
Setelah semuanya masuk mobil, Ansel segera menginjak pedal mobil. Mobil melaju cepat menuju lokasi sinyal dari Gael. Mereka semua dengan cemas terus berdoa agar perjalanan ini bisa sampai cepat.
Begitu sampai mereka tentu saja langsung berhadapan dengan beberapa anak buah dari kelompok Rival, mereka adalah kelompok Serigala merah, seperti tanda yang ada di lengan para anggotanya.
Tanpa banyak bicara kelompokkan Ansel segera memulai baku tembak. Mereka dengan mudah masuk ke dalam bangunan, karena memang Serigala merah tidak mengetahui kedatangan mereka, tidak ada persiapan yang matang. Mereka pasti menyangka jika hanya Gael seorang yang datang.
setelah semua lawannya tewas segera Ansel memimpin mereka menuju sebuah ruangan, di dalam mereka bisa melihat seorang laki-laki tergeletak dan seorang Wanita yang masih terikat duduk di atas kursi.
Para anggota serigala merah langsung saja melarikan diri begitu tau mereka di kepung, karena jelas mereka akan kalah jika melawan Ansel beserta kawanannya.
" Gael sadarlah" lelaki itu bersimbah darah. Ansel segera meletakkan kepala Gael di atas pangkuan. Dia terus menggoyang-goyangkan tubuh temannya agar bisa sadar. Dia juga mengecek nadinya, dan seketika tubuhnya melemas. Nadi Gael begitu lemah.
" kita bawa ke rumah sakit. cepat!!!" teriak Ansel, lelaki itu sudah melupakan luka miliknya karena begitu cemas. Para anak buahnya dengan cepat membopong bos mereka.
Semua berlari dan segera pergi, bahkan Ansel sama sekali tidak peduli bagaimana nasib Myria. Lelaki itu meninggalkan wanita itu begitu saja. meskipun Myria terus meminta untuk dilepaskan. Untung saja salah satu anggota tergerak hati dan membuka ikatan pada tubuh Myria.
Myria segera ikut rombongan itu, dia sudah tidak peduli lagi apa yang akan Ansel dikatakan padanya. Entah itu memaki atau menjualnya lagi Myria sudah tidak memperdulikan apapun lagi, yang terpenting dia ingin bersama dengan Gael.
Dia ingin tahu bahwa kondisi Gael tidak seburuk yang dia pikirkan. Mereka tiba dirumah sakitnya, pihak Rumah Sakit bahkan langsung memberikan penanganan. Ansel sudah menelpon mereka terlebih dahulu. Ruang operasi sudah di siapkan sebelum mereka sampai. Gael langsung dibawa ke dalam ruang operasi itu sedangkan lainnya menunggu di luar termasuk Myria.
Wanita itu terus menangis menyalahkan dirinya, kenapa dia begitu mudah percaya kepada seseorang asing dan menyebabkan lelaki yang dia cintai harus mengalami hal buruk ini.
__ADS_1
Sejak tadi Ansel sama sekali tidak menegur ataupun menganggap Myria itu ada. Lelaki itu hanya terus berdoa agar Gael di sana baik-baik saja.
Mereka tidak memikirkan apapun lagi selain lelaki yang ada di dalam ruangan operasi.
Waktu semakin malam dan keadaan belum diketahui. Lampu operasi terus menyala bahkan sudah memasuki durasi 3 jam. Kali ini Ansel sudah tidak sanggup, dia benar-benar merasa tidak berguna.
Lelaki itu menyuruh anak buahnya agar mengeluarkan Myria, Ansel mencari seseorang untuk dijadikan sasaran kemarahan dan kekecewaanya.
Saat melihat Myria segala emosi buruknya keluar. Sedari awal dia memang sudah muak dan sangat membenci wanita itu. Dia tidak mau melihat wajah wanita yang sudah membuat temannya seperti ini. Wanita yang dengan seenaknya masuk dalam kehidupan Gael dan merusak segalanya, pencapaian bahkan merusak pendirian Gael. Merubah lelaki itu menjadi seseorang yang lemah.
"tidak jangan bawa aku. Aku tidak mau pergi dari sini" ucap Myria kepada seseorang yang berusaha menyeretnya pergi.
"maafkan aku, tapi tuan Ansel menyuruh Anda untuk pergi dari sini" jelasnya.
"maafkan saya tapi perintah tuan Ansel adalah mutlak" ucap anak buah itu.
Maria Segara bangkit dan berjalan menghampiri Ansel.
"aku mohon biarkan aku menunggu Gael di sini" ucap Myria sambil bersimpuh di depan ansel yang duduk di kursi.
Plak
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipi putih mulus itu. Ansel benar-benar muak dengan wajah sedih wanita ini. Lelaki itu dengan keras menampar, Myria langsung terkapar. wanita itu jatuh tubuhnya menumbuk lantai dengan keras. Sudut bibirnya berdarah.
"aku sudah bilang jangan pernah ganggu Gael lagi" ucap Ansel dengan penuh Penekanan.
" kau hanya wanita murahan, sama sekali tidak pantas dengan Gael. Kau hanya memberikan pengaruh yang buruk padanya. Gael tidak pernah seperti ini sebelumnya kau datang. Dia adalah lelaki hebat yang tidak memiliki kelemahan. karena kau karena bertemu dengan wanita sepertimu dia menjadi lemah. Kau yang menyebabkan dia seperti ini. Dan sekarang kau memintaku untuk membiarkanmu menunggunya?, tidak. kau harus pergi menjauh dari Gael" Ansel dengan menggebu-gebu mengeluarkan semua rasa ketidaksukaannya kepada Myria.
Wanita itu bangkit dan terus menangis. Semua yang Ansel katakan mengenai dirinya adalah benar. Dia memang yang menyebabkan semua hal buruk ini. Dia yang sudah memberikan kelemahan kepada lelaki pujaan hatinya. Myria menyesal sekarang tapi dia tidak mau pergi dari sini, dia akan menemani Gael.
" tunggu apa lagi pergi dari sini!!" usir Ansel. lelaki itu sedikitpun tidak merasa iba melihat kondisi Myria yang lemah, bahkan terdapat beberapa luka di tubuhnya.
Kali ini Myria tidak mau menyerah dia sudah siap dengan perlakuan Ansel. Dia kekeh akan tetap menunggu Gael sampai ke benar-benar sadar.
"baiklah jika kau masih bersikeras di sini jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang kasar" Ansel memberikan kode kepada anak buahnya untuk menarik paksa Myria keluar dari rumah sakit.
mereka dengan mudah menyeret tubuh lemah itu masuk ke dalam mobil. Ansel mengamankan wanita itu. Dia akan memberikan pelajaran kepada Myria nanti. Jika keadaan Gael semakin buruk maka dia tidak akan segan-segan menyiksa wanita itu sampai mati.
Myria menjerit terus meminta dilepaskan namun tidak ada satu orang pun berani menentang perintah tuan Ansel. Myria di bawa ke PIN dan dimasukkan ke ruangan khusus.
Waktu terus bergulir Ansel masih setia berada di depan ruangan operasi. Sudah hampir 5 jam operasi itu berjalan. Lampu operasi Baru saja mati, seorang dokter keluar dan Ansel segera menghadangnya.
"bagaimana keadaannya dok?" tanya Ansel cemas.
__ADS_1
" kami sudah melakukan semua tindakan agar luka-luka di dalam di tubuhnya membaik dan tidak membahayakan hidupnya. Beberapa tulang rusuk patah, membuat organ dalamnya terganggu, tapi tapi tuan tenang saja. Tuan Gael akan baik-baik" jawab dokter tersebut. Nafas lega keluar dari bibir Ansel. Kekhawatirannya Ini digantikan dengan rasa syukur, meskipun dia belum tahu akan seperti apa kondisi gel nanti.
Setelahnya Gael telah dipindahkan ke ruang inap. Ansel setia mendampingi bahkan semalaman ini dia tidak tidur.Jika menurut penuturan dokter Gael akan sadar 2 jam setelahnya. Dan Ansel benar-benar menantikan karena jika sampai terlewat kemungkinan Gael mengalami koma.