Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
95. Pertemuan


__ADS_3

Semua menatap Gael tidak percaya, sedangkan Gael sendiri tidak tau jelas kenapa identifikasi dirinya membuat laser itu menghilang.


" Gery" ucap tuan besar lemas.


Bahkan Lucas sendiri terdiam menatap Gael. Dia tidak percaya jika itu adalah Gery.


Terlanjur sakit hati Lucas mengarahkan pistol kearah tuan besar. Dia sangat dendam dengan sikap lelaki itu padanya.


Semua orang masih terkesima dengan kejadian Gael, mereka tidak menyadari Lucas mengangkat pistol nya.


Door bukan Lucas melainkan Gael.


" aaaakk" teriakan Lucas saat tangannya terkena timah panas milik Gael. pistol ditangannya sudah terjatuh sehingga dia tidak bisa melawan.


Semua ganti menatap Lucas.


" tangkap dia!" teriak Angel. anggota lain langsung meringkus Lucas.


" Gael!" panggil Myria sambil mencengkram perutnya.


" Myria" cicit Gael saat darah mengalir melewati kaki Myria.


" perut ku" lanjut Myria. kemudian pandangannya mengabur.


" Myria!" teriak Gael, Myria pingsan dalam peluknya.


Kini hilang rasa terkejut akibat kejadian sistem itu, Gael langsung menggendong Myria dan berlari keluar.


" minggir" ucap Gael kepada anggota GM.


" Gael sebelah sini" ucap Angel menunjukkan jalan pintas. mabil Angel berada di samping Lab.


" aku akan mengemudi" teriak Angel dan langsung membukakan pintu. Wanita itu masuk dan menginjak gas. Mobil itu melaju meninggalkan lab.


" bawa dia, dan kita ikuti Gael" ucap tuan besar kepada anggota dan supirnya.


" baik tuan" ucap mereka.


" cepat!" teriak Gael. dia merasakan cairan hangat itu terus mengalir melewati kaki Myria dan membasahi tangannya.


" ini sudah paling maksimal" ucap Angel panik.


Setelah melewati berbagai jalan dan teriak Gael, Angel sampai di rumah sakit.


Gael dan Angel kini berada di depan ruang IGD. Myria langsung mendapat tindakan.


" bagaimana ini" guman Gael berulang. Dia mondar mandir khawatir dengan keadaan Myria.


" Gael, kita menemukan temanku Ansel. Kini dia menuju ke mari" ucap Angel yang baru saja menerima informasi dari anggota lain.


" bagaimana kondisinya?" tanya Gael. Dia hampir saja melupakan temannya itu.


" mereka bilang kepalanya terluka, dan selebihnya tidak tau. Mereka akan segera sampai" jelas Angel.


" baguslah, jika sudah dalam perjalanan" balas Gael.


" aku akan menunggu mereka, kau tetap disini saja" lanjut Angel lalu meninggalkan Gael.


Situasi menjadi sibuk mendadak, mereka kedatangan 2 pasien dengan kondisi cukup parah.


" di mana Gael?" tanya tuan besar.


" paman sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semua itu pada Gael" Angel memberikan masukan.


Samuel terdiam, dia merasa perkataan Angel ada benarnya. saat ini kedua rekan Gael sedang dalam kondisi kritis. Jika dia membahas tentang indentitas sebenarnya tentang Gael, lelaki itu pasti bingung harus bersikap bagaimana.


" ya kau benar, aku akan menunggu sampai semua ini selesai. beritahu aku jika terjadi sesuatu" ucap tuan besar.


" tuan" seorang dokter senior tidak sengaja melihat Tuan besar.


" kalian rawat dan berikan yang terbaik untuk 2 pasien IGD, aku ingin keduanya selamat" pesan tuan besar.

__ADS_1


" baik tuan Sam" ucap Dokter itu segan.


" aku tinggal dulu" pamit tuan besar kepada Angel.


" iya paman" ucap Angel.


Waktu menjelang pagi, baik Ansel dan Myria sama- sama berada dalam ruang operasi. Gael dan Angel terdiam menunggu di depan ruangan.


didalam Mobil tuan besar masih termenung. Dia sangat bahagia. Rasanya setengah tidak percaya, namun situasinya tidak mendukung. Sam harus menahan kerinduannya sampai situasinya membaik.


" tuan kita sudah sampai" ucap sopir, mereka cukup lama berdiam di dalam mobil. Lamunan Sam langsung terhenti.


" ah ya" lelaki itu kemudian keluar dan masuk ke Mansion utama.


" Gael, Gael" panggil Angel, dia membangunkan Gael yang tertidur di kursi duduk penunggu.


" kau makanlah dulu dan rapikan dirimu, semua orang terganggu dengan noda darah yang hampir menutupi seluruh pakaianmu" jelas Angel. Dia melihat beberapa orang melihat Gael dengan tatapan takut.


" em, apa operasinya sudah selesai?" tanya Gael, jelas lelaki ini tidak mendengarkan ucapan Angel barusan.


" belum, kau gantilah pakaian. seluruh bajumu terkena darah" singkat Angel.


" bagaimana dengan Myria?" Gael bingung.


" aku akan menunggu, ganti baju tidak sampai 1 jam Gael" ucap Angel. Akhirnya Gael menurut, dia mengambil baju ganti dan berjalan mencari kamar mandi.


Angel menatap Gael iba. Semua temannya terluka akibat undangannya tempo hari. Tinggal dia seorang, entah bagaimana hancurnya perasaan Gael melihat teman dan kekasihnya dalam keadaan seperti ini.


" kau sudah makan?" tanya Gael setelah kembali.


" belum" jawab Angel.


" makanlah ini" Gael memberikan bungkusan plastik.


" itu aku yang membawanya" jelas Angel.


" lalu kenapa kau tidak makan?" tanya Gael balik. Angel terdiam tidak bisa menjawab.


" jangan terlalu mengkhawatirkan ku, aku terbiasa dalam situasi genting seperti ini" lanjut Gael kemudian duduk di samping Angel.


" aku tau, terimakasih sudah mencegahnya, aku tidak tau harus bagaimana" balas Gael datar.


" temui lah dia setelah semua ini membaik" pesan Angel, dia tau persis bagaimana tersiksanya paman nya akibat ditinggal anak dan istrinya. Setelah puluhan tahun berlalu bisa melihat anaknya lagi dan harus menahannya itu sangat tidak mudah.


" aku akan mengingatnya" jawab Gael.


Lampu operasi padam, perbincangan itu langsung terhenti. Gael dan Angel langsung berdiri menunggu dokter keluar.


" bagaimana kondisinya?" tanya Gael cepat saat dokter keluar.


" nona Myria mengalami luka sobekan yang cukup dalam dia bagian bahunya. dan yang serius adalah janinnya. nona Myria mengalami pendarahan, janinnya sangat lemah. kita hanya bisa berdoa agar janin itu bisa bertahan. kami sudah memberinya obat penguat semoga bisa menyelamatkannya" Jelas Dokter. Gael termenung mendengar kabar kehamilan Myria.


" kalau Boleh tau berapa kisaran umur janin itu?" tanya Angel. wajah Gael yang terkejut mengasumsikan jika lelaki itu tidak mengetahui hal ini.


" kemungkinan masih berusia 2 atau 3 minggu. Masih sangat muda" jawab dokter. Angel mengangguk, jelas saja. usia janinnya sangat baru.


" terimakasih dok" ucap Angel lalu dokter itu pergi.


" Gael!" sentak Angel pada Gael yang masih termenung.


" kita urus administrasi dulu, kemungkinan Myria akan segera di pindahkan" ucap Angel. wanita itu meninggalkan Gael sendiri. Dia menuju ruang operasi Ansel. Para dokter belum selesai dengan Ansel. Bahkan sampai hari menjelang siang operasi Ansel masih belum juga selesai.


" belum selesai juga, apa yang mereka lakukan di dalam?" ucap Gael yang sudah duduk di samping Angel. Wanita itu terlihat menahan kantuknya.


" kau sudah mengurusnya?" tanya Angel.


" sudah, Myria sudah di pindahkan namun masih belum sadar" jelas Gael.


" kau memberitahu Sonia mengenai Ansel?" tanya Angel penasaran.


" tidak, kondisinya juga masih lemah. Aku tidak mau membuatnya terkejut. Dia baru saja selesai penanganan" jelas Gael bijak. kandungan Sonia juga masih rawan jangan sampai wanita itu terkejut dan membuat janinnya dalam keadaan bahaya.

__ADS_1


" ya kau benar" saut Angel setuju dengan alasan Gael.


" apa luka kepalanya terlalu parah?" guman Gael sambil menatap lampu operasi.


" aku sendiri juga tidak tau" balas Angel polos.


" lampunya padam" teriak Gael. Sama seperti sebelumnya Gael langsung berdiri menyambut dokter yang keluar.


" bagaimana Dok?" tanya Gael cepat.


" kondisinya sangat kritis, pasien mengalami pendarahan kepala bagian dalam. belum lagi penanganan yang telat membuat pendarahan lebih parah. kita sudah melakukan yang terbaik selebihnya kita tunggu sampai pasien sadar" jelas Dokter dengan wajah menyesal. Baik Gael dan Angel benar-benar terpukul. Kondisi Ansel sangar memprihatinkan.


" lalu kemungkinan apa yang akan terjadi padanya? apakah bisa sembuh?" tanya Gael panik.


" kita tidak bisa memprediksi. kita berdoa saja yang terbaik" bala dokter itu kemudian pergi.


" Ansel, bagaimana ini" Gael kalut, dia seakan tidak terima dengan kondisi Ansel.


" Gael kau mau kemana?" tanya Angel khawatir melihat Gael yang pergi dengan wajah marah.


" aku akan menghabisi Lucas" jawab Gael singkat.


" hey. kau bisa menghabisi dia kapanpun. Tapi Myria dan Ansel membutuhkan mu saat ini. Jangan melakukan hal yang sia-sia. Lucas matipun tidak bisa mengembalikan keadaan" cegah Angel. Gael sedang diliputi emosi. dia tidak mau Gael melakukan sesuatu secara ceroboh.


" Brengsek!" teriak Gael melepaskan emosinya.


" tenangkan dirimu, kau harus kuat demi mereka" saran Angel. Gael tidak boleh hilang kontrol. Angel berusaha mendampingi lelaki itu agar bisa bertahan.


" sial! sial !" Gael marah pada dirinya, kenapa hari itu dia pergi. Angel menatap sedih, membiarkan Gael melepaskan emosinya.


Hari semakin sore, Sonia terbangun dan sudah ada suster di samping nya.


" apa Gael tidak datang kemari?" tanya Sonia lemah. Sejak kemarin malam Gael ataupun Angel tidak terlihat.


" tidak nona" jawab suster itu.


" kemana mereka" cicit Sonia.


" bantu aku berdiri" ucap sonia sambil mengulurkan tangannya.


" anda masih belum boleh meninggalkan ranjang, saya mohon nona tetap berbaring" tolak suster itu pelan.


" aku ingin mencari Gael sebentar" kilah Sonia.


" nona jangan, biarkan saya saja" ucap suster itu membujuk.


" tak apa, aku juga bosan disini" Sonia tidak mau menurut.


tok tok suara pintu di ketuk, seketika keduanya menoleh ke asal suara.


" tuan besar" salam suster itu.


" boleh aku masuk?" tanya tuan besar sopan.


" ya silahkan" jawab Sonia ramah. suster kemudian meninggalkan kamar.


" bagaimana kabarmu?" tanya Sam berbasa basi.


" kata dokter tubuhku semakin membaik, oh ya tuan pemilik rumah ini?" tanya Sonia balik.


" syukurlah. ah ya bisa di bilang begitu" jawab tuan besar ramah.


" kau mencari Gael?" lanjut tuan besar yang tadi mendengar percakapan mereka.


" iya, tuan tau dimana Gael?"


" dia sedang mengurus sesuatu bersama Angel, dia berpesan agar kau harus menjaga diri baik-baik. Apalagi dengan janin di dalam perut mu" jelas Sam berbohong.


" ah begitu rupanya. iya aku akan menjaganya" jawab Sonia malu, dia baru saja memaksa ingin turun.


" terimakasih sudah mengingatkan aku" lanjut Sonia.

__ADS_1


" ku harap bayi itu akan sama kuatnya dengan ibunya" balas Sam. Dia sangat simpati dengan keadaan yang ayahnya alami.


" iya, sama kuatnya dengan ayah nya" balas Sonia cepat.


__ADS_2