Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
103.S2. Pengakuan Inara


__ADS_3

Tubuh Inara tersungkur cukup keras bersamaan dengan itu seketika rasa nyeri di bagian perut semakin mendera. Inara meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Arghh–sakitt sekali."


Sementara itu orang yang menolong Inara terus menghajar kedua laki-laki yang berniat melecehkan Inara. "Kurang ajar kalian, dasar laki-laki brengsek. Apa kalian ingin–."


"Tu–tuan Muda, tolong saya!" Inara melihat sosok orang yang menolongnya ternyata adalah Kiano dan ia mengiba agar sang tuan muda mau menolongnya.


Mendengar suara rintihan kesakitan Inara, gegas Kiano menghampiri Inara dan betapa terkejutnya ketika ia melihat wajah Inara yang memucat dengan bulir keringat yang membasahi disekujur tubuhnya. "Inara, kamu kenapa?"


"Sa–sakit Tuan Muda. Tolong saya!"


Tanpa membuang waktu Kiano gegas membopong Inara lalu membawanya keluar dari club. Kiano mendudukkan Inara di kursi penumpang depan. Setelah itu Kiano langsung melesatkan kendaraannya dengan kecepatan penuh menuju le rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Inara terus memegangi perutnya dan hal itu membuat tanda tanya tersendiri bagi Kiano. Dan yang membuatnya mengernyit heran saat menyadari perut Inara yang tampak agak menonjol. 'Kenapa perutnya agak buncit ya? Ah....ngak mungkin, paling dia memang agak berisi sih.' Itulah yang terbersit di pikirannya.


Sesampainya di rumah sakit, Inara langsung masuk ke IGD untuk mendapatkan penanganan. Sedang Kiano menunggu di depan ruang IGD.


Sementara itu di Club. Tampak Jay yang tengah kebingungan mencari keberadaan Inara. Pasalnya ialah yang bertanggung jawab atas keselamatan Inara. Itu janjinya pada Vania ketika meminta izin untuk membawanya ke acara tersebut. "Waduh....bagaimana ini kalau sampai tante Vania tahu Inara hilang. Bisa habis gue di ceramahin."


"Lagian lo Jay malah asik sama cewek-cewek lain padahal lo yang ngajak Inara. Rasain lo bakal kena omelan tante Vania apalagi kalau sampai Kiano tahu, deuhh....gue ngak bisa ngebangin rupa lo nanti pas kena bogem mentah Kiano. Siap-siap lo." Bukannya menenangkan temannya yang sedang gundah malah memanas-manasi keadaan. Dasar teman lucnut.


"Coba sekarang lo telpon Inara, barang kali aja sekarang diangkat!" Saran Tony.


"Oke, gue telpon sekarang." Jay langsung meraih ponselnya dari dalam saku celannya lalu, segera mendial nomer Inara.


Dan beberapa saat kemudian panggilannya pun langsung diangkat. "Ya, hallo Nara. Kamu sekarang dimana? Aku mencarimu sejak tadi."


"Ini gue Kiano bukan Inara. Cepetan lo ke RS. XXX sekarang, ada yang perlu gue omongin sama lo. Penting dan ngak pake lama!" Jay sempat kaget karrna ternyata yang menjawab panggilannya adalah Kiano.


Erwin dan Tony saling pandang heran dengan ekspresi wajah Jay sesaat setelah menelpon Inara. " Jay, kenapa lo malah bengong kayak habis lihat setan aja. Ada apa sih? Inara baik-baik saja kan?" Itu Erwin yang bertanya ikut mengkhawatirkan Inara juga.


"Itu–masa' yang ngakat telpon Inara si Kiano dan dia nyurih gue datang ke RS XXX katanya ada yang penting yang harus dia bicarain sama gue. Kira-kira ada apa ya? Apa jangan-jangan telah terjadi seauatu sama Inara lagi? Aduh....Mati gue!" Jay langsung lemas dan menepuk kepalanya sendiri.


Erwin menepuk pundak Jay lalu, mengajak sahabatnya itu untuk segera ke rumah sakit keburu Kiano marah. "Ya udah sih, kita langsung ke rumah sakit aja. Kita temanin kamu deh, jangan takut."

__ADS_1


"Bukan gitu guys, kalau beneran terjadi sesuatu sama Inara yang patut di persalahkan ya gue. Sebab gue lalai dalam menjaganya. Goblok banget sih gue."


Kembali ke Rumah Sakit. Kiano tampak mondar mandir didepan ruang IGD. Ia merasa begitu marah pada Jay, sahabat yang begitu di percayainya ternyata telah melakukan perbuatan yang begitu brengsek.


Flash back on


Dokter yang telah menangani dan memeriksa Inara keluar dari ruang IGD dan langsung bertanya pada Kiano tentang keluarga sang pasien.


"Maaf, apa anda suami atau salah satu keluarga dari pasien mbak Inara?"


Kening Kiano mengernyit bingung dengan pertanyaan sang dokter. "Eh, iya dok....saya adalah salah satu kerabatnya. Apa ada sesuatu yang harus disampaikan dok pada keluarganya?"


"Sebenarnya saya ingjn berbicara langsung dengan suami dari pasien karena ini menyangkut soal kandungannya."


Mata Kiano seketika membat sempurna mendengar penjelasan dari sang dokter. "Apa dok, maksudnya Inara hamil?"


Dokter pun membenarkan dan menjelaskan jika, kehamilan Inara sangat rentan di kehamilan trimester pertamanya disamping itu umur si calon ibu yang masih terlalu muda. Menambah resiko yang cukup besar. Mendengat semua penjabaran dari dokter tersebut mengenai keadaan Inaraembuat Kiano tak bisa berkata apa pun lagi. Setelah itu dokter pun undur diri setelah sebelumnya menyarankan agar Inara di bawa ke dokter spesialis kandungan untuk lebih memastikan usia kandungan dan bagaimana kondisi janinnya.


"Inara hamil? Siapa yang telah menghamilinya?" Kiano berpikir keras dan mencoba menebak-nebak siapakah gerangan ayah biogis dari janin yang dikandung Inara. "Oh....Jay, apa tu anak yang telah melakukannya? Oke, gue akan suruh dia kesini dan menjelaskan apa yang terjadi pada Inara.


Lima nelas menit kemudian Jay, Erwin dan Tony pun telah tiba lalu, langsung mencari keberadaan Kiano dan Inara yang masih berada diruang IGD.


"Ki–gimana keadaan Inara dan apa yang telah terjadi padanya? Maaf, gue tadi–."


BUGH


BUGH


"Dasar bajingan lo Jay, laki-laki brengsek! Tega-teganya lo melakukan hal keji itu pada Inara gadis yang masih polos dan tak mengerti tentang apapun yang berbau dewasa." Kiano langsung mendaratkan pukulan le wajah Jay, hingga wajah tampannya terluka dan laki-laki itu pun meringis kesakitan.


"Argh–sshh....apa-apaan sih lo Ki, tiba-tiba main pukul aja. Maksud lo apa ngatain gue brengsek segala. Gue akuin memang telah lalai menjaga Inara saat di pesta tadi tapi, bukan berarti gue udah ngapa-ngapain dia. "Jelasin, apa maksud lo nuduh gue kayak gitu!"


Kiano mencoba menahan emosinya . Kedua tangannya pun di cekal oleh Erwin dan Tony yang tak percaya akan tuduhan dari sahabatnya itu. "Iya Ki, jelasin dulu apa permasalahannya. Memangnya apa yang telah terjadi pada Inara saat di pesta tadi. Kami sudah mencari Inara kemana-mana takut terjadi sesuatu pada gadis itu.Jadi, sebaiknya lo jelasin dulu jangan main tuduh aja." Erwin yang biasanya suka bercanda kali ini.berbicara serius pada kedua temannya yang sedang berselisih paham itu. Tak jngin persahabatan mereka hancur hanya karena seorang perempuan.

__ADS_1


"Oke‐gue akan katakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada Inara. Lepasin tangan gue dulu!" Erwun dan Tony pun melepaskan cekalan tangannya pada Kiano.


Mereka berempat pun duduk di kursi tunggu dan Kiano pun mulai menceritakan kronologis kejadian yang telah menimpa Inara sampai dokter mengatakan jika, Inara saat ini tengah hamil. Sontak Erwin, Tony terutama Jay sangat syok mendengarnya.


"APAA! Inara hamil?" Jawab ketiganya bersamaan.


"Iya‐itu benar dan gue ngak lagi sedang bercanda guys. Dan gue yakin kalau Jay lah yang telah menghamilinya. Benar kan, Jay?" Kiano mulai tersulut emosi kembali mengira Jaylah si pelaku yang telah melakukan perbuatan biadab itu pada Inara.


"Wait wait....sabar Ki, maksud lo gue bapak dari janjn yang dikandung Inara? Enak aja lo main asal tuduh aja. Justru gue tu baru berniat ingin lebih dekat sama Inara dan gue ngak akan setega itu merusak gadis sebaik Inara. Udah gila apa." Jelas saja Jay langsung membantah tuduhan yang ditujukan kepadanya karena dia merasa memang benar-benar tidak pernah menyentuh Inara.


"Terus kalau bukan lo siapa yang telah menodai Inara? Atau salah satu diantara Erwin atau Tony.Siapa diantara kalian yang telah menodai Inara? Ayo mengaku!" Kiano beraluh menuduh diantara Erwin dan Tony yang telah menghamili Inara.


Keduanya pun tenti saja tak terima dan membantah tuduhan tersebut. "Wah....ini ada yang mesti diluruskan dan dicari akar permasalahannya, awal kejadian yang dialami Inara hingga dia sampai hamil. Sebaiknya kita bertanya langsung padanya." Tony menengahi dan menyarankan agar sebaiknya menanyakannya langsung pada Inara siapa pelaku yang sebenarnya. Kiano pjn akhirnya setuju lalu, mereka pun gegas masuk ke ruang IGD untuk menemui Inara.


"Hai Nara....bagaimana keadaanmu?"


Inara tampak begitu terkejut dengan kemunculan keempat pemuda itu. Apa mereka sudah mengetahui keadaannya? Lalu, ia harus bersikap bagaimana. Ia sungguh sangat malu.


"Sa–saya baik-baik saja." Inara menundukkan wajahnya karena malu dengan kenyataan bahwa dirinya saat ini memang benar-benar tengah mengandung.


"Inara, boleh kami bertanya sesuatu padamu?"


"Boleh Mas Jay, silahkan!' Inara mendongak menatap Jay yang sedang bertanya padanya.


"Eemm–begini Nara. Boleh kami tahu siapa ayah biologis dari janin yang kamu kandung saat ini?"


DEG


Jantung Inara berdebar semakjn cepat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jay barusan. Apakah ia harus memberikan jawaban yang sebenarnya? Tapi, bahkan Kiano yang telah menghamilinya saja tak mengingat akan perbuatannya yang telah menodainya. Lalu, apa tuan mudanya itu akan percaya dan menerimanya. Inara semakin bingung.


"Inara‐kenapa malah diam saja. Jangan takut, katakan yang sejujurnya siapa laki-laki itu!"


"Di–dia adalah Tu–an muda Kiano."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2