Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
54. Tertangkap


__ADS_3

Semalaman Myria mencari tau seperti apa mafia GM itu. Dari yang dia baca tidak ada satupun sumber yang menjelaskan siapa dan bagaimana gambaran kelompok ini. Hanya ada berita mengenai kasus dan sejumlah pencapaian mereka. Dari sini saja Myria bisa menyimpulkan jika GM ini bukan kelompok mafia biasa. Jelas pengaruh mereka besar bahkan kepolisian intenasional saja tidak bisa menangkap mereka. Myria harus lebih bersabar kali ini dalam membalaskan dendam.


Pagi harinya Myria berniat mengunjungi makam ayahnya, dia ingin menceritakan semua hal ini kepada ayahnya. Dia akan meminta maaf karena hanya bisa mengirimkan pelaku pembunuhan dia akan terus mengejar otak pembunuhan itu.


Sebelum itu Myria sempatkan mengunjungi kontrakannya dulu. rumah itu masih kosong, sewanya masih berjalan jadi tak ada siapapun yang menghuni rumah tersebut. Myria berjalan masuk ke kamar ayahnya dulu.


Wanita itu memandang ruangan itu lama, dia duduk di ranjang. Menyentuh permukaan kasur dan bantal. Dulu dia tidak pernah mau bila ayahnya menyuruhnya bersih- bersih kamar. Kini Myria membersihkan kamar itu saat penghuninya telah tiada.


Setelah itu, Myria membuka lemari, baju ayahnya masih tersimpan disana. Myria mengambil jas milik ayahnya. Dia akan mengenakan ini nanti. Tak lupa sebuah koper yang pernah Ansel berikan padanya untuk menyimpan barang-barang lainnya.


Myria membukanya, mengambil anting peninggalan ibunya. Wanita itu memakainya. Setelah puas menyelami kenangan di rumah itu, Myria pergi ke makam.


Myria tidak tau jika koper hitam yang diberikan Ansel adalah koper khusus untuk menahan sinyal pelacak. Inilah alasannya beberapa bulan Gael tidak pernah menemukan titik temu keberadaan Myria yang seakan hilang begitu saja.


Jelas saja setelah keluar dari koper, alat itu kembali memancarkan sinyal lokasi.


tit tit tit tit


Suara handphone Gael berbunyi.


Saat ini lelaki itu sedang memimpin rapat besar di perusahaannya.


suara itu jelas saja menyita perhatian Gael dalam sekejap. Sudah sangat lama lelaki itu menunggu suara tersebut.


" kau gantikan aku," ucap Gael kepada asistennya. Lelaki itu segera pergi menuju lokasi sumber sinyal itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh, sama seperti nafasnya yang menderu cepat. Gael seakan tidak percaya hari ini akan tiba.


" ayah, bagaimana kabarmu? aku baru mengunjungi mu setelah hari pemakaman. Lama sekali bukan? apa ayah merindukanku?," Myria diam sejenak mengatur nafasnya.

__ADS_1


" hari ini pelaku yang menabrak kita sudah mendapatkan balasannya, tapi ayah. Mereka bukanlah pembunuh aslinya. aku belum bisa menyelesaikan dendam ini. maafkan aku ayah" Myria berusaha air matanya. Dia tidak sanggup jika menyangkut ayahnya.


" ayah, aku benar- benar merindukanmu. Jika saja saat itu ayah tidak mendorong ku, sepertinya kita bisa berkumpul bersama ibu disana, aku tidak akan berubah menjadi monster berdarah dingin seperti ini. Ayah, bolehkan aku menyusulmu saja. Aku lelah ayah. hiks hiks" Myria sudah tidak bisa lagi membendung sedihnya, wanita itu menangis tersedu-sedu.


Mobil itu terus melaju kencang, tidak memperdulikan siapapun yang ada di depannya.


" kenapa kau meninggalkan rapat, mereka menghubungi ku agar kau segera kembali" ucap Ansel yang baru terhubung panggilan dengan Gael.


" sinyal itu kembali, aku harus menemukannya" jawab Gael singkat dan langsung menutup panggilan. handphonenya terus menampilkan jika jarak menuju sinyal semakin dekat.


Ansel jelas mengerti maksud dari ucapan Gael, lelaki itu memang menunggu sinyal Myria. Seketika itu Ansel segera menghubungi Myria. Mereka tidak boleh bertemu.


" aku merindukan saat dimana ayah memelukku, sejak ibu tiada. Ayah selalu memendam rasa sedih sendirian dengan terus bekerja. Aku bahkan belum bisa menjadi sandaran kesedihan ayah, tapi ayah sudah tiada. aku belum bisa membalas semua yang ayah berikan padaku. Ayah, aku sayang ayah. Aku sangat merindukan ayah sekarang. hiks hiks" Myria terus bermonolog dengan rasa sedihnya.


wanita itu tidak menyadari, di tas yang dia letakkan di tanah hpnya terus menerima panggilan. Myria sengaja menghidupkan mode silent. Dia membutuhkan waktu sendiri


" sial, dimana kau Myria. Kenapa kau membuka koper itu" Ansel terus mengoceh, dia mencoba menghubungi Myria.


Gael memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, dia langsung berlari menuju satu makam. Disana sudah kosong tak ada siapapun. Gael kembali menatap hpnya dia memperluas area sinyal.


Gael kembali mengikuti arah sinyal, itu menuju ke arah taman makam. sekilas lelaki itu bisa melihat siluet seseorang yang berlari menjauhinya.


" Myria!" teriak Gael. Dia yakin jika seseorang itu adalah Myria.


Dan benar saja Myria semakin mempercepat larinya saat mendengar panggilan itu. panggilan yang sangat lama tidak dia dengar.


Aksi kejar- kejaran tidak bisa di hindarkan. Myria masih memiliki cidera kaki membuat pergerakannya sedikit terhambat.

__ADS_1


" Myria" Gael berhasil menyusul dan meraih tangan Myria. Wanita itu segera memberikan perlawanan. Gael dengan mudah mengatasinya. Dia sudah terbiasa dengan serangan seperti itu.


" Myria, kenapa kau pergi?" Gael terus berusaha menghentikan wanita itu. Namun Myria saat ini bukan seperti dulu, dia terus memberikan serangan dan perlawanan.


" Myria" Gael berhasil mengunci pergerakan Myria. dia tertahan di pohon dan Gael berada di depannya.


" kau berubah" ucap Gael, lelaki itu merasakan tatapan Myria yang dingin, tidak seperti wanitanya yang begitu hangat.


" lepaskan aku" ucap Myria sambil memberontak.


Gael seakan tidak percaya dengan perubahan Myria. bagaimana bisa wanitanya berubah seperti ini. pegangan Gael melemah, hal ini membuat Myria dengan mudah melepaskan diri.


Wanita itu berlari menjauh, Gael diam dan terus melihatnya. Lelaki itu mengeluarkan sebuah pistol, dia tidak memiliki pilihan lain.


dor,


satu tembakan tepat mengenai bahu Myria.


Wanita itu berhenti sesaat merasakan ada yang menerobos bahunya.


" tidak" ucap Myria mencabut sebuah peluru bius yang tertancap di bahunya.


Myria melihat Gael dari kejauhan, lelaki itu masih menatapnya dengan penuh tanya. Myria melanjutkan pelariannya, namun pandangannya mulai kabur.


" tidak, tidak" Myria panik, Gael mendapatkannya dengan mudah. Pijakan kakinya semakin tidak seimbang, Gael berjalan mendekat dengan mudah.


Tak perlu waktu lama penglihatan Myria menjadi gelap bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh dalam pelukan Gael.

__ADS_1


" aku mendapatkan mu" lirih Gael sebelum kesadaran Myria menghilang.


Gael segera menggendong tubuh Myria dan segera meninggalkan pemakaman menuju mansionnya.


__ADS_2