Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
86. Sinyal 1


__ADS_3

Hari mulai malam saat Ansel dan Sonia sampai di sebuah hotel mewah. Mereka alan meneruskan perjalanan besok pagi.


" minumlah" Ansel memberikan pil setelah mereka menyelesaikan makan malam.


" nanti saja, lagi pula kita kan.." tolak Sonia halus


" jangan membantah, sudah ku bilang obat ini lebih baik, kau harus rutin minum 3 kali sehari" jelas Ansel tidak mau ada bantahan.


" minum!" sentak Ansel pada Sonia yang diam saja.


" iya" Sonia mengambil dan meminumnya.


Setelah memastikan Sonia menelan pil itu, Ansel pergi mengambil Ipadnya dan memeriksa laporan.


Sonia merasa tubuhnya begitu lelah, dia tiduran di atas ranjang. Bahkan kini perutnya juga mulai terasa kram. Wanita itu menahan sebisa mungkin.


" kenapa kau berkeringat? pendingin nya menyala bukan?" Ansel mengecek dan memang tidak rusak.


" tidak, mungkin karena selimutnya" jawab Sonia lemah, dia memang memakai selimut untuk menyembunyikan tubuhnya yang menggigil kesakitan.


Ansel tidak percaya, dia mendekati Sonia.


" kemari" Ansel menyuruh Sonia agar lebih dekat dengannya.


Sembari mengecek laporan, Ansel juga mengusap punggung Sonia pelan. Lelaki itu seperti atau alasan kesakitan yang Sonia alami.


Lucas baru saja selesai memantau pemasangan bahan peledak lewat video. Dia tidak tanggung tanggung menyuruh untuk memberikan sekitar 3 buah pada masing-masing tempat.


Lelaki itu juga sudah menyiapkan alasan agar saat ledakan terjadi tidak menimbulkan kecurigaan polisi.


" tuan saya menerima kabar jika Gael ternyata belum kembali" lapor pengawalnya.


" darimana kau tau?" tanya Lucas menyelidik.


" dari sopir nona besar," jawab pengawal itu. Tidak ada yang tau jika hp sopir khusus Angel telah di sadap.


" aku tak bisa membunuhnya kalau begitu" ucap Lucas sedikit kesal.


" tapi tuan, setidaknya kita bisa merusak PIN, bisa jadi pelajaran untuk lelaki itu" hasut pengawalnya.


" emm..sepertinya kau ada benarnya. Jika kita mengenai PIN kita bisa membuatnya tau diri" Lucas kembali bersemangat.


"iya tuan benar" ucap pengawal itu ikut senang.


" kau cari lokasi persembunyian lelaki itu" balas Lucas.


Pagi hari di Vila, Gael masih terjaga melihat i padnya. Dia memeriksa semua semua pesan dari Ansel. Lelaki itu dengan seksama mengatur sistem PIN. Dalam beberapa hari PIN akan di non aktifkan, termasuk keamanan data yang terhibernasi dalam beberapa hari ke depan. Gael memiliki alasan khusus kenapa mengambil pilihan ini.


" kau lihat layar terus sedari tadi, apa ada sesuatu yang terjadi?" Myria sebal, semenjak di Villa. Gaek seakan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


" ada masalah di kantor" jawab Gael singkat.


" kau berbohong padaku?" tanya Myria menyelidik.


" untuk apa berbohong" kilah Gael.


" tidak, sejak kemarin kau bertingkah sangat mencurigakan. ayo, kasih tau aku sekarang apa yang sedang kau rencanakan" Myria memaksa.


" jangan mengganggu ku, aku ngantuk" Gael langsung mematikan ipadnya dan meninggalkan Myria.


" selalu saja. cih" kesal Myria. wanita itu semakin hari semakin bosan. Di Villa tidak ada yang bisa dia kerjakan. Membuat Myria semakin tidak betah.

__ADS_1


Tak berselang lama, sarapan pagi datang. Myria memakan dengan perasaan kesal.


Saat ini Ansel dan Sonia tengah dalam perjalanan menuju tempat Gael. Mereka sudah memiliki janji untuk bersembunyi di sana beberapa saat. Sebentar lagi mereka akan bertemu.


Myria tengah berenang tak kala Gael menghampirinya dengan raut menahan marah.


" kemari" teriak Gael dari pinggir kolam. Myria yang masih kesal berpura- pura tidak mendengar.


" Myria, kemari tidak!" panggil Gael lagi dengan lebih kencang.


" apa?" balas Myria tanpa menepi.


" kemari sekarang!" seru Gael, Myria mengambil nafas kasar kemudian menepi.


" berhenti berenang dan ganti baju, sebentar lagi akan ada tamu" ucap Gael dengan tegas.


" tapi aku baru saja berenang" elak Myria. Dia masih ingin berenang.


" sudah cepat ganti baju" Ulang Gael. Lelaki itu sengaja tidak memberitahu kedatangan Sonia, dia berniat memberikan kejutan.


" ih, sebel!" Myria terpaksa menuruti perintah Gael.


Tak berselang lama wanita itu turun dan berjalan ke ruang tamu.


" mana tamunya?" kesal Myria.


" sebentar lagi" jawab Gael datar.


ting tong alarm pintu berbunyi.


" itu dia" ucap Gael lalu berdiri membukakan pintu.


" bagaimana kabar mu?" tanya Gael menyambut kedatangan.


" seperti yang kau lihat" jawab Ansel lalu memeluk Gael erat.


" tuan" sapa Sonia. Gael mengangguk ringan.


" masuklah" ajak Gael, keduanya masuk. Sedangkan sopir sibuk membawa barang-barang Ansel.


" Sonia!" teriak Myria begitu mereka sampai di ruang tamu. Kedua wanita itu berpelukan bahkan sama-sama menangis.


" bagaimana kabarmu?" tanya Sonia khawatir.


" aku baik, semuanya baik-baik saja" jawab Myria yakin.


" lalu kau bagaimana? kau terlihat pucat sekali, kau sakit?" tanya Myria. Sonia menggeleng pelan, antara ingin menceritakan atau tidak.


" aku baik" jawab Sonia lemah.


" ayo kita duduk di luar" ajak Myria, kemudian memberikan kode pada Gael.


" jangan jauh-jauh!" peringat Ansel, Myria mengangguk singkat.


kedua wanita itu duduk di taman samping, semilir angin membuat suasana sangat nyaman.


" maafkan aku karena meninggalkanmu waktu itu" ucap Sonia, dia masih belum bisa memaafkan dirinya karena kejadian itu.


" bukan salah mu, ini namanya musibah. tidak ada yang tau. Beruntung aku bisa selamat dengan mudah " jelas Myria mengusap punggung Sonia pelan.


" kau terlihat menahan sakit, apa yang terjadi?" tanya Myria serius. Wanita di depan nya ini terlihat tidak sehat.

__ADS_1


" aku tak apa, hanya capek karena perjalanan jauh" jawab Sonia bohong.


" sini aku antar ke kamar" Myria membawa Sonia masuk ke kamar lantai 1. meninggalkan Sonia di sana sejenak untuk mengambil makanan.


" aku bawakan cemilan dan air, makanlah" Myria menata di meja. Sonia mengambil cemilan dengan perasaan tidak enak. perutnya masih terasa kram.


" aku akan berbaring dulu" ucap Sonia tidak bisa menahan sakitnya.


" oh ya, aku tidak akan mengganggu" jawab Myria cepat dan menutup pintu kamar meninggalkan Sonia beristirahat. Myria menuju ruang tamu. Seketika kedua lelaki itu menatap Myria bersamaan.


" di mana Sonia?" tanya Ansel cemas.


" beristirahat di kamar" jawab Myria enteng.


" kita sambung nanti" ucap Ansel undur diri dan menyusul Sonia.


" kenapa?" tanya Ansel yang sudah menaiki ranjang dan mengelus lengan Sonia pelan.


" em, kepalaku pusing saja" jawab Sonia berbohong.


" kemari" Ansel mendekatkan tubuhnya dan mulai mengusap kepala Sonia. Lelaki itu memijit pelan. Lama kelamaan Sonia merasa enakan. Dia memeluk tubuh Ansel, membenamkan kepalanya dia pinggang Ansel.


" Ansel kenapa terlihat begitu cemas?" guman Myria yang merasa aneh.


" entahlah jangan ikut campur urusan orang" jawab Gael dingin.


Hari mulai siang, Myria dan Sonia tengah menikmati tidur siang, sedangkan Gael dan Ansel sibuk membahas sesuatu.


" sepertinya kita perlu memindahkan PIN" ucap Ansel. Mereka duduk di gazebo dengan banyak makanan tersaji.


" kau benar, aku sudah keberadaan PIN semakin lama semakin mudah di temukan " balas Gael menyetujui saran Ansel.


" kita perlu membuat samaran biar pihak lain terkecoh"


" Seperti itu juga bagus" balas Gael mengangguk singkat.


" aku ingin meninggalkan dunia hitam" celetuk Gael yang sangat mengagetkan.


" kau besar disana Gael" balas Ansel dingin.


" aku tau, maka dari itu aku perlu izinmu" ucap Gael sambil menatap Ansel serius.


" kau yang paling tau siapa diriku ini, sejak kecil hanya 2M yang menjadi tempatku berkembang. Entah bagaimana dunia itu, karena hanya PIN yang menjadi duniaku" jelas Ansel menerawang.


" aku akan pergi jika kau mengizinkannya" balas Gael halus, dia tidak mau memaksakan kehendak. Dia masih tau balas budi, selama ini dirinya hanyalah seorang jaminan, yang sampai kapanpun tidak bisa di tebus. Kecuali Ansel yang melepaskannya.


" kau sangat berarti bagiku," jawab Ansel yang memiliki makna dalam.


" kau lebih dari keluarga bagiku, seperti anggota tubuhku sendiri" lanjut Ansel.


" aku juga beranggapan yang sama. hanya kau yang menjadi alasan aku tetap hidup. Tapi kita juga harus memikirkan masa depan. Setelah masalah Lucas ku harap kita bisa menjalani hidup normal" balas Gael. Dia juga tak ingin meninggalkan Ansel sendirian dalam dunia hitam.


" kau ingin 2M selesai?" tanya Ansel memastikan.


" kau ingatkan apa yang ayahmu pesankan?" Gael mengingatkan Ansel dengan peristiwa naas itu.


" setelah dikhianati anggotanya, dia berpesan agar kau memilih hidup yang lebih baik. menemukan masa depan yang indah, bersama orang terkasih" Gael mengucapkan semuanya dengan nada bergetar.


" apa aku bisa melakukannya?. Selama ini hanya 2M yang menjadi identitas ku" tanya Ansel ragu.


" pasti bisa, kita lakukan bersama-sama" jawab Gael yakin.

__ADS_1


__ADS_2