
" apa kau sudah mengurus Dom?" tanya Sergio kemudian.
" saya sudah menempatkannya di ruangan khusus, sepertinya tuan Dom ingin sangat marah dan terus berfikir jika Grace dan saya sudah menjebaknya" Harry mendahului, dia ingin ucapannya di anggap benar dan dia terlepas dari tuduhan.
" aku sendiri tidak tau kenapa dia bisa berfikir seperti itu. aku akan berbicara serius padanya nanti" balas tuan Sergio, mereka berdua kemudian duduk di kursi tunggu.
Sampai beberapa lama seorang dokter keluar dari kamar perawatan.
" bagaimana keadaanya?" tanya Sergio cepat.
" wanita itu kehilangan banyak darah, untungnya luka di kakinya tidak terlalu parah. Semuanya akan baik-baik saja" ucap dokter tersebut.
Sergio segera masuk ke kamar dengan diikuti Harry yang berjalan di belakangnya.
Disana Myria terbaring tak sadarkan diri. Harry yang menatap begitu merasa kasihan, ketuanya sampai melalui hal seperti ini demi membalaskan dendamnya. Ini sangat berbahaya, jika sampai Dom melakukan hal buruk lainnya bisa saja nyawanya tidak tertolong.
" saya akan menjaganya, anda bisa pergi mengurus kelompok. keadaan Grace sudah stabil, jika dia siuman saya akan menghubungi anda" ucap Harry menyuruh Sergio secara halus agar menindaklanjuti perbuatan Dom.
" baiklah" ucap Sergio yang juga memiliki pemikiran yang sama.
Lelaki itu segera meninggalkan rumah sakit dan meluncur ke markas.
" ketua akhirnya kau datang" Dom segera berjalan mendekati ketuanya.
" kau sudah mendapatkan perawatan?" Sergio melihat luka pada tangan Dom saat berada di gudang kosong tadi. Lelaki ini mengacuhkan pertanyaan asistennya.
" ketua, jangan mempercayai mereka berdua" ucap Dom sekali lagi.
Sergio tidak menyahut sama sekali, lelaki itu diam dan menatap Dom dalam.
" hentikan" saut Sergio setelah Dom menatap balik kearahnya.
__ADS_1
" aku sudah melihatnya sendiri, kau lah yang selama ini berniat jahat. Mereka sama sekali tidak bersalah" tuan Sergio melanjutkan ucapannya, terlihat sekali jika ketuanya ini sedang menahan emosinya.
" ketua, anda lebih mempercayai mereka?" Dom nampak tidak percaya dengan ucapan Sergio barusan.
" bukannya aku meragukan mu, namun aku bisa memastikan jika mereka tidak memiliki niat buruk seperti yang kau fikirkan" Sergio menjawab dengan tenang. Dia ingin asistennya ini sadar dengan kesalahannya.
" tindakanmu ini semakin membuat kelompok kita menjadi terbelah, jangan lupakan jika kita harus saling percaya agar kelompok ini berkembang" lanjut Sergio seakan memohon. Dom hanya diam, tatapannya mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam.
" ketua, anda sudah meragukan saya? apa karena kedua orang baru itu anda dengan mudah meragukan ucapan saya?" Dom terkekeh dalam kekecewaan. Lelaki itu sangat sakit hati.
" kau sudah mengecewakan aku, aku bertindak semaumu. Aku sudah mengatakan jangan mendekati Grace, tapi kau malah ingin membunuhnya" Sergio dengan cepat membalas ucapan Dom.
" lebih baik kau istirahat dulu sampai kondisimu stabil" ucap Sergio dan pergi keluar dari ruangan tersebut.
Dom mengepalkan tangannya kuat, Ini pertama kalinya dia mendapatkan perkataan Sergio yang menyakiti hatinya. Selama ini dia sudah dengan setia mendampingi lelaki itu, mengorbankan banyak hal namun seperti ini akhirnya. Dom tertawa mengasihani dirinya.
brakk...
Di rumah sakit, Harry mengabari kondisi Grace kepada Ansel. Dia menceritakan secara detail kejadian dan bagaimana keadaan wanita itu sekarang.
" kau terus kabari aku, dan jangan sampai wanita itu tewas" ucap Ansel dan menutup panggilan. Mereka tidak bisa berbicara lama, saat ini Gael berada di PIN jadi takut memicu kecurigaan.
" kau ada urusan apa?" tanya Gael yang langsung membuat Ansel salah tingkah.
" biasa Beni mengabarkan akan ada orang baru" ucap Ansel meyakinkan. Gael pergi berlalu, dia baru saja membuka sistem keamanan. Semua aman dan tidak ada yang mencurigakan.
Ansel segera menghembuskan nafas, dia sedikit takut karena tau kondisi Myria yang sedikit parah. Entah apa yang akan Gael lakukan padanya jika mengetahui hal ini.
beberapa setelahnya Myria sudah diperbolehkan pulang, dia dengan di bantu Harry masuk kesana mobil. mereka menuju kontrakan, Sergio mengabarkan jika akan menyusul karena masih ada urusan.
" kami sudah sampai tuan" ucap Harry dalam panggilannya dengan Sergio.
__ADS_1
" kau sudah melakukan apa yang aku sampaikan waktu itu?" tanya Myria setelah sudah terbaring.
" apakah anda yakin akan melaksanakannya ketua?" Harry mencoba mengingatkan. Bagaimanapun kondisi Myria masih sangat lemah.
" ini waktu yang tepat, katakan saja jika ini karena ketidak sengajaan" Myria memberikan penjelasan lanjutan.
" baiklah akan saya laksanakan" jawab Harry. Setelah ini mereka akan mulai serangan pertama.
" bagaimana kondisimu?" tanya Sergio saat masuk ke kamar Myria.
" seperti yang kau lihat" jawab Myria singkat. Dia tidak lupa dengan karakter dinginnya.
" aku tidak menyangka jika Dom akan bertindak sejauh ini. maafkan aku" ucap Sergio dengan duduk di tepi ranjang. Lelaki itu mengelus rambut Myria pelan.
" dia terlalu merasa tersaingi dengan kehadiran ku. sudahlah aku tidak akan melanjutkan pekerjaan ku. aku berhenti dari sana" ucap Myria dengan nada ketus. Seakan menunjukkan bahwa Batu Hitam tidak terlalu menarik untuknya, dia tidak memiliki maksud buruk pada kelompok itu.
" tidak- tidak, aku yakin Dom pasti akan mengerti setelah ini" Sergio mencoba menenangkan Myria. Dia tidak mau kehilangan wanita itu.
" tapi bagaimana jika dia berusaha membunuhku lagi, aku tak mau mati konyol karena rasa cemburunya" Myria memalingkan wajahnya karena marah.
" kau bisa beristirahat dulu sampai kondisimu stabil, aku akan mencoba membuat Dom mengerti" ucap Sergio terus merayu wanita itu.
" ya, ?!" lanjut Sergio, Myria kini menatap Sergio dalam. Bagaimana bisa lelaki bodoh di depannya bisa membunuh ayahnya, dia terlihat sangat payah dalam mengambil keputusan.
" baiklah" Myria mengangguk pelan. Sergio mencium kening Myria pelan. Myria merasa jijik dengan hal itu.
" belikan aku makanan" ucap Myria berusaha mengusir lelaki itu. Dia tidak mau berlama- lama berdekatan dengan pembunuh ayahnya.
" aku akan menyuruh Harry" ucap Sergio lalu pergi dari kamar.
Myria menghembuskan nafas kasar, lelaki di hadapannya sangat lah polos. Tidak seperti ketua mafia. Wanita itu jadi meragukan soal pembunuh ayahnya ini. tapi tidak mungkin juga jika Gael salah menilai, atau apa mungkin Ansel membohonginya. Myria akan mencoba menggali lagi kebenaran atas peristiwa kecelakaan itu.
__ADS_1