Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
52. AP 2


__ADS_3

Sergio terlelap dalam tidurnya, wanita yang berada dalam pelunakan nya sedang menatapnya penuh dendam. Myria tidak menyangka, Sergio dengan santai nya menceritakan bagaimana dia membunuh ayahnya. Bahkan tanpa perlu tau alasannya lelaki ini melakukan sesuatu yang membuat hidup nya harus berubah seperti ini.


" tunggu saja, aku akan menghancurkan mu" ucap Myria pelan.


Harry baru saja kembali, lelaki itu selesai memantau lokasi pengasingan Dom.


" bagaimana kondisi keamanannya?" tanya Myria. Wanita itu duduk di kursi tunggu depan kamarnya. Meninggalkan Sergio yang terlelap di atas ranjang.


" tidak terlalu banyak penjaga. Lelaki itu sudah di buang oleh kelompoknya, bahkan salah satu tangannya dipotong" jawab Harry.


" kau sampaikan pada Ansel, suruh dia memilih hari baiknya" ucap Myria dengan wajah serius.


" baik ketua" jawab Harry.


Myria masuk kembali ke ruangan nya. Keadaanya tubuh Myria tidaklah seserius yang Harry fikirkan. Teryata semuanya memang sudah ketuanya rencanakan. Myria memang terluka, tapi akibat dari ulahnya sendiri. Darah yang mengucur pun adalah sandiwara. Bahkan Ansel saja tertipu akibat laporan dari Harry. Myria sengaja merahasiakannya dari Harry, agar lelaki itu tampak ketakutan di depan Sergio.


Malam harinya Sergio berpamitan pergi.


" aku akan mengunjungi mu lagi, jika kau butuh sesuatu kau hubungi saja aku, ya" ucap Sergio sebelum pergi. Grace mengangguk beberapa kali, Sergio mengelus kepala Grace pelan dan mencium kening wanita itu kemudian pergi dari sana.


Selepas Sergio pergi, Myria langsung memalingkan wajah. Dia juga mengusap bekas usapan dan ciuman lelaki itu. Dia tidak sudi menerima hal itu dari pembunuh ayahnya.


" bagaimana? Ansel sudah memberikan jawaban?" Tanya Myria kepada Harry. Lelaki itu baru saja masuk ruangan.


" tuan Ansel memilih besok lusa" jawab Harry


" hari yang bagus, aku juga sudah tidak mau terlalu lama berdekatan dengan Sergio bodoh itu" ucap Myria.


" hubungi semua tim untuk melancarkan aksi, jangan lupa mereka harus memilih mayat yang paling sesuai" ucap Myria mengulangi perintahnya yang lalu.


" siap ketua"


" ini adalah bagian akhir dari misi, semuanya harus bersih dan lancar" ucap Myria dengan pandangan penuh arti.


" kami akan melaksanakan semua dengan penuh kehati-hatian" jawab Harry tegas. Ini akan menjadi akhir dari tugasnya. Dia pasti akan menyelesaikan misi dengan baik.


Keesokan harinya Sergio mendapatkan pesan jika Grace sudah boleh kembali pulang. Kondisi Grace sudah membaik dan tergolong bisa melakukan rawat jalan.


" untuk sementara kau bisa tinggal di kediamanku dulu. setelah ini aku akan menjemput mu, tunggu aku " ucap Sergio dalam panggilannya dengan Grace. Meski keberatan ada baiknya Grace mengetahui bagaimana kondisi kediaman ketua mafia Batu Hitam.


" baiklah, jangan terlalu lama" ucap Grace ketus.


Sergio tersenyum mendengar nada bicara Grace yang kembali seperti semula.


" tenang saja" Sergio menutup panggilan.


Sesuai dengan janjinya, pagi menjelang siang Sergio sudah sampai di rumah sakit. Grace segera di papah menuju mobil. sedangkan Harry membawa mobilnya sendiri. Lelaki itu diberikan tugas oleh Sergio untuk mengawal transaksi malam ini. Jadi tidak bisa ikut menemani Grace.


" pastikan mereka melakukannya dengan baik" pesan Sergio kepada Harry. Kini laporan dan pengawasan transaksi menjadi lebih ketat. Akibat kasus Dom para bawahan akan dipilih secara khusus dalam melakukan transaksi. Mereka tidak mau ada pencurian lagi di dalam kelompok.


"baik ketua" ucap Harry kemudian mereka berpisah.


Myria mengamati dengan jelas pengamanan kediaman Sergio, menurutnya masih kurang ketat di bandingkan dengan mansion milik Gael. semuanya masih dilakukan secara manual. Namun banyak sekali penjaga yang memenuhi seluruh bagian kediaman.


" mari aku bantu" ucap Sergio memapah Grace menaiki tangga.


" jangan terlalu cepat" pinta Grace, dirinya harus detail mengingat semua sudutnya.


" ah ya maafkan aku" Sergio melangkah lebih kecil lagi.


Tak lama mereka sampai di depan lift menuju kamar. Grace masuk dan mereka sampai di depan lorong yang begitu sepi dan elegan.

__ADS_1


" kau bisa tinggal di kamarku" ucap Sergio. Grace diam saja dan terus mengamati sekeliling.


" jika ada yang kau butuhkan kau bisa mengatakannya dengan ini" Sergio memberikan semacam Walkie talkie kepada Grace.


" baiklah" Grace menerimanya, wanita itu sudah terbaring di atas ranjang.


" aku harus kembali ke markas dan mengecek transaksinya" ucap Sergio. Grace jelas senang mendengar ini. Dia tidak mau berlama-lama dengan Sergio.


" hati- hati ya" ucap Grace memberikan perhatian.


Myria berbaring sesaat begitu Sergio pergi, Wanita itu sudah mengetahui dimana saja letak CCTV dalam rumah ini. Dia segera memasang sebuah alat untuk membuat CCTV mengalami kendala kurang lebih 10 menit. Dia akan mencari berkas mengenai pembukuan transaksi. Lelaki itu pasti menyimpan semuanya disini.


Myria segera menuju sebuah ruangan penghubung dalam kamar itu, di sana banyak sekali berkas-berkas yang tersimpan. Myria membaca semuanya dengan teliti.


" dapat!" ucap Myria saat waktunya tersisa 30 detik. Wanita itu segera berlari menuju ranjang. Alhasil dia berhasil melakukannya meski kakinya yang retak menghambat pergerakannya tadi.


Myria berbaring seperti saat awal masuk. Dia menyembunyikan berkas itu di bawah kasur. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk membawanya besok.


Hari ini transaksi berjalan lancar, Harry memang sengaja tidak membuat masalah. Besok adalah waktu menyelesaikan misi.


menjelang senja Sergio kembali ke rumah, dia membersihkan diri kemudian bergabung dengan Grace tidur di ranjang.


Saat pagi lelaki itu mendapati jika samping nya telah kosong.


" Grace?" panggil Sergio. Tidak ada satuan.


Sergio beranjak dan turun mencari Grace.


" Grace" panggil Sergio. Lelaki itu membuka kamar mandi dan balkon. Semuanya kosong.


Sergio keluar dari kamar nya.


" Grace" lelaki itu mulai khawatir. Dia belum menemukan kehadiran Grace.


" Grace, kau belum sembuh" ucap Sergio marah saat mendapati Grace memasak di sana.


" jangan berlebihan, aku sudah lebih baik. Lagi pula kau belum pernahkan merasakan masakanku" ucap Grace dan membawakan makanan hasil masakannya.


" aku tidak ingin kondisimu semakin parah" Sergio memeluk Grace dari belakang.


" sudah la, ayo makan aku sudah kelaparan" Grace segera melepaskan pelukan itu dan berjalan tertatih menuju meja makan.


" hari ini kau akan kemana?" tanya Grace sambil mengunyah makanan.


" aku.."


ddrrt, handphone Sergio bergetar.


" ada apa?" jawab lelaki itu malas.


" apa?!" teriak Sergio kaget. Grace menatapnya penasaran.


" baiklah, kau segera kemari. aku akan melihatnya sendiri" Sergio langsung menutup panggilan.


" ada apa?" tanya Grace.


" Dom melarikan diri, aku sudah menyuruh Harry kemari untuk menjagamu. Dia akan membawamu ke tempat yang aman. Sepertinya Dom berniat membalas dendam " Sergio tampak panik. Dia segera kembali ke kamar dan mengganti baju. Myria menarik sudut bibirnya. Rencana akhir di mulai.


Suara mobil keluar segera terdengar, Myria semakin senang. Tak lama seseorang yang dia tunggu telah datang. Harry langsung membukakan pintu mobil untuk Myria.


" kita langsung ke lokasi" ucap Myria dengan santai.

__ADS_1


Mobil itu segera menuju lokasi yang sudah di sepakati. Harry dan Myria mengganti mobil baru dan menuju lokasi ke dua.


" apa pertunjukan sudah siap?" tanya Myria kepada Harry yang sedang menyetir mobil.


" semuanya sesuai dengan keinginan anda ketua" jawab Harry yakin.


" bagus" ucap Myria dengan wajah puas.


Akhirnya semuanya akan selesai beberapa jam lagi, Sergio dan Batu Hitam akan mendapatkan balasan karena sudah berurusan dengan nya.


Mobil itu sampai dia sebuah jalan khusus. Mereka berdua harus turun dan berjalan masuk agar tidak meninggalkan jejak.


" selamat datang" ucap Ansel yang sudah duduk di atas kursi kayu dengan Dom yang terikat tergeletak di lantai.


" brengsek! jadi semua ini ulahmu!" teriak Dom langsung marah melihat kedatangan Myria.


" tenanglah dulu, kita akan berbincang setelah ini" Ansel tampak senang sekali. Myria duduk di sebelahnya dengan tatapan dingin ke arah Dom.


" kau tidak menyangka bukan, wanita ini adalah orang ku"


" kau?!, aku sudah mencurigai mu sejak awal. Kau memang memiliki niat buruk dengan mengadu domba aku dan Gio" ucap Dom menggebu-gebu. Ternyata benar dugaannya Grace bukanlah wanita biasa.


" kau salah, aku bukan ingin mengadu domba kalian, melainkan aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayahku" jawab Myria lugas tanpa ekspresi.


" kematian ayahmu?" tanya Dom masih belum mengerti.


" sepasang ayah dan anak yang Sergio tabrak" ungkap Myria dengan tatapan nanar.


" brengsek, itu suruhan dari GM" ucap Dom keceplosan. Kening Myria langsung mengerut. siapa lagi itu GM.


" siapa mereka?" tanya Myria cepat.


" ahhaahha, kau ingin tau" Dom mencoba mempermainkan Myria.


" aku tidak akan mengatakannya. kau tidak akan tenang meski sudah membunuhku" lanjut Dom dan tertawa lepas.


" setidaknya kelompok yang kau jaga mati-matian yang akan membayarnya" Myria menyeringai licik.


" apa maksudmu?" Dom tidak ingin jika Batu Hitam juga terkena imbasnya. Dia sudah sangat mencintai kelompoknya melebihi dirinya sendiri.


" kau akan di temukan bunuh diri dengan surat penyesalan. Sergio akan di tangkap karena melakukan transaksi narkotika. Batu Hitam akan hancur dalam sekejap. Dan satu lagi ini akan menjadi hadiah terakhir untuk Sergio" Myria menunjukan pembukuan transaksi dengan wajah puas.


" tidak! jangan lakukan itu. aku akan mengatakannya GM adalah kelompok mafia lain. Semua mafia begitu takut dengan mereka. Aku mohon jangan lakukan apapun pada Batu hitam. Biar aku yang menerima balasan ini"ucap Dom mengiba. Baru kali ini Myria melihat lelaki ini menangis memohon padanya.


Di belakang Ansel segera menyuruh anak buahnya mempersiapkan tali. Myria menjauh dari tubuh Dom.


" aku mohon lepaskan Batu Hitam" Dom masih terus mengiba. Namun tidak ada yang menolongnya.


Ansel mendekati Dom.


" aku membalas kan dendam dengan cara yang sama saat kau mencoba menghancurkan PIN. kau lihat aku tidak main- main dengan ucapanku" bisik Ansel, Dom langsung membulatkan matanya.


" kau?" Dom menatap Ansel tak percaya.


" ya, akulah pemilik PIN. Anak kecil yang dulu kau ajari cara berjalan kini datang memberimu kematian. Dendam ini berakhir dengan kematian mu" jelas Ansel membuat Dom tak bisa berkata lagi.


Tali sudah melilit lehernya, dan anak buah Ansel menariknya kuat. Dom masih menatap Ansel hingga nafas terakhirnya. Lelaki itu tewas di hadapannya. Ansel benar- benar puas. Dia menyaksikan kematian seseorang yang sudah mengkhianati ayahnya. Sungguh melegakan bagi Ansel.


Di belakangnya Myria menatap Ansel, lelaki itu diam saja. Wanita itu memikirkan ucapan Dom mengenai GM, Myria yakin jika Ansel mengetahui sesuatu mengenai hal itu. Myria segera bangkit dan berdiri di depan Ansel.


" katakan padaku semuanya" desis Myria dingin.

__ADS_1


" tentu saja" ucap Ansel mencari aman.


__ADS_2