Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
77. Kecewa


__ADS_3

Tari tersenyum meringis mendapatkan plototan dari Shinta. Sedangkan Anton masih menunggu jawaban dari Tari. Memangnya kenapa harus Wira yang menjemput Shinta kalau Anton juga bisa. Tak ada masalah, bukan.Itulah yang ada.di pikiran Anton.


" Loh, kok malah diam? Wira kenapa....maksudku kenapa dia harus tahu tentang Shinta?" Anton kembali memperjelas pertanyaannya.


"Eh, bukan apa-apa kok, kak. Tari cuma salah ucap saja. Ya kan, Tar?" Shinta memberi kode agar Tari mengiyakannya.


"I–iya Pak, benar. Tadi saya cuma salah ngomong." Jawab Tari sambil cengengngesan.


Sesaat kemudian suasana diruangan itu tampak hening. Ketiganya terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Anton yang pertama bicara mencairkan suasana. So....boleh kan jika, aku yang mengantarkan Shinta pulang. Aku khawatir kalau Shinta dibonceng naik motor nanti seandainya Shinta pusing terlalu beresiko, kan."


Tari tak menanggapi perkataan Anton. Ia tahu yang dimaksud dengan dibonceng naik motor ya pastilah dirinya. Karena setiap hari Shinta memang selalu pulang bersamanya. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Anton.


"Maaf, bukan maksud aku melarang Tari mengantar Shinta pulang. Tapi, keadaan Shinta yang tidak memungkinkan. Dari pada beresiko."


"Iya, Pak. Saya juga paham. Ya udah, Shin. Kamu pulang biar diantar Pak Anton saja. Langsung istirahat ngak usah mampir kemana-mana nanti ada yang marah."


"Tari–!" Shinta menggelengkan kepala memperingatkan Tari agar tidak bicara lagi bisa-bisa malah kebablasan omongannya.


Sedangkan Anton mengernyitkan keningnya penuh tanya apa maksud dari perkataan Tari barusan kalau ada yang akan marah? ' Siapa yang marah? Apa jangan-jangan Shinta memang telah memiliki kekasih makanya dia selalu menjaga jarak denganku?' Anton bermonolog sendiri.


"Iya benar apa yang dibilang Pak Anton. Kamu lebih baik naik mobil saja, wajahmu masih pucat gitu. Aku juga ngak tenang kalau ngeboncengin kamunya."


Shinta sejenak terdiam lalu, ia pun akhirny mengangguk dan menerima tawaran Anton yang ingin mengantarkannya pulang.


"Begitu dong, kan aman terkendali. Ayo kita berangkat sekarang!" Anton mengulurkan tangannya ingin membantu Shinta yang hendak turun dari ranjang. Namun, Tari langsung menyerobot duluan membantu Shinta turun.


"Biar aku bantu. Hati-hati Shin! Maaf ya Pak, bisa geser sedikit!" Tari menyenggol tubuh Anton agar laki-laki itu tidak menghalanginya.


Tentu saja apa yang dilakukan Tari membuat Anton sangat kesal. ' ish....nyerobot aja nih bocah. Ngak tahu apa orang lagi usaha. Awas nanti kamu ya.' Kesalnya hanya bisa ia ungkapkan didalam hati.


Sepanjang perjalanan Shinta hanya diam saja. Kenyataan jika, ia tengah berbadan dua membuat pikirannya tak tenang. Berbagai kalau Wira tidak bisa menerima kehamilannya dan seperti apa yang tertulis di surat perjanjian. Jika, Wira tidak juga bisa mencintainya .maka mereka akan berpisah. Lalu, bagaimana nasib anaknya nanti.Lamunan Shinta buyar ketika suara Anton memanggilnya.


"Shinta–dimana alamat rumahmu?"


"Hah, eh....iya kak, ke Apartemen xxxx daerah kuningan. Maaf, tadi aku tidak mendengar kak Anton bicara." Shinta jadi malu sendiri karena tengah asik melamun.


"Tidak apa-apa. Oke, kita langsung meluncur kesana." Anton tersenyum hangat pada Shinta.


Dua puluh menit kemudian akhirnya mereka pun sampai di depan apartemen. Shinta yang hendak turun dicegah oleh Anton karena laki-laki itu ingin membukakan pintunya untuk sang gadis pujaan.


Saat Shinta sudah turun dan hendak melangkah memasuki lobby apartemen dengan Anton yang mengekorinya dibelakang. Bertepatan dengan Wira yang muncul secara tiba-tiba tak jauh dari mereka. "Loh, itu kan Anton. Mau apa dia kesini?"


"Anton—!"

__ADS_1


Wira langsung memanggil sahabatnya itu dan Anton pun refleks menoleh kebelakang. "Wira!?"


Anton menghentikan langkahnya begitupun dengan Shinta yang mendengar suara sang suami. Tiba-tiba Shinta rasa takut kembali menghinggapinya. Ia takut Wira akan salah paham karena ia pulang diantar oleh Anton. Wajah Shinta semakin memucat bahkan keringat mulai menetes lewat keningnya.


"Ma–mas Wira. Bagaimana ini, semoga dia tidak salah paham." Batin Shinta.


"Hey bro, ngapain lo ada diapartemen ini?" Tanya Wira, ia belum melihat Shinta yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari mereka.


"Ini gue lagi nganter Shinta pulang. Eh....tunggu-tunggu! lah lo sendiri ngapain datang ke apartemen Shinta?" Tanya Anton penuh selidik.


'Anton nganter Shinta pulang? bagaimana mereka bisa bersama?' Monolog Wira dalam hati.


Shinta pun menghampiri keduanya dengan degup jantung yang bertalu-talu." Mas Wira....sudah pulang?"


"Tunggu dulu. Jangan bilang kalau kalian tinggal dalam satu apartemen?" Dan dijawab anggukkan oleh Wira sN Shinta secara bersamaan. Shinta bahkan tak menyangka jika, Wira juga mengiyakan pertanyaan Anton.


"Kok bisa sih?Tapi, kalian tidak memiliki hubungan apa-apa kan, bukankah kalian masih saudara-an." Anton sungguh terima dan belum siap jika, ternyata Wira dan Shinta memang memiliki hubungan khusus selain persaudaraan.


Wira bersikap biasa saja bahkan menatap Anton dan Shinta dengan mimik datar. "Memangnya kenapa? Tidak boleh kalau kami tinggal bersama. Orang tuanya yang menitipkan Shinta padaku. Ngak masalah, bukan?"


"Hemm–bener juga sih. Setidaknya kalau ada kakak sepupunya kan bisa ada yang menjaga dan mengawasi." Anton berpikir logis saja.


"Shinta, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Apakah kamu sakit?" Wira yang baru menyadari ketika melihat wajah Shinta yang tampak pucat pasi.


Kini tinggallah Wira dan Anton yang masih berdiri saling berhadapan." Thanks ya Ton dah nganterin Shinta. Oh ya....mau mampir dulu apa gimana nih?" Tanyanya basa-basi. ia berharap Anton tak akan menerima tawatannya itu.


"Ngak masalah lah, bro. Gue tadi main ke kampusnya Shinta. Dan bertepatan saat Shinta jatuh pingsan makannya gue ngak tega membiarkannya pulang naik motor di bonceng sama Tari."


"Lo kenal juga sama Tari?"


"Ya, kenal lah. Kan temennya Shinta otomatis kita berkenalan."


"Emm‐begitu."


"Oke, jadi gimana? Mau mampir keatas dulu apa gjmana?" Tanya Wira lagi.


"Enggak dulu lah Wir, lain kali aja gue boleh kan main kesini lagi."


"Boleh saja. oke, kalau gitu gue keatas dulu ya. Capek banget."


Anton pun mengangguk mengerti dan langsung pamit undur diri. Setelah Anton melangkah pergi, Wira bergegas menaiki lift menuju ke unit apartemennya.


Saat masuk ia melihat Shinta sedang berkutat di dapur. Wira pun menghampirinya. "Shin, kamu sedang apa? Istirahat sana, kata Anton tadi siang kamu pingsan. Kalau sakit istirahat jangan dipaksakan. Sudah masuk kamar sana! Nanti aku akan pesan makanan saja."

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, Mas. Aku masih bisa memasak bukan pekerjaan berat juga." Namun, Shinta tetap kekeuh mau memasak sendiri.


Dan bukan Wira namanya jika tidak memaksa. Dengan tiba-tiba ia langsung menggendong Shinta ala bridal style menuju kekamar lalu, membaringkan tubuh Shinta yang tampak lemas itu diatas tempat tidur. "Jangan ngeyel. Sudah, tiduran saja. Nanti kalau makanan sudah datang aku akan memanggilmu lagi."


"Iya Mas, maaf ya jadi merepotkan Mas Wira."


"Ngomong apa sih kamu, sudah....aku mau kedepan dulu. Kalau ada apa-apa panggil aku saja." Wira pun melangkah keluar kamar.


Sepeninggal Wira, Shinta sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia masih bingung dan ragu apakah ia harus mengatakan soal kehamilannya ini. Ia belum siap menerima kenyataan jika, Wira tidak menerimanya. Mungkin ia akan merahasiakannya dulu sampai ia menerima kepastian tentang pernikahan mereka kedepannya.


Usai makan malam seperti biasa pasangan itu bersantai sejenak diruang tengah sambil menonton televisi. Mereka akan mengobrol santai namun, malam ini tampak berbeda. Keduanya hanya saling diam dan fokus menatap layar televisi akan tetapi pikiran keduanya entah kemana.


"Ekhem, kamu kenapa bisa pingsan?"


"Eh, iya Mas. Tadi siang saya makan bakso dan kebanyakan memakai sambalnya lalu perut saya terasa sakit sekali dan pusing juga.'


"Makannya kalau makan tuh hati-hati. Sudah tahu lambungnya ngak kuat masih nekat makan sambel." Wira malah menceramahi sang istri. Shinta hanya tertunduk tak berani menatap wajah Wira.


Wira menoleh dan melihat Shinta yang terus menunduk. " Kamu kenapa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan. Katakan!"


"Ti–tidak ada apa-apa, Mas." Jawabnya gugup


Melihat wajah tak tenang istrinya membuat Wira jadi bertanya-tanya dan curiga ada yang tengah disembunyikan Shinta darinya.


"Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Katakan apa ada yang harus aku tahu dan juga soal Anton, mau apa dia mencarimu sampai kekampus segala."


"I–itu, saya benar-benar tidak tahu tunjuan kak Anton datang le kampus."


"Benarkah? Besok aku akan tanyakan langsung padanya."


Hening sejenak hingga Shinta yang memberanikan diri ingin bertanya dan memastikan sesuatu hal. "Emm....Mas, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Hemm, bicaralah!"


"Apakah Mas suatu saat nanti akan menceraikan saya?"


"Iya– itu tergantung apakah aku bisa mencintaimu atau tidak. Memangnya kenapa kamu tiba-tjba bertanya seperti itu? Apakah kamu sudah tidak sabar ingin berpisah. Atau jangan-jangan kamu dan Anton–?"


"Maksud Mas ada sesuatu antara saya dan kak Anton, begitu?"


"Itu kamu loh yang bilang bukan aku. Apa benar begitu?" Wira malah berpikir jika, Shinta dan Anton ada main di belakangnya.


Dada Shinta semakin terasa sesak. Sudah dipastikan bahwa Wira memang tidak akan pernah bisa jatuh cinta padanya. Siapalah dirinya yang hanya bekas seorang pembantu. Dilihat dari sisi manapun mereka tak akan pernah sepadan. Shinta meremas ujung daster yang dikenakannya menahan rasa kecewanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2