Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
79. Mama Helen tahu


__ADS_3

"APAA!?"


Ketiganya serentak terkejut dengan informasi yang disampaikan David. Terutama Anton yang tampak begitu syok mengetahui Shinta yang mungkin saja tengah hamil. Tapi, siapa laki-laki yang menghamilinya. Apakah calon suaminya yang kata Wira telah dijodohkan dengan Shinta. Masa' iya sih gadis sepolos Shinta bisa melakukan hal diluar norma agama seperti itu. Berbagai spekulasi berputar di pikiran Anton.


' S**** , siapa yang telah berani-beraninya menyentuh gadis pujaanku. Sial....laki-laki brengsek!'' Anton merutuki orang yang telah menodai kesucian sang gadis pujaan.


Edward yang melihat raut wajah Anton yang seakan murka dengan berita yang baru saja disamopaikan oleh David. Ia mengernyit penuh tanya. " Lah, lo kenapa Ton? Kenapa jadi elo yang emosi.Memang si Shinta siapanya elo."


"Diem lo Ed! Wir....bilang ke gue siapa laki-laki itu!" Tanya Anton beralih menatap Wira.


"Maksud lo, laki-laki yang mana dan siapa?" Wira pura-pura tak mengerti. Padahal ia tahu siapa yang dimaksud Anton itu sudah pasti calon suami Shinta. Padahal kenyataannya ya suami Shinta lah yang telah menghamilinya dan laki-laki itu adalah Wira sendiri yang masih bungkam tak ingin rahasia pernikahannya di ketahui oleh para sahabatnya.


"Yah dia pake pura-pura ngak ngerti. ya calon suaminya lah siapa lagi kalau bukan dia. Memangnya Shinta sedang dekat dengan laki-laki lain selain gue?" Dengan pede nya Anton mengaku-ngaku jika, dirinya sedang dekat dengan Shinta.


Wira mendengus kesal mendengar penuturan Anton yang suka ngadi-ngadi sok tahu sekali. Kalau dia tahu yang sebenarnya pasti laki-laki itu langsung patah hati. " Dah lah, ngapain juga lo turut campur dalam urusan pribadi orang lain. Biar keluarganya saja yang menyelesaikan peemasalahan yang tengah dihadapi Shinta. Ngak usah kepo deh lo, Ton. Mending lo cari cewek yang lainnya aja. Seperti Tari misalnya. Dia itu juga gadis baik-baik, masih polos sama sekali belum mengenal yang namanya pacaran."


"Siapa? Cewek berisik itu, sorry ya bukan tipe gue. Shinta lah menurut gue cewek yang sungguh menarik dan yang pastinya dah bikkn gue klepek-klepek. Cantik dan imut menggemaskan."


"Ck—dasar buaya darat. Awas hati-hati nanti lo bakal kemakan omongan lo sendiri loh, Ton. Setahu gue Tari itu cewek yang tak kalah hebatnya dari Shinta. Wanita muda yang mandiri dan menurut gue juga tak kalah cantik dari Shinta. Gimana, usul gue boleh juga,kan?"


Wira memang telah beberapa kali bertemu dengan Tari dan Wira kini sudah mengenal cukup baik sahabat istrinya itu.


"Enggak bakalan gue kecantol sama cewek macam si Tari Tari itu."


"Oh ya, oke....kita lihat saja nanti." Ucap Wira tak percaya dengan sahabatnya yang terkenal playboy itu.


Sudah hampir dua jam mereka berkumpul dan cafe pun sudah mau tutup. Keempatnya pun segera bergegas pulang ke kediaman masing-masing.


Wira telah tiba didepan pintu unit apartemennya. Ia terdiam sejenak sebelum menekan password pintunya."Aku akan pura-pura tidak tahu. Sampai Shinta yang akan mengatakannya sendiri." Wira menghela nafas kasar lalu, menekan tombol password dan segera masuk.


Semua lampu telah dimatikan dan itu tandanya Shinta sudah tidur. Perlahan Wira memutar handle pintu kamarnya lalu, melangkah pelan memasuki kamar mandi setelah melepas jasnya.


Sebenarnya Shinta sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu ketika mendengar suara password pintu yang dibuka dari luar. Dan Shinta tahu pasti itu adalah suaminya yang baru saja kembali entah dari mana hingga malam baru pulang. 'Aku kira Mas Wira tidak pulang. Dari mana saja dia? Ah....bukan urusanku.'


Sepuluh menit lemudian Wira keluar dari kamar mandi mengenakan bathrob nya. Melangkah kearah almari lalu, mengambil kaos dan celana pendek. Shinta memejamkan matanya merasakan gerakan kasur ketika Wira meranhkak naik dan merebahkan tubuhnya tepat di sebelah Shinta.


Shinta menahan nafasnya saat merasakan lengan kekar Wira memeluk pinggangnya dan mengelus perutnya.

__ADS_1


DEGH


Buku kuduknya meremang saat sebuah kecupan basah menyentuk tengkuknya. Rasanya menggelitik dan geli. Skuat tenaga Shinta menahan agar bibirnya tidak mengeluarkan suara d****** , entah mengapa tubuhnya semakin sensitif jika, disentuh oleh tangan nakal sang suami seperti saat ini yang telah mendarat sempurna di salah satu gunung kembarnya yang padat dan kenyal.


Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak merespon apa yang dilakukan oleh suami mesumnya itu.' Ya tuhan, kenapa sih Mas Wira tak pernah puas dan terus menerus menggodaku. Tahan Shin....tahan!' Dan untungnya Shinta berhasil mengendalikan dirinya dan akhirnya setelah puas mengeksplor di beberapa titik tersensitif milik istri mungilnya, Wira pun terlelap juga dengan tetap memeluk Shinta.


Keesikkan pagi nya seperti biasa mereka melakukan aktifitas rutin bersama yaitu sarapan pagi. Shinta tampak tak berselera dengan hidangan yang tersaji padahal ia yang memesaknya sendiri. Wira yang dari sejak bangun tidur tadi memperhatikan gerak gerik sang istri mengernyit penuh tanya.


"Kenapa makanannya cuma di liatin aja?" Tanya Wira menatap Shinta yang tampak gugup.


"Ti–dak apa-apa kok, Mas. Hanya saja saya masih merasa kenyang. Sepertinya saya mau membuat susu saja. Apa Mas mau saya buatkan susu juga?"


"Tidak usah."


Shinta pun mengangguk dan beranjak dari duduknya lalu, melangkah kearah dapur untuk membuat susu hamil yang sudah ia simpan di dalam wadah yang lain agar Wira tidak mengetahuinya. Kemudian segelas susu coklat itu ia bawa ke meja makan, duduk kembali dan langsung meminum susu tersebut sampai habis.


"Sejak kapan kamu suka minum susu? Setahuku bukankah kamu pernah bilang tidak menyukainya."


Degup jantung Sinta mulai berpacu cepat. Pasalnya apa yang diucapkan Wira adalah benar adanya lalu, alasan apa yang akan ia katakan. Shinta sejenak terdiam. " Oh, itu....saya sedang ingjn saja. Penasaran dengan rasanya."


Wira merasa alasan Shinta tidak masuk diakal. Apalagi gelagat Shinta yang aneh tidak seperti biasanya, tampak mencurigakan.à Sebenarnya Wira sudah tahu jika, susu yang diminum istrinya adalah susu hamil. Namun, ia berlagak tidak tahu saja. Wira masih menunggu Shinta yang akan mengatakan perihal kehamilannya.


"Tidak usah, Mas. Bukankah Mas juga sedang bekerja. Saya bisa pulang sendiri atau bareng Tari seperti biasanya." Shinta heran kenapa tiba-tjba Wira ingin menjemputnya.


"Dengan berboncengan motor?tidak usah, pokoknya aku yang akan menjemputmu karena sekalian kita akan kerumah utama. Apa kamu lupa setiap sebulan sekali kita akan mengadakan makan malam keluarga?"


"Oh iya, saya lupa Mas. Baiklah–." Iya, Shinta hamoir saja melupakan agenda rutin keluarga Ghazala.


"Hemm–ya sudah, tidak apa-apa."


Dan sore harinya mereka pun telah tiba di kediaman kediaman utama keluarga Ghazala. Mama Helen tentu saja menyambut dengan antusias kedatangan para anak, menantu dan cucu kesayangannya.


Semua anggota keluarga telah berkumpul dimeja makan. Hanya Shinta yang tampak belum hadir. Mama Helen celingak celinguk mencari keberadaan sang menantu. "Loh, Wir....dimana istrimu?"


"Mana aku tahu Ma. Palingan sedang bersama bu Arum dan Kiano."


"Ya sudah, kamu panggil dulu sana!' Mama Helen menyuruh Wira untuk mencari istrinya.

__ADS_1


"Biarin aja sih, Ma. Sebentar lagi dia juga pasti datang." Tolaknya, sikap Wira yang cuek seperti itu tak luput dari perhatian Vania. Wanita yang tengah hamil itu merasa heran dan juga ada rasa kecewa karena adiknya diperlakukan seperti itu.


"Biar aku saja Ma yang memanggilnya." Vania batu saja akan bangkit dari duduknya langsung dicegah oleh Mama Helen.


"Tidak usah sayang, biar Mama saja."


Mama Helen beranjak menuju ke belakang rumah, tepatnya di paviliun tempat dimana kamar tidur para asisten rumah tangga berada. Mungkin Shinta sedang kangen mengobrol dengan ibunya.


"Shin, kenapa kamu malah disini? Sudah sana gabjng dengan yang lain. Tidak enak sama nyonya dan tuan." Bi Arum menyuruh putrinya untuk kembali ke ruang makan. Karena acara makan malam pasti sudah akan dimulai.


"Shinta disini saja bu sama Kiano. Aku sedang tidak berselera untuk makan."


Bi Arum menatap Shinta penuh curiga. Pasalnya sikap dan tindak tanduk sang putri agak aneh. Apalagi saat ia memperhatikan bentuk tubuh Shinta yang tampak berubah. Agak berisi, pinggul dan buah dadanya tampak membesar. Apakah putrinya saat ini sedang mengandung? Bi Arum sangat yakin akan hal itu. Apa mungkin Shinta belum tahu jika, sedang berbadan dua. Karena Shinta masih muda dan minim pengalaman tentang hal itu.


"Kamu sedang hamil ya?"


DEG


"A–apaan sih, bu?" Jawab Shinta gugup


" Jawab pertanyaan ibu dengan jujur, nak. Jika, benar kamu sedang hamil itu adalah berita yang baik dan semua anggota keluarga pasti akan senang mendengar berita baik tersebut. Jadi, benar kan kamu sudah isi?"


Shinta menghela nafas panjang lalu, menatap ibunya. "Tapi, aku sangat takut bu."


"Takut? Kenapa mesti takut. Mengandung adalah hal yang wajar bagi seorang perempuan. Harusnya kamu bersyukur karena telah diberi kepercayaan oleh Allah untuk memiliki keturunan. Apa yang membuatmu takut,nak?"


Shinta tertunduk menahan agar ia tidak menangis hatinya saat ini sedang melow. Mungkin karena hormon kehamilannya. "Aku takut Mas Wira tidak bisa menerima kehadirannya, bu. Bukankah ibu yang mengatakan kalau Mas Wira pernah begitu mencintai mbak Vania dan itu masih berlangsung sampai saat ini. Aku sendiri yang mendengar langsung ucapannya. Jadi, aku bingung Bu."


"Kamu jangan berpikiran negatif dulu, Shin. Siapa tahu dengan hadirnya si jabang bayi nak Wira akan mulai bisa mencintaimu. Optimislah....Allah yang maha membolak balikkan hati setiap manusia, percayalah akan hal itu."


"Lihat saja nanti, Bu. Sikap Mas Wira juga masih suka berubah-ubah. Itu yang membuatku ragu untuk mengatakannya. Apalagi dia pernah mengatakan jika–."


"Jika apa? Kok ngak dilanjutkan, ayo katakan!"


"Kami akan berpisah jika, Mas Wira tidak bisa mencintaiku." Mata Shinta tampak berkaca-kaca ingin menangis.


"Jadi, kamu benar-benar sedang hamil?"

__ADS_1


"Ma–mama–!"


Bersambung


__ADS_2