
Setelah menyelesaikan pengobatan mendadak kepada Myria, Sonia kini melaksanakan tugas utamanya. Wanita itu datang ke kamar Ansel. Dan seperti biasanya lelaki itu dengan tanpa bosan selalu menjelajahi tubuhnya, belum lagi dia sudah berada di sana hampir dua hari yang lalu. membuat Sonia tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai koki. Ansel memang bebas melakukan apapun yang dia mau, dia adalah pemilik baru dari tempat ini.
"menurutmu bagaimana kondisinya?" pertanyaan Ansel di sela-sela aktivitas mereka.
"luka-luka Noah cukup banyak, namun tidak begitu serius. Kemungkinan masih bisa bertahan sampai besok" penjelasannya singkat Sonia.
Sebelum menjadi imigran gelap, wanita itu sempat mengikuti pelatihan tenaga medis untuk dikirim ke daerah- daerah konflik. Membuat Sonia setidaknya sedikit memahami tentang cara mengobati seseorang serta kondisi fisik seseorang.
"Menurutmu apakah dia bisa memenangkan pemilihan ini?" tanya Gael yang sibuk dengan mainannya.
" sepertinya Noah akan bisa mengalahkan musuhnya besok. Setidaknya dia harus bisa bertahan lebih lama" jawab Sonia optimis.
"Baiklah kita lihat besok" ucapan Ansel kemudian melanjutkan aktivitas panasnya.
Keesokan harinya Myria yang sudah siap berjalan menuju aula. Kini giliran menjadi penonton aksi pertandingan kelompok kedua. Meskipun hanya melihat nyatanya dia juga mengamati serangan dan kelemahan dari orang-orang yang ada di sana.
Dia menilai lawannya bagaimanapun satu dari mereka yang menang akan menjadi lawannya nanti. kali ini pertandingan terlihat lebih lenggang, di babak pertama saja perempuan sudah kalah lebih dahulu. Tinggal laki-laki bertarung dengan lelaki.
Pertarungan mulai terlihat sangat sengit, beberapa dari mereka sangat ahli dalam mengatur tenaga dan menyerang. Myria akan mendapatkan lawan uang cukup berat saat final nanti. Dari jauh Ansel ternyata memperhatikan Myria, dari penglihatannya Aura Myria sangat berbeda dari sebelumnya. Kini antara dia dan Gael seakan memiliki aura yang sama.
__ADS_1
Pertandingan selesai seorang telah memenangkan pertandingan ini dengan satu serangan. Myria benar-benar khawatir kali ini, bagaimana kecakapan lawannya tidak main-main. Belum lagi lelaki itu sangat menguasai teknik-teknik bertarung.
Namun tekad Myria tidak boleh kendur, ini adalah langkah terakhirnya. Dia harus bisa memenangkan pemilihan ini karena jika tidak, semua usahanya akan sia-sia. dia harus bisa membalaskan dendam kematian ayahnya.
Setelah selesai Ansel mengumumkan jika malam ini akan diadakan pertandingan final. Malam ini akan menjadi malam terakhirnya latihan disini. Pertarungan satu lawan satu untuk mencari pemenang. Myria sejak tadi merasa sedikit gugup, dia ditemani Sonia. Wanita itu menyiapkan alat pelindung di dalam tubuhnya, dia juga menyuruh Myria mengkonsumsi obat pereda nyeri agar rasa sakit di tubuhnya tidak menganggu konsentrasinya. Myria tidak mau kalah, usahanya akan sia-sia jika itu terjadi.
Semuanya sudah siap Myria naik ke atas ring. Lawannya seorang laki-laki dengan postur tubuh yang besar, dia juga pandai bertarung.
Pertandingan pun dimulai, masing- masing memasang pertahanan. Tidak ada yang memulai serangan, keduanya saling menunggu. Myria akan mulai menyerang sampai dia benar-benar mengetahui pergerakan lelaki tersebut. Dan beruntung sepertinya kelemahan yang bisa Myria lihat, lelaki ini tidak sabaran. Dilihat dari dia yang mulai agresif dan menyerang bertubi-tubi.
Myria mencoba menghindar beberapa kali, namun tubuhnya terkena pukulan. Myria yang harus bertahan, dia mencari celah untuk memberikan serangan mematikan. Ansel melihatnya pun dengan mendadak menjadi tegang. Bagaimana caranya Myria bisa memenangkan pertandingan ini. Meskipun awalnya dia membenci wanita ini, namun setelah melihat perkembangan Myria yang pesat, dia menginginkan Myria lah yang menang.
Suara teriakan memenuhi ruangan, kedua orang di atas ring sedang menjatuhkan lawan mereka masing-masing. membuat Myria maupun lelaki itu sama-sama kelelahan. Mereka sudah berada di batas kekuatan masing-masing. Sampai akhirnya lelaki itu mengeluarkan tendangan dan mengenai perut Myria. Wanita itu terjatuh dan benar-benar kesakitan.
Lalu dengan sekali serang menggunakan sikunya pada tepi leher, membuat lelaki itu langsung terkapar. Penonton seakan dibuat diam sejenak. Mereka terheran-heran lelaki sombong itu sudah kalah. Myria dengan mudah membalikkan keadaan bahkan Ansel yang melihatnya sampai berdiri.
Dia seakan tidak percaya dengan penglihatanya. Dia bahkan sudah kehilangan harapannya, kini melihat bagaimana Myria dengan nafas yang tersengal-senang mengakhiri pertandingan dengan sangat epic. Semua orang dibuat tak percaya sebelum akhirnya suara gemuruh memenuhi aula tersebut.
Myria menjadi pemenangnya. Ansel ikut bertepuk tangan atas kemenangan Myria, lelaki itu sedikit salut dengan Myria yang kuat, sepertinya kali ini dia harus mengalah. Dia akan membuat Myria benar-benar bisa membalaskan dendamnya kepada pembunuh ayahnya.
__ADS_1
Ansel tidak habis pikir bagaimana bisa cara Gael menemukan wanita seperti ini. Memang Gael tidak salah dalam perhitungan, meski dalam kondisi Myria yang masih manja saja lelaki itu sudah mengetahui jika wanita ini bukanlah wanita biasa.
Hal yang sama terjadi pada Sonia, dia melihat Myria dengan salut dan rasa bangga. Dia masih ingat bagaimana Myria menangis di awal kedatangannya. Bagaimana wanita itu merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya karena diganggu oleh dua orang lelaki.
Dia merasa Myria benar-benar sosok wanita yang tangguh. Dalam waktu singkat saja dia sudah berubah jadi wanita yang kuat. Dia mampu bertahan demi membalas dendam.
" Baiklah seperti yang sudah kalian lihat sendiri, pemenangnya adalah Noah!" teriak Ansel memberikan pengumuman pemenang. Myria akan yang menjadi orang kepercayaanya dan bisa masuk ke PIN.
"kita sudahi acara pemilihan ini, kalian bisa mengobati luka luka dan Merayakan kemenangan" Ansel mengakhiri pidatonya.
Myria dengan dibantu Sonia berjalan tertatih menuruni ring, semua orang menatapnya dengan kagum. Baik laki-laki maupun perempuan mereka memberikan tatapan penghormatan pada Myria.
Wanita itu tidak menyangka jika dirinya benar- benar bisa sampai di titik ini. Wanita itu menangis bangga pada dirinya sendiri.
Myria berjalan menuju kamarnya, wanita itu benar-benar mendapatkan cidera yang cukup parah. Sonia mulai mengobati beberapa luka pada wajah. Myria benar-benar babak belur, mata sebelah kiri membengkak, pelipis kanan sedikit sobek, susur bibir berdarah dan masih banyak lagi. Di tambah cidera sendi. Wanita itu benar- benar habis.
"kau membuatku bangga" ucap Sonia.
"Iya aku tahu aku memang luar biasa" jawab Myria sambil tertawa.
__ADS_1
" dasar kau" Sonia langsung menimpali kesombongan Myria.
"semua ini juga berkat kau, sikapmu yang terus menyemangati ku, meneriaki ku dengan kata-kata yang pedas. Aku tidak akan sampai di sini tanpa semua itu. Kau adalah teman terbaikku dan tidak akan pernah aku lupakan" Myria dan Sonia menangis. mereka benar-benar wanita yang tangguh melewati kepahitan hidup dengan penuh rasa juang.