Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
52. Menghadiri Pesta


__ADS_3

Setelah memilih beberapa gaun milik Vania, akhirnya Shinta memutuskan akan mengenakan dress esmeralda sedehana namun tampak elegan yang mengekspos bahu Shinta yang putih mulus. Shinta mematut-matut dirinya didepan cermin ketika mencobanya tapi, ada rasa tak percaya diri saat mengenakannya. Menurutnya bagian atasnya terlalu terbuka.


"Mbak, kayaknya ini terlalu terbuka deh."


Enggak lah Shin, kamu malah terlihat anggun apalagi bahumu ini cantik.Sudah pakai yang ini saja. Oh ya, kamu mau diantar supir atau gimana?"


"Ngak usah mbak, kayak orang kaya aja. Nanti aku barengan sama teman. Mbak ngak usah repot-repot." Shinta merasa tidak enak jika selalu merepotkan sang kakak lagi pula ia tak sepede itu sampai diantar oleh seorang supir. Shinta masih sadar diri kalau dia hanyalah dari kalangan biasa bahkan bekerja sebagai pembantu.


Vania tidak suka jika Shinta selalu saja rendah diri. Ia dulunya juga hanyalah seorang pembantu karena menikah dengan Liam jadi kehiduoan Vania berubah menjadi lebih baik, bahkan berlebih.


Saat mereka masih berada didalam kamar Vania, tiba-tiba muncul mama Helen yang datang sambil menggendong Kiano. "Halo....bi Arum bilang kalian dikamar. Eh, kalian sedang apa sih?"


"Mama–kapan datang. Maaf, Vania ngak tahu kalau Mama mau datang." Vania mencium punggung tangan sang ibu mertua tak lupa bercipa cipiki.


Tatapan mata Mama Helen beralih pada Shinta yang masih mengenakan gaun yang sedang di cobanya. "Wow...kamu cantik banget Shinta. Mau pergi ke pesta ya?"


Dipuji seperti itu membuat Shinta jadi tersipu malu. Baru kali ini ada yang memujinya cantik. Atau mungkin karena gaun indah yang ia pakai maka, ia jadi terlihat cantik. Shinta tak mau terlalu ge'er. "Nyonya bisa aja. Gaunnya yang cantik."


"Emm–gaun nya dan terutama orang yang mengenakannya yang cantik. Kamu itu cantik Shinta kenapa sih selalu saja rendah diri. Percaya diri dong, sayang." Mama Helen memberi support agar Shinta lebih percaya diri.


Mama Helen kemudian ikut duduk di sisi tempat tidur sambil memangku Kiano."Memangnya kamu mau kepesta dalam rangka acara apa?" Tanyanya penasaran.


"Itu nyonya, salah satu teman dikampus saya akan mengadakan pesta perayaan ulang tahunnya yang akan diadakan disebuah hotel. Em...kalau ngak salah nama Amaris Hotel Tahamrin City. Acaranya besok malam." Jelas Shinta pada sang majikan.


"Begitu, kamu nanti diantar sama siapa?"


"Saya nanti barengan sama teman, nyonya."


"Apa perlu nanti pak wito yang akan mengantar kamu dan temanmu." Mama Helen menawarkan supirnya untuk mengantar Shinta.


Lagi-lagi Shinta menolak tawaran untuk diantar dengan supir. Ia malu dan takut teman-temannya akan salah paham dikira ia anak orang kaya. Apa jadinya kalau mereka tahu yang sebenarnya bakal di bully habis-habisan nantinya. "Terima kasih, nyonya tidak perlu. Yrman saya juga membawa kendaraannya sendiri." Dan Mama Helen pun tak lagi memaksa karena Shinta kekeuh tak ingin diantar.

__ADS_1


Menjelang sore hari Mama Helen dan Shinta pulang. Setelahnya Shinta membantu Mbak Hermi salah satu art dikediaman kekuarga Ghazala. Malam harinya Shinta pun mengerjakan tugas kuliahnya.


Sementara itu di tempat lain, Liam baru saja pulang dari kantor. Seharian ia begitu padat dengan pekerjaannya. Ketika memasuki kedalam kamarnya ia melihat istrinya yang telah terlelap di atas tempat tidur. Perlahan Liam mendekat lalu mencium kening sang istri tercinta. Sentuhan itu ternyata membangunkan Vania dan seketika matanya yang memejam pun mulai tetbuka. "Mas sudah pulang. Maaf, aku ketiduran." Vania bengkit dan hendak turun namun, langsung dicegah Liam.


"Tidak usah bangun lanjutkan saja tidurnya, kamu pasti sangat lelah seharian ini mengurus Kiano."


"Kecape'an apa. Ya enggaklah...kan ada bi Arum yang membantu. Aku akan siapkan air hangat untuk mas mandi. Sebantar!" Vania tak mengindahkan anjuran sang suami, ia melangkah ke kamar mandi diikuti oleh Liam yang mengekorinya.


Vania sampai terlonjak kaget karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari arah belakang dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Liam, suami bucinnya. "Astagfirullah Mas, kamu ngagetin aja sih. hampir saja copot jantungku."


"Jangan sampai copot dong sayang, kalau yang lainnya.dicopot sih ngak masalah malah bagus?"


Mendengar perkataan ambigu suaminya seketika membuat Vania memicing curiga apalagi melihat tatapan mesum sang suami. Sudah dipastikan Liam ada maunya. "Pasti ada maunya deh?"


Liam tersenyum dan menaik turunkan alis matanya. "Ah, istriku ini sangat pengertian sekali ya. Jadi boleh dong...satu ronde saja, Yang. Ini si John sudah ready!"


Vania mengalihkan pandangannya mengikuti arah mata sang suami yang menunjuk kearea bawah dan sontak ia terbelalak sebab benar apa yang dibilang Liam jika senjata pamjngkas milik suaminya telah siap bertempur tampak berdiri dengan gagah perkasanya. "Ya ampun sudah on aja si John." Vania menepuk keningnya tak habis pikir dengan libodo suaminya yang gampang sekali terpancing. Padahal ia sama sekali tidak menggoda Liam.


Keesokkan malamnya, Shinta telah bersiap unyuk berangkat ke tempat pesta Rendy. Sesuai janji Tari datang menjemput Shinta. "Selamat malam tante, saya mau menjemput Shinta."


"Oh iya, mari masuk dulu. Shinta-nya sebentar lagi juga siap. Acaranya sampai jam berapa?" Tanya Mama Helen. Ya, Mama Helen yang melihat kedatangan Tari langsung menghampirinya lalu mempersilahkan gadis itu untuk menunggu Shinta didalam.


"Terima kasih tante, saya menunggu disini saja." Tari tahu jika Shinta dirumah itu hanyalah seorang art jadi, tentu saja ia merasa tidak enak jika menunggu didalam. Mama Helen mengangguk dan tersenyum ramah tak ingin memaksa.


Tak berselang lama Shinta pun muncul lalu segera menghampiri sahabatnya itu. Tari begitu terperangah melihat penampilan Shinta yang sangat cantik tampak berbeda dengan kesehariannya. Ya tentu saja sehari-hari jika kekampus ia memakai pakaian sederhana, hanya kemeja atau kaos lengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans atau celana kulot. " Wah Shinta, kamu cantik banget."


"Bisa aja kamu Tari. Yuk ah, gila let's go dah jam berapa ini." Shinta tak ingin ge'er dengan pujian yang dilontarkan sahabatnya dan kedua gadis itu pun segera berangkat.


Amaris Hotel Thamrin City.


Setelah memakan waktu hampir tiga puluh menit perjalanan, akhirnya kedua gadis muda itu pun tiba di gedung hotel mewah tempay diadakannya pesta. Shinta dan Tari melangkah memasuki lobby hotel lalu menuju ke ballroom tempat acara yang akan berlangsung. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan ada yang mereka kenal karena sama-sama berkuliah di tempat yang sama dan ada juga mahasiswa/i dari luar kampus mereka.

__ADS_1


"Ternyata tamu undangannya banyak juga ya, tuh lihat mereka yang datang oke-oke tampilannya. Ngak heran sih, Rendy kan memang anak orang kaya. Ngak seperti kita ya Shin?" Tari malah memperhatikkan dan mengagumi orang-orang yang berlalu lalang.


"Sama kayak kamu juga kan, Tar. Kamu selalu merendah deh. Kamu kekampus saja pakai mobil jadi, jangan samakan dengan aku yang cuma seorang art." Ya, Tari sebenarnya juga anak dari kalangan berada. Hanya saja gadis itu tidak pernah menyombongkan diri akan kekayaan keluarganya. Itulah yang membuat Shinta nyaman berteman dengan Tari.


"Dah ah, ngak usah ngebahas harta dan tahta. Yuk kita masuk dan mengucapkan selamat sama yang sedang ulang tahun."


Setelah melihat keberadaan Rendy yang sedang di kerubuni oleh para cewek-cewek yang hendak mengucapkan selamat, Shinta dan Tari pun ikut mendekat.


"Selamat ulang tahun ya Ren." Tari yang pertama kali mengucapkan selamat pada Rendy. Namun, pandangan Rendy tertuju pada Shinta yang berdiri disebelah Tari.


"Hai Shin, kamu cantik banget malam ini. Terima kasih ya sudah datang. Aku senang sekali." Rendy mulai mengeluarkan jurus gombalannya untuk membuat Shinta bertekuk lutut padanya.


"Eh, iya terima kasih. Selamat ulang tahun ya Rendy." Shinta menjulurkan tangannya dan langsung disambut antusias oleh Rendy. Genggaman tangan Rendy yang begitu erat serta tatapan mata Rendy yang begitu dalam membuat Shinta tersenyum meringis. Ia merasa aneh dengan sikap Rendy saat ini.


"Oke, selamat bersenang-senang ya guys. Sorry Shin, Tar...aku mau keatas panggung dulu ya acara sudah akan dimulai."


Sementara itu di kediaman Ghazala, Wira tampak tengah bersiap untuk pergi.Penampilannya sangat rapi walupun tak terlalu formal. Namun, tetap saja Wira terlihat mempesona. Bagaimana tidak, Pria dewasa yang tampan dan mapan siapa wanita yang tak akan terpincut olehnya.


"Wir, kamu mau pergi keluar juga? Mau kemana?" Mama Helen yang melihat putra bungsunya itu langsung bertanya mau kemana tujuan putranya itu akan pergi.


"Aku ada acara kumpul-kumpul sama temab-teman kuliah dulu, Ma." Jawab Wira.


"Ngak pake acara minum-mknum kan Wir?" Tanya Mama Helen curiga .


"Ya ampun Ma, memang aku masih anak bau kencur apa masih dicurigai aja. Aku bisa jaga diri lah Ma ngak akan berbuat hal yang tidak-tidak.Lagian cuma dekat di Thamrin City...Amaris Hotel."


"Eh‐Amaris Hotel.Berarti sama dimana Shinta menghadiri acara pesta ultah temannya. Nanti, kamu bisa tolong awasi Shinta ya Wir, kasihan dia kan masih awam di kota Jakarta."


Wira mengernyitkan keningnya. "Shinta...ada di Amaris Hotel? iya, lihat saja nanti deh kalau aku ngak lupa."


"Wira–."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2