
" bagaimana?" tanya Ketua.
"apakah tertarik?" lanjut ketua.
" kalau hanya duduk di depan layar seperti itu tidak terlalu masalah, tapi aku ingin bayaran yang pantas" jawab Myria yang semakin membuat Sergio terkekeh senang.
Myria benar-benar di luar penilaiannya, wanita itu tidak membuang kesempatan yang dia temui sedikitpun.
"kau tenang saja, aku yakin bayarannya akan lebih besar dari yang aku berikan kemarin" Tuan Sergio mulai menunjukkan kesombongannya.
"Sepertinya anda cukup memiliki uang" sindir Myria sambil meminum anggurnya.
"sebetulnya memang begitu" Mereka pun tertawa bersama.
Dari jauh asisten itu merasa aneh dan kesal dengan kedekatan Myria dengan ketuanya. Lelaki itu akan berusaha menjauhkan ketuanya dari wanita itu, dia juga diam-diam mencari latar belakang serta foto wanita yang mengaku bernama Grace.
"Jadi kapan aku bisa masuk?" tanya Myria di sela-sela kediaman mereka. Wanita itu menatap tuan Sergio sambil menyuapi makanan.
" kapanpun" jawab tuan Sergio dan membuka mulutnya menerima suapan dari Myria.
Di ruangan lain Harry dan asisten pun mulai menyantap makanan.
" sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Asisten dengan nada menyelidiki.
" maksud anda apa?" tanya Harry dengan serius. Lelaki itu tidak menampilkan ekspresi apapun. Membuat lawan bicara nya semakin sulit menebak maksud lain.
" kau sengaja membawa wanita itu kan?" Harry tidak menyangka jika ada seseorang yang menangkap aksinya.
" Grace maksud anda? dia hanya kenalan ku saja, siapa yang menyangka jika kebetulan dia bisa menolong waktu itu" Harry menjawabnya acuh, lelaki itu bahkan tetap menyantap makanannya.
" kau tidak bisa mengelabuhi ku" asisten itu masih tidak mau mempercayai begitu saja.
" anda bisa menilai saya sesuka nya" Harry tidak mau ambil pusing, yang dia incar adalah sang ketua.
setelah makan malam selesai, Sergio secara khusus mengantar Myria sampai di kontrakan nya. Lelaki itu bahkan ikut masuk dan melihat bagaimana penampilan kediaman Grace.
__ADS_1
Dan sesuai dengan tebakannya, wanita ini tidak asing dengan dunia gelap. Di dalam rumahnya banyak sekali sampah minuman keras dan beberapa makanan instan. semua sesuai dengan pengakuan Grace kepada dirinya.
" maaf aku tidak sempat berberes, siapa yang tau jika anda akan datang kemari" ucap Myria sambil menyalakan lampu.
" tidak masalah, setelah kau bekerja denganku. aku akan memberikan fasilitas tempat tinggal padamu" tuan Sergio sepertinya sudah cinta buta pada Myria
" anda tidak perlu berlebihan, aku bisa mengurus diriku sendiri" jawab Myria seakan membuat Sergio merasa sangat yakin jika Grace adalah wanita mandiri.
" baiklah, aku tidak akan mengurangi kenyamanan mu" ucap tuan Sergio meminta maaf.
" baiklah aku tidak ingin lebih lama mengganggu, aku pamit dulu" tuan Sergio berjalan menuju pintu keluar setelah Myria mengangguk sebagai jawaban.
Wanita itu sama sekali tidak mau bersikap hangat ataupun lembut pada Sergio. Dia harus dingin dan cuek agar lelaki itu semakin percaya padanya.
Pagi harinya Myria sudah siap menuju markas. Dia tidak melupakan jaket kulitnya nya yang menambah kesan brandal.
pihak keamanan langsung mempersilakan Myria masuk. Sepertinya kabar masuknya dirinya sudah menyebar. Myria semakin senang dengan pencapaian nya.
" pagi Harry" ucap Myria menyapa temannya. Dia mendekati Harry untuk mengetahui bagaimana dia harus memulai.
" terimakasih Harry," ucap Myria dan dia berlalu begitu saja. Wanita itu menyalakan earphone nya dan memulai menyalakan lagu. Dia benar- benar seenaknya sendiri.
Myria sudah merasa jika dia diawasi sejak datang, asisten itu seakan ingin mengawasi wanita itu setiap saat. dia tidak ingin melepaskan pandangan dari Myria.
Myria dengan nyaman melakukan tugasnya, dia sangat menikmati mengotak-atik data musuhnya. Disini dia bahkan bisa mengetahui semua detail para anggota Batu Hitam. Wanita itu akan mengingatnya dan membuat sedikit pertunjukan kecil.
beberapa hari bekerja di sana, Myria masih menahan diri. Dia akan menunggu waktu yang telap untuk memulai pertunjukannya.
Hari ini transaksi akan berlangsung pukul 22.00 malam. Wanita itu akan kembali satu jam sebelum transaksi di mulai. Myria sudah bersiap akan pulang saat asisten itu menariknya menuju lorong kosong.
" kau jangan berfikir karena tuan Sergio yang memasukkan mu kau akan bertingkah seenaknya" ucap asisten itu sedikit tajam. Dia sudah muak dengan tingkah Myria yang seenaknya sendiri memilih waktu pulang.
" aku hanya melaksanakan tugas, tidak ada aturan masuk dan pulang secara detail, jadi aku membuat aturan sendiri. lagi pula kerjaan ku juga sudah selesai" Myria seakan memancing emosi asisten. Dia sama sekali tidak merasa takut ataupun meminta maaf atas perilakunya.
" kau harus mulai menjaga sikap!" asisten itu semakin terbakar emosi.
__ADS_1
Dari sudut matanya Myria menangkap sosok lelaki yang mengamati dirinya dengan asisten. Wanita itu akan memulai drama kecilnya.
" kau dulu yang harus menjaga sikap" desis Myria namun dengan wajah yang berbeda. Dia seakan menunjukkan wajah ketakutan.
" dasar kau!" Asisten tersebut langsung terpancing emosinya.
plak,
satu tamparan mendarat di pipi Myria. Wanita itu segera memegangi pipinya dengan sedih. Dia mendorong bahu asisten itu kuat.
Tak ingin kalah, asisten malah berniat memukul Myria lagi.
" cukup!" teriak Sergio dari arah belakang.
sontak saja asisten tersebut langsung kaget mengetahui kehadiran ketua di sana.
" apa yang terjadi?" ucap Sergio sambil menatap asistennya tajam.
" wanita ini tidak tau etika, dia berani melawan saat di beritahu kesalahan nya" asisten segera menjawab dengan lantang. Dia meras tidak salah dengan sama sekali.
" kau mengada - ngada" kilah Myria tanpa menunggu sautan dari Sergio.
" anda bisa melihatnya sendiri kan, bagaimana wanita ini bertingkah seenaknya sendiri" asisten semakin memojokkan Myria.
Wanita itu diam menunggu kesempatan.
" coba kau jelaskan ada masalah apa?" tuan Sergio bertanya dengan nada rendah kepada Myria.
" dia berlagak senior, dia tidak suka karena aku masuk karena anda " jawab Myria yang semakin membuat asisten semakin kepanasan.
" kau ingin mati!" asisten itu sudah naik pitam.
" Dom hentikan, kau ikut aku!" Sergio sepertinya lebih mempercayai pengakuan Myria. Dia bisa melihat bagaimana Dom memukul Myria yang sedang ketakutan. Dia harus memberikan peringatan kepada lelaki itu. Dia tidak ingin kehilangan Myria begitu saja.
Myria tertawa dalam hati, dia puas dengan keputusan Sergio. cepat atau lambat kedua lelaki itu pasti akan doa singkirkan dengan mudah.
__ADS_1