
Myria terdiam sesaat mendengar penuturan Ansel.
" Maka dari itu aku minta padamu agar kau sembunyikan hal ini darinya. Tolong bantu aku, aku tidak mau kehilangan lelaki itu. Sekarang tinggal dia lelaki yang aku sayangi satu-satunya" ucap Myria dengan nada memelas.
Wanita itu sama sekali tidak ingin Gael terlibat lagi dan menjadi perisai untuk dirinya. Dia akan menjauhkan dirinya dari Gael. Dia akan membuat laki-laki itu menyerah dengannya dan tidak menemuinya lagi.
" menyembunyikan dari Gael?" ucap Ansel dengan menimbang-nimbang keputusan Myria yang sedikit menarik perhatiannya.
"aku akan membuat lelaki itu pergi dari hidupku, aku mohon padamu. Aku akan melakukan apapun Asal aku bisa membalaskan dendam ini dengan tanganku sendiri" Myria terus meminta, mencoba meyakinkan dan merayu rasa belas kasih laki-laki yang setengah mati membencinya agar mau membantunya. Myria yakin Ansel pasti bisa membantunya. Asal dia harus menukarnya dengan menjauhi Gael, pasti mau Ansel mau menyetujuinya.
" Baiklah aku akan mempertimbangkannya, asal kau benar-benar pergi dari kehidupan Gael, aku akan berusaha membantumu" ucap Ansel dengan yakin. laki-laki itu memang tidak pernah berkata bohong, dia selalu mengatakan apapun yang ada di hatinya. Mau baik atau buruk semuanya diucapkan dengan terus terang. Meskipun dengan segala kebejatannya dan kekejamanya dia masih bisa di pegang ucapannya.
Dini hari Gael baru saja kembali dari PIN, Lelaki itu baru meng-hack semua CCTV saat kejadian menimpa Myria berlangsung. Semua CCTV yang dilewati oleh Myria bagaimanapun caranya Gael harus bisa mendapatkannya. Lelaki itu terus memburu siapa dalang yang membuat istrinya celaka bahkan menewaskan mertuanya. Dia tidak akan tinggal diam, mau bagaimanapun caranya dia harus membalaskan dendam ini.
Saat membuka pintu kamar inap Gael dikagetkan dengan kamar yang kosong. tidak ada Myria di dalamnya. Lelaki itu mencari ke sana kemari dan dia baru menyadari jika anak buah juga tidak ada di sana. Lelaki itu segera melihat handphonenya mencari titik lokasi di mana wanita itu berada.
__ADS_1
Dia mengikuti arahan dan berhenti seketika saat tahu di mana Myria saat ini. Dan benar saja, wanita itu berada di ruang jenazah. Gael jelas tahu hal ini menandakan jika kebohongannya telah terbongkar. Gael berjalan lambat menuju ruang jenazah. Di sana Gael melihat pengawalnya dan langsung memberikan tatapan tajam kepada mereka. Gael sudah berpesan kepada mereka agar menjaga Myria, jangan sampai wanita itu keluar dari kamar. Namun mereka tidak bisa menyelesaikannya.
"Kenapa kau bohong padaku?" ucap Myria dengan nada dingin.
"kau bilang ayahku baik-baik saja, nyatanya dia sudah tak bernyawa" lanjut Myria tanpa memberi kesempatan untuk Gael membalas ucapannya.
"Kenapa kau membohongiku? apa aku tidak boleh menerima kabar dari keluargaku satu-satunya? Kau pikir perbuatan mu ini baik untukku? Kau pikir aku akan berterima kasih karena kau menjaga perasaanku dengan menyembunyikan kabar kematian ayahku? Kenapa kau berbohong padaku?!" ucap panjang lebar Myria dengan menggebu-gebu. wanita itu terus saja menyalahkan Gael.
" semua ini karena musuh-musuhmu bukan?,ini karena aku mengenalmu" lanjut Myria dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
" Kenapa kau diam?" tanya Myria lagi.
" Bukannya kau selalu merasa benar, Kenapa kau diam sekarang. jelaskan kenapa bisa ayahku seperti ini? Apakah ada hal lain yang sedang kau sembunyikan padaku?" ucap Myria lagi, wanita itu benar- benar membuat Gael tidak bisa berkutik. Dia terus mengalahkan Gael sejadi-jadinya.
"semua ini karena kau. ini karena kau ayahku menjadi tiada" Myria terus menyalahkan Gael tiada henti-hentinya sampai ke Gael tak mampu membuka bibirnya sedikitpun.
__ADS_1
"lebih baik kau pergi dari sini. Dan jangan pernah temui aku" final wanita itu tidak akan menarik ucapannya lagi.
Dia akan pergi dari kehidupan Gael dan dia ingin Gael juga tidak mengenalnya lagi. Biarkan lelaki itu tau jika Myria membencinya dan tidak membutuhkan kehadiran lagi dalam hidup Myria.
"tunggu apa lagi pergi dari!" sentak Myria yang melihat Gael yang hanya diam mematung tidak mengatakan apapun. Sebenarnya hatinya teriris melihat Gael yang diam saja saat dia menyalahkannya.
Namun Myria sudah bertekad, karena dengan cara seperti inilah Gael tidak akan menemuinya dan tidak ikut campur dalam urusan ini.
" Pergi dari sini aku membencimu!" Desis Myria membuat laki-laki itu masa tertampar dengan ucapan.
Gael akhirnya pergi dari sana. dia tahu jika emosi Myria sedang labil. Wanita itu pasti terpuruk akibat kematian ayahnya. Dia tidak bisa menyalakan wanita itu atas sikap nya yang dingin padanya.
Gael masih diam saja, dia tetap mencoba berada di samping wanita itu meskipun Myria terlihat membencinya. Gael masih terus memantau meski dalam jarak yang jauh, seperti saat ini dengan kondisi Myria yang masih lemah wanita itu sedang mengadakan proses pemakaman ayahnya dan Gael hanya bisa menatapnya dari jauh. Padahal lelaki itu begitu ingin merangkul memeluk tubuh lemah istrinya.
Namun dia tidak bisa. Myria masih sangat membencinya. Dari jarak ini Gael bisa melihat nangis pilu Myria menangisi ayahnya. Mungkin saat ini Ga akan memberikan waktu kepada Wanita itu untuk menenangkan diri. Mungkin beberapa hari kemudian emosi wanita itu akan berkurang, dia bisa menemuinya lagi. Itulah harapan Gael.
__ADS_1