
" ti. tidak ada siapapun" cicit Myria yang sudah sangat marah bahkan untuk melihat wajah Gael saja sekarang Myria sudah tidak berani.
" kenapa kau suka sekali mengujiku?" Gael sudah habis kesabaran. Lelaki itu menarik tubuhnya mundur. Dia melepaskan kemejanya. Gael benar-benar frustrasi dengan fikiran nya akan adanya lelaki lain.
" aku tidak " cicit Myria yang tidak bisa lagi menghadapi Gael. Lelaki ini tenggelam dalam prasangka buruknya sendiri.
" lebih baik biarkan aku pergi" lanjut Myria yang malah menyiram minyak dalam kobaran api.
" sekali lagi kau bilang pergi, aku akan membuat kakimu tidak bisa berjalan! mau?!" sentak Gael. Lelaki itu kemudian pergi untuk menenangkan dirinya. Dia tidak mau melewati batas. Sebaiknya dia harus lebih bisa mengontrol emosinya.
Di dalam kamar Myria semakin bingung, dia tidak mungkin bisa mengalahkan Gael jika seperti ini terus. Sistem keamanan Gael sangat tidak bisa di tembus, apalagi tidak ada benda apapun yang bisa digunakan oleh Myria. Wanita itu bisa-bisa tidak akan bisa keluar dari sini. Myria akan mencari cara lain agar Gael bisa melunak dan melonggarkan keamanan.
" aku harus membuat Gael mengira jika aku menjadi penurut seperti sebelumnya" guman Myria. Mulai sekarang dia akan bersikap seperti dahulu saat mereka pertama kali bertemu. Myria akan menjauhkan diri dari keinginan melarikan diri.
Disisi lain Gael turun ke dapur, dia mengambil minuman dingin. Rasanya kepalanya seakan ingin meledak. Memikirkan Myria dengan lelaki lain saja sudah sangat menguras emosinya. Bagaimana jika nanti lelaki itu ada hadapannya, Gael akan langsung menembak mati lelaki dalam sedetik saja.
Pukul 7 malam Gael baru masuk lagi ke kamarnya. Myria terlihat berbaring di ranjang. Gael meletakkan makanan yang di bawanya dan pergi ke kamar mandi. Dia perlu menyegarkan tubuhnya sebelum kembali menuntut jawaban dari Myria.
" kau darimana saja?" tanya Myria saat Gael baru keluar dari kamar mandi. Lelaki itu merasa aneh dengan sikap Myria. Wanita itu bahkan makan dengan lahabnya.
" terserah aku" Jawab Gael cuek. Lelaki itu mendekati Myria dan duduk di belakang wanita itu. Gael akan menguji Myria.
Dia memeluk Myria dari belakang, menghirup aroma tubuh wanita itu.
" aku belum selesai" saut Myria sambil meneruskan makannya.
__ADS_1
" memang nya kenapa?" Gael tidak mau tau, dia bebas melakukan apapun sesuka hatinya. Myria kesal sejak dia kembali Gael tidak pernah mendengarkan ucapannya. lelaki itu semaunya sendiri.
" tunggu selesai dulu" Myria menggoyahkan tubuhnya agar pelukan Gael terlepas.
" kau berniat menipuku?" Gael bersuara, tubuh Myria mendadak tegang, dan Gael.dengan posisi memeluk seperti ini dengan mudah bisa merasakannya.
" kau tidak akan bisa" lanjut Gael dengan masih meneruskan aksinya.
Myria mendadak kehilangan nafsu makannya. Dia tidak mengira Gael sejenius ini. Semua sandiwaranya menjadi sia-sia.
" tidak" Myria masih mencoba berbohong, wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap Gael dalam.
" saat aku pergi, aku selalu merindukanmu. Ingin selalu di samping mu seperti ini" Myria tidak bohong tentang ini, dia membalas pelukan Gael bahkan dia mengalunkan tangannya di leher Gael dan mencium bibir lelaki itu. Gael diam saja, dia ingin melihat bagaimana Myria menggodanya.
" tapi sejak datang, kau selalu saja marah padaku" Myria menghentikan ciumannya. Dia menangkap wajah Gael yang masih kesal dan menatap kedua mata lelaki itu.
Malam ini Myria tidak menolaknya, dia membiarkan bahkan ikut menikmati sentuhan Gael malam itu. Myria tidak lagi menutupinya, wanita itu meluapkan semuanya hasratnya.
Pagi harinya Gael tetap meninggalkan Myria dalam keadaan terkunci. Meskipun semalam mereka seakan berbaikan nyatanya Gael masih belum sepenuhnya percaya.
Sore harinya dia mengunjungi PIN. Dia akan berbicara empat mata dengan Ansel.
" bagaimana lukanya?" tanya Gael saat dia masuk ke kamar Ansel dan lelaki itu sedang di obati oleh Sonia.
" jangan sok perhatian padaku, sssrtt" Ansel mendengus kesal, Gael benar- benar tidak main- main memukulnya kemarin. Sudut bibir Ansel bahkan masih belum kering.
__ADS_1
" gigi sedikit goyang dan sudut bibir tuan Ansel robek sedikit" jawab Sonia. Sedangkan luka lebam sudah terlihat membaik.
" gara-gara kamu aku tidak bisa berciuman dengan Sonia" Ansel masih sangat kesal.
" sudahlah jangan merajuk seperti wanita" Gael duduk di sebelah Ansel.
" kau!!" Ansel sudah siap mencaci tapi mulutnya tidak bisa di buka terlalu lebar.
" ada yang ingin aku tanyakan padamu, berdua saja. ini soal Myria" ucap Gael menatap Ansel dengan kode untuk menyusun Sonia pergi dulu.
" emm.. kau keluarlah dulu" ucap Ansel, Sonia mengangguk pelan dan keluar kamar dengan membawa kotak obat.
" apa yang ingin kau tanyakan?" Ansel sudah sedikit tenang dan bisa berfikir dengan baik.
" apa Myria ikut terlibat dalam hancurnya Batu Hitam?" Gael sejak semalam memikirkan hal ini. Dia sedikit yakin dengan asumsinya ini. Semua riwayat lokasi Myria seakan menjelaskan seperti itu.
Ansel terdiam, dari penilaiannya sepertinya Myria belum mengatakan hal yang sebenarnya pada Gael. Jika dia yang mengatakannya kemungkinan Gael pasti akan memukulnya lagi. Tapi Ansel juga tidak mau terus berbohong pada Gael.
" Myria belum mengatakan apapun? aku tidak mau kau semakin salah paham. Biarkan Myria sendiri yang menjelaskan padamu. Beri dia waktu untuk bisa menjelaskan hal itu padamu" jawab Ansel menengahi. Bukannya Ansel ingin membela Myria. Dia hanya ingin menyelamatkan dirinya. Tidak mau mendapat amukan yang sama jika Gael tau dialah yang memberikan berkas hasil pemeriksaan miliknya.
" kau membela dia?" tanya Gael curiga, semenjak Myria tertangkap rasanya Ansel sedikit melindungi wanitanya. bukan Ansel sama sekali, lelaki ini tidak pernah mau melindungi siapapun. Kenapa penuturannya tadi seperti peduli dengan Myria.
" bukan, bukan begitu. aku hanya, hanya teringat dengan Sonia. Dia dulu juga tertutup padaku" jawab Ansel cepat, dia panik saat Gael curiga dengannya. Lelaki itu menjadi serba salah.
" kenapa kalian terlihat mencurigakan?" Gael tidak bisa tenang.
__ADS_1
" jangan berfikir macam-macam, aku selalu bersama dengan Sonia. Hanya dia yang aku mau" Ansel mencoba meyakinkan Gael. Semua akan berbahaya jika Gael terus mencurigainya. Bisa-bisa semuanya terbongkar, jelas Gael tidak akan melakukan apa-apa pada Myria. Nasibnya yang akan di pertaruhkan.