
Seperti yang telah mereka sepakati, pagi-pagi sekali Liam telah muncul di kediaman Vania tepatnya di paviliun milik bu Wulan. Liam saat ini telah berdiri di depan paviliun dan tangannya sudah siap mengetuk pintu itu.
Tok tok
Ceklek
"Tuan–rajin sekali anda pagi-pagi sudah datang. Bahkan ayam jago pun kalah cepat berkokok dengan anda, Tuan." Bisa saja Vania membandingkan Liam dengan seekor ayam jantan.
"Tega sekali kamu, Van menyamakan calon suami sendiri dengan seekor ayam. Apa Kiano sudah bangun?" Liam sama sekali tidak marah ia malah beralih menanyakan sang putra.
Sebenarnya Vania keluar hendak meminta tolong pada bu wulan untuk menjaga Kiano sebentar karenaia ingin mencari sarapan pagi. Entahlah, tiba-tiba saja Vania ingin sekali sarapan dengan nasi kuning dan perkedel kentang. pasti rasanya sangat yummy sekali.
"Kiano belim bangun. Ah...kebetulan sih. Tuan, bisa tolong jagakan Kiano sebentar saja. saya ingin kedepan sebentar ingin membeli makanan untuk sarapan pagi. Apa Tuan sudah sarapan?" Walaupun Vania masih kesal dengan Liam akan tetapi ia masih memiliki rasa kemanusiaan. Sekedar menawarkan sarapan pagi tidak ada salahnya, bukan.
Wajah Liam seketika berbinar bak matahari yang bersinar terang di pagi nan cerah ini."Oh, tentu saja sayang. Aku pasti akan menjaga putra kita sebaik-baiknya. Kamu mau sarapan apa pun aku ikut saja, Mommy."
"Mommy mommy, dikira ini luar negeri apa?" Vania pun melangkah pergi dan Liam telah masuk kedalam langsung mencari keberadaan Kiano.
Liam tersenyum salah tingkah. Tentu saja, ditatap oleh sorot mata tajam namun melenakan itu membuat Vania merasa dag dig dug der. Semakin hari daddy nya Kiano semakin berbahaya untuk kesehatan jantung Vania. Berlalu pergi sambil mengelus-elus dadanya.
Bayi montok itu masih terlelap di atas tempat tidur. Perlahan Liam merangkak naik dan merebahkan tubuhnya disamping sang putra menoel-noel pipi gembil Kiano yang empuk lalu menciuminya dengan gemas.
"Muach...muach, jagoan daddy yang ganteng."
Merasa terganggu, Bayi berumur empat bulan lebih itu pun terbangun dan seketika menangis karena ulah sang daddy.
"owe owee owee–."
__ADS_1
Seketika Liam langsung panik."Aduh, bagaimana ini...sayang, jangan nangis ya." Liam menggendong Kiano sambil menimang-nimangnya agar bayi itu tidak menangis lagi. Namun, Kiano tak juga berhenti menangis hingga terdengar suara ketukkan pintu dan Liam pun beranjak menuju pintu dengan Kiano yang masih menangis.
"Vania‐ apa yang terjadi? Kenapa Kiano tak berhenti menangis."
Tok tok tok
Krieet
Bu Wulan sempat terkejut karena ternyata bukan Vania yang membukakan pintunya tapi, Liam dan Kiano yang tengah menangis di gendongan ayahnya. Bu Wulan mengambil alih Kiano mencoba mendiamkan bayi tersebut akan tetapi tetap tak berhasil.
Akhirnya kedatangan Vania menolong mereka. Ketika Vania mendekap Bayinya, seketika Kiano berhenti menangis itulah kekuatan seorang ibu. Baru mencium aroma tubuh ibu nya saja bayi itu langsung terdiam dan merasa nyaman.
"Kiano kenapa sayang? Kangen bunda...Kiano haus, ayo mimik dulu ya." Duduk di sisi tempat tidur lalu segera memberikan asi untuk sang putra. Saking fokusnya menyusui putranya, Vania sampai lupa jika, ada Liam di ruangan yang sama. Sontak Vania mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Liam yang tengah melongo dengan mulut yang menganga pandangannya tepat disatu titik yaitu sebelah kendi milik Kiano dan bayi itu tampak begitu semangat menyusu sampai Liam begitu kesusahan menelan salivanya.
Glekk
"Ekhem–apa yang anda lihat, Tuan? Ish, cari kesempatan dalam kesempitan ya.Dasar otak mesum."
Vania mencebik sebal. Gegas ia menutupi bagian dadanya yang sedang di jajah oleh sang putra. Membuat Liam menghela nafas penjang. Hialang sudah pemansangan indah di depan mata nya.
"Lihat sedikit aja ngak boleh. Lihat nanti pasti kamu yang akan menawarkannya langsung kepadaku untuk di–."
"Bu–itu, aku membelikan sarapan nasi kuning 3 porsi.Silahkan bu, kita sarapan bareng." Vania memotong ucapan Liam yang semakin aneh itu dengan mengalihkan perhatiannya pada sebuah kantong kresek yang berisi 3 buah kotak starofoam yang berisi nasi kuning dan lauk pauknya berupa perkedel kentang dan tempe goreng.
Bu Wulan segera membukanya lalu, memberikan satu bungkus untuk Liam. Sebelumnya bu Wulan menuju ke dapur untuk mengambil air putih untuk minum mereka.
Seperti janjinya kemarin, Liam ikut menemani Vania ke gedung Lawrence Group tempat dimana Vania bekerja. Liam ingin segera menuntaskan segalanya. Saat ini Vania didampingi oleh Liam sedang menghadap kepala HRD.Ia ingin mengajukan pengunduran dirinya dan sekaligus membayar denda pinalty karena memutus perjanjian kontrak kerja sebelum berakhir masa aktifnya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin pikir-pikir dulu, Vania. Sayang sekali jika kami harus melepas karyawan serajin kamu dan juga selama ini pekerjaan kamu begitu baik. Dan sama sekali tidak ada masalah. Memangnya apa alasan kamu sampai terburu-buru seperti ini." Kepala HRD yang bernama bu Desy masih tak percaya jika karyawan teladan seperti Vania harus keluar dari perusahaan itu.
"Sudah, anda tidak usah membujuk rayu calon istri ku agar cepat meninggalkanku. Sekarang berikan tanda terima bukti pembayaran denda pinalty tersebut." Ujar Liam yang sangat kesal dengan wanita yang bernama Desy itu seakan menghalangi Vania untuk membatalkan resign nya. Liam hak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
Vania menghembuskan nafas dalam dan setelah menyelesaikan proses administrasinya mereka pun bergegas pergi dari Lawrence Group. Sebenarnya Desy mengatakan jika Vania belum bisa keluar karena pengunduran dirinya belum mendapatkan acc dari atasan mereka yaitu sang Ceo. Tapi, Liam tidak perduli akan hal itu yang terpenting ia sudah menyelesaikan semuanya.
Dengan rasa tak enak hati Vania pun berpamitan sebeljm keluar dari ruangan HRD. "Terima kasih ya bu atas kerja samanya dan saya mohon maaf jika selama bekerja disini pernah melakukan kesalahan." Vania membungkukkan sedikit badannya dan beranjak pergi.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Tak rela meninggalkan bossmu itu." Liam kesal melihat Vania yang sepertinya tak ingin berhenti bekerja di perusahaan milik Dariel itu.
"Apa sih, Tuan. Saya sudah menuruti semua keinginan anda dan ini semua saya lakukan demi Kiano. Saya ingin masa depan Kiano terjamin seperti anak-anak lainnya yang memiliki orang tua yang utuh." Jawab Vania.
Liam pun puas dengan jawaban Vania, ya walaupun belum ada rasa cinta yang sebenarnya diantara mereka berdua tapi, Liam yakin suatu hari nanti seiring waktu yang berjalan Vania perlahan pasti akan mencintainya.
"Itu baru ibu yang baik dan bijaksana. Good mommy. Ayo, kita harus berkemas-kemas. Aku sudah memberitahu orang rumah jika hari ini kita akan pulang dan kamu tahu, bi Arum sangat bahagia mendengar keponakan dan cucu tersayangnya akan segera kembali."
Mendengar Liam menyebut nama sang bibi seketika rasa bersalah kembali menghinggapi nya. "Maaf kan Vania, bi. Aku berjanji tidak akan pernah pergi lagi. Kami akan pulang." Tekad Vania dari dalam hatinya.
Pasangan itu pun segera meninggalkan gedung megah tersebut. Bahkan Liam tak mengizinkan Vania untuk berpamitan pada teman-temannya. Vania tak memprotesnya ia menurut saja apapun yang dikatakan Liam.
Siang harinya, tampak Dariel baru saja tiba diruangannya setelah selesai mengadakan meeting diluar. Ia memicingkan matanya ketika melihat sebuah file diatas mejanya. Ia pun membuka file tersebut. Matanya membulat sempurna membaca isinya. "Apa ini? Vania mengundurkan diri?"
"Bobby–keruanganku sekarang juga!."
Sementara itu Vania dan Kiano telah bersiap-siap untuk pergi. Setelah berpamitan dengan bu Wulan, mereka pun segera berangkat dengan Liam yang mengemudikan sendiri mobilnya.
Hampir satu jam lebih perjalanan dan mereka pun sampai juga. Mobil Liam pun mulai memasuki pintu gerbang dan ketika berhenti di depan pelataran rumah megah itu degup jantung Vania berpacu cepat. Ia merasa gugup dan tegang. Apalagi ketika melihat Nyonya Helen dan Tuan Bisma serta bi Arum yang tengah berdiri menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
Bersambung.