
Pernikahan Liam dan Vania dipercepat atas permintaan dari Wira. Vania masih belum mengerti apa maksud dari perkataan Nyonya Helen barusan. Apa ada sesuatu yang terjadi lagi diantara dua kakak beradik itu dan dirinyalah penyebabnya.
" Maksudnya apa, Ma. Tuan Wira kenapa–."
"Wira, bukan tuan...Vania, kamu jangan memanggilnya seperti itu lagi karena Wira juga akan menjadi adik iparmu." Nyonya Helen menhoreksi ucapan Vania. Dan Vania pun hanya menyeringis tersenyum kaku.
"Nanti kamu akan tahu sendiri. Si ganteng sudah kenyang belum ini ya? Ayuk mandi sama nenek."
Obrolan mereka pun tak berlanjut karena Nyonya Helen ingin memandikan Kiano. Sedangkan Vania masih menebak-nebak apa yang menyebabkan Wira jadi seperti itu. Menginginkan pernikahan Liam dan Vania dipercepat Ada apa dengan Wira.
Siang harinya Nyonya Helen mengajak Vania kesebuah butik milik seorang desainer ternama. Mereka tidak membawa Kiano bersama, bi Arum yang menjaganya.
"Selamat datang Nyonya Helen. Apa kabar, apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawati butik menyambut kedatangan mereka. Nyonya Helen merupakan langganan tetap sang desainer.
"Apa bu Kirana nya ada?"
"Oh, ada. Mari Nyonya saya antarkan keruangannya."
Kirana Saraswati adalah seorang desainer ternama. Semua langganannya banyak dari kalangan artis, pejabat dan para konglomerat. Termasuk Nyonya Helen tentunya.
Tok tok tok
"Ya, silahkan masuk!" Terdengar sahutan dari dalam.
"Permisi bu, ada Nyonya Helen Ghazala ingin bertemu dengan ibu."
"Oh iya. Persilahkan beliau masuk."
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu pun tersenyum ramah menyambut kedatangan salah satu langganan spesialnya.
"Selamat siang Jeng Helen. Mari-mari silahkan duduk dan ini–." Kedua wanita cantik itu pun saling bercipika cipiki. Mata Kirana menatap penasaran gadis muda nan cantik disamping Nyonya Helen.
"O–sorry Jeng. Perkenalkan ini Vania menantuku, tepatnya calon istri Liam putra pertamaku. Vania, kenalkan ini Nyonya Kirana Saraswati."
Vania dan Kirana pun saling berjabat tangan. Kirana begitu takjub dengan kecantikkan Vania. Meskipun hanya memolekan make up seadanya namun, kecantikkan alami Vania tetap terpancar.
"Vania Hasna–."
"Kirana, kamu sangat cantik sekali. Jeng Helen, Liam pintar sekali mencari calon istri. Aku jadi iri deh...tidak seperti putra semata wayangku yang susah sekali kalau disuruh menikah. ada saja alasannya." Nyonya Kirana malah curhat tentang anaknya.
"Ya, sabar saja Jeng. Mungkin memang belum bertemu jodohnya."
Hubungan Nyonya Helen dan Nyonya saraswati bukan hanya sebatas antara pemberi jasa dan langganannya semata. Mereka telah bersahabat cukup lama sejak mereka masih muda. Maka dari itu hubungan keduanya sangat dekat seperti saudara.
__ADS_1
"Ini loh Jeng, tolong pilihkan kebaya untuk akad nikah eaok lusa. Untuk gaun resepsinya nanti menyusul."
Nyonya Kirana mengernyit penuh tanya." Lusa? Mendadak sekali sih Jeng.Apa–."
"Itu, si Liam yang sudah tidak sabatan ingin menghalalkan segera Vania." Jawab Nyonya Helen mengkambing hitamkan putranya.
"Dasar anak muda ya, selalu tidak sabaran kalau sudah punya kemauannya." Ucap Nyonya Kirana.
Setelah hampir satu jam memilah dan memilih beberapa kebaya modern yang semuanya terlihat cantik dan elegan. Kahirnya pilihan mereka jatuh pada sebuah kebaya berwarna putih yang sangat cocok dikenakan Vania.
"Wow‐Jeng, cantik sekali menantumu ini. Sekali lagi selamat ya. Aku tunggu undangannya."
"Beres lah, ditunggu saja...oke."
Usai membeli kebaya pengantin, kini mereka berlanjut menuju ke sebuah mall termewah di ibukota.Mereka akan membeli cincin pernukahan dan juga beberapa perhiasan untuk dikenakan Vania saat acara ijab qobul nanti.
Ketika Nyinya Helen dan Vania baru akan mau memasuki gallery tersebut, datang Liam dengan langkah tergesa-gesa menghampiri mereka.
'Mama, Vania!'
Kedua wanita cantik beda generasi itu pun refleks menoleh ketika mendengar panggilan dari Liam.
"Liam–kamu seperti habis lari maraton saja, nafasmu sampai ngos-ngosan gitu."
Liam melihat tak ada putranya bersama Vania dan mama nya. Lalu Mama Helen menjelaskan jika Kiano memang sengaja ditinggal dirumah dan dijaga oleh bi Arum. Dan Liam pun mengangguk mengerti.
Menjelang sore mereka akhirnya tiba di rumah. Persiapan ijab qobul hampir rampung 98 %. Liam yang mengurus syarat administrasi ke KUA. Tepatnya ia menuruh asisten pribadinya, Arman.
Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Tepat pukul sepuluh pagi prosesi ijab qobul pun dimulai. Liam menjabat tangan wali hakim untuk Vania. Ya, karena ayah Vania sudah meninggal dunia dan tidak memiliki paman. Dan dengan satu tarikan nafas, Liam sukses mengucapkan qobul dan seruan para tamu yang hadir menandakan bahwa prosesi ijab qobul telah berjalan sukses.
SAH
SAH
Setelah itu dilanjutkan dengan acara ramah tamah antara tuan rumah dan para tamu undangan. Hanya kerabat dekat dan para sahabat dari Liam yang mengahadiri acara sakral tersebut.
Waktu terus bergulir tak terasa sudah sore menjelang malam. Para tamu undangan telah berpamitan sejak satu jam yang lalu. Yang tersisa hanya para sahabat dekat Liam. Ya, Liam mempunyai 3 orang teman sejak dari masa sma. Hingga kini mereka masih menjalin persahabatan bahkan semakin dekat.
Keempatnya tengah mengobrol santai di gazebo yang terletak di samping rumah. Karena dua orang teman Liam ada yang merokok jadi, mereka lebih baik berkumpul di luar rumah.
"Hei Liam, ngak nyangka gue ternyata elo bakal nyusul Edwin dan Willy menikah. Nenu diman lo istri secantik itu? Jadi iri gue." Diantara mereka berempat ada 2 orang yang sudah berumah tangga yaitu Edwin dan Willy. Sedangkan Liam dan Juan masih tetap betah melajang.
Hingga pernikahan mendadak Liam membuat ketiga sahabatnya begitu terkejut dan juga senang karena akhirnya satu lagi sahabat mereka yang telah mengakhiri masa lajangnya
__ADS_1
"Nemu nemu, memangnya bini gue barang apa. Sudah, yang terpenting sekarang gue udah menemukan pasangan hidup dan kapan lo nyusul, Juan?." Liam malah menyindir balik Juan yang kini tinggal satu-satunya yang masih menjomblo.
"Iya iya, tunggu saja ngak lama lagi lo lo pada bakal dapet undangan dari gue." Jawab Juan tak mau kalah.
"Jangan bilang undangan ulang tahun lagi bukan undangan nikahan lo." Ucap Willy meledek Juan dan ketiga nya mentertawakan Juan yang tak berkutik.
Saat mereka tengah asik bersenda gurau, sorot mata Liam menangkap pemandangan yang membuat hatinya panas seketika.
Dikejauhan ia melihat Vania tengah berbicara dengan Wira san tampak begitu dekat. Entah apa yang keduanya perbincangkan karena terlihat mimik wajah Vania tersipu malu dan Wira pun menatap dalam pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Liam–hey,lo lagi liatin siapa sih serius amat?" Juan menepuk bahu Liam yang tampak fokus menatap seseorang dan ketiga temannya pun ikut melihat kearah pandang Liam.
"Eh, itu Wira kan? Kelihatannya adek lo akrab sekali ya sama istri cantik lo. Awas...hati-hati nanti–."
Plakkk
Edwin mengeplak bahu Juan yang bicara ceplas ceplos seakan memanas-manasi Liam.
"Liam, udah jangan di bawa serius omongan si Juan. Sembarangan aja tu anak. Calm down, bro!' Edwin menepuk-nepuk bahu Liam agar tidak baper melihat istrinya dan sang adik yang tampak begitu dekat.
Omongan para sahabatnya tak di dengarkan olehnya. Liam beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju kedalam rumah. Sepertinya Liam ingin menghampiri Vania dan Wira.
"Ekhem–kalian sedang apa?"
"Kak Liam–."
"Tu–tuan–."
"Aku tanya apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Liam dengan sorot mata tajam menatap keduanya bergantian.
Wira tahu saat ini kakaknya itu tengah terbakar api cemburu."Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian dan sekalian aku mau berpamitan pada Vania...oh, maksudku kak Vania. Karena besok aku sudah harus berangkat ke London. Kakak sudah tahu , kan?"
"Hem–ya sudah. Kalau begitu selamat jalan dan semoga kamu sukses di sana."
"Terima kasih, Kak." Kedua kakak beradik itu pun saling berpelukan hangat. Sekeras apapun Liam pada Wira. Ia tetap akan selalu menyangi adiknya.
Vania menghela nafas lega melihat kedua laki-laki tampan dihasapannya yang sesdang berpelukan erat tidak seperti hari-hari yang lalu.Keduanya tak pernah akur selalu bersitegang dan salah paham karena dirinya.
"Liam–ajak Vania ke kamarmu, kasihan pasti dia sangat lelah!"
"Ke‐kamar? Maaf Ma, Kiano pasti sudah kehausan sejak tadi.Vania mau ke Kiano dulu ya Ma." Tiba-tiba Vania merasa gugup dan tegang. Apa malam ini ia harus tidur dikamar Liam. Rasanya Vania belum siap untuk itu.
Bersambung
__ADS_1