tersentak kaget oleh bentakan Wira dan seketika ia pun sadar dengan apa yang dilakukannya. Memang benar yang Wira katakan jika dirinya begitu lancang telah berani memerintahnya.


"Tunggu!"


Langkah Shinta pun terhenti mendengar perintah sang suami lalu, menoleh dan menatap penuh tanya. "iya, Tuan Muda. Apa anda ingin menitip sesuatu?" ia mengira jika suaminya itu mengjnginkan sesuatu.


"Tidak. Maksudku biar aku saja yang membelinya, kamu tunggu dirumah saja." Setelah itu Wira langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari sang istri.


"Eh, tapi tu–."

__ADS_1


Shinta melongo menatap kepergian suami dinginnya itu, masih tak percaya jika Wira mau menolongnya." Ternyata dia baik juga." Tersenyum.


Wira telah sampai di mini market dengan berjalan kaki karena letaknya tak jauh masih dilingkungan apartemen. Ia celingak celinguk seperti tengah mencari sesuatu. Sampailah ia di deretan perlengkapan para kaum hawa. Didepannya ada berbagai macam merek pembalut. Tangannya meraih satu bungkus lalu membacanya terlebih dahulu. " Wings...dan itu non wing, ternyata ada untuk malam dan siang segala. Mana yang biasa dia pakai? ck, merepotkan." Dia berkata merepotkan tapi akhirnya dibeli juga.


Akhirnya ia mengambil semuanya, biar nanti Shinta yang memilihnya sendiri mana yang akan di pakainya. Sampai didepan meja kasir, semua orang menatap aneh sekeranjang penuh yang berisi pembalut wanita. Bahkan mereka seperti menahan tawa melihat seorang pria dewasa yang tampak gagah perkasa membeli pembalut wanita. Sungguh pria langka hanya 1 diantara 10 laki-laki yang mau melakukan hal itu. "Sayang istri ya, Pak?" Tanya salah satu pengunjung mini market.


"Bukan urusan anda." Jawabnya kesal, setelah membayar semua belanjaannya Wira pun segera beranjak pergi.


Sesampainya di unit apartemennya, ia langsung meletakkan dua kantung kresek berukuran besar yang berisi pembalut di hadapan Shinta yang tengah asik menonton tv. " Terima kasih Tuan Muda. Tapi, ini kok banyak sekali?"


"Sudah tidak usah banyak protes, tinggal di pakai saja cerewet sekali."


"Oh, bukan seperti itu Tuan. Saya hanya tidak enak Tuan sampai harus membeli pembalut sebanyak ini." Shinta jadi tidak enak hati.


"Sudah, tidak usah basa basi. Kapan selesainya tamu bulananmu itu?" Bertanya dengan wajah datar dan langsjng to the point.


"Eh, kurang lebih satu mingguan." Jawab Shinta dengan wajah memerah menahan malu. Bisa-bisanya suaminya melontarkan pertanyaan segamblang itu


Wira mengernyitkan dahinya, " Lama sekali."


Dan akhirnya ibadah pertama mereka sebagai pasangan suami istri gagal total dikarenakan kedatangani tamu tak diundang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2