Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
82. Kirena Azzahra


__ADS_3

Semua bernafas lega dan diliputi kebahagiaan tentunya karena Kelahiran baby girl Vania dan Liam berjalan dengan lancar, selamat dan bayi cantik itu pun terlahir sehat dN normal.Seorang perawat membawa bayi Vania keruang perawatan khusus bayi. Sedangkan Vania dipindahkan di ruang perawatan kelas VVIP.


"Wira–kenapa kamu malah bengong? Ayo cepat sana jemput Shinta dan Kiano!" Perintah Mama Helan pada putranya.


"Sebentar lagi lah, Ma. Aku belum mengucapkan selamat pada Vania dan kak Liam."


"Alasan saja. Sudah sana....Mama bilang sekarang ya sekarang, Wira." Mama Helen mendorong tubuh Wira agar segera keluar dari ruang perawatan Vania.


Sesampainya di kediaman Liam, Wira bergegas mencari keberadaan Shinta dan Kiano. "Mbak, dimana Shinta dan Kiano?" Tanya Wira pada seorang asisten rumah tangga.


"Oh, Mbak Shinta sama den Kiano sepertinya ada.dikamar den Kiano, Tuan." Jawab wanita itu.


Tak berkata apa-apa lagi, Wira bergegas melangkah menuju ke Kamar sang keponakan. Tanpa mengetuk pintu ia pun langsung masuk dan ia tertegun ketika menyaksikan pemandangan yang sungguh membuat hatinya terenyuh. Shinta dan Kiano tengah tertidur dalam posisi saling berpelukan. Tangan mungil Kiano berada tepat diatas salah satu gunung kembar Shinta. "Ya ampjn di bocil, masih kecil sudah ngerti aja tempat pavorite." Perlahan Wira memindahkah tangan mungil Kiano dari benda miliknya. "Enak saja kamu bocil main nempel aja, ini punya om tahu–."


Wira tak tega membangjnkan keduanya. Ia malah ikut merebahkan diri tepat dibelakang Shinta. Rambut Shinta yang sangat harum membuat dirinya merasa nyaman dan tenang. Dan tak berapa lama Wira pun ikut tertidur.


Tepat pukul setengah satu siang Shinta terbangun dan mulai membuka matanya. Ia terlonjak kaget karena merasakan ada sebuah tangan yang memegang dadanya. Namun, keterkejutannya terhenti ketika menyadari siapa orang tersebut yang ternyata adalah suaminya sendiri. " Mas Wira, sedang apa dia disini?"


Shinta tak membangunkan Wira, ia beranjak turun dari atas tempat tidur dan meninggalkan suami dan sang keponakan tersayang. Ia keluar dan menuju ke dapur. Perutnya terasa keroncongan karena waktu makan siang pun telah lewat.


"Mbak Shinta sudah bangun. Apa mbak mau makan siang sekarang?" Tanya Santi salah satu asisten rumah tangga Vania.


"Iya Mbak Win. Perut saya sudah keroncongan banget. tolong siapkan ya,Mbak. Saya mau panggil Mas Wira dulu."


"Iya Mbak Shinta."


Shinta pun melangkah kembali menuju kekamar Kiano untuk membangunkan Wira. Saat masuk ia melihat suaminya sudah tidak ada diatas tempat tidur. "Mas Wira sepertinya baru dikamar mandi."


Tak berselang lama Wira pun keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang tampak segar setelah mencuci muka. Pandangan mereka bertemu dan Shinta langsung memutusnya dengan mengalihkan penglihatannya ke arah temoat tidur bertepatan dengan Kiano yang baru saja terbangun. "Eh, sayangnya onty sudah bangun. Ayo, kita maem dulu ya!" Shinta menghampiri Kiano lalu, menggendong balita bertubuh montok itu. Namun, Wira langsung mengambil alih balita itu dan menggendongnya.


"Sini, biar aku saja. Kamu jangan menggendongnya, berat!" Shinta hanya mengangguk patuh.


"Kenapa kamu malah diam saja, katanya mau makan?" Wira yang baru saja melangkah sambil menggendong Kiano, menoleh kebelakang dan melihat Shinta yang hanya diam lalu, menegurnya.


Mereka pun makan siang bersama. Shinta sangat senang karena jarang-jarang mereka bisa makan bersama seperti ini. Bayi yang ada di dalam rahimnya pun sepertinya ikut merasa bahagia. Terbukti dengan terus bergerak lincah membuat Shinta sampai meringis karena tendangan yang cukup kuat dari baby boy. "Sshhh....."

__ADS_1


"Kamu kenapa Shin, apa perutmu sakit? Ayo, kita kerumah sakit!" Wira tentu saja mendengar suara ringisan Shinta sambil memegangi perutnya. Seketika Wira langsung panik dan mengira jika, istrinya itu akan melahirkan juga.


Shinta menggelengkan kepalanya. " Eh, enggak-enggak Mas. Ini baby boy cuma menendang saja. Mungkin sedang bermain bola." Jawab Shinta sambil tertawa.


"Bikin kaget saja kamu, boy." Wira lalu mengelus-elus perut sang istri dan mengajak sang jabang bayi berbicara dan ajaibnya si baby boy langsung anteng tak menendang-nendang lagi.


"Eh, dia langsung anteng. Nurut sama ayah ya?" Wajah Shinta berbinar karena bayinya diberi perhatian oleh sang ayah. Shinta merasa bahagia walaupun perhatian itu hanya ditujukan untuk bayinya. Baginya itu sudah cukup ia tak berharap lebih.


Menjelang sore hari, Wira mengajak istri dan keponakannya kerumah sakit untuk menjenguk Vania dan bayi nya. Diruang perawatan tampak semua anggota keluarga begitu antusias menyambut kelahiran baby girl.


Semua menoleh kearah pintu yang baru saja dibuka dari luar dan munculah Wira, Shinta dan si balita tamoan yang baru saja mempunyai adik siapa lagi kalau bukan di bocah tampan Kiano.


"Eh, cucu uti sudah datang. Ayo ayo sini, lihat dedek bayi ya!" Mama Helen langsung menyambut kehadiran mereka dengan langsung menggendong Kiano lalu, mendekat ke box bayi. Namun, arah mata Kiano terpatri pada sang bunda dan alhasil malah merengek minta bersama dengan sang bunda. Vania yang tak tega langsung meraih putra kecilnya daeangkunya.


"Nda– kanen." (Bunda kangen) Vania mencium gemas wajah putra tampannya itu. Balita itu menuruti ketampanan dari sang ayah. Liam versi mini bak pinang dibelah dua.


"Mas Kiano ngak mau lihat dedek Rena?" Liam membujuk putranya untuk melihat sang adik bayi. Namun, sepertinya Kiano sama sekali tak tertarik balita itu malah memeluk erat posesif sang bunda. Mungkin Kiano cemburu pada adiknya.


Mereka pun tertawa melihat tingkah manja dan keposesifan Kiano pada sang bunda karena kecemburuannya. "Titisan ayahnya itu sih." Mama Helen yang menyeletuk sebab ia jadi teringat ketika Liam masih kecil dulu yang juga super cemburu pada adiknya.


"Huh–kenapa jadi aku yang kena? Mama, Papa....kalian ini kenapa buka aib sih." Liam memasang muka kesal kearah kedua orang tuanya.


Shinta mendekat dan memberi ucapan selamat pada sang kakak. "Mbak, selamat ya atas kelahiran baby girl. namanya siapa, mbak?"


"Terima kasih ya, Shin. Namanya Kirena Azzahra."


"Wah, cantik sekali namanya,Mbak. Hai....baby Kirena, ini onty Shinta. Salam kenal." Shinta mendekati box bayi lalu mengelus pipi halus nan lembut bayi cantik Kirena.


"Panggilannya Rena, Shin." Vania


"Oh, iya....hai baby Rena, sayang. Mbak, aku boleh gendong?"


"Tentu saja boleh lah, Shin. Bisa tidak?"


Shinta hanya menyengir, sebenarnya ia agak ngeri.Takut salah cara menggendongnya dan bayi mungil Rena bisa terkilir. "Biar Mama bantu ya, supaya kamu bisa belajar dari sekarang. Sebentar lagi kan kalian juga akan mengurus bayi kalian sendiri. Wira, dengar apa yang Mama bilang, jangan benging saja. Mikirin apa sih, kamu?"

__ADS_1


Mama Helen mendekati box bayi, mengangkat baby Rena lalu, membantu Shinta dan sekalian mengajari cara menggendong bayi dengan benar. Lalu, mata Mama Helen menangkap Wira yang tengah melamun entah apa yang sedang dipikirkan putra bungsunya itu. Dan yang jelas arah pandangannya tak lepas menatap Vania. Shinta yang menyadarinya pun sebisa mungkin berpura-pura tak melihatnya. Hatinya rasanya begitu terluka tapi tak berdarah. "Terima kasih, Ma." Shinta menerima baby Rena kedalam dekapannya.


"Wira– kamu dengar ngak sih perkataan Mama?" Mama Helen mengeplak lengan sang putra.


"Aduh, sakit Ma. Iya iya....aku dengerin semuanya kok, ibu ratu." Wira mengelus-elus lengannya yang terasa lumayan sakit. Mama Helen memukulnya cukup keras karena gemas dengan tingkah laku Wira yang tidak sopan.padahal disana ada Shinta, apa dia tidak bisa menjaga perasaan istrinya. Untung saja Shinta tak menyadarinya. Mama Helen tak tahu saja jika, Shinta memendam rasa luka di hatinya.


Dua bulan telah berlalu dan kini baby Kirena sudah berumur 2 bulan. Saat ini Vania dan Liam sedang berada dirumah sakit untuk memeriksakan bayi mereka. Ketika tengah menunggu di depan ruang poliklinik anak. Vania melihat Shinta dan Wira yang sedang berjalan menuju kerarahnya. Poli Kandungan memang bersebelahan dengan Poli Anak.


"Mas, itu Shinta dan Wira."


Liam melihat kearah yang ditunjuk Vania. "Oh iya, mereka palingan mau kontrol kandungan." Vania pun mengangguk dan langsung melambaikan tangan pada sang adik.


"Shinta–Sini!."


"Mbak Vania. Sedang apa?"


"Ini mau memeriksakan Kirena. Agak rewel sejak semalam."


Shinta pun mengerti. " Hemm, semoga baby Rena baik-baik saja ya, Mbak." Shinta mengecup kening bayi cantik Kirena yang berada di pangkuan Vania.


"Mau kontrol ya?" Vania mengelus perut besar Shinta yang sudah tampak turun.


"Kayaknya ini sudah dekat ya, sudah kelihatan turun kebawah banget. Ngak sabar pingin lihat baby boy kamu, Shin. Pasti bakalan ganteng kayak bapaknya." Shinta hanya menanggapi dengan kekehan saja.


"Baby Rena juga sama, sangat cantik seperti bundanya. Untung ngak mirip ayahnya." Celetuk Wira membuat Liam kesal dengan perkataan adik songingnya itu.


"Biarin, yang penting setia. Raga dan hatiku hanya milik istriku seorang." Perkataan Liam seketika menampar Wira.


"Maksud kakak apa berkata seperti itu?" tanya Wira merasa tersindir.


"Ngak usah pake nanya. Pikir aja sendiri. Oh ya, Shin nanti kalau ada apa-apa kabari mas atau mbakmu ya!" Liam tak mengindahkan pertanyaan Wira, ia malah mengajak berbicara Shinta.


"Iya Mas Liam. Terima kasih." Jawab Shinta. Shinta mengerti maksud dari ucapan dari kakak iparnya itu. Tapi, Shinta mencoba untuk kuat dan berpura-pura tak tahu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2