Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
55. Keputusan


__ADS_3

Gelap itu yang pertama kali Myria lihat. Saat ini dia terbaring di sebuah benda empuk. Menggunakan cahaya temaram dari balik gorden Myria meraba-raba saklar lampu.


lampu tidur di nakas akhirnya menyala, Myria menatap sekeliling. Dia masih ingat ruangan ini. Kamar milik Gael yang sudah lama dia tinggalkan.


Myria beranjak turun, dia baru menyadari jika bajunya sudah berubah. Dia mengenakan gaun tipis tanpa dalaman. Tubuhnya tercetak jelas di balik gaun hitam ini.


Myria jelas tau siapa yang melakukan hal ini padanya. Wanita itu terus berjalan mendekati pintu.


ceklek, pintu terkunci.


" kau tak akan bisa membukanya" Ucap Gael yang sudah ada di belakangnya. sontak Myria berbalik badan.


" G Gael" ucap Myria terbatas-bata. Dia tidak merasakan kehadiran Gael sebelumnya. Wanita itu berjalan mundur namun punggungnya sudah menabrak pintu.


" tidak menyangka aku disini?" tanya Gael terus mendekati Myria


" kemana saja kau selama ini? kenapa kau berubah menjadi seperti ini?" lanjut Gael terus mendekat dengan tatapan dingin. Lelaki itu tidak bisa menatap hal yang sama seperti dahulu. Wanitanya telah berubah membuatnya harus ikut mengimbangi.


" jangan mendekat!" cegah Myria. Dia seperti anak kucing ketakutan. Gael jelas bukan tandinganya. Lelaki itu jauh melampauinya. Myria semakin menggeser tubuhnya menjauh, dia hanya bisa mengikuti arah dinding kamar.


" kenapa?" Gael terus menatap tajam. Lelaki itu mengintimidasi Myria lewat tatapannya itu.


" kau menjauhiku bukan karena kematian itu kan? kau memiliki niat lain, apa dengan ini? membuat dirimu menjadi seperti?" Gael meneruskan penilaiannya. Dia sudah hampir mendekati kebenaran.


" berhenti" Myria terus mundur. Wanita itu tidak mau berdekatan dengan Gael. Dia pasti luluh, Gael memiliki pengaruh yang besar pada dirinya. Myria tidak mungkin menolak apapun yang akan Gael lakukan padanya.


" aku mencarimu selama ini. Tidak mungkin aku lepaskanmu begitu saja" Gael semakin memberikan penekanan.


" jangan mendekat, aku mohon. Kau harus melepaskanku" ucap Myria mengiba. Dia sudah sampai di pojok ruangan. Tidak bisa menjauh lagi.


" jelaskan padaku apa yang terjadi selama kau pergi!" Gael sudah hilang kesabaran. Lelaki itu mengurung Myria dengan tubuhnya. Myria memberontak mendorong dada Gael. Tapi usahanya tidak membuahkan hasil.


Myria terus memberontak, Gael mengunci kedua tangan Myria dengan tangannya. Tubuh kecil itu tidak bisa bergerak lagi.


" aku sangat merindukan mu" ucap Gael sambil mencoba mencium Myria. Wanita itu benar- benar tidak berdaya, dia menangis. Bukan karena ulah Gael, namun karena dirinya juga merasakan hal yang sama.


" kau kemana saja" rancu Gael dengan menciumi leher Myria. Istrinya menolak ciumannya sehingga lehernya yang menjadi gantinya.


" Gael hentikan" Myria berusaha menolak sentuhan Gael pada tubuhnya. Namun tubuhnya tidak mau bekerja sama. Tidak bisa di pungkiri tubuh ini juga mendambakan sentuhan hangat dari suaminya.


" kau menghilang begitu saja" ucap Gael di sela - sela dia menikmati aroma tubuh Myria.


Tangan lelaki itu berpindah dari mengunci kini meraba tubuh Myria. Dia sangat menginginkan wanita ini, istrinya yang sudah dia cari beberapa bulan ini.


" G Gael, hentikan" rintih Myria. Wanita itu tidak bisa mengontrol tubuhnya dengan baik. Seakan otak dan tubuhnya memisah saling bertolak belakang.


" diam!" sentak Gael. Lelaki itu tidak mau penolakan. Dia sudah menahan amarahnya sejak tadi, sejak dia melihat tatapan dingin Myria, bahkan kenapa riwayat panggilan terakhir di ponsel istrinya adalah nomor Ansel. Gael masih bersabar dengan tidak langsung menanyakan hal itu.


" Gael" Myria memberontak lagi. Wanita itu mendorong Gael dan segera menjauh.


" jangan paksa aku Myria, aku tidak mau berbuat kasar padamu" ucap Gael memperingati.


Myria tidak mendengarkan wanita itu berjalan mendekati balkon.


" akk" teriak Myria saat tiba-tiba tubuhnya terlempar dengan cepat di atas ranjang.


" aku sudah memperingatimu" desis Gael, Lelaki itu berada di atasnya dan mengunci kedua tangannya.


" Gael, maafkan aku. Aku mohon lepaskan aku" Myria berusaha menarik simpati Gael.


" kenapa?" tanya Gael lagi.


" aku tidak bisa mengatakannya" Myria berusaha melepaskan kuncian Gael di tangannya.


" tidak, katakan semuanya padaku" Gael sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Myria. Dia terus menuntut sampai mendapatkan keinginannya.


" lepaskan ak.." Gael segera membungkam mulut kecil itu. Lelaki itu akan menuntaskan kebutuhannya dulu.

__ADS_1


Myria terus meronta di tengah ciuman. Gael tidak mau berhenti, dia tidak membiarkan Myria menang.


Gael bahkan sudah meraba tubuh Myria, mencoba melepaskan satu-satu penutup tubuh milik Myria.


Myria mengetahui keinginan Gael, diapun semakin terlena dengan sentuhan Gael. Myria tidak bisa membohongi dirinya jika dia juga ikut menikmati aksi Gael pada tubuhnya.


Hujan semakin deras malam itu, sama seperti nafsu Gael yang besar pada Myria. Dia melampiaskannya setelah tertahan lama. Sedangkan Myria sudah tidak berdaya. Tenaga Gael jauh lebih besar, apalagi Gael melakukannya dengan diiringi kemarahan.


" Gael..." rintih Myria saat dengan cepat sesuatu masuk ke dalam intinya.


Gael sudah hilang akal, dia terus meminta Myria menuntaskan nafsunya. Malam terasa panjang dan panas. Gael akan membuat wanita itu tak berdaya dengan sentuhannya.


Fajar mulai terlihat, hujan yang baru reda membuat suasana pagi itu menjadi dingin. Gael berdiri di balkon, tubuhnya di biarkan terkena angin pagi. Myria masih tertidur di atas ranjang setelah Gael menikmati tubuhnya.


Gael terdiam sambil terus berfikir, ada hubungan apa Myria dengan Ansel. Selama ini Ansel tau bagaimana mati-matian dia mencari Myria. Gael tidak habis pikir, Ansel selama ini menyembunyikan hal ini darinya. Lama Gael terdiam disana, Myria mulai terbangun akibat angin dingin yang menerpa tubuh polosnya.


Pergerakan kecil Myria langsung membuyarkan lamunan Gael. Lelaki itu masuk kembali dan mengunci pintu balkon.


" Gael.." ucap Myria dengan suara serak. Dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh polosnya kala suaminya mendekat dan melepaskan celananya.


" apa yang.." Myria menarik tubuhnya mundur. Gael kembali menaiki ranjang.


" kita belum selesai" ucap Gael dan lelaki itu mengulang lagi kejadian yang beberapa jam yang lalu membuat tubuh Myria lemas tak sadarkan diri. Dengan cepat Gael menarik kaki Myria membuat wanita itu terbaring di tengah ranjang.


Setelah berkali-kali menuntaskan nafsunya, Gael meninggalkan Myria yang sudah terlelap. Pagi ini dia akan menemui Ansel.


ddrrtt, ponsel Myria bergetar. Gael segera melihat siapa yang menelpon. Sudut bibirnya tertarik saat nama Ansel yang tertera disana. Gael segera menerimanya.


" kau dimana? apa kau berhasil kabur?" tanya Ansel dari sebrang. Terdengar sekali nada panik lelaki itu.


" tunggu aku di PIN" jawab Gael lugas.


Begitu mendengar suara itu, Ansel seperti terkena Sambaran petir. Ponsel itu terjatuh dan wajahnya berubah menjadi pucat pasih. Gael pasti akan membunuhnya.


" tamatlah riwayatku" ucap Ansel dan terduduk di lantai. Ketakutan yang dia sembunyikan kini sudah terbongkar. Ansel merutuki dirinya kenapa menghubungi nomor Myria saat wanita itu belum memberinya kabar.


Sebelum Gael menemukannya, Ansel segera berdiri dan pergi dari PIN. Dia harus bersembunyi sampai amarah Gael reda.


ted ted aksesnya di tolak.


" cepat buka pintunya!" teriak Ansel kepada bawahannya.


" bos Gael tadi melarang kami membuka akses pintu sampai dia datang" jawab bawahan itu santai.


" hah, tidak. aku tidak mau mati" Ansel langsung panik. Gael benar- benar tidak melepas dirinya.


" aku bilang buka!" teriak Ansel marah.


" maafkan saya tuan, tapi baru saja kami mengirimkan otoritas akses kepada bos Gael. Bos Gael sendiri yang meminta" jawab salah satu bawahan lagi.


Sekarang satu PIN merasa aneh dengan tingkah tuannya yang terlihat ketakutan.


" apa kita mendapatkan serangan lagi?" tanya salah sagu bawahan yang baru saja bergabung. pintu masuk mulai ramai karena penasaran apa yang membuat tuan mereka terlihat ketakutan.


" bukan, cari cara apapun agar pintu ini terbuka. Cepat" Ansel terus mendesak. Dia bahkan pergi ke ruang informasi dan memberikan perintah yang sama pada semua bawahannya.


" kami tidak bisa melakukannya, semua terkendali pada Bos Gael" ucap bawahannya dengan hal yang sama.


" Bos Gael sudah masuk parkiran kita akan aman" saut salah satu bawahan yang masih mengira jika PIN sedang mendapatkan serangan.


Ansel semakin membulatkan matanya, dia berlari menyembunyikan diri.


" jika Gael mencari ku bilang aku meninggalkan PIN sejak semalam" ucap Ansel yang semakin membuat bawahannya kebingungan.


Ansel langsung berlari menuju ruang bersantai, dia masuk ke gudang makanan. Tak lama bos Gael datang.


" Dimana Ansel?!" tanya Gael dengan nada ketus. terlihat sekali dari wajahnya jika bos mereka sedang menahan amarahnya.

__ADS_1


Ruangan senyap, tidak ada yang berani bersuara. Mereka saling berpandangan, antara ingin mengatakan kebenarannya atau mengikuti perintah tuan Ansel.


" jawab! dimana Ansel?" tanya Gael sekali lagi.


" t.tuan Ansel belum kembali sejak semalam" jawab bawahannya dengan terbatas-bata. Gael menatap orang yang menjawab itu dengan tajam, aura dingin langsung terasa. Mereka sudah hafal jika sampai bos Gael seperti ini maka insting membunuhnya akan segera keluar.


" ampuni saya, Tuan Ansel berlari menuju ruang bersantai" ucap bawahan itu sambil bersimpuh. Dia tidak mau menerima amukan bos Gael.


Gael segera berjalan menuju ruangan yang di maksud. Semua bawahannya itu serentak mulai bernafas lega. Mereka tidak berani membuat suara sekecil apapun bahkan suara nafas mereka. Gael benar-benar tampak menyeramkan jika sedang marah.


" Ansel" teriak Gael saat sampai di ruangan namun tidak menemukan siapapun. Ansel terlonjak kaget mendengar panggilan Gael. Bukankah dia sudah menyuruh bawahannya agar mengatakan jika dia tidak berada di PIN. Sepertinya mereka sama takutnya dengan dirinya.


" keluar atau aku akan membunuhmu" Gael memberikan penawaran. Ansel sempat tergoda namun dia ragu jika dia menyerahkan diri apa mungkin Gael akan memaafkannya.


Kini hampir semua penghuni PIN memenuhi ruang informasi, mereka melihat tayangan CCTV di ruang bersantai. Menjadikan para tetua mereka tontonan bersama.


" Ansel!" teriak Gael lagi.


" baiklah jangan salahkan aku" Gael mengeluarkan pistonya. Serempak bawahannya menatap kaget.


dor. Suara tembakan keluar. Sepertinya PIN akan terjadi perkelahian hebat.


" aku disini" ucap Ansel menyerah. Lelaki itu berjalan pelan keluar dari gudang.


" Ga..Gael kita.. bicarakan hal ini baik-baik ya" Ansel mencoba memberikan penawaran.


" kemari!" Gael mencengkram tengkuk Ansel dan membawanya ke ruangan latihan. Kini bawahannya mengganti siaran menjadi CCTV ruang latihan.


" apa hubunganmu dengan Myria?" tanya Gael sambil melepaskan cengkramannya. Lelaki itu mendorong tubuh Ansel ke sebuah samsak.


" Myria? apa maksudmu?" tanya Ansel masih tidak mau menutupi hal ini.


" katakan!" Gael masih bersabar.


" apa kau alasan kenapa dia berubah ?" tanya Gael keras. Ansel diam tidak mau menjawab.


" jawab!"


" iya eh tidak-tidak" Ansel sedikit keceplosan.


Gael segera melemparkan pistol kearah Ansel, lelaki itu menangkap nya bersamaan dengan pukulan Gael yang mengenai wajahnya.


bugth..


Ansel langsung terjatuh.


peraturan lama Gael tidak boleh memukul Ansel selain di tempat tinju, jika tidak Ansel harus memegang senjata untuk mempertahankan diri.


" kenapa kau memiliki nomor Myria?" tanya Gael sekali lagi. Ansel ingin menghentikan pukulan Gael namun dia tidak mungkin melepaskan tembakan.


Ansel hanya bisa terus menarik dirinya mundur. Gael tidak berhenti, dia mendekati Ansel dan terus mencercanya dengan pertanyaan yang sama. Apa keterkaitannya dengan Myria. Gael benar-benar sudah kehilangan akal dia seperti kerasukan, tidak ingin melepaskan Ansel begitu aja.


Semua itu dilihat oleh bawahannya melalui CCTV tidak ada satupun orang yang mau menolong Ansel di ruang berlatih. Padahal tuan Ansel saat ini sedang ter pojok.


" Gael tenangkan dirimu kita bisa bicara ini baik-baik" Ansel terus mencoba membujuk Gael namun dia kunjung berhasil.


"Apakah kau yang sudah membuat Myria berubah seperti itu?" pertanyaan yang sama.


" Bukan aku" jawab Ansel takut.


" apa kau selama ini mengetahui keberadaan Myria?" tanya Gael lagi. Kali ini Ansel tidak tau harus menjawab apa. Dirinya memang mengirim wanita itu ke berbagai tempat latihan.


Melihat Ansel yang salah tingkah dan hanya mencari alasan. Gael segera menarik kerah baju Ansel dan memukul wajah lelaki itu. Meski Ansel membawa pistol di tangannya nyatanya lelaki itu tidak berani mengeluarkan satu tembakanpun.Dia memang merasa bersalah dan semua ini pantas dia dapatkan.


" ya aku memang mengetahuinya, namun Myria sendiri yang menginginkannya" Ansel mulai membela diri. Gael menghentikan pukulannya.


" ada hubungan apa kau dengan nya?" Gael akan membunuh Ansel jika saja selama ini dia dan Myria bermain di belakangnya. Penolakan Myria dengan sentuhannya membuat Gael berfikir yang tidak-tidak. Dia curiga dengan kedekatan Ansel pada Myria.

__ADS_1


" aku? tidak ada" Ansel tau kemana arah perbincangan Gael. Dia terlihat cemburu karena Myria.


" aku sama sekali tidak menyentuhnya, kau tau sendiri kan apa prinsip ku" Ansel menarik kesadaran Gael. Dia dan Myria tidaklah memiliki hubungan yang Gael fikirkan.


__ADS_2