
Pagi hari yang di tunggu telah datang, ruang rapat PIN kali ini terasa sangat tegang daripada sebelumnya. semua anggota hadir dengan wajah tegang. Hari ini adalah hari pengambilan keputusan dalam hidup mereka. Mereka harus memilih antara tinggal atau pergi.
" tak perlu panjang lebar, di depan kalian sudah ada tumpukan uang gaji 1 bulan ini. Silahkan tulis jika kalian tidak mau mengambil resiko, karena bayaran misi ini adalah kematian, jika gagal" ucap Gael tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
Ansel diam saja menatap ke arah anak buahnya. Mereka saling pandang.
" saya, Masih baru memiliki bayi. Maafkan saya jika keputusan ini harus saya ambil" ucap salah satu bawahannya.
" tidak masalah, kemari" ucap Gael. Lelaki itupun maju dan menulis namanya.
" terimakasih Bos dan Tuan. saya akan mengingat jasa kalian dan 2M" ucap lelaki itu kemudian pergi setelah meletakkan name tag miliknya.
" selanjutnya!" teriak Gael, dia sudah tidak bisa bertele-tele. Waktu terus berputar dan mereka perlu menyiapkan berbagai hal untuk melakukan serangan balik.
" saya" ada satu orang lagi.
Kini sudah ada 10 orang yang memilih keluar, masih ada banyak orang yang tersisa. Ansel sedikit lega, namun berbeda dengan Gael. Dia malah kesulitan meneliti kepercayaan anggotanya. Bukannya dia meragukan namun Gael merasa kasihan jika mereka berfikir kalau ini hanyalah permainan.
Tak lama Gael mengeluarkan 5 sebuah revolver.
" jika kalian memang ingin lanjut silahkan maju dan letakan senjata ini di kening. kalian tarik pelatuknya. Aku hanya mengisi satu peluru dari semuanya" ucap Gael. Dia mempersingkat waktu.
Semua langsung membulatkan matanya. Situasi semakin mengancam. Ansel menatap Gael dengan penuh tanya.
" baiklah, berarti kalian keluar semua" ucap Gael setengah final.
" tidak tuan, Bos" beberapa langsung panik akibat gertakan Gael.
" jika tidak keluar, silahkan maju dan mencobanya"ucap Gael dengan santai.
Berselang lama salah satu orang maju, bukan untuk menulis nama namun mengambil revolver itu. Gael menatap dengan seksama.
Hal yang sama juga di lakukan semua orang yang ada di ruangan itu, menatap satu titik yang sama. Meskipun gemetar, lelaki itu meletakkan moncong Revolver tepat di keningnya. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.
klik. Satu tembakan kosong terdengar. Di detik yang sama lelaki itu terduduk lemas mengusap keringatnya. Gael menarik sudut bibirnya.
" kau hebat" sanjung Gael setelah melihat kesetiaan lelaki tersebut. Tak lama suara tepukan memenuhi ruangan.
" satu orang berjanji setia, siapa lagi?" teriakkan Ansel. Dia juga ikut merasa terharu dengan loyalitas anggotanya.
Beberapa setelahnya acara selesai. tidak lebih dari setengah anggota yang memilih setia. Seluruhnya terpaksa menulis namanya dan keluar dari PIN. Gael cukup puas dengan jumlahnya.
" kau sangat ekstrim, aku tidak bisa membayangkan jika benar ada korban jiwa" ucap Ansel mereka sedang beristirahat di sebuah bar setelah proses seleksi tadi.
" aku juga tidak mengira dari mereka cukup banyak yang setia" balas Gael dengan meminum anggurnya.
__ADS_1
" jadi benar kau mengisi satu peluru dari semuanya?" tanya Ansel, setelah proses seleksi tersisa satu tembakan.
door
Gael tanpa babibu langsung mengeluarkan revolver tersisa dan menembakkannya ke dinding.
" sial!!, kau bener mengisinya. bagaimana jika itu menewaskan anggita kita yang setia?" teriakkan Ansel karena tau jika ucapan Gael benar adanya.
" jika mereka cukup pintar semua ini jelas bisa di tebak. Tak ada yang berani mengambil tembakan terakhir karena memang sudah ada peluru di sana" jelas Gael dengan santai.
" kau gila!" Ansel masih sedikit syok. Sedangkan Gael tertawa puas. Mereka bisa memulai rencana serangan besok. Kali ini Gael juga ikut turun tangan, apa yang PIN terima harus segera dibalas kan.
Sesuai dengan rencana Gael, anggota baru yang tersisa tidak lebih dari 20 orang. Mereka termasuk yang ahli dan memang sudah lama masuk dalam anggota 2M.
" satu kelompok akan bertanggung jawab pada satu tugas. hanya ada 2, tugas lapangan dan pemantauan.... " Gael memimpin misi serangan dengan sangat yakin. Lelaki itu menjelaskan dengan detail kelemahan dan kelebihan pada masing-masing tugas agar mereka bisa mengantisipasi dan mencari alternatif rencana jika terpaksa gagal.
" kalian mengerti?" tanya Gael. Setelah menjelaskan. semua rencana.
" mengerti Bos" jawab mereka serempak. Ansel menatap dari layar di ruangan kerjanya. Dia sengaja tidak ikut untuk memberikan ruang lebih pada Gael.
" bagaimana perkembangan rencana kalian?" tanya Myria kepada Gael saat keduanya sedang makan siang. Luka tembak nya semakin membaik, Myria sudah tidak memakai kain penyangga siku.
" jangan memancingku" ucap Gael datar.
" Gael dengarkan aku, akan banyak sekali hal yang bisa aku lakukan. aku bisa beladiri, menggunakan senjata, aku juga menguasai beberapa hal terkait teknologi. Aku akan sangat membantu, ya. ikutkan aku dalam misi ini" Myria mengerek panjang lebar. Dia sangat ingin berhadapan dengan GM. kelompok yang selama ini dia cari.
" aku akan menemui Ansel" Myria akhirnya memilih jalan pintas.
" duduk!" Gael sangat mudah terpancing, jika Myria menyebutkan nama Ansel. Gael terlalu khawatir jika istrinya ini terlalu dekat dengan lelaki lain.
" kau setuju?" tanya Myria sambil menatap Gael penuh harap.
" tidak!" jawab Gael ketus.
" kau bilang akan memikirkannya, tapi kenapa sekarang melarang. Kau selalu saja seenaknya sendiri" Myria kembali merajuk, kali ini wanita itu terlihat lebih emosional.
Rasanya kepala Gael ingin pecah, kenapa Myria sangat sulit di atur sekarang. Dia tidak mungkin mengikutsertakan istrinya dalam misi berbahaya ini, kenapa istrinya tidak mengerti kekhawatirannya.
" Myria dengarkan aku, kali.."
" misi berbahaya? lagi? selalu itu. Myria yang sekarang berbeda dengan yang dulu. aku sudah bisa menjaga diri, lagipula aku juga pernah berhadapan dengan batu hitam sebelumnya. jangan terlalu mengkhawatirkan ku" potong Myria dengan penjelasan panjang lebar. Gael kembali diam seribu bahasa. Lelaki itu mengambil nafas dalam, jika hal ini tidak di putuskan bisa jadi setiap mereka bersama Myria akan terus meminta diikutsertakan.
" oke, baiklah. Kau bisa ikut. Tapi sebagai tim pemantau. Kau hanya akan berada di depan layar dan memastikan semuanya berjalan baik" jawab Gael cepat. Dia sudah tidak bisa menghadapi segala rengekan dan penjelasan dari Myria. Lelaki itu akhirnya terpaksa membuat Myria masuk dalam misinya.
" benar? yey. Terimakasih Gael" sorak kegirangan Myria. Wanita itu langsung mencium pipi suaminya.
__ADS_1
" aku akan melaksanakan tugasku dengan baik" lanjut Myria dengan wajah sumringah. Lain halnya dengan Gael, dia dengan wajah datar menatap Myria, tidak ada sedikitpun rasa bahagia.
Hari ke-dua, Gael membawa Myria masuk ke dalam ruangan informasi. Sejak Gael mengatakan bahwa dia boleh masuk ke Misi. Lelaki itu memberikannya sebuah kartu akses. wanita itu bisa pergi kemana saja di dalam PIN ini. Jelas saja Myria sangat senang mendapatkan fasilitas ini.
" tidak perlu perkenalan, mulai hari ini Myria akan ikut dalam misi, dia akan mauk ke tim pemantauan" jelas Gael kepada bawahannya. Semua mengangguk dan tersenyum ke arah Myria sebagai salam kenal. Mereka tentu tidak perlu banyak tanya, semuanya tau jika wanita ini adalah kekasih bos mereka. Meski menjadi anggita tim rasanya mereka tidak berani memberikan tugas yang berat pada Myria.
" terimakasih" ucap Myria saat seseorang menunjukkan meja kerjanya. Di atas mejanya sudah ada perangkat PC dan satu bendel uraian tugas tim pemantauan. Myria membacanya dengan seksama.
Jam makan siang, Myria menemui Gael. Dia membawakan makanan untuk lelaki itu.
" Gael" Panggil Myria,
" kau di sini juga" sapa Myria kepada Ansel yang ternyata duduk di sofa sambil menatap berkas.
" akhirnya kau masuk juga ke dalam misi. aku sangat senang akhirnya ada seseorang yang bisa di andalkan selain Gael" ucap Ansel dengan nada senang.
" ehemm.. Myria hanya anggota tambahan. tugasnya tidak boleh melebihi anggota tetap" potong Gael. Dia masih sangat berat membiarkan Myria di sana.
" ya aku tau" jawab Ansel sambil mengangguk cepat.
" ini makanlah dulu" Myria mendekat ke arah Gael.
" untuk aku mana?" tanya Ansel saat tau hanya ada 2 kotak makanan yang Myria bawa.
" ambil sendiri dan kembalilah ke kamarmu" jawab Gael ketus.
" selalu saja" gerutu Ansel dan akhirnya pergi menemui Sonia.
" bagaimana hari pertama mu?" tanya Gael dan menarik pinggang Myria. Membuat wanita itu terduduk di pangkuannya.
" tidak buruk, tapi mereka tidak memberikanku tugas apapun" jawab Myria sedikit kesal. Dia benar-benar ingin membantu tapi karena statusnya, membuat anggota lain malah segan meminta tolong.
" baguslah" ucap Gael senang. Lelaki itu tidak mau Myria terlalu capek memikirkan rencana ini.
tit tit tit .. alarm berbunyi.
" ada serangan masuk" ucap Gael. Myria langsung turun dari pangkuan. Wanita itu bergegas kembali ke mejanya. Dia akan ikut mengecek kenapa bisa alarm berbunyi padahal sudah ada sistem auto perlindungan diri.
" kita menerima lebih dari 10 serangan dalam satu waktu" ucap Myria.
" kalian segera lakukan sistem keamanan tingkat 2" lanjut Myria dan mereka langsung melaksanakan perintah Myria. Semua berkerja dengan keras untuk menangkal serangan yang semakin banyak.
Tak lama Gael masuk ke ruangan.
" aktifkan sistem keamanan 2" teriaknya.
__ADS_1
" kami sudah lakukan sesuai dengan instruksi Myria" jawab salah satu bawahannya. Gael menatap Myria sambil menarik sudut bibirnya. Wanitanya boleh juga.