Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
30. Di jemput boss


__ADS_3

Kedatangan wanita bernama Celin membuat mood.seorang Dariel seketika jelek. Padahal beberapa waktu yang lalu dia begitu bersemangat karena ingin mengajak Vania untuk menemaninya di pesta hari jadi perusahaan lusa nanti.


Dariel tak memperdulikan Celin yang terus berceloteh tak jelas. "Oh ya Dariel. Kita akan datang ke pesta sebagai pasangan, bukan? Tante Olivia bilang kamu belum mempunyai pasangan di pesta nanti."


"Siapa bilang? Mommy...dia tidak tahu jika aku sudah ada seorang gadis yang akan menjadi pendampingku di acara nanti. Sorry, aku rasa kau harus mencari partner yang lain. Oh, Bobby...ya kau bisa pergi dengannya karena aku rasa dia belum memiliki kekasih."


Meminta Vania untuk menjadi pasangannya adalah satu trik Dariel untuk menghindari wanita ambisius itu. Dari dulu Dariel memang tidak menyukai Celin. Walaupun wanita itu putri dari salah satu kolega daddy nya. Siapa pun Celin, ia sama sekali tidak perduli. Celin bukanlah tipe idealnya. Seperti Vania, misalnya.


"Apa–benarkah itu? Kenapa kamu tidak memberitahuku.Siapa gadis itu dan anak siapa?apakah aku mengenalnya." Celin sungguh tidak dapat menerima kenyataan bahwa Deriel telah memiliki seorang kekasih. Dia tidak akan percaya begitu saja lusa ia akan membuktikannya secara langsung apakah yang dikatakan Dariel itu benar atau hanya kebohong semata.


Laki-laki itu tak.menggubris berbagai pertanyaan yang di lontarkannya. Dariel menganggap Celin tidak berhak melakukannya.


"Sudah itu saja? Jika urusanmu sudah selesai silahkan pergi aku masih banyak pekerjaan tak ada waktu walaupun hanya sekedar mengobrol. Sorry ya Celin." Dariel tersenyum sambil geature tangannya mengkode agar Celin segera keluar dari ruang kerjanya.


Dengan wajah cemberut Celin melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal akan perlakuan tak bersahabat Dariel pada nya. Didalam hatinya ia tetap berpikir akan mencari tahu siapa gadis itu dan menjauhkannya dari Dariel. "Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang dan siapa yang akan terbuang. Cewek itu atau aku."


"Bob, keruanganku sekarang!" Setelah kepergian Celin, Dariel segera memanggil asisten pribadinya.


Tak berapa lama Bobby pun telah berada diruangan boss nya. "Iya Tuan, apa ada pekerjaan yang harus saya selesaikan?" Tanya Bobby pada sang boss.


Setelah memberikan pengarahan tentang pesta yang akan diadakan di aula gedung Lawrence Group, Dariel pun beranjak pergi karena setengah jam lagi ia ada meeting dengan salah satu klien nya.


Sebenarnya Bobby cukup terkejut ketika mendengar langsung dari bibir Dariel sendiri masih tidak percaya jika boss nya itu akan mengajak seorang pegawai cleaning service ke pesta penting perusahaan.


"Ada apa dengan mu Van? Jangan melamun. Kemarin belum Lama salah satu induk ayam peliharan tetangga tiba-tiba tiba-tiba mati karena kebanyakan melamun di saka terkejut melihat anak-anak pitik nya pada mati. Tknggal beberapa ekor saja." Winda.menegur Vania yang sejak tadi terlihat melamun saja. Saat ini mereka tengah berkumpul di pantry menunggu jam kerja berakhir, kira-kira tinggal 10 menitan lagi.

__ADS_1


Di tegur secara tiba-tiba seperti itu Vania sampai terjengkit kaget dan membuyarkan lamunannya. " Eh, iya...ada apa?" jawabnya masih belum ngeh apa yang barusan di katakan oleh Winda.


Winda dan Lulu mengernyit penuh tanya." Wah...beneran ternyata dia sedang berkhayal ya Lu. Kamu itu lagi mikirin apa.sih, Van. Kalau ada apa-apa cerita sama kita-kita barang kali saja kami bisa bantu." Vania pun akhirnya tahu maksud dari pertNyaan kedua temannya itu.


"Oh, enggak ada apa-apa kok. Itu...aku hanya memikirkan masalah bonus itu. Apak mungkin aku dapat, bukankah aku dan Lulu baru beberapa bulan bekerja di perusahaan ini."


Mendengar penuturan Vania, Winda dan Lulu sampai menepuk jidat mereka tak habis pikir jika Vania sampai berpikir sejauh itu. "Ya ampun Vania, aku kira ada apa. Tentu saja semua akan mendapatkannya mau dia karyawan lama atau pun baru. Tenang saja jeng Vania." Winda kembali memberi informasi yang memang benar adanya. Dulu saat dia juga belum lama bekerja di Lawrence Group tetap mendapatkan bonus itu. Vania tersenyum meringis karena malu.


"Let's go muleh man teman, tuh lihat sudah pas jam empat. Oke, selamat bershopping ria–." Vania dan Lulu menggelengkan kepala melihat Winda yang begitu penuh semangat larrna akan mendapatkan rezeki dadakan.


Vania tiba si rumah tepat pukul 16.10 WIB. Ia pun bergegas mamdi sebelum menemui jagoan kecilnya yang sejak pagi sangat di rindukannya.


Tok tok tok


"Assallamualaikum."


"Wa'allaikumsalam. Eh...bunda sudah pulang."


Bu Wulan membukakan pintu dengan Kiano yang berada dalam gendongannya. Bayi montok yang sebentar lagi berusia setengah tahun itu semakin tampak menggemaskan. Pipinya yang putih dan chubby seperti bakpau itu sungguh membuat siapa saja gemas ingin mencubitnya.


"Jagoan bunda, hum...wanginya." Vania menciumi gemas seluruh permukaan wajah Kiano. "Terima kasih ya bu." bu Wulan tersenyum dan menatap putri dan cucu nya penuh kasih sayang.


Vania membawa Kiano kembali ke kamarnya. Ia menidurkan kiano lalu, ia pun merebahkan dirinya di sebelah sang putra dan segera menyusuinya. Hingga akhirnya mereka pun sama-sama terlelap.


Keesokkan pagi nya seperti biasa Vania akan menitipkan Kiano pada bu Wulan. Masih ada waktu setengah jam dan Vania pun meminta izin sekaligus meminta tolong bu Wulan untuk menjaga Kiano besok malam. Karena ia disuruh menemani boss nya ke pesta itu.

__ADS_1


"Iya, pergilah bersenang-senang. Sekali kali bolehlah menyenangkan diri. Jangan khawatir soal Kiano. Yang penting kamu siapkan stok asi yang cukup."


"Baiklah bu, terima kasih."


Aktivitas nya di kantor berjalan lancar seperti biasa. Tak terasa sudah waktunya jam pulang para karyawan. Vania yang tengah berjalan kaki di pinggiran trotoar jalan tiba-tiba dari arah belakang ada suara klakson mobil membuat Vania sampai terjingkat kaget.


"Astaqfirullah–kaget aku." Vania melihat seseorang turun dari kursi pengemudi dan ternyata orang itu adalah Bobby. Laki-laki itu menghampirinya dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil. Vania pun mengangguk patuh kemudian membuka pintu depan. Namun, suara lain yang berasal dari dalam mobil tepatnya di kursi penumpang belakang membuat Vania urung memasukinya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk didepan? duduklah di belakang sini–!"


Tak ingin membuat boss nya marah, akhirnya Vania pun menuruti keinginan laki-laki itu lalu, bergegas pindah ke kursi belakang.


"Selamat sore Tuan."


"Selamat sore Nona Vania. Jalan Bob!"


"Baik Tuan."


Mobil yang dikemudikan oleh Bobby akhirnya berhenti didepan sebuah restauran. Didalam hati Vania bertanya-tanya mengapa sang boss mengajaknya restauran yang terlihat cukup mewah itu.


"Ayo, masuklah!"


"Ba–baik Tuan."


Kemudian masuk ke ruangan private yang telah di booking sebelumnya oleh Bobby. Entah apa yang diinginkan oleh boss nya itu terhadapnya. Yang jelas Vania jadi semakin merasa tak enak hati. Bagaimana jika ada yang melihat kebersamaan mereka ditempat ini. Vania takut nanti akan menjadi bahan pergunjingan di kantor.

__ADS_1


"Tidak usah tegang begitu, santai saja Nona...aku tidak akan berbuat jahat. Aku hanya ingin membicarakan seauatu padamu."


Bersambung.


__ADS_2