Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
11. Pertengkaran


__ADS_3

Alarm hp nya berbunyi, Gael membuka matanya perlahan. Hari sudah menjelang malam. Dia pasti ketiduran karena sudah beberapa hari tidak tidur. Lelaki itu menarik tubuhnya menjadi duduk bersender di kepala ranjang. Dia memeriksa pesan dari sekertaris perusahaanya.


Tapi sudut matanya melihat symbol lokasi di tepi layar. Simbol itu berasal dari alat pelacak milik Myria. Lelaki itu sudah memberikan palacak pad anting wanita itu tanpa sepengetahuannya.


Segera saja dia membuka sistemnya, dan dahinya berkerut ketika sinyal itu menujukan lokasi yang lumayan jauh dari rumahnya.


“kenapa dia bisa berada disana?” Gael segera berjalan menuju mobilnya. Dia langsung menuju ke titik lokasi. Mabil melaju dengan cepat, dia ingin segera memastikan jika informasi ini akurat.


Begitu sampai di parkiran, Gael kembali menemukan keanehan. Dia melihat mobil Ansel juga terpakir disana. Firasat buruk langsung melanda hatinya. Apa mungkin keberadaan Myria juga ada sangkut pautnya dengan Ansel. Lelaki itu terus berjalan masuk.


“dimana tuan Ansel?” tanya lelaki itu pada wanita yang dia kenal adalah kaki tangan Ivar.


“ bos Gael, anda juga datang. Tuan Ansel berada di ruang..” belum juga selesai menjawabnya. Gael kini berlari keluar. Dia melihat Myria masuk ke sebuah mobil bersama ayah dan seorang pria. Dan di sebelahnya ada Ivar yang sedang mengantar kepergian mereka.


Sayangnya Gael tidak sempat mengejar, mobil itu sudah pergi meninggalkan Ivar sendiri.


“kenapa wanita itu bisa pergi?” Gael langsung menatap Ivar denga tajam.


“bos Gael apa belum tau?, Tuan Ansel mengembalikan wanita itu kepada ayahnya”


jawaban Ivar tentu saja mematik emosinya. Jadi benar hal ini berkaitan dengan Ansel. Rasanya Gael tidak percaya, dia tau jika lelaki itu begitu membenci


Myria. Namun sampai melakukan hal ini rasanya terlalu berlebihan.


Gael segera membuka hp nya, dia tidak ingin meributkan hal ini di tempat umum.

__ADS_1


“pulang dan jelaskan padaku” ucap Gael singkat pada Ansel. Ivar bisa merasakan aura dingin keluar dari tubuh Gael. Tak ingin menjadi sasaran kemarahan Ivar segera masuk dan berniat menemui tuan Ansel.


Sedangkan di sebrang, Ansel tertawa. Secepat ini kebohongannya terbongkar. Dia sudah mengira Gael pasti akan mencarinya. Jadi lelaki itu sudah siap mendapat amukan darinya.


Gael melajukan mobilnya menuju PIN, dia akan membuat perhituangan pada Ansel begitu bertemu di sana


"waktunya pergi dari sini, kita akan bersenang-senang" ucap Ansel kepada seluruh bodyguard nga, dia tidak ingin berlama-lamadi dalam bar. Dia akan menerima segala amukanya.


Sedangkan Gael sudah lebih dulu sampai di


PIN, lelaki itu terlihat mempersiapkan beberapa perlengkapan alat untuk memulai aksi pertengkaran mereka. Beberapa Bodyguard sedikit kebingungan dengan aktivitas Bosnya. Karena mereka tahu jika perlengkapan yang mereka lihat itu adalah perlengkapan untuk aksi di ring tinju. Mereka bertanya-tanya siapa nanti yang menjadi lawan bos mereka.


Tak berselang lama tuan Ansel yang mereka tahu baru saja pergi sudah terlihat pulang dengan raut wajah yang penuh riang.


"Di mana bos Gael " tanya Ansel pada parapenghuni PIN.


Terakhir kali pertarungan itu terjadi, sudah beberapa tahun yang lalu. Seseorang dari kelompok sebelah menantang bos Gael dalam pertarungan tinju. Mereka semua menjadi saksi bagaimana lawannya tak berdaya dengan tubuh penuh dengan lebam kebiruan bahkan kondisinya nyaris kritis, jika bukan karena bos Gael menghentikan pertarungan karena rasa kasihan, pasti lawannya itu sudah tamat.


Kini arena itu kembali dibersihkan dan bos Gael terlihat sedang menahan amarahnya. Mereka benar-benar tertarik siapa yang kali ini akan lebih dekat menuju ajalnya atau bahkan menemui malaikat maut.


Ansel dengan perasaan khawatir dan jantung yang terus berdetak kencang, berjalan menuju ruangan arena tinju yang ada di PIN. Dengan mata kepalanya dia bisa melihat kemarahan yang ada wajah Gael.


Tanpa sadar Ansel menelan ludahnya kasar. Sepertinya kali ini dia melakukan kesalahan yang besar, belum pernah sekalipun Gael semarah ini padanya. Dia tidak mungkin menyelesaikan masalah ini dengan meminta maaf bukan.


Namun Ansel juga tidak merasa menyesal sudah menyingkirkan wanita murahan itu dalam hidup Gael. Ansel tidak mau Gael ketergantungan pada seorang wanita, yang kemungkinan akan menjadi kelemahannya.

__ADS_1


"Sekarang persiapkan dirimu pertarungan akan segera dimulai " ucapkan Gael dengan suara datar. Bahkan lelaki itu tidak menatapnya sekalipu.


" hahaha kau bercanda?" tanya Ansel, lelaki itu berusaha mencairkan amarah Gael, diaa juga tidak ingi mati konyol di atas ring.


" kau sendiri tau alasan kenapa aku melakukan hal ini" Gael menjawabnya dengan nada menyindir.


" aku hanya ingin kau mendapatkan wanita yang pantas untukmu " Ansel terus berkilau. Dia seolah membenarkan perbuatannya.


"dan aku lebih tahu wanita mana yang pantas untukku " dengan masih menahan amarahnya.


" jadi kau benar-benar ingin kita naik ke atas sana" Ansel menunjuk arena Ring yang ada di depan mereka.


" aku tidak bisa memukulmu jika tidak di arena tinju" jawab Gael, Ansel pun mengangguk ringan membenarkan ucapan Gael.


"Demi wanita itu kau ingin memukulku untuk pertamakalinya dalam sejarah pertemanan kita?" ucapkan Ansel mendramatisir suasana dia mencoba mengurung niat Gael.


" Tenang saja kau tidak akan mati malam ini" ucapkan Gael yang memiliki maksud tersembunyi.


Akhirnya Annsel sudah tidak bisa berkata apapun, dengan lesu akhirnya dia menyanggupi permintaan Gael. Perlahan dia memasang peralatan keamanan tinju pada tubuhnya.


Para penghuni PIN kembali dibuat hebih karena ternyata lawan bos Gael adalah tuan Ansel. Sama-sama orang terkemuka dalam kelompok mereka. Apa yang membuat kedua Bos mereka itu saling berselisih hingga harus melakukan duel tinju.


Mereka menyayangkan hal ini, mereka juga kasihan dengan Ansel karena jelas lelaki itu akan babak belur malam ini.


Kini terlihat Ansel dan Gael sudah siap. Mereka menyuruh salah satu anggotanya untuk menjadi wasit dalam pertarungan mereka. Para penghuni PIN sudah memenuhi area ruang tinju. Ansel dan Gael berdiri berhadapan. manik mereka saling menyelami.

__ADS_1


Kedua lelaki ini tidak pernah terlibat pertengkaran apapun dan pertengkaran mengenai Myria ini adalah pertama kalinya. Keduanya mengatur nafasnya mereka. Menunggu suara Bel sebagai tanda pertarungan itu dimulai.


__ADS_2