
Lift terbuka di lantai dasar, Myria berjalan menuju loby. di sama sudah ada sopir yang menunggu.
" berikan padaku!" ucap Myria ketus dan langsung mengambil kunci mobil. Wanita itu mengemudikan mobil dengan laju cepat menuju Mansion utama.
Gael baru sampai turun lewat tangga, dia bisa melihat Myria masuk mobil namun dia kalah cepat.
" berikan aku mobil apapun" ucap Gael pada sopir disana.
" se sebentar tuan" jawab sopir itu menyuruh penjaga keamanan.
" cepat!" Gael sangat panik. Entah apa yang akan Myria lakukan, dia takut wanita itu kehilangan kontrol dirinya.
" itu itu mobilnya" Gael langsung berlari dan menarik pengemudi di dalam.
Lelaki itu mengejar agar bisa sampai di Mansion lebih dulu.
" ada apa?" tanya Sam yang kebetulan melihat kejadian itu dari ruangannya.
" saya tidak tau tuan, kedua orang itu tergesa-gesa pergi" jawab sopir.
" siapkan aku mobil" perintah Sam, dia akan pulang.
" baik tuan" ucap supir
Tak berselang lama Myria tiba di Mansion utama. Wanita itu memarkirkan mobil dengan sembarangan, dia langsung masuk dengan langkah lebar.
" Myria" sapa Angel yang saat itu akan keluar. Myria dengan wajah menahan emosi tidak menyahut dan melewati wanita itu. Angel merasa ada yang tidak beres. Dia mengikuti Myria dari belakang.
Myria naik dan menuju kamar Sonia. Keberuntungan menghampiri Myria. Ansel sedang duduk di ruang santai lantai 2. Myria langsung mendekati lelaki yang sedang main Game itu.
prang.. plak. Myria membanting ponsel baru Ansel dan menamparnya dengan keras.
" apa-apaan kau!" Ansel langsung tersulut emosi. Dia berdiri menatap Myria tajam.
" kau! sejak awal mempermainkan ku, kau lelaki biadap, pembunuh, tak punya hati. Sialan!" teriak Myria, dia bersiap memukul Ansel tapi Ansel dengan cepat menghindar.
" apa maksudmu, aku tidak melakukan apapun" kilah Ansel yang sebenarnya tidak ingat apa yang sudah dia lakukan.
" aku akan membunuhmu Ansel" desis Myria, dia menarik tas Angel.
" Myria apa yang.." belum juga selesai, kini Angel tau apa yang Myria cari. Myria pernah melihat Angel menyimpan pistol di dalam tasnya. Dan benar saja, Myria dengan cepat menemukannya.
" kau sudah membuat ayahku terbunuh Ansel. kau yang mengirimkan data ku dan ayah kepada GM, kau memanfaatkan ku dengan sangat baik. Kau jadikan aku mesin pembunuh, Kau sangat jahat padaku!" Myria mengusap air matanya yang mengalir. Dia menodongkan pistol itu tepat ke arah kepala Ansel.
" Myria apa yang kau lakukan, kita bicarakan hal ini baik-baik" Angel mencoba membujuk meskipun dia tidak tua apa yang sudah terjadi. Angel memegang lengan Myria untuk menahan tembakan.
" lepaskan aku!" sentak Myria, dia ingin membunuh lelaki brengsek ini.
" apa ini? aku tidak melakukan apapun hey kau, turunkan pistol itu sekarang" ucap Ansel tanpa merasa bersalah.
" kau sudah membuat ayahku meninggal. kau tau betul, apapun yang berkaitan dengan kematian ayahku, aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak takut menghadapinya. Aku sudah mengatakan hal ini bukan?" jelas Myria sambil terus menangis.
" aku menyesal mempercayaimu Ansel" lirih Myria.
" Myria!" Gael akhirnya sampai dia berlari menuju lantai 2 dan langsung berdiri diantar Ansel dan Myria.
" ku mohon turunkan pistol itu. Kita selesaikan dengan cara lain" bujuk Gael.
" Gael akhirnya kau datang, wanita ini ingin membunuhku. Tangkap dia Gael" Ansel malah semakin membuat Myria panas.
__ADS_1
" menyingkir dari sana" ucap Myria. Dia tidak main-main dengan keputusannya.
" Myria dengarkan aku, Ansel akan kita hukum sesuai dengan perbuatan. tapi tidak dengan kau menembaknya. turunkan dulu pistol itu " ucap Gael lembut. Dia berjalan mendekati Myria perlahan.
" Gael kenapa kau malah membelanya?" Ansel merasa tidak terima.
" sayang, aku mohon. turunkan" Gael sudah sangat dekat.
Myria masih menangis memikirkan ayahnya.
" Myria jangan lakukan" guman Gael dan kini dengan cepat. mengambil pistol itu dan memeluk Myria erat. Gael melemparkan pistol itu ke lantai 1.
" dia membunuh ayahku Gael" tangis Myria, wanita itu memberontak ingin lepas dari dekapan Gael.
" sstt, aku tau, tenanglah. ingat kau sedang hamil. kita selesaikan ini setelah kau tenang ya" bisik Gael menarik Myria menuju kamar mereka.
" Gael, " panggil Ansel yang bingung dengan sikap Gael yang malah membela Myria.
Sam baru saja datang, dia menemukan pistol milik Angel tergeletak tak jauh dari sana. Tak lama Angel yang berniat mengambilnya sampai di lantai dasar.
" apa yang terjadi?" tanya Sam bingung.
" Myria marah besar dan ingin membunuh Ansel, dia mengatakan jika Ansel mengirim informasi pada GM dan membuat ayahnya terbunuh. aku tidak tau jelasnya. Kini Gael sedang menenangkannya" jelas Angel.
" apa ini berkaitan dengan Lucas?, mereka baru saja menemui lelaki itu" ucap Sam yang penasaran.
" mungkin saja. Tapi paman, nama GM terlibat di sini. jika mereka tau bahwa paman adalah..".
" aku akan menerima semuanya. Aku memang tidak tau menahu dengan kasus ini. Tapi jika Myria meminta pertanggungjawaban ku sebagai pemimpin GM, aku akan menerimanya" jelas Sam dia kemudian berlalu. Sam menelpon bawahannya untuk menyiksa Lucas dan memaksa mengatakan apa yang membuat Myria marah kepada Ansel.
Di dalam kamar Gael sudah mengunci pintu, dia memeluk Myria yang masih menangis.
" dia sudah menipuku Gael, dia bilang akan membantuku menemukan pembunuh ayahku. Nyatanya dialah yang merencanakan semua ini. Dia mengubah ku menjadi Monster. Aku sudah sangat mempercayainya" jelas Myria dengan tersedu-sedu.
" kenapa kau tak pernah mengatakan hal ini padaku sebelum nya? jika tau begini aku bisa memberikan pelajaran padanya" Gael berusaha memadamkan emosi Myria.
" entahlah, dia yang memintaku untuk tidak mengatakan hal ini. Ansel jahat Gael, aku ingin membunuhnya" Myria terus merengek meminta agar Gael membiarkannya membunuh Ansel.
" kau tau, saat ini Ansel masih belum mengingat apapun. Dia sedang bersandiwara di depan Sonia. Mau kau bunuh dia sekarang, dia juga tidak tau apa alasannya. Jadi ku mohon tahan dirimu" Gael berusaha menasehati.
" Kau membelanya?, apa kau pikir bisa memaafkan seseorang yang membuat keluargamu terbunuh?. jangan buat aku menyesal percaya padamu juga Gael. Bagiku ayahku adalah segalanya, aku bahkan berani mengubah diriku seperti ini, sekarang tinggal sedikit lagi dendamku akan terbalaskan" Myria tidak mau terima alasan apapun. Dia ingin nyawa di balas nyawa.
" Myria ingat kau sedang hamil, jangan membunuh orang" Gael selalu saja mengingatkan Myria terkait kehamilannya. Myria terdiam dia kecewa dengan sikap Gael yang menahan dirinya.
" baiklah, biarkan aku yang melakukannya, aku akan memukuli Ansel sampai kau puas" ucap Gael yang harus turun tangan, dialah yang membawa Myria ke dalam dunianya. Dia juga yang selama ini terlalu percaya pada Ansel. Jika dia tidak bertindak kemungkinan Myria akan merasa kecewa dengan dirinya.
Gael berdiri dan membuka kunci, dengan langkah pasti dia berjalan menghampiri Ansel yang sedang memperbaiki ponsel miliknya yang rusak akibat bantingan Myria.
" Gael, apa wanita gila itu sudah tenang?" tanya Ansel tanpa tau niat asli Gael menemuinya.
bug Gael langsung memukul pipi Ansel.
" Gael apa yang..."
bug. dia menendang kaki Ansel saat lelaki itu hendak berdiri.
bug bug bug, Ansel mendapatkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi.
" Gael kau kenapa? sstt. kau mempercayai ucapan wanita itu?" Ansel bangkit dengan sempoyongan.
__ADS_1
bug Gael memukul lagi, Ansel jatuh lagi. Gael mengatur nafasnya, membiarkan Ansel bangkit.
" Sonia tolong aku, tolong siapapun. Gael ingin membunuhku" teriak Ansel panik. Gael menatap nya dengan tajam.
bug bug. Kini Ansel membalas pukulan Gael.
" Sonia!" teriak Ansel, dia memanggil Sonia karena dia tau Gael merasa bersalah pada wanita itu, jika tidak, mana mungkin dia menyuruhnya bersandiwara bahwa dia baik-baik saja di depan Sonia.
bug bug Gael memukul perut dan kaki Ansel.
Semua penghuni Mansion berlari menuju lantai 2 karena teriakan Ansel. Mereka fikir ada sesuatu yang berbahaya. tapi nyatanya Gael sedang memukuli Ansel.
" tuan Gael ada apa?" Sonia turun dari ranjang karena teriakan Ansel.
" Sonia tolong aku" Ansel mendekati Sonia agar Gael tidak memukulinya.
" beraninya kau bersembunyi pada wanita" Gael bertambah kesal.
Gael menarik kerah baju Ansel, dan melemparkannya menjauh dari Sonia.
bug bug Gael kembali memukuli lelaki itu.
" tuan" teriak Sonia , tidak tega dengan kondisi Ansel.
Wanita itu menemui Myria di kamar, dia sedang duduk di ranjang.
" Myria cepat kemari, tuan Gael memukuli Ansel sampai babak belur, tolong hentikan tuan Gael" ucap Sonia menarik tangan Myria. Mereka keluar dari kamar dan kini Myria melihatnya, Gael benar-benar memukuli Ansel.
" Myria hentikan tuan Gael" ucap Sonia cemas. Sedangkan Myria diam dengan pandangan datar. Gael yang tau kehadiran Myria, dia berhenti sejenak dan melihat ke arah Myria.
Semua menatap Myria dengan penuh harap, tak terkecuali Angel dan Sam. mereka melihatnya dari lantai 3.
" Myria aku mohon hentikan tuan Gael" Sonia terus mengiba.
bug bug aakk. Ansel sudah sangat babak belur.
" Myria aku mohon demi anakku, Ansel bisa mati karena pukulan tuan Gael. aku tidak ingin anakku kehilangan ayahnya sebelum lahir" Sonia memegang tangan Myria berharap Myria mau membantunya.
bug bug Gael terus melakukan aksinya. Myria terlihat tidak goyah, dia belum puas melihat Ansel yang babak belur.
" Myria, aku Mohon" Sonia menangis ketakutan. Ansel sudah terkapar tak berdaya. wajahnya mengeluarkan banyak darah, tubuhnya penuh luka lebam.
Baru saja Gael ingin melayangkan tendangan.
" hentikan" ucap Myria akhirnya, Semua ini karena anak Sonia. wanita itu kemudian masuk kembali ke kamar.
Gael menarik diri, Ansel bisa bernafas lega.
" panggil kan dokter Watson" ucap Gael pada pelayan di sana. kemudian berlalu menuju kamar. Sonia setengah berlari membantu Ansel duduk di sofa dengan beberapa pelayan lainnya.
" apa yang terjadi?" tanya Sonia sambil menangis.
Gael masuk kamar, dia tidak mendapati Myria dia sana. Namun suara gemericik air menandakan jika Myria berada di kamar mandi. Gael masuk dan benar saja, Myria berdiri di bawah guyuran air dengan pakaian lengkap. Gael bergabung membawa tubuh ringkih itu dalam dekapan nya.
" aku berjanji akan membunuh siapa pun yang terlihat" lirih Myria.
" ayahmu pasti mengerti, dia hanya ingin kau bahagia, melepaskan dendam dan hidup tanpa beban" ucap Gael berusaha menghibur Myria atas pilihan yang dia ambil.
" hika hiks" Myria menangis lagi dia masih merasa bersalah pada ayahnya.
__ADS_1
" lepaskan dendam ini, kau berhak bahagia dan memilih kehidupanmu" Gael mengusap punggung Myria pelan memberikan rasa nyaman agar Myria tau jika ada seseorang lain yang ada di sampingnya.