Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
51. Akhir Pertama


__ADS_3

" tidak! dari mana kau mendapatkan ini semua? " Dom membaca nya dengan seksama. Semua yang tertulis adalah bohong.


" kau tidak perlu tau, yang jelas sesuai dengan peraturan kelompok kau harus menerima hukumannya" Sergio memberikan kode kepada pengawal agar memulai tindakan.


" hukuman apa? aku tidak melakukan apapun" ucap Dom terus membantah semua yang ada di dalam berkas itu.


" itu buktinya? aku bahkan sudah mengecek rekening semuanya benar. kau tidak perlu mengelak lagi" Sergio sama sekali tidak mau mempercayai ucapan Dom, lelaki itu sudah pasti lebih mempercayai sesuatu yang sudah ada di depan mata.


" kalian bawa dia" ucap Sergio tidak ingin menunggu waktu lama.


Namun baru saja mendekat satu langkah anak buah Dom yang berada di depan pintu segera masuk dan mengamankan tuannya.


" kalian siap mati jika ingin melindungi nya" ucap Sergio mengancam. Melihat kondisi yang semakin runyam, bawahan Sergio tidak ingin tinggal diam. Mereka juga ikut melindungi tuan mereka juga.


Mereka saling bersitegang, di lihat saja kelompok Dom sudah kalah jumlah serta persenjataan. Mereka jelas kalah dan hanya menyerahkan nyawa saja.


" aku beri kesempatan, jika kalian ingin selamat, segera turunkan senjata kalian dan biarkan kami membawa Dom" ucap salah satu pengawal Sergio.


Anak buah Dom saling menatap, loyalitas mereka di uji. Mereka begitu setia dengan Dom, tapi di sisi lain mereka juga lebih sayang dengan nyawa mereka.


satu orang melepaskan pistol yang dia bawa dan menggeser tubuhnya dari barisan, yang lain semakin di landa kebingungan. Sergio tersenyum tipis seolah mengejek kesetiaan bawahan Dom.


" aku tidak bisa menunggu terlalu lama " ucap Sergio dalam perlindungan bawahannya.


satu persatu bawahan Dom melepaskan senjata, kini hanya tersisa 4 orang.


" kalian tidak perlu takut, kita tumbuh bersama dan mati bersama. suatu saat kebaikan kita akan membuat mereka menyesal" Dom memberikan ucapan semangat kepada anak buahnya yang tetap bertahan.


" kau tidak perlu membunuh mereka, jika ingin membawaku, aku akan menyerahkan diri" ucap Dom, lelaki itu sedang menilai situasinya. Dia akan kalah jika tetap melawan.


" tuan?!" mereka serempak mempertanyakan keputusan tuannya yang sangat beresiko.


" kalian pergilah dari sini" ucap Dom tegas. Dia tidak mau sampai ada baku tembak dalam kelompok ini. kelompok yang sudah dia anggap keluarga nyatanya kini berbalik menyerangnya. Dom sangat menyayangkan hal ini. membuatnya benar- benar sakit hati.


" pergi!" meski berat akhirnya ke 4 lelaki itu pergi dari sana, meninggalkan Dom sendirian yang pasti akan melalui hukuman yang berat.


" kau sangat berani" ucap Sergio sambil memberikan kode untuk segera membawa Dom ke penjara pribadi.


Sesuai dengan hukuman kelompok jika ada yang mencuri demi kepentingan sendiri maka harus memilih bagian tubuh mana yang akan di korban kan.


Dom sudah terikat dengan posisi berdiri. Dia terlihat pasrah dengan apa yang terjadi padanya.


" kau sangat mempercayai wanita itu? aku akan memberimu nasehat. kau akan menyesal melakukan hal ini padaku. Wanita yang kau percayai itu hanya akan menghancurkan Batu Hitam ini. Dan saat itu terjadi, kau sudah terlambat untuk menyadarinya" Dom memberikan penilaiannya atas kehadiran Grace di dalam kelompoknya. Baru beberapa minggu saja kondisi Batu Hitam sudah kacau seperti ini. Wanita itu bukanlah wanita biasa.

__ADS_1


" ya.ya. kau selalu menyalahkan Grace atas semua kejadian ini. Padahal kaulah yang sudah mengkhianati kami. Jika bukan karena Grace pencurian yang kau lakukan tidak mungkin diketahui, itu bukan yang kau kesal kan?" ucap Sergio tetap tidak mau mempercayai apapun yang Dom peringatkan padanya.


" kau akan menyesal Gio, kau akan kehilangan semuanya" ucap Dom.


" sudah kita lakukan saja, biarkan aku yang memilih. kalian potong tangannya kirinya" ucap Sergio memulai hukuman.


Dom hanya menatap tajam, dia sama sekali tidak menampilkan raut wajah takut ataupun menyesal. matanya menyalang menatap Sergio dengan penuh amarah.


anak buahnya datang dengan membawa alat potong, Dom masih terbilang ringan. Biasanya lelaki itu jika menghukum anak buahnya, dia akan menyiksanya terlebih dahulu. Entah pukulan, tendangan atau sayatan yang akan pelaku dapatkan. Sampai akhirnya mereka memilih bagian tubuh mana yang mau di hancurkan. Hanya sedikit orang yang bertahan sampai hukuman selesai. Banyak dari mereka yang memilih mati daripada kembali membawa bukti penghinaan.


crash..


Dom menggigit bibirnya saat besi pipih itu memutuskan pergelangan tangannya. Tidak ada satu suara pun yang keluar.


Sergio menyeringai puas, Lelaki itu baru menyelesaikan satu hukuman pada asistennya. Untuk masalah Grace dia akan menunggu sampai Grace sendiri yang akan melakukannya.


" bagus, tahan dia di tempat pengasingan" Ucap Sergio dan berlalu pergi dari sana.


Lelaki itu pergi ke kediamannya, dia akan mengurus beberapa hal terkait kelompok sebelum pergi menemui Grace. Mau bagaimanapun keadaanya, jangan sampai kabar mengenai pecahnya Batu Hitam terdengar oleh kelompok mafia yang lain. Hal ini bisa memancing yang lain untuk menyerang Batu Hitam.


" kirimkan padaku jadwal transaksi dalam beberapa bulan ke depan" ucap Sergio kepada bawahannya.


" baik ketua" jawab bawahan itu.


Tapi banyak juga yang senang dan berusaha menempati posisi asisten yang kosong. Mereka tambah setia dan tidak mau macam- macam dengan ketua Sergio.


beberapa hari setelah menyelesaikan urusannya, Sergio pergi menemui Grace. Wanita itu masih belum di pindahkan ke rumah sakit pusat kota. Selain kondisinya yang masih lemah, hal ini juga menghindari bawahan Dom yang ingin membalas dendam.


" maafkan aku yang baru sempat datang, kondisi kelompok masih belum stabil" ucap Sergio duduk di samping ranjang Grace.


" tidak masalah, aku tau. Kau memang lelaki yang bertanggung jawab" ucap Grace membual.


Harry memilih keluar, dia akan baru mendapatkan kabar mengenai Dom dan dimana dia berada. Dia termasuk orang baru yang belum mengetahui lokasi pengasingan kelompok.


" kenapa kau terlihat masih lemah, apa penanganan disini begitu lamban?" tanya Sergio yang melihat Grace masih belum ada perkembangan yang signifikan.


" aku sudah mengalami percobaan pembunuhan 2 kali, jelas saja luka lama dan luka baru membuat proses penyembuhan sedikit lama" jelas Grace dengan nada tenang. Sergio begitu tersentuh dengan sikap Grace yang sekarang lebih hangat padanya.


" ya kau benar, maafkan aku. semua ini karena aku yang kurang bertindak tegas pada Dom" Sergio mencium punggung tangan Grace.


" jangan menyalahkan dirimu, mungkin ini balasan atas semua kejahatan ku" ucap Grace sedih.


" dulu aku pernah membuat seseorang terluka karena aku," lanjut Grace. Dia mencoba memancing Sergio tentang kejadian kecelakaan dirinya.

__ADS_1


Dilihatnya Lelaki itu diam sambil menerawang, ucapan Grace langsung mengingatkan nya akan kejadian masa lalu.


" kau kenapa?" tanya Grace membuyarkan lamunan Sergio.


" tidak, aku hanya sedikit lelah setelah mengurusi masalah kemarin" ucap Sergio beralasan.


" kalau begitu sini, tidurlah di samping ku" ucap Grace menepuk bagian ranjang yang kosong.


Sergio dengan senang melakukan keinginan Grace. Mereka berdua saling berpelukan. Sergio sudah lama berada dalam suasana hangat seperti ini. Lelaki itu selalu bergelut dengan kekerasan dan dunia malam. Berdekatan dengan Grace membuatnya sangat nyaman.


" kau sudah tau semuanya tentang ku, apakah kau mau bercerita tentang dirimu?" lanjut Grace terus menggali kebenaran.


Sergio terdiam lama, dia tidak tau harus bercerita mulai dari mana.


" kau mau aku bercerita tentang apa?" tawar Sergio.


" apa kau pernah membunuh seseorang baru-baru ini? aku mendengar mafia-mafia sering melakukan itu" tanya Grace dengan wajah polos. Sergio tidak menyangka jika hal ini yang akan Grace tanyakan.


" em, beberapa bulan yang lalu. memang di dunia kami membunuh bukanlah hal utama, tapi jika ada sedikit saja yang mengancam maka kematian adalah bayarannya" Sergio menjawab sambil mengelus punggung Grace pelan.


" apa kau juga menerima permintaan membunuh?" tanya Grace, dia terus memancing sampai menemukan sesuatu.


" aku pernah sekali melakukannya sudah lumayan lama, hampir 7-8 bulan yang lalu. Semuanya karena perintah atasan mafia, aku disuruh membunuh seorang lelaki tua dan putrinya. aku tidak terlalu mengingatnya, karena saat itu hanya perintah dadakan. Aku bahkan tidak tau alasannya" jelas Sergio panjang lebar. Lelaki itu tidak tau jika saat ini wanita yang ada di pelukannya adalah orang yang dia coba bunuh.


Myria terdiam dengan wajah marah, kedua telapak tangannya tergenggam kuat. Tidak salah lagi, meski Sergio bukanlah otak pembunuh ayahnya. Namun lelaki inilah yang menyebabakan ayahnya meninggal.


" kau menggunakan mobil coklat untuk menabrak mereka?" tanya Grace. Sergio terlalu nyaman sehingga tidak menyadari adanya kejanggalan.


" iya, mobil itu tidak pernah aku pakai lagi masih terparkir di garasi rumah" jawab Sergio tenang sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaan Grace.


" apa kau tau wajah putrinya?" lanjut Grace dengan tetap menyembunyikan wajahnya di depan dada Sergio. Wajahnya sangat menyeramkan akibat menahan kemarahan.


" tidak, itu hanya perintah dadakan. Para mafia hanya mengejar imbalan, mereka tidak pernah mempermasalahkan hal kecil" jawab Sergio tanpa menutupi apapun.


" enak sekali menjadi mafia" ucap Grace sambil tersenyum sumbang.


" ya begitulah, kita juga memiliki resiko lainnya, kau pasti tau " Sergio semakin memeluk Grace erat. Menurut nya pertanyaan Grace membuatnya berfikir jika Grace mulai tertarik dengan dunia hitamnya.


"polisi?" Grace bertanya.


" yah, itu salah satunya" Sergio menutup matanya. Lelaki itu begitu tenang di dekat Grace, dia tidak merasakan aura dendam yang saat ini menyelimuti Grace. Wanita itu ingin membunuh lelaki ini sekarang juga. membuatnya tersiksa dan memisahkan anggota tubuhnya. kemarahan Myria sudah sampai ke ubun- ubun.


" atau korban yang ingin balas dendam" ucap Myria dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2