
Mereka sudah sampai di mansion masing-masing. Myria terbangun saat pertengahan perjalanan. Kini dia sudah terbiasa dengan situasi berbeda saat tidur dan bangun tidur, wanita itu tidak terlalu kaget.
“dimana pakaianku?” Myria tidak menemukan koper yang dia bawa kemarin. Disini bajunya terbatas dan sudah berkurang banyak untuk dia bawa ke Maldave.
“kau tidak perlu banyak gaun” Ucap Gael dan dia kembali menyerang tubuh Myria yang masih polosan dibalik jaketnya.
“apa semalam belum cukup!?” Myria mencoba menghentikan aksi Gael
“cukup jika kau tidak pingsan” itu kalimat terakhirnya, sebelum mereka kembali mengulang aktifitas panas. Gael seakan tuli dengan kalimat-kalimat penolakan Myria, dengan bebas dia memperlakukan wanita itu.
Sedangkan disisi lain Ansel baru saja menerima telpon dari Ivar, jika seseorang yang mengaku sebagai ayah Myria kemarin malam datang ke bar nya. Dia mencari anaknya dan siap menebus dengan harga yang lebih tinggi.
“kau yakin dia memiliki uang?” tanya Ansel dengan wajah curiga.
“ saya tidak tau tuan, tapi dari raut wajahnya dia sangat menyakinkan” jawab Ivar, sontak saja hal ini seakan memberikan Ansel alasan untuk menyingkirkan Myria dari hidup Gael, karena dirinya memiliki firasat jika Gael benar-benar ingin memiliki wanita murahan itu. Dan itu tidak bisa dibiarkan.
“kau buat janji denganku malam ini” Ansel puas dengan berita yang baru saja dia dengar.
“baik tuan” jawab Ivar disebrang sana. Sebetulnya dia tidak berniat mengatakan hal ini pada tuan Ansel. Namun karena ayah Myria datang dengan membawa seseroang penting lainnya dan imbalan yang menggiurkan jadinya Ivar bersedia memberitahu Ansel mengenai hal ini.
“akhirnya kau bisa pergi” desis Ansel, dengan kepergian Myria dari Gael, dia bisa leluasa membalas dendam pada wanita itu.
__ADS_1
Tepat malam harinya Ansel tanpa perlu memberitahukan kepada Gael langsung datang ke Bar milik Ivar. Sejak awal memang dialah yang membeli wanita murahan itu jadi secara otomatis dialah yang berhak memutuskan.
“tuan Ansel anda sudah datang, mari saya antar” Ivar sudah bersiap sejak tadi. Dia memiliki tamu penting hari ini, jadi tidak berani meninggalkan Bar.
“dia sudah datang?” Ansel berbasa-basi. Karena dia tidak mau menunggu.
“tentu saja, mereka sudah menunggu anda dari tadi” jawaban Ivar membuat Ansel puas. Sepertinya tidak hanya ada ayah Myria saja. Dan menurut Ansel Mereka cukup beretika padanya.
Langkah Ansel semakin dekat, begitu pintu terbuka semua orang berdiri menyambutnya, kecuali satu orang. Dan Ansel mengenali siapa itu. Dia Melviano, seseorang dari kelompok sebelah. Ansel tidak menyangka jika ayah Myria memiliki koneksi sejauh ini.
“selamat malam tuan Ansel” ucap lelaki paruh baya, dan Ansel menebak jika itu adalah ayah Myria.
“tak perlu basa-basi, jadi berapa harga yang kalian siapkan untuk menebus wanita murahan itu” Ansel tidak perlu menjaga ucapannya, mereka bukanlah tandingannya.
“hahaha, sudahlah jangan sok suci, kau sendiri yang membuatnya seperti ini” Ansel mengambil gelas winennya.
Witton ditenangkan oleh Melviano, lelaki itu menyuruhnya menahan emosinya.
“berapa yang kau inginkan?” giliran Melviano yang mengambil alih.
“aku tidak mengira jika kelompok kalian juga mengurusi masalah amal seperti ini, baik hati sekali” bukannya menjawab Ansel terus saja membuat panas hati tamunya seakan mengolok-olok niatan mereka.
__ADS_1
“jadi bagaimana?” Melviano mulai sedikit kepancing.
“hahahaha, 10 milyar” jawab Ansel asal. Dia ingin memanfaatkan situasi ini dengan baik.
“baik” ucap Melviano cepat.
“apa kau kekasihnya?” Ansel penasaran kenapa dia mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi wanita murahan itu. Bahkan dengan cepat langsug menyetujui tawara gila darinya.
“bukan urusanmu” Melviano menjawab ketus. Ansel semakin senang dengan respon yang lelaki itu berikan. Semua tidak masalah yang penting wanita itu bisa pergi dari kehidupan Gael.
“dimana Myria?” tanya Witton.
“sepertinya sedang melayani anak buahku, hahaha” Ansel masih belum cukup menggoda kedua tamunya. Baik Witton dan Melviano sama-sama menahan amarahnya, kesepakatan mereka belum selesai jadi harus menjaga sikap. Jangan sampai mereka terpancing dan membuat kesepakatan ini batal.
“kapan hari pertukarannya?” Melviano tidak mau bertele-tele lagi selagi kesabarannya belum habis.
“ 3 hari lagi” Ansel perlu mengalihkan Gael agar dia bisa dengan tenang membawa Myria.
“kenapa begitu lama?” Witton protes, dia tidak mau anaknya lebih lama lagi tinggal bersama lelaki sakit jiwa ini.
“3 hari atau tidak sama sekali” Ansel menyeruput Winenya. Dia begitu tenang tidak merasa terintimidasi dengan tatapan garang dari Witton.
__ADS_1
“baiklah 3 hari lagi disini” ucap Melviano memastikan.
“Deal” jawab Ansel dengan masih sibuk memakan menu hidangan. Lelaki itu seperti sedang berbincang santai, padahal yang mereka bahas itu menganai kehidupan seseorang.