
Obat penenang masih bekerja, Gael tidak berani meninggalkan kamar. Takutnya saat dia tak ada Ansel melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
" bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Watson. Lelaki itu baru datang setelah di beritahu Gael mengenai kondisi Ansel saat ini.
" sudah di berikan obat penenang" jawab Gael datar.
" jika melihat respon dan ucapannya, Kemungkinan Ansel sendiri memang memiliki pertanyaan yang sama. Meski tidak kamu katakan dia pasti akan mencari tau sendiri" jelas Dokter Watson yang sudah tau cerita lengkapnya dari Gael.
" dia bukan lelaki bodoh, Ansel pasti akan mencari tau jawabannya" imbuh Ansel.
" sekarang pilihan hanya satu, buat dia tenang dan ceritakan perlahan" saran Dokter Watson.
" aku juga memiliki pikiran yang sama" keduanya menatap Ansel yang masih terkena efek obat bius.
Waktu berganti siang, saat ini Myria sedang menikmati aneka buah-buahan dari pelayan, Myria dan Sonia sangat tercukupi di sini.
" kau sudah bertemu dengan pamannya Angel, dia pemilik Mansion ini" ucap Sonia.
" oh ya , jadi rumah ini bukan milik Angel?" Myria baru mengetahuinya.
" Angel juga tinggal disini, tapi yang punya adalah pamannya. Dia lelaki yang baik, dan ramah" jelas Sonia sambil terus memakan buahnya.
" nanti jika aku bertemu aku akan berterimakasih" saut Myria dengan riang. Kedua wanita itu sangat senang, begitupun dengan Sam. Dia sengaja tidak menemui Myria. dia akan menunggu sampai Gael sendiri yang memperkenalkan nya.
Kembali ke rumah sakit, menjelang sore Ansel mulai siuman. Kali ini tidak Seperti sebelumnya yang mencari Gael. Karena sosok itu sudah ada di samping ranjangnya. Gael menatap tenang.
" bagaimana perasaanmu?" tanya Gael setelah memastikan Ansel sudah siap di ajak berkomunikasi.
" sudah lebih baik" jawab Ansel datar.
" kau makanlah dulu, aku akan menceritakan semuanya nanti" ucap Gael, dia membawakan nampan makanan dari atas nakas. Ansel menuruti perintah Gael, dia sudah mulai stabil.
Gael menunggu sampai Ansel menghabiskan makanannya. Dia akan memastikan tubuh Ansel kuat menerima informasi yang akan dia sampaikan setelah ini.
" sudah " ucap Ansel sambil memberikan piring yang sudah kosong. Seperti anak kecil, Ansel menurut tanpa membantah. Gael meletakkan kembali piring kotor di atas nakas.
" aku akan memulai ceritanya" Gael mengambil nafas panjang, dan mulai bercerita.
Malam harinya Mansion utama dikagetkan dengan kepulangan Gael dan Ansel. Mereka baru mengabarkan beberapa jam yang lalu. kini Myria menyambut kedatangan suaminya.
" Gael" panggil Myria senang. Dia langsung memeluk Gael dengan erat.
" hati-hati Myria, ingat kandunganmu" celoteh Gael. Dia khawatir dengan janin Myria.
" iya, jangan khawatir. Bayi ini sangat nyaman disini" ucap Myria sambil mengusap perutnya.
" Ansel bagaimana kabarmu?" tanya Myria, wanita ini menganggap Ansel sudah sembuh.
" sudah membaik" jawab Ansel tenang.
" Gael, kalian sudah pulang?" Angel turun dari lantai 2. Dia baru bangun tidur jadi tidak tau kabar kepulangan Ansel.
" iya, kondisi Ansel sudah membaik" jawab Gael.
" kau temui lah Sonia di atas" perintah Gael. Lelaki itu kemudian melangkah mengikuti pelayan yang menunjukkan jalan.
Sampai di depan kamar, Ansel melihat sosok wanita yang tengah membaca buku di atas ranjang.
" Ansel!" teriak Sonia saat sudut matanya menangkap siluet lelaki di depan kamar.
Ansel berjalan masuk, dia menatap Sonia lama.
" kemari" ucap Sonia yang tidak bisa turun. Ansel mendekati ranjang dan dengan cepat Sonia menariknya kedalam pelukan.
__ADS_1
" maafkan aku, aku tidak bermaksud menyembunyikan kehamilanku, aku hanya takut dan berfikir jika kau tidak menginginkan anak ini" jelas Sonia sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ansel. Lelaki itu mengusap pelan punggung Sonia.
" mana mungkin aku tidak menginginkannya, dia adalah anakku" jawab Ansel lembut.
Mendengar jawaban itu Sonia tambah sedih, dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ansel.
Ansel ikut terenyuh dengan suasana, dia juga mengeluarkan air matanya.
" aku merindukan mu" cicit Sonia memeluk erat Ansel.
Di luar Gael dan Myria berjalan menuju kamar Sonia.
tok tok Gael mengetuk pintu. Ansel dan Sonia melepaskan pelukan mereka.
" Sonia bagaimana kabarmu?" tanya Gael, dia melihat Ansel sejenak. Sonia jelas terlihat baru menangis karena bertemu dengan Ansel.
" sangat baik" jawab Sonia tersenyum tipis.
" syukurlah, kalian jaga diri baik -baik ya" pesan Gael khusus nya kepada Ansel.
" sudah jangan ganggu mereka, ayo pergi" ucap Myria dan menarik Gael keluar.
" aku tinggal dulu" pamit Gael kepada Ansel. Lelaki itu mengangguk pelan.
" kemarilah, aku ingin melihat luka-lukamu" ucap Sonia menyuruh Ansel duduk di tepi ranjang.
" aku sudah membaik Sonia" jawab Ansel namun dia tetap duduk di sana.
" kau terluka parah?" Sonia meneliti perban di kepala Ansel.
" semuanya sudah sembuh" Ansel menahan tangan Sonia dan menggenggamnya. hatinya terasa damai sekali melihat wanita di depannya tersenyum senang.
" berapa usia anak kita?" Ansel langsung mengganti topik.
" ah ya aku belum mengatakannya, sudah sekitar 8 minggu" Sonia membawa tangan Ansel menyentuh perutnya. Seperti terkena listrik, tubuh Ansel langsung tersentak haru. Dia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.
" tentu saja" Ansel hanya mengikuti naluri, baginya di depannya ini adalah wanita yang sangat baik.
Di kamar lain Gael dan Myria mengalami situasi yang berbeda. Gael masuk ke kamar mandi dan sampai sekarang belum keluar. Lelaki itu terdiam dalam guyuran air hangat. Dia masih memikirkan keadaan Ansel.
tok tok
"Gael" panggil Myria, dia khawatir karena Gael tak kunjung keluar.
Didalam Gael tidak mendengar apapun. dia sibuk dengan pikirannya.
tok tok
" Gael" kali ini Myria memanggil dengan sedikit keras. untung saja Gael mendengarnya. Dia langsung menyelesaikan mandinya.
" ada apa?" tanya Gael datar setelah keluar kamar mandi.
" kau hampir satu jam di dalam kamar mandi, ku kira kau pingsan" jawab Myria yang duduk di ranjang menghadap kamar mandi.
" sudah 3 hari lebih aku belum mandi jadi perlu waktu yang lama aku untuk membersihkan diri" kilah Gael.
" ini bajumu, pelayan baru saja menyiapkannya" Myria memberikan sekotak baju. Gael mengambilnya dan langsung memakainya.
" kau sudah makan?" tanya Gael pada Myria.
" sudah tadi, kau belum?" tanya Myria balik.
" sudah"
__ADS_1
" sudah malam, ayo tidur" lanjut Gael sambil mematikan lampu kamar.
" ehem" guman Myria kemudian beranjak berbaring di atas ranjang.
Gael memeluk istrinya dan memejamkan mata. Myria terdiam beberapa saat lalu membalas pelukan Gael.
" Gael" bisik Myria.
tak ada sautan, wanita itu menatap wajah Gael. Lelaki itu sudah menutup mata dengan nafas teratur.
" sudah tidur ternyata, cepat sekali" cicit Myria kemudian membenamkan wajahnya pada dada Gael dan tak lama sudah terlelap.
Kini giliran Gael yang membuka matanya, dia hanya berpura-pura tidur agar terhindar dari pertanyaan Myria. Dia sedang menyembunyikan sesuatu dan takutnya Myria akan menyadarinya. Sebisa mungkin dia harus menghindari istrinya beberapa hari ke depan.
Tengah malam Gael keluar dari kamar, dia terbangun beberapa saat yang lalu. Lelaki itu menuju balkon lantai 2, Sambil menikmati angin malam. Lama dia di sana sampai sebuah langkah kaki mendekat.
" kau sudah kembali" Sam berdiri di belakang Gael.
" jika kembali dalam arti yang sebenarnya, masih belum bisa aku mengerti" balas Gael menatap Sam dalam.
" aku tidak bisa memaksa, kau pasti bingung karena keadaan ini" jawab Sam mengerti posisi Gael.
" jadi aku adalah anakmu yang hilang?" tanya Gael tanpa basa-basi.
" sepertinya begitu, sistem itu tidak mungkin salah. Aku sendiri yang merancangnya"
" lalu dimana ibuku?" tanya Gael lagi.
" ibumu meninggal di hari yang sama saat kau menghilang. Dia pergi bersamamu lalu terlibat kecelakaan, dan sama saat itu kau juga tidak bisa di temukan" jelas Sam, dia pastikan Gael tau alasan mereka berpisah. jangan sampai Gael berfikir jika Sam membuangnya atau menelantarkannya.
" menyedihkan sekali hidupmu selama ini, kau pasti sangat kesepian" karena dia juga sama. Tanpa keluarga itu sangat menyedihkan.
" sekarang tidak lagi, aku sangat senang harapanku sudah terkabul. Kau berdiri di depanku dengan gagah. jika aku mati sekarangpun aku pasti tenang" ucap Sam emosional.
" kita baru bertemu dan kau membahas kematian. lucu sekali" Gael tertawa sumbang.
" ya, maafkan aku" Sam merasa tidak enak.
" apa aku boleh memeluk mu?" tanya Sam hati-hati.
" tentu" jawab Gael singkat. Sam berjalan mendekat merentangkan tangannya dan perlahan memeluk Gael, anaknya yang hilang puluhan tahun lalu.
" queen, aku sudah menemukan anak kita" ucap Sam parau, bahu Sam bergetar, lelaki itu menangis dalam pelukan Gael.Gael mengelus punggung Sam pelan. Dia juga menangis, inilah rasanya di peluk oleh ayah. Selama ini dia juga menginginkan hal yang manusia normal dapatkan. pelukan hangat ayah ibu, ciuman selamat malam hingga makan atau menghabiskan waktu bersama.
" Gery ku yang hilang telah kembali" Sam semakin terisak, rasa kerinduan yang tertahan puluhan tahun, kini luruh dalam dekapan sang anak.
"sstt" guman Gael menenangkan. Mereka sama-sama hanyut dalam keharuan, pelukan itu berlangsung lama.
Pagi harinya, sarapan di gelar dengan ramai, Gael dan seluruh temanya duduk di sana. Mereka dengan senang menyantap makanan yang tersaji.
Di lantai atas Sam melihatnya dengan senang, harapan selama ini tercapai satu demi satu. Dia dan Gael sepakat hanya akan mengatakan hal ini pada orang terdekat saja. Gael mengatakan jika dia sejak awal berada dalam dunia hitam. Sam jadi merahasiakan identitas aslinya pada Gael.
tap tap Langkah kaki membuat semuanya menatap ke arah Sam.
" silahkan menikmati makanannya" ucap Sam lalu mengambil duduk di kursi utama.
" aku ada berita baik" Gael berdiri dan berjalan mendekati Sam.
" belum lama ini kita menghadapi masalah bertubi-tubi hingga membawa kita kemari. Hal ini ternyata sudah menjadi takdir karena ternyata membuatku bertemu dengan ayah kandungku. Samuel Morrow" ucap Gael tenang, dia melihat ke arah ayahnya yang terharu.
" kau serius?" tanya Myria kaget, jadi rumah besar ini adalah milik mertua nya.
" iya, dia ayahku" jawab Gael bahagia.
__ADS_1
Dimeja itu semua orang terlihat kaget dan bahagia. Baik Myria, Sonia dan Ansel. Lelaki itu yang paling syok, sampai tidak bisa berkata-kata.
Sedangkan Angel menangis senang, akhirnya pamannya bisa berdiri berdampingan dengan anaknya. Hanya Angel yang tau jika lelaki di depan sana adalah pemimpin kelompok GM yang terkenal itu.