Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
25. Adaptasi


__ADS_3

Myria mengikuti lelaki itu sampai di depan sebuah kamar. Lelaki itu mengetuk pintu kamar, dan langsung membuka pintunya sedikit. sebelum pergi lelaki itu memberikan berkas yang ada di tangannya kepada Myria.


" baca ini baik-baik" dengan sorot mata yang tajam.


lelaki itu kemudian pergi. Myria masih menunggu didepan pintu, menatap sekeliling. Dia berada di sebuah asrama sepertinya. semua lorong ini hampir penuh dengan pintu kamar.


Fokusnya terpecah saat suara langkah kaki mendekat dari balik pintu. seorang wanita membuka.


" masuklah" ucapan wanita itu terdengar ramah. Myria masuk sambil menarik kopernya, di dalam kamar terdapat dua ranjang yang cukup lebar. kondisi di dalam juga cukup terawat dan nyaman.


" apa si Beni yang mengantarmu kemari?" tanya wanita itu. Myria cara mengurutkan keningnya, dia tidak mengenal seseorang yang bernama Beni.


" itu lelaki dengan tampilan lusuh dan tak tahu etika itu. Ah sudah lupakan saja, aku sudah tahu perangainya setiap datang kemari" jawab wanita itu sambil berlalu masuk ke kamar mandi. Rupanya dia belum selesai mandi saat pintu itu ketuk.


" ah ya rapikan saja barang-barangmu" lanjut wanita itu saat di ambang pintu kamar mandi.


Myria kembali mengamati sekeliling, dia tidak memiliki sedikitpun penilaian tentang kamar ini, selain tertutup namun cukup bersih juga. Meskipun jauh dari kata mewah.


Myria meletakkan tas kecilnya. Dia tidak membawa handphone atau segala macam alat komunikasi disana hanya ada uang dengan jumlah minim. Semua itu adalah syarat yang diajukan oleh Ansel.


Myria duduk di atas ranjang, dia membuka berkas yang diberikan si Beni. Di sana ada fotonya, namun biodata yang dicantumkan sangatlah berbeda dengannya.


Apa ini artinya bukan dirinya?, Apa mungkin dia harus menggunakan identitas ini adalah identitas barunya. Myria lebih yakin dengan yang kedua. Ansel jelas tidak mau identitas aslinya tersebar. Myria membuka lembar demi lembar mulai dari biodata diri sampai biodata keluarga, semua tertera di sana. cukup lengkap dan detail. dan jelas benar-benar bukanlah dirinya. mulai sekarang dia harus menyembunyikan identitasnya di sini. pantas saja Beni menyuruhnya untuk membaca berkas ini baik-baik. Ternyata ini akan menjadi identitas barunya. Pintu kamar mandi terbuka wanita tadi dengan handuk yang ada di kepalanya berjalan mendekati dirinya.


"Siapa namamu?" tanya wanita itu santai.


" aku Noah" jawab Myria, itu adalah nama untuknya sesuai dengan yang tertera di berkas.


"Noah? Kau seperti laki-laki saja" saut wanita tadi sambil mengambil baju.


" ya mungkin ini alasannya aku dikirim kemari"jawab meriah sekenanya.

__ADS_1


" apa mungkin kau di terkirim tuan Ansel kemari?" tanya wanita itu yang membuat Myria kebingungan menjawab nya. dia harus berbohong atau jujur.


" apa kau mengetahui tuan Ansel?" tanya Myria ragu-ragu.


" ya tentu. siapapun yang ada disini ini pasti mengenal siapa tuan Ansel" jawab wanita itu.


" ah ya, Siapa namamu?" tanya Myria gantian.


" kau bisa memanggilku Sonia"


"kau sudah lama di sini Sonia?" tanya Myria lagi.


" sekitar hampir 1 tahun"


" cukup lama juga ya"


" Ya seperti itulah, kau akan tahu nanti" wanita itu mulai membersihkan ranjang nya.


"kau juga melatih diri di sini?" tanya Maria basa-basi sambil mengeluarkan barang-barang dari kopernya.


" Baiklah aku akan tidur dulu, kau bisa melanjutkan menata barangmu nanti. kau perlu tidur karena waktu mulai latihan di sini dimulai pukul 05.00 pagi" jelas Sonia. Wanita itu kemudian dia menarik selimut.


Myria masih setia menata barang-barangnya. Hatinya masih belum tenang. wanita itu masih memikirkan bagaimana Gael di sana. Apa mungkin lelaki itu mau menuruti isi dari surat tersebut. Wanita itu terus saja menerka-nerka. Sesuai dengan dugaan Myria jauh di sana, di kontrakannya Gael baru saja masuk. lelaki itu baru menyadari jika sinyal pelacak Myria menghilang. Dengan segera lelaki itu pergi ke kontrakan dengan cemas dan panik. Apalagi saat mengetahui jika kontrakan Myria sudah kosong.


Namun beberapa saat semua rasa takutnya menghilang begitu melihat sebuah surat yang ada di atas meja. Gael membacanya dengan seksama. Dia yakin jika surat ini memang benar dari Myria, karena disana terdapat aroma dari minyak wangi yang biasa wanita itu pakai.


' *aku pergi j*angan menemuiku lagi. Aku sangat membencimu. Semua hal buruk ini terjadi karenamu. Kamu dan dunia hitammu itu.Jangan lakukan Apapun, jangan buat mereka berpikir kalau aku begitu berharga untukmu. Lupakan apapun dan siapapun yang melakukan hal ini padaku, dengan begitu mereka akan melupakan seorang Myria. Mereka akan mengira jika aku Bukan siapa-siapa untukmu. Dengan begitu aku bisa kembali ke kehidupanku yang normal. Hidupku akan menjadi tenang kembali. Buat mereka melupakanku dan aku bisa menjalani hidupku kembali. Aku pergi dan jangan pernah mencariku lagi'. tulis Miria dalam surat tersebut.


Perasaan Gael bercampur aduk begitu selesai membacanya. Lelaki itu duduk di sofa dengan tatapan yang kosong. Dia tidak mengerti lagi harus melakukan apa. Wanita yang dia cintai memilih mundur dan pergi dari kehidupannya. Dia tidak bisa menyalahkan keputusan wanita itu karena memang dunia hitam yang dia geluti pasti akan menyakiti siapapun yang dia sayangi. Dia sudah membuat wanita itu kehilangan ayahnya, Dia tidak mau membuat wanita itu kehilangan hidupnya dan ketenangannya.


Dia harus bisa membuat musuh-musuhnya yakin jika Myria tidaklah berharga baginya. Dengan begitu hidup Myria akan kembali normal. Dan tidak menjadi target musuh-musuhnya lagi.

__ADS_1


Padahal dia ingin sekali membalas semua hal buruk ini untuk Myria. Kini niatnya terpaksa harus dia urungkan, Myria tidak menghendaki itu, semakin dia ingin melindungi Myria semakin banyak orang yang ingin menyakitinya. Pilihannya sekarang adalah harus berani melepaskan wanita itu meskipun akan menyakiti hatinya.


Mencoba untuk melaksanakan apa yang ada di dalam surat Myria, Hanya bisa berharap jika keputusan ini membuat wanita itu bahagia, hanya itu. Gael tidak mengharapkan hal yang lebih besar lagi. Hanya melihat wanita itu di manapun itu sudah cukup baginya.


Pagi harinya sesuai dengan ucapan Sonia Myria sudah siap untuk memulai latihannya. Wanita itu keluar dari kamar pukul 5 tepat. Namun di sana suasananya nampak sepi tidak ada siapapun.


"bukan di sini tempatnya" ucap Sonia mengagetkan Myria. wanita itu memberikan arahan dengan menggunakan tangannya kemana dia harus pergi.


" pergilah ke belakang gedung untuk mengawali latihan" ucap Sonia. Myria masih dengan orang baru disana jadi dia tidak bisa mengerti kemana dia harus berjalan.


" aku akan mengantarkanmu" akhirnya Sonia menangkap kebingungan Myria. Wanita itu memimpin dan terus berjalan mendahului Myria. Mereka tidak melewati pintu depan melainkan pintu lain yang langsung menuju ke belakang gedung. disana terdapat sebuah lapangan dengan berbagai macam ornamen latihan. wanita itu baru tahu jika belakang gedung adalah hutan. jaraknya lumayan dekat.


" jika ada yang bertanya kamarmu, bilang saja nomor 0" ucap Sonia kemudian pergi meninggalkan Myria. wanita itu tetap berjalan sampai dia bertemu dengan seorang laki-laki. Lelaki itu menatap Myria dari atas sampai bawah. Penampilan Myria memang terbilang aneh. Wanita itu mengenakan jaket dan sebuah celana kain sedangkan laki-laki itu mengenakan full pakaian olahraga.


" kau anak baru?" tanya laki-laki. Myria mengangguk kecil sebagai jawaban. lelaki itu memberikan arahan agar mengikuti dirinya.


Dari kejauhan Myria dapat melihat gerombolan orang yang sudah memulai latihannya. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki namun perempuan di sana juga ada sekitar 4 sampai 5 orang dari total semuanya sekitar 12 orang. laki-laki yang bersamanya berlari menuju seorang yang sepertinya pelatih disini. Dia memberitahu jika ada anak baru. semua orang menatap ke arah Myria dengan wajah datar. Tidak ada yang tersenyum ramah kepada wanita itu.


" kau kemari" ucap lelaki tadi sambil melambaikan tangannya yang menyuruh Myria mendekat.


"Siapa namamu?" tanya pelatih.


"Noah" jawab Myria.


" kau yakin mau belajar ini ?" tanya pelatih itu mengejek, dari suaranya saja Myria sangatlah lembut, bahkan tingkahnya bukan termasuk perempuan tomboy.


" aku yakin" jawab Myria cepat.


" baru datang semalam?" tanya Pelatih lagi.


" Iya" jawab Myria dengan perasaan was -was karena pelatih itu semakin mendekatinya sedangkan laki-laki yang menyapanya tadi tetap berada di belakangnya. Mereka terlihat memiliki niat buruk pada dirinya. Myria segera menjauh diri.

__ADS_1


" kau ikut denganku" ucap lelatih itu saat tau jika Myria melangkah menjauhinya.


" maaf aku tidak mau" jawab Myria berani.


__ADS_2