
" apa kita perlu mengajukan negosiasi?" Ansel memberikan saran.
" tidak perlu, setelah berita kematian lelaki itu terekspos, mereka yang akan mengundang kita" Gael berspekulasi. Karena menurutnya ada sesuatu yang senator inginkan dari PIN. Mereka akan membuat Gael dan Ansel menyerah secara sadar.
Ansel mempercayai perhitungan Gael dan mengangguk singkat sebagai jawaban.
" kalian tetap pantau perkembangan berita kematian itu dan jangan lupa waspada. Saat ini kita sedang di awasi banyak pasang mata" Gael memberikan saran.
Saat ini Gael tidak bisa tau mafia mana yang menjadi kawan atau lawannya. Di dunia mafia, beberapa masih terlihat integritasnya namun tidak sedikit yang hanya mencari keuntungan diri sendiri.
" baik bos" jawab mereka serempak.
Pertemuan selesai Ansel mengajak Gael duduk di ruangan pribadinya.
" bagaimana kabar Myria?" tanya Ansel sedikit ragu. Karena jelas saja tanpa menunggu lama Gael menatap Ansel dengan sorot tajam.
" jangan berfikir yang tidak-tidak dulu. Maksudku kau pernah mengatakan jika Myria sudah berubah. Dia begitu terlatih dan pandai bela diri. Bagaimana jika dia kita libatkan.."
" hentikan, aku tidak akan membiarkan dia masuk kedalam masalah ini" Gael yang sudah menebak kemana arah perbincangan ini langsung menolak dengan tegas.
" Gael, coba kau pikirkan dengan.."
" tetap tidak,!" Gael tidak mau menerima alasan apapun. Baginya Myria adalah harta yang harus di jaga.
" Gael.." Ansel terus mencoba merayu. Karena dia yakin dan sudah melihatnya sendiri. Kemampuan Myria cukup bisa di andalkan. Setidaknya wanita itu bisa membantu Gael dalam menghadapi kelompok 'anak emas' itu.
" sekali lagi kau meminta hal ini, aku yang akan keluar dari misi" ancam Gael. Lelaki itu tidak akan memberikan Ansel kesempatan, dia juga harus memberikan peringatan jika tidak kenekatan Ansel pasti akan merusak segalanya.
" ck, kau ini" Ansel kesal. Akhirnya pergi masuk ke kamarnya.
Keesokan harinya, sesuai dengan prediksi Gael. Senator memberikan surat undangan. Mereka meminta kedatangan pemilik PIN untuk ikut dalam pertemuan khusus.
" bagaimana ? kau harus ikut denganku" Ansel sedang menelpon Gael yang saat ini sedang berada di perusahaan.
__ADS_1
" kenapa tidak sekalian bilang jika pemilik PIN adalah aku" jawab Gael kesal. Ansel selalu saja begini. Jika ada sedikit saja bahaya dia akan panik dan menyeret Gael sebagai tamengnya.
" kau benar juga, selama inikan mereka masih bingung. Dengan begitu mereka akan semakin tertipu" usul dari Gael malah di anggap serius. Gael menghembuskan nafas kesal. Sejak awal dia tidak mau bertemu dengan senator. Gael merasa ada mafia lain yang sedang mengendalikan mereka. Mau bagaimanapun mereka tidak akan bisa netral.
" terserah kau saja, aku masih banyak pekerjaan" Gael langsung menutup panggilan secara sepihak.
Menuju tengah malam Gael sengaja tidak mengunjungi PIN, lelaki itu langsung menuju ke mansion. Dia tidak ingin bertemu dengan Ansel, lelaki itu pasti merengek memintanya pergi memenuhi undangan dari senator.
Namun hal yang dia hindari malah dengan mudahnya bertemu. Ansel sudah duduk di ruang tamunya begitu Gael masuk. Lelaki itu tanpa rasa bersalah tersenyum riang. Bukan itu saja yang membuat Gael kesal. Bisa-bisanya Ansel membawa Myria ikut duduk di sana. Entah apa yang sudah mereka perbincangan kan. Gael benar-benar tersulut emosi. Memang benar, dalam sistem keamanan mansion nya hanya Gael dan Ansel yang bisa masuk, jadi tidak heran Ansel dengan mudah mengeluarkan Myria dari kamar. Tapi Gael tidak suka ada lelaki lain yang dekat dengan Myria. Termasuk Ansel.
" kenapa kau bisa di sini?" tanya Gael menahan emosinya.
" aku sedang menyapa Myria, sejak dia kembali aku belum sempat menjenguknya" jawab enteng Ansel.
" pergi dari sini" desis Gael. Lelaki itu menatapnya dengan wajah garang.
" aku belum.."
" pergi!" teriak Gael, dan tanpa pikir panjang Ansel langsung berdiri.
" apa yang sudah kalian bicarakan?" kini giliran Myria yang menghadapi amarah Gael.
" tidak ada, hanya menyapa saja" jawab Myria, dan Gael sudah mengira. Wanita ini jelas berbohong.
" em, kau tak percaya bukan?" lanjut Myria sambil mendekat dan mengambil tas kerja milik Gael.
" kau tau itu, jadi apa yang sudah Ansel beritakan padamu?" Gael memeluk pinggang Myria. Lelaki itu bukan hanya meletakkan tangannya, tapi juga meraba semakin kebawah.
" coba tebak?" Myria ingin bermain sejenak dengan Gael.
" kau mulai pintar sekarang" emosi Gael mulai turun akibat inisiatif Myria. Seakan melupakan sejenak mengenai Ansel, Gael langsung mengangkat tubuh kecil itu menuju kamar.
" Gael!!" pekik Myria tak kala Gael bukannya menurunkannya di ranjang namun membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
" turunkan aku!" teriak Myria lagi. Dia baru saja mandi dan sekarang dengan pakaian lengkap Gael akan memasukkannya ke dalam Bath up.
" kau sudah mulai nakal sekarang, jadi aku akan memberikan sedikit pelajaran" ucap Gael sambil menyeringai puas.
" aaakk!" teriak Myria, Gael memutar kram air.
Semua rontaan Myria menjadi sia-sia karena setelahnya apapun yang Gael inginkan dia tidak bisa menolaknya.
Pagi mulai datang, Myria dan Gael masih terbaring di atas ranjang akibat aktifitas mereka semalam.
drrt drrtt. panggilan masuk di hpnya Gael. Sudah beberapa sekian banyaknya namun pasangan suami istri itu tidak terbangun untuk mengangkatnya.
drrtt drrt. untuk kesekian kalinya Ansel menelpon Gael.
" Gael.. angkat.. apa dia masih marah padaku. Tapi meskipun marah biasanya Gael mau mengangkat telpon dariku" guman Ansel pada dirinya sendiri.
" masih belum di angkat?" tanya Sonia yang meletakkan makan pagi Ansel.
" belum, sudah ku coba beberapa kali tetap saja!" kesal Ansel.
" mungkin mereka masih tidur" saut Sonia dan duduk di sebelah Ansel.
" bisa-bisanya Gael tidur nyenyak saat ada masalah seperti ini" Ansel tetap emosi. Lelaki itu tidak mau menerima alasan apapun. Dia kembali menelpon Gael.
" segera ke sini!" Teriak Ansel saat panggilannya baru di angkat oleh Gael.
" jangan menganggu ku pagi-pag!!.. Nanti siang aku baru ke PIN" jawab Gael yang saat ini masih terbaring di atas ranjang.
" kau gila! lusa kita akan berangkat. Kita harus menyiapkan berbagai transaksi dan...." Ansel menatap Hp nya. Panggilan ya di putus oleh Gael saat dia sedang menjelaskan situasinya.
" Gael!!" teriak Ansel kesal, hampir saja dia melempar hp nya.
" biarkan saja, bos Gael pasti masih kesal karena kau memberitahukan masalah ini kepada Myria. Toh dia juga bilang akan kemari nanti siang" Sonia menenangkan Ansel. Ansel menatap wanita itu dalam. Sepertinya ucapan Sonia cukup di dengar oleh Ansel.
__ADS_1
" kadang aku merasa kasihan dengan Gael, kadang juga aku kesal sekali. Entahlah dia seperti kakak dan musuh bagiku" Ansel memeluk Sonia. Menghirup aroma wanita itu membuat Ansel sedikit tenang.